Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 48


__ADS_3

Joice memandang ke luar jendela mobilnya. Bukan menikmati pemandangan di sana, melainkan dia tengah melihat pantulan dirinya sendiri di kaca mobil sambil tersenyum bangga. Joice merasa akan menjadi putri yang paling cantik malam ini. Dia sudah melakukan persiapan begitu lama sejak siang tadi di salon. Tampilannya kali ini pasti tidak akan mengecewakan. Ken pasti akan jatuh ke tangannya, begitu pikiran Joice yang begitu percaya diri.


***


Malam sudah menunjukkan pukul 8 dan suara deru mobil terdengar dari arah halaman kediaman Wiratmadja. Seorang pelayan mengatakan pada Nyonya Rima bahwa mobil Joice sudah memasuki halaman rumah. Dengan riang Nyonya Rima berjalan ke arah teras untuk menyambut kedatangan calon menantunya itu.


Sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di depan teras itu. Nyonya Rima terlihat sudah menunggu untuk menyambut seseorang yang akan keluar dari sana. Si supir membukakan pintu pada bagian kursi penumpang. Sepasang kaki ramping nan mulus keluar dari sana. Joice keluar dengan gaun maroon panjang dengan belahan selutut tampak anggun ia gunakan. Gaun itu serasi dengan jas yang sudah dipilihkan untuk Ken sebelumnya. Dia nampak menghambur ke arah Nyonya Rima.


"Malam tante!", ucapnya kemudian melepas pelukannya pada Nyonya Rima.


"Wah, tante cantik sekali!", tambahnya memuji Nyonya Rima dengan mata berbinar.


"Ah, kau tentu lebih cantik Joice! Ken pasti akan suka padamu nanti. Mari masuk!", mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah diiringi seringai licik dari wajah Joice tanpa Nyonya Rima tau.


Mereka menuju meja makan sambil berbincang-bincang. Nyonya Rima merasa sudah cocok dengan Joice sebagai calon menantunya. Selain dia yang cantik dan cerdas, Joice juga berasal dari keluarga terpandang. Tentu saja itu juga merupakan hal penting yang perlu dipertimbangkan untuk masuk ke dalam keluarga Wiratmadja.


Di ujung meja, duduk Tuan Dion dengan bukunya. Beliau menduduki kursi tunggal di ujung meja layaknya pemimpin keluarga Wiratmadja. Usahanya yang cukup keras itu yang menjadikan Glory Coorporation menjadi sukses. Dan oleh sebab itu keluarga Wiratmadja bisa menjadi keluarga yang disegani dan cukup diperhitungkan. Wibawanya masih terasa menguar dari dirinya meskipun ia sudah tak menjalankan bisnisnya lagi.


Seorang pelayan datang memberitahukan bahwa mobil Ken telah memasuki halaman. Wajah Joice langsung berbinar dan jantungnya terasa berdetak kencang saat tau dirinya sebentar lagi akan bertemu dengan Ken. Joice tersenyum sendiri membayangkan dirinya yang serasi dengan balutan warna yang sama. Ditambah lagi Ken yang memujinya begitu cantik dalam bayangannya membuat Joice merasa di atas awan.


"Sebentar lagi Ken datang, kau pasti akan terlihat sangat serasi dengan putraku", ucap Nyonya Rima seraya mengusap lembut pipinya. Dan ucapan itu makin membangkitkan kepercayaan diri Joice. Ia menyelipkan seringainya disela senyum manisnya pada Nyonya Rima.


Tuan Dion nampak memperhatikan dua orang di hadapannya dengan tatapan datar. Beliau tidak merespon apapun perbincangan mereka. Hanya saja sejenak tatapan sinis dia arahkan pada Joice yang sedang merasa di atas awan, beliau menangkap aura itu dengan matanya.


"Biar Ken yang menentukan kau pantas atau tidak untuknya! Jangan berpikir terlalu banyak, nona!", gumam Tuan Dion dalam hati.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, bukan hanya satu tapi terdengar beberapa orang. Joice dan Nyonya Rima saling melempar pandangan. Joice sedikit mengerutkan alisnya.


"Apa Ken membawa seseorang bersamanya?!", gumam Joice dalam hati.


