Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 46 (TAMAT)


__ADS_3

"Apakah orang itu akan mengabulkan ucapannya? Apakah orang itu akan membuat perhitungan kepada kita?", Nyonya Harris mengumandangkan kekhawatirannya kepada suaminya. Ia menatap kepergian Tuan Sanchez beserta orang-orangnya dengan kengerian di wajahnya. Nyonya Harris masih mengingat betul nada penuh ancaman yang Tuan Sanchez layangkan kepada mereka tadi.


"Tenang saja! Itu tidak akan terjadi. Usaha putra kita selama beberapa waktu ini tidak akan sia-sia. Orang itu tidak akan berani mengusik hidup kita lagi!", jawab Tuan Harris sembari menggenggam jemari istrinya itu.


Ia mengerti kekhawatiran yang dimiliki istrinya. Namun semua itu tidak ada gunanya. Sebab, kartu as yang mereka miliki benar-benar ampuh untuk membungkam mulut dan setiap pergerakan Tuan Sanchez terhadap mereka. Ia yakin, bahwa orang itu akan lebih mementingkan reputasi dan kekayaannya ketimbang apapun itu. Tak ada yang mampu melampaui ketamakan seseorang terkecuali harta mereka sendiri.


Tuan Harris memandangi putranya yang sedang saling melempar senyuman dengan Krystal. Ia benar-benar bangga dengan anak itu. Siapa yang mengira jika Louis dapat membuat keadaan perusahaan menjadi stabil dalam waktu singkat. Bahkan anak itu juga berhasil mendapatkan rahasia penting untuk menaklukan Tuan Sanchez itu. Dia benar-benar terharu. Dari kursi rodanya, Tuan Sanchez menyeka air mata bahagia yang tiba-tiba melesat tanpa permisi.


***


Dari masa ke masa, tanpa terasa tiga bulan sudah berlalu. Film yang mereka bintangi telah dirilis. Dan jadwal tour promo yang padat telah terselesaikan. Urusan perusahaan juga telah Louis serahkan kepada orang kepercayaannya di sana. Lagipula kesehatan ayahnya sudah berangsur membaik, jadi Tuan Harris bisa sesekali memantau keadaan.


Louis tidak ingin serta merta meninggalkan dunia hiburan begitu saja. Ia mencintai pekerjaannya ini sebab dari sinilah ia mengembangkan dirinya, juga cintanya terhadap Krystal. Wanita yang tak pantang menyerah ia perjuangkan. Hingga kini momen pernikahan berada di depan mata. Pria itu tengah memakai tuksedo putih, seragam perangnya untuk menghadiri upacara pernikahannya sendiri.


Dirinya duduk sambil memaku pandangan dengan mantap. Jemarinya saling terkait berusaha menetralisir gundah gulana yang menerpa hatinya. Barulah ia menyadari jika akan segugup ini perasaan menjadi seorang pengantin yang sesungguhnya. Meskipun begitu ia merasa lega, karena akhirnya badai telah berlalu di antara mereka semua.


"Makanlah sesuatu dulu! Kau kelihatan pucat!", Adam menepuk bahunya dari samping.


"Tenang saja, Kakak ipar! Aku bukan sedang sakit, tapi sedang gugup! Aku yakin kau tidak akan mengerti!", Louis tersenyum mengejek sambil melepaskan tangan Adam di bahunya.


"Kau belum sah menjadi adik ipar ku!", Adam mencibir ketika hal ini diangkat. Ia tahu jika dalam hal perjodohan, dirinya memang kurang beruntung dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi bukan berarti dia harus terus-terusan ditindas di sana-sini. Sungguh mereka kejam sekali!


***


Setelah acara ijab qabul siang tadi, maka malam ini adalah acara resepsi. Krystal telah didandani dengan begitu cantiknya bagaikan seorang putri dari negeri dongeng. Saat ini ia sedang dipasangkan mahkota di kepalanya oleh seorang perias.


