Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 57


__ADS_3

Sarah menyapu keadaan sekitar, benar saja ia kini tengah berada di sebuah kamar hotel nan mewah. Pandangannya teralihkan pada tasnya yang nampak masih utuh sedang bersandar pada sofa empuk di sana. Kemudian ia menoleh ke arah Sam yang masih lelap dengan tatapan waspada.


***


"Sebaiknya aku pergi sekarang. Sebelum orang ini bangun dan aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya", Sarah akhirnya memutuskan dalam batinnya.


Dengan gerakan yang sangat lembut ia singkirkan tangan yang mendekap pinggangnya. Dan pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, tak lupa ia menaikkan selimut hingga menyisakan kepala Sam.


"Terima kasih, Tuan!", bisiknya yang sudah berdiri. Ia tetap tak berharap Sam akan bangun dari tidurnya. Ia mencari sesuatu untuknya meninggalkan pesan untuk orang yang sudah menyelamatkannya itu.


Sarah mendapatkan sobekan kertas dari tasnya dan mengambil pena untuk menuliskan sesuatu di sana. Sejenak ia nampak berpikir, menimbang-nimbang kata-kata apa yang pantas untuk ia ucapkan.


Terima kasih, Tuan.


Aku akan selalu mengingatmu 😊


Ia menambahkan emoticon senyum di sana. Kalimat sederhana yang ia rasa cukup untuk mengutarakan rasa terima kasihnya.


Tanpa suara dan langkah perlahan, Sarah mengendap-endap menjauh dari ranjang. Ia membuka knop pintu dengan sangat pelan supaya tak menimbulkan suara. Setelah berhasil keluar kamar, Sarah kembali menutup pintu dengan perlahan. Lalu ia melajukan langkahnya untuk pulang.


Selang setengah jam, Sam mulai mengerjapkan matanya. Berusaha pulih dari lelapnya. Tangannya meraba-raba ke sisi ranjang di sebelahnya, ia tak menemukan siapapun di sana. Sam menghembuskan nafasnya kasar. Ia memposisikan dirinya telentang menghadap langit-langit sambil merentangkan tangannya.


Sesaat matanya menangkap secarik kertas putih diselipkan di bawah vas bunga di atas nakas. Ia meraihnya dengan malas tanpa turun dari ranjang. Sam membacanya sekilas kemudian ia kembali berangan sambil menatap langit-langit kamar hotel itu.


"Bahkan ia pergi begitu saja!", Sam tersenyum penuh ironi.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


"Benar tidak terjadi apa pun pada kalian?", tanya Ana sambil mengawasi ekspresi Sarah.


"Tentu saja, benar! Temanmu ini masih punya harga diri, tau!", jawab Sarah lantang.


"Baiklah, lalu bagaimana bisa kau datang ke rumah itu? Kau tau, begitu kau datang tadi rasanya aku ingin langsung mencabik-cabik wajah Sam sampai hancur!", ucap Ana gemas sambil mempraktekkan tangannya yang sedang mencakar udara.


Sarah bergidik ngeri. Sesungguhnya ia tak habis pikir jika sahabatnya itu akan berubah jadi begitu menyeramkan jika sudah marah. Ana yang pembawaannya anggun dan juga tenang, siapa sangka saat marah akan berubah menjadi singa betina yang sangat buas.


Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil merasai seluruh bulu ditubuhnya yang berdiri akibat membayangkan jika benar saja dirinya dan Sam terjadi sesuatu yang salah. Sarah tak ingin lagi meneruskan angannya yang menyeramkan. Ia memilih meneruskan ceritanya.


"Saat itu aku sedang di rumah sakit menemani ibu. Tiba-tiba kondisi ibu memburuk dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk operasi jantungnya. Aku bingung mencari uang kemana. Saat itu aku dan adikku sedang duduk di depan meja administrasi sambil berdiskusi. Tapi tetap saja kami tak menemukan solusi. Dan entah sejak kapan, ternyata ada Tuan Sam berdiri tak jauh dari kami yang kurasa ia pasti mendengar semua yang kami bicarakan", Sarah mengambil jeda untuknya menarik nafas.


"Lalu?", tanya Ana penasaran.


"Pekerjaan apa maksudmu?", Ana menyatukan kedua alisnya menatap Sarah heran.


