
Manajer Felix berjalan menjauh, ia bergerak ke arah pintu. Lelaki itu keluar dari kamar hotel tempat Krystal saat ini tengah dirias. Sembari berjalan, ia menggeser tombol jawab pada layar ponselnya.
"Halo! Selamat sore, Nona Ana!", sapanya pertama kali setelah sambungannya terhubung.
Sekarang ia sudah berdiri di dekat pintu kamar itu. Sambil memperhatikan sekitar bahwa tidak ada orang lain yang bisa mendengarkan pembicaraannya. Ia memiliki firasat jika panggilan ini cukup penting dan bersifat rahasia. Karena tidak biasanya sepupu dari artisnya ini menghubungi dirinya secara pribadi. Pasti ada sesuatu yang harus dibicarakan, dan ia yakin jika hal ini menyangkut dengan Krystal.
"Selamat sore, Manajer Felix!", Ana membalas sapaan itu di seberang saluran sana.
"Apa Nona ingin berbicara dengan Krystal? Saya akan memberikan ponsel ini kepadanya!", ucap Manajer Felix berbasa-basi sembari memancing Ana agar mengatakan tujuan dari menghubunginya ini.
"Oh, tidak,, tidak! Justru aku ingin berbicara langsung dengan Anda!", jawab Ana, buru-buru memusatkan tujuannya.
"Ada keperluan apa Nona Ana dengan Saya?", tanya Manajer Felix santun. Seulas senyum terbit di bibirnya lantaran apa yang ia dengar sesuai dengan perkiraannya.
"Begini,,, ", panjang lebar Ana menjelaskan mengenai maksud dan tujuan yang sebenarnya ia melakukan panggilan ini. Tentu saja hal ini berhubungan dengan saudaranya itu. Dan mengenai hal yang dibicarakannya ini, ia memohon bantuan dari Manajer Felix untuk mengatur Krystal agar wanita itu benar-benar hanya fokus pada konferensi pers saja nanti.
Manajer Felix menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan wajah serius. Mulutnya juga mengiyakan beberapa permintaan yang Ana ajukan kepadanya.
"Baiklah, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya!", tutupnya, bermaksud menyudahi panggilan itu. Namun ia tetap mempertahankan suaranya yang santun. Setelah mengetahui bahwa kedua saudara ini sekarang telah menjadi akur, maka dari itu Manajer Felix juga lebih menghormati Nona Ana ini.
"Baiklah! Jangan lupa apa yang aku katakan tadi!", jawab Ana sedikit tegas.
"Tentu saja, Nona! Aku akan mengingatnya! Kalau begitu sampai jumpa, Nona Ana!", Manajer Felix menganggukkan kepalanya lagi untuk yang terakhir kali.
"Ya, sampai jumpa nanti, Manajer!", Ana pun mengakhiri panggilan itu.
Setelah memastikan bahwa sambungan itu sudah benar-benar terputus, Manajer Felix menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Lalu ia langkahkah kakinya menuju pintu kamar hotel tempat Krystal berada.
"Aku ada urusan sebentar! Tolong buat Krystal menjadi sangat cantik malam ini! Bahkan menjadi yang paling cantik di antara yang lainnya!", pria itu hanya menyembulkan setengah badannya ke dalam kamar. Ia memberi titah kepada penata rias dan juga semua staff yang mengurusi penampilan Krystal malam ini.
"Baik!", semuanya menjawab serempak seraya menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kau tenang saja! Aku akan membuat semua orang terpesona kepada artismu ini saat konferensi pers nanti!", penata rias itu mengerlingkan sebelah matanya kepada Manajer Felix dengan suara yakin.
"Baiklah kalau begitu! Aku akan keluar dulu!", lalu pria itu menutup pintu kamar itu dan menghilang di baliknya.
Krystal menatap pantulan dirinya di cermin yang sedang mengerrnyitkan alisnya itu. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap manajernya itu. Tapi ia juga tidak mau ambil pusing untuk memikirkan atau mencari tahu. Saat ini ia sedang fokus untuk memperbaiki moodnya, agar tidak kacau saat konferensi pers nanti.
