Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 209


__ADS_3

Mobil yang membawa Sam dan Sarah sudah berhenti di depan pekarangan rumah sederhana itu. Sam bertindak keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Sarah. Sambil tersenyum ia mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.


"Terimakasih!", balas Sarah setelah menyambut uluran tangan prianya itu. Tak lupa ia juga menyematkan senyuman indah di bibirnya.


"Sama-sama", jawab Sam singkat lalu acuh berjalan meninggalkan Sarah yang masih berdiam diri di tempatnya.


Wajah Sarah jelas sedang keheranan saat ini. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi, lalu dengan percaya dirinya ia langsung melangkah menuju ke teras rumahnya. Itu belum cukup, tiba-tiba mobil yang tadi membawanya itu berjalan di belakangnya. Pak supir mengangguk hormat sebenarnya melalui kaca spion di samping kanannya saat pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Sarah. Lalu ia melajukan mobilnya sambil tersenyum riang.


"Itu,,,, ", telunjuk Sarah mengarah pada mobil yang baru saja pergi lalu beralih ke arah pria yang kini sedang tersenyum dengan tampannya di teras rumahnya. Suaranya tersekat dipenuhi keterkejutan dan kebingungan yang memusingkan.


"Heh!", wajah dan bahu wanita itu seketika layu sekarang setelah menyadari bahwa pria gila ini memang selalu memiliki hal-hal yang diluar dugaan. Apalagi sebenarnya yang mau pria itu lakukan?! Sarah sudah sangat ingin beristirahat! Ia berteriak di dalam hatinya bahwa ia sudah tidak ingin diganggu lagi sekarang. Dengan wajah frustasi ia menyeret langkahnya menuju pria yang masih setia berdiri menunggunya.


Sarah mengetuk pintu rumahnya beberapa kali tapi tak ada jawaban juga. Ia berpikir sejenak sambil mencerna situasi.


"Kenapa kau harus mengetuk pintu rumahmu sendiri?", tanya Sam memecah konsentrasi Sarah.


"Masih ada Sandi yang tinggal di sini, bodoh! Apa kau tidak ingat dengan adikku?! Sepertinya aku harus berpikir ulang untuk menikahi kakek-kakek pikun seperti dirimu ini, heh!", Sarah mendengus kesal mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Sam itu. Bodoh dan polos memang beda tipis. Dan entah Sam itu berada di posisi yang mana, lagi-lagi ia harus membuat sebuah keputusan untuk mengutuki dirinya yang malahan menerima lamaran pria bodoh ini.


"Ah!!,,,,, Maaf aku lupa! Sandi adikmu itu, ya?", pria itu meringis sambil menggaruk ujung alisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Hemm!", singkat saja Sarah menjawab pertanyaan Sam dengan berdehem. Ia tak ingin meladeni orang ini untuk menghemat energinya. Lagipula saat ini dirinya tengah sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.

__ADS_1


"Ketemu!", serunya kini dengan begitu gembira sambil menaikkan kunci rumahnya ke udara.


Sam berdecak karena wajah Sarah begitu gembira hanya karena menemukan benda itu saja. Ia juga langsung masuk rumah begitu saja setelah Sarah berhasil membuka kunci pintunya. Dan wanita hanya bisa menghela nafas pasrah dengan tingkah laku Sam yang selalu seenaknya.


Sam segera meletakkan bokongnya pada tempat duduk ruangan itu sambil merentangkan kedua tangannya juga kaki yang ia silang pada salah satunya. Ia juga sempat menanyakan keberadaan adiknya pada Sarah. Dan tentu saja wanita itu segera kehilangannya kesabarannya dengan menjawab pertanyaan pria itu dengan bentakan bahwa adiknya itu jelas sedang bekerja. Sarah mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke depan wajah untuk mendinginkan dirinya yang mulai panas mengahadapi pria yang satu ini.


"Aku mau mandi! Kau tunggulah di sini!", ya ini memang sudah sore. Dan Sarah juga sudah merasa sangat lengket tubuhnya saat ini. Ia ingin segera menyegarkan diri. Jadi dengan wajah galaknya ia memerintahkan pria itu untuk tetap menunggu di tempatnya.


"Ikuutt!", siapa sangka jika tiba-tiba Sam menyergap Sarah dari belakang. Lelaki itu menyandarkan dagunya di bahu Sarah dan memeluk wanita itu dengan eratnya.