"Tenang saja mungkin itu Han, cantik", ucap Nyonya Rima seakan tau isi pikirannya. Keduanya sedikit bernafas lega dan tersenyum kembali. Tapi senyuman mereka hilang saat terdengar suara wanita bersama mereka. Tuan Dion memperhatikan gelagat mereka masih dengan tatapan datarnya, tapi kali ini beliau sedikit menipiskan bibirnya.


"Ken!", ucap Ana yang belum sampai di ruang makan. Ia menahan genggaman tangan Ken sehingga mereka menghentikan langkahnya. Ken menoleh ke arah Ana dan paham apa yang dirasakan kekasihnya saat ini.


"Aku gugup", ucap Ana lagi dengan suara terendahnya.


"Tenang saja, sayang. Ada aku bersamamu!", ucap Ken lembut seraya menangkupkan pipi Ana dengan kedua tangannya. Dan tak lupa Ken memberi Ana kecupan di keningnya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Eherm,, eherm!", suara seorang pria berdehem dari arah belakang mereka.


"Han!", Ana menoleh ke asal suara. Dia nampak terkejut lantaran jas yang tadi ada di bangku penumpang kini sudah dipakainya.


"Baru saja, Tuan", jawab Han.


"Kau terlihat tampan dengan jas itu!", ucap Ken dengan senyum penuh arti.


"Ken?", Ana menggoyang-goyangkan tangan Ken meminta diberi penjelasan.


"Kau akan tau nanti", jawab Ken singkat dan masih dengan senyum anehnya.


"Perasanku tidak enak", gumam Han dalam hati.

__ADS_1


FLASHBACK ON


Tak lama keluat dari butik, Ana tertidur di sebelahnya. Tanpa sengaja pandangannya terarah pada kotak besar dari bundanya itu. Bukan Ken namanya jika dia tak memiliki ide-ide cemerlang dalam otaknya.


Sambil berkendara dia merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Ken melakukan panggilan pada seseorang.


"Han, apa kau sedang sibuk? Datanglah untuk makan malam bersama di kediaman orang tuaku. Aku sudah menyiapkan jas yang cocok untukmu. Datang segera jam 8 nanti!", ucap Ken langsung saat Han baru saja mengangkat panggilannya.


"Baik, tuan", Ken langsung menutup panggilannya.


Sedangkan di sisi Han, setelah menutup panggilan dari bosnya ia langsung melihat jam dinding di kamarnya. Saat ini Han sedang bermain game di laptopnya untuk sekedar mengusir penatnya setelah seminggu bekerja. Ia langsung bangkit dari ranjangnya tanpa mempedulikan laptopnya yang terjun bebas ke lantai saat tau jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 15 menit. Beruntung di bawah ranjangnya beralas karpet bulu tebal, sehingga laptopnya tak mengalami kerusakan berarti.


"Astaga Tuan, mengapa kau selalu di luar dugaan!", Han bergegas mengganti pakaiannya dengan kemeja putih dan celana hitam. Dia ingat bosnya berpesan sudah menyiapkan jas untuknya.


Han menyalakan mesin mobilnya dan bergegas menuju kediaman besar Wiratmadja.


FLASHBACK OFF


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang makan. Posisi mereka nampak akan disalahpahami lantaran Ana berjalan di belakang Ken, dan Han menyusul di belakang.


Wajah Joice terlihat berbinar saat Ken hadir, kemudian dia memasang wajah masamnya setelah Ana muncul di belakang Ken. Tapi kemudian dia tersenyum lagi saat Han juga muncul di belakang mereka dan langsung hilang lagi senyumnya saat menyadari apa yang Han kenakan saat ini.


Begitupun dengan Nyonya Rima, beliau melakukan hal yang sama saat ketiga orang itu muncul secara bergantian. Kedua wanita itu tanpa sadar membuka mulutnya, menahan ketidakpercayaan mereka terhadap kenyataan yang ada.


"Tidak mungkin!", kedua wanita itu merapalkan hal yang sama dalam batinnya.

__ADS_1


"Apa maksud dari semua ini Tuan", ucap Han dalam hati yang juga masih dalan keterkejutannya.


__ADS_2