***
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Krystal itu sendiri. Semua orang telah berkumpul di sana. Dan yang paling penting adalah pemeran utama pria pada malam hari ini. Louis Harris, lelaki itu sudah tiba di sana. Dan saat ini ia tengah berjalan mondar-mandir di depan teras mansion mewah itu.
Pria yang saat ini mengenakan tuksedo berwarna putih dan kemeja hitam di dalamnya, sangat menawan dengan dasi kupu-kupu hitam yang berkerlip di lehernya. Orang itu tidak bisa menghentikan kegugupannya saat ini.
Selama satu minggu ini Louis sengaja menghindari Krystal. Ia sengaja membuat kekasihnya itu amat kesal. Tapi di balik itu semua, Louis telah mempersiapkan segalanya. Ia sudah mendatangi Tuan Bram yang tak lain adalah ayah dari kekasihnya itu. Ia menyambangi hotel prodeo tempat Tuan Bram saat ini menginap untuk sementara. Lelaki itu ke sana untuk memohon izin dan meminta restu dari orang tua kekasihnya itu.
Dan tak ada alasan lagi untuk Tuan Bram menolak, karena meskipun ia berada di dalam sana, tapi semua kabar pasti sampai ke telinganya. Pria paruh baya itu sudah mengetahui bahwa putrinya itu mencintai pria muda ini. Dan setelah ditelusuri, Louis bukan hanya seorang artis terkenal saja, tapi juga memiliki latar belakang yang bagus. Jadi ia bisa tenang menyerahkan putri kesayangannya itu kepada pria muda itu. Dan lagi, selama ia masih tinggal di dalam sana, Tuan Bram memang berharap jika putrinya itu ada yang menjaga dan melindunginya.
"Apa kau tidak lelah terus berjalan mondar-mandir seperti itu?! Mungkin langkah kakimu sudah sampai luar kota jika disambung terus!", tegur Adam yang duduk di kursi tak jauh darinya.
"Bukankah aku sudah memberi restu kepadamu untuk melangkahi diriku?! Lalu sekarang apalagi yang kau ragukan?!", kakak dari Krystal itu kembali bertanya kala ucapannya seperti tidak digubris sedikit pun oleh Louis.
"Belum sah! Panggil namaku dengan benar!", ia berusaha terlihat tegas di hadapan kekasih dari adiknya itu.
"Baiklah! Tuan Adam!", Louis menghela nafasnya, berusaha sabar.
"Masalahnya adalah,, aku sudah membuat masalah menjadi sebesar ini! Adikmu itu pasti saat ini sangat membenciku. Dan aku sudah menahan diri sekuat tenaga sampai saat ini untuk tidak menemuinya! Oh Tuhan, aku sangat takut dia menolakku nanti!", di akhir kalimatnya, lelaki itu menengadah seraya mengembuskan nafasnya yang terasa berat.
Louis dilanda kekhawatiran yang begitu besar saat ini. Ia telah membuat masalah yang ada di antara dirinya dan Krystal semakin membesar. Wanita itu pasti mengira dirinya ini adalah seorang pengecut. Dan saat ini pasti Krystal begitu muak untuk bertemu dengan dirinya di konferensi pers nanti.
Tapi memang semua ini Louis lakukan demi berjalan dengan lancarnya rencana yang sudah ia persiapkan bersama dengan Ana dan yang lainnya. Di rumah itu, memang hanya Krystal sendiri yang tidak mengetahui mengenai rencana ini. Karena tanpa sepengetahuan Krystal, sebenarnya beberapa kali Louis mampir ke sana untuk mematangkan rencana yang telah ia buat bersama dengan yang lainnya.
Adam tak mampu menjawab ucapan kekasih adiknya itu. Ia menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang Louis ucapkan. Jika dirinya yang berada di posisi Krystal pun ia akan sangat membenci pria itu. Siapa juga yang akan tahan jika digantung tanpa kabar seperti itu.
__ADS_1
"Jika kau memang benar sangat mencintainya, pasti adikku dapat menilai ketulusan yang kau miliki! Semangatlah sedikit!", ia menepuk bahu Louis seraya berjalan ke dalam rumah.