"Cantik sekali,,,, mahkotanya!", Krystal sudah akan senang ketika dipuji oleh sahabatnya itu. Kemudian ia merengut ketika yang disebut adalah apa yang sedang ia kenakan di kepalanya sekarang.


"Kau jahat sekali!", gerutunya sambil menekuk wajah.


"Ana,,, ", Krystal akan mengadu pada ibu hamil itu, namun Ana buru-buru mengacuhkannya sambil merasakan setiap pergerakan di perutnya. Sarah pun terbahak melihat hal itu.


Ana terus mengusap perutnya yang sudah sangat besar. Diperkirakan minggu depan dia sudah akan melahirkan putra pertamanya. Jadi saat ini, di kala masa-masanya yang sudah kesulitan bergerak, ia sungguh sedang menghemat tenaga dan pikiran buruknya. Ana sudah jarang marah-marah lagi terhadap semua orang. Ia jadi lebih sabar di usia kehamilannya yang semakin bertambah.


"Bukannya aku sudah bilang, lebih baik aku menikah setelah kau melahirkan saja! Aku sungguh tidak tega melihat kau seperti ini!", semprot Krystal dengan ekspresi khawatirnya.


"Iya benar, Ana! Aku juga tidak tega melihatmu begini!", tambah Sarah seraya mendudukkan dirinya di sebelah Ana.


"Memangnya aku kenapa?! Aku tidak apa-apa! Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku! Aku merasa sangat sehat sekarang. Dan lagi sudah sewajarnya jika aku merasakan hal-hal semacam ini ketika terlalu banyak berdiri atau duduk. Nanti kalian pasti akan merasakannya juga!", Ana tersenyum seraya menjelaskan keadaannya saat ini. Ia tidak ingin membuat orang-orang khawatir. Dirinya memang baik-baik saja, jika merasa cepat lelah pun itu masih wajar di usia kandungannya yang hamil tua ini.


"Sesuatu yang baik tidak boleh ditunda! Sudah jangan pikirkan aku lagi! Malam ini kau adalah bintangnya. Kau cantik sekali malam ini, Krystal!", wanita hamil itu bangun dari duduknya dengan susah payah, kemudian segera dibantu oleh Sarah. Ia mendekat ke arah sepupunya itu, ingin sekali mencubit gemas dagunya. Entahlah,, mungkin karena ia terlampau bahagia karena akhirnya semua orang menemukan kebahagiaannya.


"Tumben sekali kau memujiku!", Krystal merengut sebentar sambil waspada. Siapa tahu wanita hamil yang biasanya acuh itu akan mengejeknya setelah ini.


"Kemarilah,,, aku ingin dipeluk oleh kalian!", sambung Ana lagi tak peduli jika Krystal tidak mempercayainya.


Ana ingin mencurahkan kebahagiaannya malam ini dengan kedua sahabat sekaligus saudaranya itu. Akhirnya mereka telah menemukan pasangan yang tepat untuk mereka cintai. Dan Ana hanya berharap jika cinta dan kebahagiaan ini akan terus melengkapi hidup mereka sampai anak cucu mereka nanti.


"Bisa tidak, kita jangan melankolis begini! Riasanku nanti rusak, tahu!", rengek Krystal sambil menarik tisu untuk mengeringkan air mata haru yang membasahi pipinya.


"Baiklah! Baiklah!", Ana dan Sarah pun mengaku kalah jika sudah berurusan dengan yang satu ini. Aktris ternama itu memang tidak pernah kompromi jika sudah menyangkut wajah dan penampilannya. Krystal pun melanjutkan riasannya yang belum selesai dibuat.


"Sarah, kau baik-baik saja? Kau terlihat kurang sehat!", tegur Ana sambil memperhatikan wajah sahabatnya sekaligus adik iparnya itu.


"Tidak apa-apa! Mungkin aku hanya kelelahan saja mengurus acara pernikahan ini. Tahu sendiri kalau wanita itu menginginkan semuanya harus terlihat sempurna di matanya", Sarah mencibir pelan sambil melirik ke arah Krystal.


