
Ken bangkit dari tempatnya duduk dan masih menatap Ana dengan tatapan tajamnya. Dia melangkah maju untuk terus mendekat ke arah Ana. Auranya suram dan siap menerkam mangsanya.
***
Ken terus melangkah maju mendekati Ana yang mulai menciut nyalinya. Ana terus mundur sambil menyelidik tatapan Ken yang sangat seram menurutnya.
"Ken", panggil Ana dengan suara tersekat. Ken tak bergeming, dia tetap melangkah maju dengan aura suramnya.
Langkah Ana terhenti saat kakinya sudah mencapai salah satu sisi ranjang. Ken mendekatkan dirinya ke tubuh Ana. Dia mendekap tubuh Ana kasar dengan satu tangannya dan mencondongkan kepalanya hingga berada di sebelah kepala.
"Kau,, sudah,, berani rupanya!", Ken berbisik di telinga Ana.
Punggung Ana menegang mendapat bisikan dari Ken. Rasa takut mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ana salah perhitungan, dia sudah membangunkan raja singa yang sedang tertidur rupanya. Ana memejamkan matanya kuat-kuat hingga kerutan di matanya terlihat.
Ken menarik kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Ana saat ini. Dia melipat bibirnya ke dalam untuk menahan senyumnya.
"Kau,, sudah,,, berani,, menjahiliku rupanya!", bisik Ken lagi dan langsung menggelitik pinggang Ana.
Ken menggelitik pinggang Ana hingga Ana tertawa sampai menangis.
"Maaf Ken, maaf! Ampun Ken, tolong hentikan!", racau Ana di tengah tawanya.
"Hanya kau yang berani mengerjai aku, kau tahu?!", ucap Ken semakin gemas untuk menggelitik Ana.
Ken terus melakukan hukumannya pada Ana hingga mereka terjatuh di atas ranjang. Saat ini Ana berada di bawah tubuh Ken. Tangan Ken berada di sebelah kanan dan kiri tubuh Ana seperti sedang memenjarakannya. Mereka mengakhiri sisa tawa mereka saat tatapan mereka bertemu dan makin intens. Mereka saling menatap hingga ke dalam bola mata mereka masing-masing. Ana menelan ludahnya untuk meredakan sedikit kegugupannya.
"Ana!", ucap Ken dengan suara parau.
"Kruukk,, kruukk,, kruukkk", suara perut Ana mengakhiri ketegangan di antara dua manusia itu.
Ken membanting dirinya ke samping tubuh Ana, dia merebahkan diri dan memposisikan dirinya miring menghadap Ana.
"Kau lapar?", tanya Ken lembut. Ana mengangguk pelan menahan malu.
"Ah, aku hampir lupa mengajakmu makan siang. Maafkan aku ya", ucap Ken sambil mengusap lembut pipi Ana.
__ADS_1
Ken bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ana berdiri.
"Ayo kita turun, aku akan menyuruh kepala koki untuk masak makan siang untuk kita", Ken menggandeng Ana keluar dari kamar.
Ana menghentikkan langkah Ken dengan menarik tangannya.
"Ada apa?", Ken menoleh ke arah Ana.
"Eemm,, eemm", Ana menggeleng. Dan Ken mengernyit heran.
"Aku akan memasak untukmu, okeh", ucap Ana memohon dengan senyum manisnya.
"Apakah kamu yakin?! Tapi di sana banyak benda tajam, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu", rasa khawatir yang tulus keluar dari mulut Ken.
"Bukankah kau bilang sudah cukup mengenalku?!", ucap Ana dan mengangguk pasti.
"Baiklah, ayo!", Ken mengajak Ana keluar.
Ana kembali menahan tangan Ken. " Ada apa lagi?", Ken mengerutkan alisnya dalam.
"Astaga ya ampun! Kau tetap cantik walau tak menyisir rambutmu, sayang", ucap Ken lembut dan mengecup kening Ana. Ana dibuatnya tersipu lagi hingga pipinya merona. Ana memalingkan wajahnya dan menipiskan senyumnya.
"Ya ampun, kau itu sungguh menggemaskan ya. Bisa-bisa aku makan siang di kamar ini, jika berlama-lama denganmu sekarang", ucap Ken menggoda Ana. Mata Ana melebar dan melempar pandangannya ke arah Ken dengan tatapan tajam.
"Sudah ayo, kau lapar bukan!", Ken dan Ana berjalan keluar dari kamar itu sampai dapur sambil berpegangan tangan.
Beberapa pelayan menatap takjub pada tuannya yang akhirnya bisa begitu hangat dengan seorang wanita. Pasalnya desas desus yang mengatakan Ken tidak menyukai wanita bahkan sampai di telinga para pelayannya. Ya wajar saja mereka berpikiran seperti itu. Masalahnya selama bertahun-tahun bekerja dengan tuannya itu, tak pernah sekali pun tuannya terlihat membawa seorang wanita ke rumah.
"Apa makanan kesukaanmu?", tanya Ana setelah sampai di dapur.