Adam tahu jika pria ini benar-benar tulus mencintai adiknya. Hanya saja memang masalah yang merek hadapi saat ini tidak sesederhana itu. Karena ini bersangkutan dengan prinsip dan masa depan kedua belah pihak. Jadi untuk saat ini, ia hanya bisa mendukung dan menyemangati pria itu.
"Aduh!", tapi baru selangkah kakinya melewati daun pintu yang begitu tinggi dan lebar itu, Adam bertabrakan dengan seseorang. Kepalanya terasa nyeri karena benturan itu.
"Aduh!", seseorang mengerang sambil berjalan ke arah luar. Sam berjalan sambil memegangi dahinya yang terasa berdenyut. Orang itu meringis seperti merasa benar-benar kesakitan di wajahnya saat ini.
"Kau ini memang ceroboh, ya! Makanya gunakan matamu dengan benar saat berjalan! Kau berjalan ke arah mana, tapi matamu melihat kemana! Sini duduk biar ku lihat memar atau tidak! Sudah seperti anak kecil saja", wanita di sebelahnya mengomel sambil menarik tangan Sam ke arah kursi yang tadi di duduki oleh Adam. Ia bisa melihat jika benturan kepala Adam dan kepala suaminya itu tadi terjadi cukup keras.
"Hey, kepalaku juga sakit! Apa kau tidak mau melihat kepalaku juga, Sarah?!", ucap Adam yang belum jadi masuk dengan wajah polos tak berdosa.
"Jangan harap! Bahkan dalam mimpimu sekalipun!", Sam langsung berseru dengan wajah sengitnya.
"Sudah sini, biar ku lihat!", Sarah menarik lengan Sam supaya pria itu menghadap ke arahnya lagi. Ia tidak mempedulikan perdebatan di antara kedua pria itu.
"Tapi kepalaku sakit kan juga gara-gara kau!", Adam menyahuti Sam tak mau kalah.
"Jika kau melihat dengan benar, pasti kepala kita tidak akan bertabrakan seperti tadi! Dan jika kau ingin diperhatikan, maka carilah wanitamu sendiri!", sahut Sam ketus.
Adam langsung terdiam setelah ditembak dengan kata-kata seperti itu. Semua kalimat Sam langsung mengenai ke titik sasaran dengan tepat. Beginilah nasib seseorang seperti dirinya yang masih sendiri. Selalu saja mendapar bully dari mereka yang sudah lebih dulu berpasangan. Nasib,,, nasib! Ia pun memilih untuk masuk ke dalam rumah saja untuk memangggil semua orang. Pria itu masih memegangi kepalanya yang terasa nyeri dengan wajah lesu.
"Atau jika tidak, kau minta Ibu mertuaku saja untuk meniupi kepalamu!", Sam mengangkat kedua alisnya dengan tatapan mengejek. Dan ia juga menyembunyikan senyum puasnya dari pria itu.
"Kau,,,,!", Adam langsung membaikkan tubuhnya. Ia mengacungkan jari telunjuknya ke depan dengan wajah kesal.
pletak
"Sam, kau keterlaluan!", Sarah menyentil dahi suaminya itu di sisi yang lainnya.
"Auuww! Sa,,,yang", pria itu langsung mengaduh kesakitan. Sekarang kedua tangannya mengelus dua sisi dahinya yang terasa sakit. Sam mengerucutkan bibirnya karena merasa ditindas oleh istrinya itu.
__ADS_1
Tak mau meladeni orang aneh itu lagi, Adam hanya melambaikan tangannya ke udara sembari berjalan ke arah dalam sambil lalu. Ia tersenyum sejenak, lalu kemudian menghilang. Dia menang, namun juga di kalah. Adam merasa menang karena orang aneh itu sudah mendapatkan hukuman dari istrinya itu. Namun di sisi lain ia tetap kalah dari semua orang. Bahkan dari adiknya sendiri. Semua orang memiliki pasangan, dan dia hanya seorang diri.
Mungkin benar juga apa yang Sam tadi katakan. Saat ini hanya Ibu Asih saja yang bisa menjadi temannya. Sedangkan Sandi, adik dari Sarah, dia sibuk bekerja dan tidak hadir saat ini. Memang hanya dengan Ibu Asih ia bisa berkeluh kesah saat ini.