"Kalian membicarakan aku!", tiba-tiba Krystal menoleh sebab ia tak sengaja mendengar jika namanya disebutkan.


"Iya, kau cantik sekali seperti seorang putri!", Sarah berbohong tapi Krystal percaya. Wanita itu menoleh ke depan lagi untuk dirias.


"Dia percaya!", sedangkan Ana dan Sarah terkekeh bersama sambil menggelengkan kepala mereka.


"Minumlah vitamin! Jangan sampai kau sakit karena sibuk begini!", Ana memperingati sahabatnya itu dengan penuh perhatian.


Di samping itu, ia juga sedikit merasa bersalah kepada Sarah karena tidak bisa membantu banyak dalam mengurus pernikahan Krystal ini. Sedangkan saudara sepupunya itu memang lumayan rewel jika sudah menginginkan sesuatu. Ia tahu bagaimana repotnya Sarah menghadapi anak itu. Jadi Ana sangat berharap agar Sarah jangan sampai tumbang. Karena dengan begitu, ia akan semakin merasa bersalah.


***


Di hotel yang sama tempat dimana Ana dan Sarah dulu melangsungkan resepsi pernikahan mewahnya. Krystal pun melakukannya. Resepsi indah nan mewah pernikahannya dengan Louis diadakan di hotel itu. Impiannya menjadi seorang putri dalam acara tersebut direalisasikan. Dirinya dan juga Louis sudah berpenampilan bak seorang putri dan pangeran. Ruangan itu pun sudah disulap dengan begitu indahnya. Sayang, ayahnya Tuan Bram tidak dapat menghadiri momen penting ini karena beliau masih menjalani hukumannya di penjara.


Tamu bergiliran memberi selamat kepada pasangan pengantin itu. Semua orang termasuk para temu penting pun berbaris dengan rapi ke belakang menunggu giliran. Acara tersebut juga dihadiri oleh banyak sekali rekan seprofesi, karena memang baik Louis maupun Krystal berasal dari dunia hiburan yang begitu luas.


Ana yang mobilitasnya terbatas pun memilih untuk banyak duduk di meja VIP tempat para keluarga menunggu. Dan suaminya pun dengan setia menemaninya sambil bersiaga takut-takut akan terjadi sesuatu mengingat waktu kelahiran putranya hanya tinggal menghitung hari saja.


"Mau sesuatu lagi?", tanya Ken perhatian sambil mengelus perut besar istrinya.


"Mau apalagi, Ken? Kau sudah membawakan semua makanan untukku", Ana mengalihkan pandangannya pada meja di depan mereka yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan. Jadi ia merasa tidak kekurangan apapun. Sedangkan Ken bermaksud untuk mempermudah apapun yang diinginkan oleh istrinya itu. Keduanya pun saling melempar senyuman.


"Jika lelah, lebih baik kita kembali beristirahat saja di kamar!", sambung Ken lagi dengan segala perhatiannya.

__ADS_1


"Nanti saja, Ken! Aku belum lelah. Aku masih ingin melihat Krystal dari sini. Kau pergilah sebentar temui orang-orang yang menunggu di sapa olehmu", Ana mengarahkan pandangannya pada orang-orang yang sejak tadi mencuri pandang kepada mereka. Dan Ana tahu jika wajah penuh harap itu sedang ditujukan kepada suaminya yang terkenal itu.


"Malas! Lebih baik aku di sini saja menemani istriku yang sedang hamil besar!", kata Ken acuh sambil melahap sepotong kue ke mulutnya. Baginya Ana tetaplah prioritas utamanya.


"Baiklah, terserah kau saja!", ucap Ana seraya menipiskan bibirnya. Memang benar-benar tidak ada yang bisa mengatur Presdir Ken yang terhormat itu. Semuanya terserah kepadanya. Ana hanya bisa memandang prihatin kepada orang-orang yang masih menaruh harapan untuk sekadar bisa menyapa suaminya itu.


"Hah, lelahnya!", Sarah dan Sam menghampiri mereka kemudian mendudukkan diri.