"Aku harus menjadi pasangannya saat makan malam di rumah orangtuanya dan sebagai imbalannya dia akan membiayai perawatan ibuku", jawab Sarah cepat.


"Mengapa kau tidak menghubungiku, Sarah?", tanya Ana yang tak habis pikir mau saja menerima tawaran aneh dari orang lain. Dan lagi masih ada dirinya yang merupakan sahabatnya.


"Kumohon Ana! Sudah cukup selama ini kau selalu membantuku. Aku malu Ana harus selalu bergantung padamu. Aku sungguh berharap bisa menyelesaikan masalahku sendiri kali ini. Hutang budiku kepadamu sudah terlalu banyak, bahkan aku tak tau bagaimana harus membalasnya", ujar Sarah yang sudah berwajah sendu. Air matanya menggenang di saat terakhir ia mengucapkan kalimatnya.


Sarah merasa harus tau diri, sampai sejauh mana ia akan mengandalkan Ana yang terus saja membantunya membiayai pengobatan dan perawatan ibunya yang cukup mahal. Ia merasa memiliki beban jika ia tidak dapat membalas budi baik Ana selama ini. Bagaimana pun juga Ana bagaikan malaikat penolong bagi Sarah dan keluarganya.

__ADS_1


Ana meraih Sarah ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama untuk beberapa saat. Menikmati rasa haru atas perasaannya masing-masing.


Sesungguhnya Ana juga merasa bersyukur memiliki Sarah sebagai sahabat satu-satunya. Sarah yang tulus mau berteman dengan Ana tanpa memanfaatkan apa pun yang Ana punya. Ana merasa akan sulit mendapatkan seseorang seperti Sarah lagi. Maka dari itu, ia akan menjaga dan melindungi Sarah sekuat yang ia bisa. Dan karena Ana sudah tak memiliki seorang ibu, maka Ana sudah menganggap ibu Sarah sebagai ibunya sendiri.


"Sarah! Kumohon, jika lain waktu kau mengalami kesulitan jangan sungkan untuk menghubungiku. Memangnya kau pikir aku ini apa?! Kau juga merupakan salah satu orang terpenting dalam hidupku. Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu. Ditambah lagi saat tadi aku melihatmu diperlakukan kasar, rasanya hatiku sakit Sarah", ucap Ana yang sedang menghentikkan tangisnya.


"Iya baiklah Ana!", ucap Sarah diakhir tangisnya. Sarah lebih memilih untuk mengalah, meng iya kan saja ucapan Ana saat ini. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa suatu saat nanti jika dirinya sudah memiliki seseorang yang bisa menjadi sandarannya maka ia akan berhenti bergantung pada Ana.


"Lihat, ingusmu keluar!", ucap Ana sambil menunjuk ke arah hidung Sarah.


"Mana, mana?!", Sarah jadi sibuk mengelap hidungnya di sana sini. Padahal jelas Ana sedang mengerjainya, Ana menahan tawa dengan membungkam mulutnya menggunakan satu tangannya.


"Dasar! Lihat, kau juga!", ucap Sarah angkuh. Ia tau dirinya sudah dikerjai, tapi ia tak menghiraukannya dan malah menyerang Ana balik.


Ana santai menanggapi ucapan Sarah. Ia tau pasti Sarah sedang mengerjainya balik.


"Aku tau, kau pasti sedang membalasku, kan?!", ucap Ana dengan senyum remehnya seakan-akan Ana dapat membaca maksud ucapan Sarah.


"Baiklah, jika kau tidak percaya padaku!",ucap Sarah santai. Ia mengambil cermin kecil dari tasnya dan ia serahkan pada Ana supaya Ana dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Ana menerima cermin itu dan melihat suatu benda cair memaksa turun dari hidungnya. Lantas ia segera mengambil tisu dan membersihkannya dengan cepat. Sarah melihatnya tak kuat lagi untuk menahan tawa.


"Kau pasti sengaja kan?!", Ana menerkam Sarah dan menggelitikinya. Mereka tertawa bersama hingga lelah menghampiri.


Ana dan Sarah menyandarkan tubuh mereka pada punggung kursi. Ana terlihat melamun, ia menerawang ke arah langit-langit mobil.

__ADS_1


"Sarah!", panggil Ana tiba-tiba.


"Apakah aku pantas menjadi pasangannya?", tanya Ana tiba-tiba yang raut wajahnya terlihat datar tak terbaca.


__ADS_2