Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 229


__ADS_3

"Jangan coba-coba kabur! Atau Bunda tidak mau bicara lagi!", Nyonya Rima berbisik pada Tuan Dion dengan nada mengancam. Tentu tangannya juga bekerja untuk mencubit pinggang suaminya itu dengan gemasnya.


"Iya,,, iya,,, ampun Bunda,, ampun!", Tuan Dion memohon sambil memegangi tangan istrinya. Berusaha melepaskannya pun percuma, yang ada malahan makin keras hukuman yang ia terima.


"Ini,, Bundamu sebenarnya sudah lama ingin mengenalkan Ana dan Sarah kepada semua orang", lagi-lagi pinggang Tuan Dion mendapat sebuah cubitan.


"Jadi hanya Bunda yang menginginkannya?", tanya Nyonya Rima gemas.


"Iii,, iya,, maksudnya Ayah dan Bunda yang menginginkannya", ralat Tuan Dion sambil mengelus pinggangnya yang terasa perih.


"Kau dan Ana kan sudah menikah, untuk menghindari hal seperti tadi terjadi kami rasa ada baiknya untuk mengumumkan pernikahan kalian secepatnya. Dan untuk Sarah, karena calon suaminya itu adalah mantan playboy yang sudah insaf, maka kami pikir untuk mengumumkan bahwa Sam akan segera menikah. Jadi tidak ada wanita yang berharap pada bocah itu lagi seperti kasus Megan Aira tadi", Tuan Dion melanjutkan alasannya.


Sam mengangguk setuju dengan ucapan ayahnya. Ide itu memang masuk akal. Dia juga sudah jengah dengan wanita-wanita yang datang ke perusahaan untuk berusaha bertemu dengannya. Tapi Sarah memilki pemikiran sendiri, bahwa sebelumnya itu dia belum siap dikenal khalayak umum karena merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan Sam yang hebat dan lagi tampan. Namun melihat kejadian bahwa ada wanita yang terang-terangan menggoda lelakinya, maka ia tidak bisa tinggal diam lagi. Semua orang harus tau posisi mereka masing-masing. Jadi untuk hal ini, Sarah setuju dengan ide dari calon mertuanya itu.


"Lalu,,, bagaimana buku nikah kami bisa ada di tangan Bunda?", Ken benar-benar menuntut penjelasan.


Ana mengelus lengan suaminya untuk mengurangi kekesalan yang tengah Ken rasakan. Sabar, sabar, harus sabar menghadapi orang tua, bukan. Meski sebenarnya Ana tidak kesal sama sekali. Karena menurut Ana tindakan yang ibu mertuanya ambil itu adalah keren.


"Ayah!", Nyonya Rima berbisik sambil memberi kode agar suaminya saja yang berbicara.


"Emmhh itu,,, ", Tuan Dion berdehem dulu. Karena bagaimanapun juga pria paruh baya itu cukup gugup juga untuk mengakui kelakuannya kali ini.


"Ayah memerintahkan seseorang untuk mengambilnya dari rumahmu, ternyata tidak ada. Eh ternyata masih ada di tangan Han, jadi ayah pinjam saja dulu sementara. Hitung-hitung kau menyimpannya pada Ayah dan Bunda", Tuan Dion tersenyum. Berharap dengan senyumannya yang seperti kuda ini putra sulungnya itu bisa luluh.

__ADS_1


"Mengambil dari rumahku? Bukankah itu sama saja Ayah berusaha mencuri di rumah putranya sendiri?! Aku benar-benar tidak habis pikir!", Ken meluapkan kekesalannya. Bahkan ia sampai melepaskan tangan Ana dari lengannya.


"Bu,, bukan begitu maksudnya, Ken!", Tuan Dion mulai tak enak hati.


"Kakak, cukup! Kenapa kau selalu galak begini, sih! Terlebih lagi ini kan orang tua kita. Lalu dengan ide Ayah dan Bunda juga semua masalah jadi jelas, bukan. Kenapa Kakak harus marah-marah begini, sih?!", Sam maju menjadi tameng bagi kedua orangtuanya. Ia sekarang tepat berhadapan langsung dengan kakaknya.


"Kau lebih baik diam jika tidak ingin terkena masalah! Lagipula siapa yang marah-marah terhadap Ayah dan Bunda?! Aku ini hanya sedang protes saja. Kau ini ikut campur saja sudah seperti wanita!", Ken menunjuk-nunjuk wajah Sam tidak terima dituduh sedang memarahi orangtuanya.


"Jelas saja Kakak sedang memarahi Ayah dan Bunda! Nada bicara Kakak saja sudah kencang begini! Yang jelas aku tidak terima!", Sam menghempas telunjuk Ken dari depan wajahnya dengan kasar.


Perlahan Ana bergerak ke arah Nyonya Rima dan juga Sarah. Ketiga wanita itu berkumpul membuat lingkaran kecil. Saling berbisik kenapa hal ini bisa menjadi begini. Sedangkan keluarga yang lainnya masih terdiam membaca situasi karena mereka juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua lelaki itu. Hanya tatapan bingung yang mereka keluarkan.