Sepasang suami istri itu kembali dari tugas mereka untuk memastikan jika semuanya berjalan dengan lancar. Ketika duduk, keduanya pun langsung menyambar apa pun yang ada di hadapan mereka untuk melepaskan dahaga.


Ken sudah ingin protes karena semua itu ia persiapkan untuk istri tercintanya. Namun Ana segera menahannya sebab ia merasa kasihan kepada dua orang itu. Sedangkan dirinya tidak dapat banyak membantu. Ana menggeleng pelan sambil menahan lengan suaminya yang akan membuka suara.


Kemudian keempatnya terlibat dalam beberapa topik menarik. Sarah banyak bertanya mengenai kehamilan Ana selama ini. Begitu pun dengan Sam yang banyak belajar dari kakaknya tentang bagaimana menjadi sosok suami siaga. Ken dan Ana menjelaskan dengan sabar kepada mereka berdua.


"Pusing sekali!", gumam Sarah pelan sambil memegangi kepalanya.


"Ada apa, Sarah?", Ana sempat mendengar keluhan Sarah dan segera bertanya.


"Tidak apa-apa, Ana! Aku baik-baik saja!", Sarah berkilah seraya membuat senyum kaku.


Ana tahu jika saudara iparnya ini menyembunyikan sesuatu. Ia melirik kepada suaminya dan Sam, mereka sepertinya tidak memperhatikan karena sedang serius dengan pembicaraan mereka.


"Katakan! Ada apa?", Ana mengubah wajahnya menjadi serius.


"Baiklah!", Sarah pun menyerah. Ia menceritakan kepada Ana , jika dirinya mengalami kram perut hingga mengeluarkan bercak darah. Padahal sekarang ini belum termasuk masa haidnya. Dan dua hari ini ia merasa cepat sekali lelah. Sarah bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Sehingga ia berspekulasi jika dirinya hanya mengalami kelelahan saja.


Ana mendengarkan dengan serius. Ia menyetujui pendapat Sarah. Karena memang selama beberapa waktu ini sahabatnya itu terlalu sibuk mengurusi acara pernikahan Krystal ini.


"Sebentar, aku mau pergi ke toilet dulu!", sejujurnya Sarah sudah merasakan kepalanya mulai berputar. Namun ia merasakan ada yang tidak nyaman di bagian intimnya itu. Sehingga ia harus pergi ke toilet untuk mengeceknya. Takutnya timbul bercak darah lagi.


brugh


"Sarah!", Ana berteriak histeris saat melihat sahabatnya itu terjatuh di depan matanya.


"Sayang!", Sam pun menjadi panik dan segera menghampiri istrinya yang sudah tergeletak di lantai itu.


Bukan hanya Sam saja, namun semua orang yang berada di sekitar mereka pun merasakan hal yang sama. Ibu Asih, Tuan Dion dan juga Nyonya Rima mendekat dengan wajah yang tidak kalah khawatirnya.


"Ada apa dengan Sarah? Apa yang terjadi?", tanya Ibu Asih panik melihat putri sulungnya seperti ini. Ia mengusap keringat dingin pada kening Sarah yang sedang berada di pelukan Sam.


"Panggil petugas medis!", Ken memberikan perintah kepada orangnya yang berjaga di sekitar. Di antara semua orang, hanya Ken saja yang bisa mengendalikan emosinya untuk tetap terlihat tenang. Ia merangkul tubuh istrinya yang sekarang juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang lain.


"Dan,, dan,, dan tadi Sarah mengatakan bahwa beberapa hari ini dia mengeluarkan bercak darah. Mungkin itu karena kelelahannya!", Ana mengecilkan suaranya agak malu jika didengar para tamu yang lainnya.


Ibu Asih dan Nyonya Rima yang sama-sama sedang berjongkok di depan Sarah pun saling memandang. Mereka lamat-lamat menatap dengan pandangan misterius.


"Ibu, Bunda, katakan sebenarnya ada apa?", Sam berseru dengan tidak sabar. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Ia juga jadi merasa bersalah karena telah membiarkan istrinya begitu sibuk dan kelelahan.