Jelas saja Sarah langsung terkejut dibuatnya. Ia juga sudah menggoyang-goyangkan tubuhnya supaya bisa terlepas dari dekapan Sam. Tapi tetap saja usahanya sia-sia karena kalah telak dalam segi kekuatan dengan prianya. Karena usahanya gagal, maka ia melampiaskannya dengan memukul-mukul lantai dengan kakinya. Ia menghentakkan kakinya dengan keras hingga menimbulkan bunyi di sana. Jika bisa bicara mungkin lantai itu akan menjerit karenanya.


"Sam, lepaskan aku!", omel Sarah sambil berusaha melepaskan tangan pria itu yang saking terkait.


Heh! Memangnya hanya pria itu saja yang memiliki ide gila. Belajar dari kebiasaan prianya itu, maka Sarah juga sudah menjadi pintar sekarang. Ia memiliki ide di kepalanya supaya pria itu mau menyingkir dari tubuhnya.


"Mau mandi bersamaku?", Sarah bertanya dengan nada ramah namun sambil melirik ke arah Sam di samping wajahnya. Sayangnya, Sam tidak melihat mata Sarah yang menyiratkan sesuatu.


"Tentu saja mau!", jawab Sam semangat.


"Kalau begitu ada syaratnya!", Sarah berhasil membalikkan tubuhnya hingga kini menghadap prianya.

__ADS_1


Glek, sejenak ia tertegun karena melihat wajah tampan Sam dari jarak yang begitu dekat. Ia masih tak bisa mengendalikan dirinya meskipun ia sudah mengenal pria itu sejak lama. Ia masih mudah tersipu saat mampu menatap wajah mempesona itu dari jarak beberapa senti saja.


Cup


"Iya, aku tau kalau aku memang tampan. Tapi katakan dulu apa syaratnya?", melihat wajah gemas Sarah yang sedang merona itu Sam tak tahan untuk tidak menanamkan bibirnya di bibir Sarah.


"Haisshh! Kau ini selalu saja begitu percaya diri!", Sarah memberikan pinggang pria itu sebuah cubitan kecil yang berulang kali. Tak peduli jika pria itu mengaduh kesakitan dibuatnya.


"Dengar! Syaratnya adalah kau harus membantuku membersihkan rumahku ini. Lihat! Debunya sudah cukup tebal, kan!", Sarah mencolek nakas yang ada di sebelahnya lalu memperlihatkan jarinya yang lumayan memiliki beberapa debu di ujung jemarinya. Kebetulan, rumahnya itu memang sepertinya sudah beberapa hari tidak dibersihkan. Ia yakin sekali tidak bisa mengandalkan adik lelakinya itu untuk menjaga rumah. Dengan adanya Sam, maka ia akan memanfaatkan keberadaan pria itu saat ini.


"Baiklah, itu sangat mu,,mudah!", Sam menipiskan bibirnya seraya membuang wajah ragu di hadapan Sarah. Mudah bagaimana? Bahkan seumur hidupnya ia mana pernah melakukan pekerjaan sederhana seperti itu. Ia tidak tau sama sekali bagaimana harus melakukan apa yang Sarah minta padanya. Tapi sebagai seorang pria yang harus terlihat bisa diandalkan, maka ia akan menerima tantangan ini. Meski ia tidak tau bagaimana hasilnya nanti.


"Baiklah, kalau begitu lepaskan aku dulu!", Sam melepaskan tautan kedua tangannya menuruti perintah Sarah.


"Kau bisa memulainya dari ruang tamu ini. Sekarang aku akan ke kamar untuk membersihkan kamarku lebih dulu!", dengan yakin Sarah membagikan tugas pada pria itu.


"O,,okeh!", pria itu masih bersikeras menutupi keraguan di wajahnya.


Sarah meninggalkan Sam di depan. Ia tidak tahan untuk tidak tertawa saat ini. Dibalik pintu kamarnya, wanita itu tertawa tanpa suara. Memangnya ia bisa dibodohi apa! Ia bisa menangkap perubahan ekspresi Sam tadi. Ia tau jika pria itu pasti tidak bisa apa-apa sama sekali.


"Hah!", ia merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya sambil merentangkan tangan dengan wajah gembira. Senangnya bisa lepas sejenak dari pria gila itu. Ya meski begitu, ia tetap mencintainya, sih. Tapi ia juga tak bisa memungkiri jika terkadang, bukan, lebih sering pria itu membuatnya kesal.

__ADS_1


Di luar kamar, pria itu tengah menggaruk kepalanya berulang kali. Dan sudah melicinkan lantai itu dengan mondar-mandir di atasnya. Ia harus mulai dari bagian mana? Cara membersihkannya seperti apa? Dengan apa pula ia melakukannya? Hah, pria itu benar-benar frustasi saat ini.


__ADS_2