"Bunda, sepertinya umur mereka mendadak berkurang !", keluh Ana terang-terangan sambil mendengus kesal. Tentu saja ia kesal pada tingkah dua pria dewasa yang tiba-tiba menjadi seperti anak kecil. Apalagi Ken, itu bukan dirinya sama sekali. Dimana Ken yang berkharisma seperti biasanya. Yang ada di sini adalah Ken yang sama konyolnya dengan adiknya itu.


"Entahlah, Bunda juga tidak tau!", Nyonya Rima menghela nafas pasrah. Entah terkena virus apa hingga kedua putranya itu malahan bertingkah konyol seperti itu. Jika Sam saja mungkin ia sudah terbiasa, lalu bagaimana dengan putra sulungnya yang biasa terlihat dingin dan datar. Pusing kepala wanita paruh baya itu memikirkan kedua putranya.


"Ana, Sarah, bawa lelaki kalian masing-masing. Terserah,, bagaimanapun caranya! Bunda sudah pusing!", Nyonya Rima memerintahkan kedua menantunya itu sambil memijit pelan keningnya.


"Siap, Bunda!", jawab Ana dan Sarah serempak seraya menegakkan punggungnya. Bersiap seperti prajurit pada komandannya.


"Stop!", bentak Nyonya Rima pada kedua putranya. Dengan keras ia memukulkan buku nikah Ana dan Ken pada kening Ken dan Sam. Sangat keras hingga buku nikah itu menempel pada kening keduanya.


"Ayo Ayah, kita pulang!", sambil menghela nafas Nyonya Rima mengajak suaminya pulang. Pun juga dengan anggota keluarga yang lainnya. Nyonya Rima dan Tuan Dion menyarankan untuk meninggalkan dua orang yang sedang ribut itu.

__ADS_1


"Ini punyaku!", Ken menyambar buku nikah yang masih berada di depan wajah Sam.


"Ambil saja, aku tidak butuh!", sahut Sam tidak suka.


"Ayo pulang!", pertama Ana dan Sarah sama memberi isyarat dengan mengedipkan mata. Lalu serempak pula keduanya menarik telinga lelaki mereka ke arah mobil mereka berada. Pria-pria itu mengaduh kesakitan sambil meminta ampun untuk dilepaskan.


"Itukah lelaki hebat yang selama ini selalu ditakuti oleh semua orang?!", Krystal menggeleng lemah dengan wajah bingung dan pasrah.


"Seandainya masih ada wartawan-wartawan itu!", Louis berandai-andai juga sambil menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah konyol yang baru saja ia lihat dari kedua pria yang begitu disegani banyak orang.


***


Benar saja, di salah satu semak-semak tak jauh dari mereka, ternyata masih menyisakan dua orang wartawan yang tengah bersembunyi untuk mengambil gambar keluarga itu. Namun saat akan pergi, salah satu pengawal milik Tuan Dion menemukan mereka.


"Berikan kartu memorinya! Atau kau tidak akan selamat keluar dari sini!", ancam pengawal itu pada keduanya.


Lalu muncul lagi tiga orang yang berpakaian sama dengan pengawal itu. Wajah mereka dingin dan juga seram. Mata mereka tertutup kaca mata hitam, namun kedua wartawan itu mampu merasakan tatapan kejam dari mereka.


Tangannya gemetar saat menyerahkan menyerahkan kartu memori itu pada pengawal yang mengancamnya. Mereka menyayangkan momen yang baru saja mereka ambil. Tapi mereka masih sangat menyayangi nyawa mereka saat ini. Lalu buru-buru kedua wartawan itu lari kocar-kacir saat melihat salah satu di antaranya mulai mengeluarkan senjata. Padahal pengawal itu hanya tidak nyaman saja meletakkan senjata apinya di saku celana. Ia bermaksud memindahkannya ke dalam saku jasnya, bukan untuk mengancam kedua wartawan yang sedang merasa bersalah itu.


***


Megan Aira sudah mengemudikan mobilnya di jalan raya. Aura kemarahan sudah menguar ke sekitar tubuhnya. Membuat wajahnya menjadi suram dan bertambah jelek saat ini. Lagi-lagi ia dikalahkan oleh orang biasa itu. Megan tidak terima.

__ADS_1


Megan merasa mungkin usahanya selama ini kurang keras, dan pelajaran yang ia berikan masih terlalu lembut untuk orang-orang itu. Tunggu nanti, ia akan lebih keras lagi setelah ini. Megan sangat tau setelah berita dan rekaman wawancara itu keluar, namanya akan jadi makin hancur di dunia hiburan.


"Aku tidak akan hancur sendirian! Hancurlah bersama kalau begitu!", Megan menundukkan sedikit kepalanya sambil menatap tajam ke arah jalanan. Sangat tajam sehingga jalanan di depan seakan terbelah dua karenanya.


__ADS_2