"Kita bawa Sarah ke rumah sakit sekarang!", kata Nyonya Rima dengan suara yang begitu dalam. Ibu Asih pun mengangguk dengan cepat, menyetujui.


"Bisakah Ibu dan Bunda mengatakan dulu sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku?!", Sam makin tidak sabar dan kesal karena kedua orang tua itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal ia sudah begitu khawatir dan hampir gila.


"Kami juga belum tahu pasti! Lebih baik kita membawanya dulu ke rumah sakit untuk memastikannya!", jawab Nyonya Rima bijaksana seraya membantu besannya berdiri juga. Sedangkan Sam masih menatap mereka dengan kebingungan di bawah.


"Panggil ambulance, cepat!", seru Ken pada bawahannya yang lain. Ana di samping menggeleng pelan, padahal kan bisa saja mereka membawa Sarah dengan mobil saja. Tidakkah ini terlalu berlebihan, pikirnya!


"Ken,, Ken!", tiba-tiba Ana merasakan sesuatu mengalir di bawah sana dan mulai membasahi kakinya.


Semua orang pun mengalihkan pandangan kepadanya sekarang. Ken yang berada di sisinya pun segera menoleh. Bahkan Sam yang sedang berusaha menggendong Sarah pun ikut penasaran.


"Ken! Sepertinya aku akan melahirkan sebentar lagi!", ucapan Ana lantas membuat semua orang menjadi terkejut. Ken yang sejak tadi tenang pun sekarang menjadi panik. Ia melihat air mengalir dari kaki Ana. Ibu Asih dan Nyonya Rima pun mendekat untuk melihat.


"Air ketubannya sudah pecah! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!", seru Ibu Asih panik bersamaan dengan Nyonya Rima di sebelahnya.


Tak banyak berpikir lagi, Ken segera membopong tubuh Ana yang sudah tambun itu ke arah luar. Makin panik pula ketika Ana mulai mengeluhkan jika perutnya mulai mengalami kontraksi.


"Tahan sebentar ya, Sayang!", Ken mengecup kening istrinya itu dengan penuh kasih sayang di tengah rasa paniknya. Ia mulai berjalan cepat dengan Ana yang berada di tangannya.


"Kau juga cepat bawa istrimu ke rumah sakit! Kenapa malah diam?!", Nyonya Rima menepuk bahu putra bungsunya yang seperti tersihir melihat kepanikan kakaknya itu.


Kemudian ia pun menyusul Ken di belakangnya. Beberapa pengawal memandu mereka berdua yang sedang menggendong istri mereka masing-masing. Para pengawal bertugas memberi jalan agar tidak ada yang menghalangi para tuan mudanya.


Krystal dan Louis menyadari ada sebuah keramaian dari tempat duduk VIP pun segera menghampiri. Mata mereka tak menangkap dua sosok wanita yang dikenalnya berikut dengan suami mereka.


"Ada apa?", tanya Krystal tak tahu ia tujukan kepada siapa. Matanya berkeliaran memindai situasi terkini dari orang-orang yang berkerumun.


"Krystal!", Ibu Asih yang akan menyusul Sam pun berhenti sebentar untuk memberitahukan kabar terkini kepadanya.


"Sarah pingsan dan Ana mengalami pecah ketuban. Jadi mereka akan dibawa ke rumah sakit sekarang. Maaf, nak, tidak bisa menemanimu sampai acara ini selesai!", ucap Ibu Asih dengan penuh penyesalan. Di samping itu ia masih begitu khawatir pada Ana dan Sarah yang sudah dibawa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kami tidak apa-apa, Bu! Cepat susul mereka! Setelah acara selesai, kami akan segera menyusul juga ke rumah sakit!", Louis memiliki pemikiran yang sama dengan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Baiklah, kalau begitu Ibu pergi dulu!", setelah berpamitan, Ibu Asih langsung berlari kecil menyusul ketertinggalannya.