"Tidak ada yang spesifik. Apa pun akan aku makan asal kau yang membuatnya. Masaklah, aku akan menunggumu di ruang kerjaku. Ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan", ucap Ken sambil mengelus kepala Ana.
"Baiklah Tuan, aku akan melakukan yang terbaik untukmu", Ana mengerlingkan sebelah matanya pada Ken.
Ken meninggalkan Ana di dapur dengan beberapa pelayan. Sedangkan dia memilih meneruskan pekerjaannya. Ken tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bersantai. Untuk mencapai posisinya saat ini tentu melalui banyak kerja keras dan rintangan. Dengan bercucuran peluh, Ken meraih kesuksesan yang banyak didambakan banyak orang. Memang usaha tak ada yang membohongi hasilnya.
__ADS_1
Ana sudah hampir menyelesaikan masakannya. Dia sebenarnya ingin sekali mengerjakan semuanya sendiri, namun dengan banyak perdebatan akhirnya Ana memerintahkan pelayan-pelayan yang membantunya untuk melakukan prepare saja. Sedangkan Ana mengambil semua bagian dalam memasak, karena dia ingin memberi yang terbaik untuk Ken.
Beberapa hidangan telah tersaji di meja makan besar. Bagi siapa yang berjarak tak jauh dari sana pasti akan langsung menghirup aroma dari kenikmatan masakan Ana.
"Kakak!", sebuah suara menggema dari arah pintu masuk rumah.
"Kakak,, ipar!", ucap Sam terbata saat melihat calon kakak iparnya sedang memakai celemek dan menata makanan di meja makan.
"Kau!", Ana mengernyit menatap pria yang berdiri di hadapannya. Dia akhirnya mengenali pria itu adalah orang yang bertabrakan dengannya di kantor Ken.
"Kakak ipar, kenalkan aku Sam. Aku adik dari Tuan rumah ini dan aku juga adalah calon adik iparmu!", Sam menarik tangan Ana untuk bersalaman. Sam mengembangkan senyumnya saat melihat berbagai hidangan tersaji di sana.
"Kakak ipar, heh?!", Ana memiringkan kepalanya sambil menatap heran ke arah Sam.
"Apa kau yang memasak ini semua, kakak ipar?", Sam seolah tak peduli dengan tatapan heran Ana. Dia sudah begitu asik memikirkan makan siang yang sudah membangunkan cacing di perutnya untuk diberi makan.
Sam sudah menarik asal salah satu kursi di sana dan mendudukkan dirinya. "Wah kebetulan sekali aku belum sempat makan siang", dengan percaya dirinya dia sudah akan mengambil beberapa makanan. Sendok dan garpunya berhenti di udara saat sebuah cengkeraman tangan yang kuat mendarat di salah satu bahunya.
"Kau cari mati ya?!", ucap Ken setengah berbisik di telinga Sam. Auranya kini sangat suram, dia memasang mode pembunuh pada Sam. Seketika Sam meletakkan kembali alat makannya dan melirik Ken sambil takut-takut. Kemudian dia melemparkan pandangannya pada Ana.
"Kakak ipar, ijinkan aku makan siang di sini ya. Sayang sekali makanan sebanyak ini jika tidak dihabiskan. Kau tahu kak, aku belum makan siang sejak tadi karena sibuk membantu mengurusi urusan kantor akibat kakak meninggalkannya secara tiba-tiba. Ya, ya, ya, bolehkan kak?!", ucap Sam memohon pada Ana dengan menangkupkan kedua tangannya di hadapan Ana.
Ana menatap Ken yang sedang menatapnya dengan sorot tajam sambil menggeleng. Kemudian dia menatap Sam yang sedang menatapnya dengan wajah memelas seperti peliharaan yang sedang memohon untuk diberi makan. Ana menatap mereka terus secara bergantian.
"Baiklah, ayo kita makan siang bersama", ucap Ana sambik menatap Ken dengan tatapan memohon. Ana merasa tidak enak pada Sam, karena bagaimanapun juga Ken meninggalkan kantor juga berkaitan dengannya.
"Setelah makan kau langsung pergi!", ucap Ken dingin.
"Baiklah, tak masalah", ucap Sam riang. Yang terpenting saat ini dia bisa menikmati hidangan lezat ini. Setelahnya akan ia pikirkan nanti. Mungkin saja dia masih ingin berbincang dengan calon kakak iparnya itu.
Ken membantu Ana melepas celemeknya dan memberikannya pada salah satu pelayan. "Kau jangan sampai tertipu olehnya. Setiap tindakannya selalu mengandung muslihat. Setelah ini dia pasti tidak akan langsung pergi", ucap Ken pada Ana yang sengaja agar Sam mendengarnya.
Orang yang dituju adalah Sam, tentu saja dia tidak marah. Dia malah menanggapinya dengan senyum jahil. Ken hanya bisa menggeleng menatap adiknya.
Sam sudah akan mengambil salah satu menu di hadapannya, tapi Ken langsung meneriakinya lagi, "Saam".
__ADS_1