Bagaimanapun juga Ana dan Krystal sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri. Jadi saat ini melihat Sarah pingsan dan Ana yang mengalami pecah ketuban, dirinya merasa sangat khawatir. Tapi juga merasa tidak tega meninggalkan putri yang satunya lagi, dimana Krystal sedang merayakan pesta hari bahagianya. Ibu Asih mengejar mereka ditemani Sandi di sampingnya.


"Aku akan tetap di sini mengawasi acara! Lalu kita akan menyusul mereka bersama!", kata Adam yang datang belakangan.


Louis dan Krystal setuju. Biarkan kakaknya mengawasi acara ini. Kemudian pengantin baru itu pun kembali ke panggung tempat mereka menerima ucapan selamat dari semua tamu. Begitu pun dengan keriuhan yang tadi terjadi. Semua orang membubarkan diri dan kembali menikmati pesta sambil memikirkan akan memberi hadiah apa kepada putra Presdir Ken yang akan segera lahir


Petugas medis yang tadi dipanggil pun baru datang, mereka kebingungan karena tidak ada siapa pun yang harus mereka periksa. Semua tamu terlihat baik-baik saja. Dan pasien yang dikatakan pun entah pergi menghilang kemana. Apakah mereka yang terlalu lama datang?! Dua orang petugas itu pun menggaruk kepalanya heran.


Begitu pun sama nasibnya dengan mobil ambulance yang dipanggil. Ketika supir sampai di depan lobi, hanya ada kesunyian. Dan ponselnya segera berdering. Ia mendapat kabar jika tuannya tidak jadi menggunakan jasanya. Sebenarnya dia yang terlalu lama atau mereka yang terlalu gesit?!


***


Ketika sampai di rumah sakit, mereka semua langsung membagi tugas. Ibu Asih menemani Sam dan Sarah, ada Sandi juga beserta mereka. Sedangkan Tuan Dion dan Nyonya Rima menemani Ken dan Ana yang akan segera melahirkan.


Sarah mulai sadarkan diri, namun kepalanya masih terasa berat sehingga pandangan matanya masih kabur. Ia hanya dapat merasakan jika tubuhnya terus terguncang-guncang seperti sedang dibawa oleh sesuatu.


***


Tuan Dion dan Nyonya Rima menunggu dengan cemas di depan ruang bersalin. Ken ikut masuk ke dalam untuk menemani Ana. Ia ingin memberikan semangat dan energi lebih, agar istrinya itu dapat melalui masa-masa ini dengan kekuatan penuh. Pria itu juga ingin mendengarkan tangisan pertama calon anaknya nanti.


"Ayo, Sayang! Kau pasti bisa!", pria itu terus menyemangati Ana yang sedang berjuang untuk mengejan. Ia mengusap peluh yang bercucuran di wajah Ana sambil terus menggenggam tangan wanita itu dengan begitu erat.


"Selamat, Tuan, Nona, bayinya laki-laki!", kata dokter setelah terdengar suara tangisan seorang bayi.


"Kami akan membersihkan bayinya dulu!", sambungnya lagi seraya membawa anak mereka kepada suster untuk dibersihkan.


Ana yang kelelahan pun tersenyum lega. Air matanya tak terasa mengalir karena perasaan bahagianya. Ken mengusap cairan bening yang jatuh di pipinya. Keduanya saling memandang dengan perasaan haru.


"Terima kasih, Sayang! Terima kasih karena kau telah memberikan malaikat kecil di dalam hidup kita! Aku mencintaimu, Ana! Aku mencintaimu!", Ken mengusap sebelah pipi Ana, kemudian mengecup keningnya begitu dalam.


"Kau menangis?", Ana menggoda suaminya. Ken pun mengusap matanya yang basah. Kemudian keduanya tertawa bersama dalam kebahagiaan yang terasa luar biasa di dalam hidup mereka ini.


***


"Selamat!", ucap Ana setelah melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


Sekarang semua keluarga sudah berkumpul di dalam ruangan Ana yang besar itu. Karena resepsi pernikahan Krystal dan Louis telah usai, pengantin baru itu pun segera datang bersama dengan Adam begitu mendapat kabar jika keponakan mereka telah lahir. Begitu juga dengan Ibu Asih dan Sandi, mereka juga datang ke sini setelah pemeriksaan Sarah selesai.


"Kau juga selamat!", seru Sarah yang sedang didorong dengan kursi roda oleh Sam, mendekat ke arah tempat tidur Ana dan juga bayinya.


"Lucu sekali!", pujinya pada bayi gembul yang sedang tertidur damai di dalam boks bayi di sebelah Ana. Ken dan Ana pun saling berpegangan tangan sambil tersenyum melihat betapa tenangnya bayi mereka tidur.


"Kita juga akan memiliki yang seperti ini, Sayang!", seru Sam seraya berlutut untuk melihat keponakannya itu lebih dekat.


Kedua orang itu saling memandang dengan perasaan haru. Setelah bersabar selama beberapa waktu, akhirnya mereka bisa memiliki keturunan juga. Dari hasil pemeriksaan, Sarah dinyatakan sudah mengandung selama empat minggu. Mendengar hal itu, semua keluarga begitu bahagia tentunya. Namun di masa kehamilan muda ini, Sarah dianjurkan banyak-banyak istirahat untuk menjaga kandungannya.


"Apakah kau sudah menyiapkan nama untuk keponakan kecilku?", tanya Krystal seraya mendekat bersama dengan Louis di sampingnya.


"Leon!", seru Ana sambil tersenyum.


"Namanya Leonardo Wiratmadja!", sambung Ken sambil memandangi putranya dengan tatapan yang begitu mendalam.


"Benar! Leon! Dia adalah putra dari raja singa dan singa betina kita!", celetuk Sam sehingga membuat semua orang tertawa. Termasuk para orang tua yang sedang bercengkerama di sofa.


"Kau!", Ken menggeram sambil melotot ke arahnya.


"Awas kau nanti!", sedangkan Ana, sambil berbaring ia mengancam Sam dengan tinjunya. Wajah garang khasnya pun tak ketinggalan.


"Oh, keponakanku tersayang! Lihatlah betapa seramnya ayah dan ibumu! Benar-benar seperti singa! Jika sudah besar nanti, kau jangan galak seperti itu, ya!", Sam melanjutkan lagi sambil berpura-pura merengek pada bayi yang tidak tahu apa-apa itu.


"Kau memang minta dipukul rupanya!", Ken bangun dari duduknya di sisi Ana. Ia bermaksud memberi adiknya itu pelajaran karena sudah berkata yang tidak-tidak di depan putranya yang masih begitu kecil.


"Ampun, Ka! Jangan pukul aku!", Sam berlari mengelilingi ruangan itu untuk menghindari kejaran kakaknya.


Semua orang di dalam ruangan itu pun tertawa melihat pemandangan langka ini. Jarang-jarang mereka melihat Ken yang biasanya acuh begitu terprovokasi oleh tingkah adiknya yang konyol itu. Mereka semua hanyut dalam kebahagiaan. Dan lagi kebahagiaan ini terasa lengkap bagi para orang tua, bagi Tuan Dion, Nyonya Rima dan Ibu Asih, mereka semua berkumpul dengan anak-anak dan cucu mereka dalam suasana yang benar-benar membahagiakan.


TAMAT


CERITANYA SELESAI ? IYA, BENERAN SELESAI KOK...


AUTHOR MAU MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAKASIH BUAT TEMAN-TEMAN SEMUA YANG SUDAH MENGIKUTI CERITA INI SAMPAI AKHIR YA 🙏😊


AKU MAU FOKUS UNTUK BUAT KARYA BARU AKU,, MESKIPUN AKU BELUM TAHU MAU AKU POST DIMANA 😁😁🤭🤭


POKOKNYA SEKALI LAGI AKU UCAPIN TERIMA KASIH YANG SEBANYAK-BANYAKNYA, YA 🥰

__ADS_1


KEEP STRONG AND HEALTHY YA SELALU 😘


__ADS_2