
"Kakak, apa kau yakin dengan apa yang kau lihat?", tanya Sam berusaha meyakinkan dirinya sendiri maupun yang lainnya.
"Emmhh,, entahlah!", tiba-tiba muncul sebuah keraguan lantaran dia sendiri juga sudah melihat hasil autopsi dari mayat yang terbakar itu. Dan hasilnya adalah bahwa mayat itu memang Ana-nya yang sangat ia cintai.
"Kak,, mungkin kakak sedang terbawa perasaan saja!", ujar Sam berusaha menenangkan kakaknya yang terlihat begitu gundah.
"Mungkin!", sahut Ken dingin. Perasaannya kembali kacau, luluh lantak berantakan saat ia tetap harus menerima kenyataan bahwa wanita yang amat ia cintai telah tiada. Hatinya kembali terasa perih mengingat detik-detik terakhir saat mereka saling menyatakan cinta mereka masing-masing.
"Anda harus kuat, Tuan!", ujar Sarah seraya menepuk bahu Ken. Ia paham apa yang Ken rasakan saat ini, sebuah kehilangan nyata yang kadang bisa membuat orang berhalusinasi. Sarah memandang prihatin kepada Ken yang terduduk di kursi rodanya.
Ken mengangguk tanpa bersuara. Ia memasang wajah datarnya, menyembunyikan begitu banyak rasa pilu yang sulit untuk di jelaskan satu persatu.
***
Di pintu masuk pemakaman, mulai padat dengan aktifitas kendaraan roda empat yang perlahan mulai meninggalkan tempat itu. Pun juga sama halnya dengan mobil yang wanita misterius itu tumpangi, mobil hitam itu melaju perlahan mengikuti antrian.
"Apakah kau baik-baik saja?", tanya pria di sebelahnya sambil menurunkan topi koboy yang menutupi sedikit wajahnya. Dia adalah si pria eksentrik, Benny Callary.
"Menurutmu apakah aku bisa baik-baik saja di saat seperti ini?!", sahut wanita itu dengan suara tenang sambil memandang keluar jendela. Ia membuka hoodie dan maskernya hingga menampilkan keseluruhan wajahnya yang memang muram.
"Kau harus kuat, Ana!", Ben mengusap lembut kepala Ana.
Ia memandangi Ana yang sedang membelakanginya dengan tatapan yang begitu dalam. Ben memahami apa yang Ana rasakan saat ini. Belum selesai urusan kecelakaan yang menimpanya, kini Ana harus mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal dunia. Orang yang paling ia sayangi, pria yang paling ia cintai sebelum Ken tentunya. Tuan Danu merupakan sosok yang begitu berharga bagi Ana, begitu pun juga sebaliknya. Tapi, di saat-saat terakhirnya, di masa dimana harusnya Ana berada di sampingnya, ia tak berdaya, tak mampu berada di sana karena situasi yang tidak memungkinkan. Bahkan saat jenazah itu masuk ke dalam liang lahat, putrinya sendiri tak dapat melihatnya langsung.
Sungguh, kenyataan itu bagai pil pahit yang bahkan tak dapat ia netralisir dengan hal manis apapun. Ia telan pil pahit itu bulat-bulat dengan rasa pedih yang menyayat hatinya. Ana tak mampu melakukan tugas terakhirnya sebagai anak yang berbakti untuk mengantar mendiang ayahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tapi apa mau dikata, ini sudah konsekuensi yang harus mereka ambil saat ini. Sebuah keputusan yang teramat berat bagi siapa pun yang mengalaminya.
Ben paham, tentunya ia sangat mengerti, maka dari itu ia membiarkan Ana menumpahkan seluruh isi hatinya dengan menangis pilu. Meskipun wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya ini tak pernah mau menunjukkan sisi lemahnya pada Ben sejak pertama kali mendengar kabar mengenai ayahnya itu. Ana terus terdiam dan hanya sesekali meneteskan air matanya tanpa bersuara. Ia hanya berseru meminta untuk datang ke pemakaman meski harus menyembunyikan identitasnya. Tak apa baginya, paling tidak ia bisa melihat mendiang ayahnya untuk yang terakhir kalinya, meskipun harus dari jarak yang cukup jauh dari jangkauan matanya.
Bibirnya bergetar dengan rahang yang mengerat kuat. Beberapa titik bulir air mata jatuh di pipinya, namun dengan cepat Ana menghapusnya. Ia tak ingin memberi beban lagi kepada Ben. Ana tau Ben sangat menyayanginya, maka dari itu ia tak ingin Ben melihat dirinya bersedih karena itu akan menjadi beban pikiran bagi Ben pula.
Tapi, Ana tetaplah seorang manusia biasa. Ia tetap merasakan sakit yang amat menyiksa. Dadanya seperti dihujam batu besar, sakit hingga begitu menyesakkan hingga menohok ke tenggorokannya dan membuat suaranya serak tersekat tak mampu bicara. Ana menangis pilu dalam diamnya sambil melihat keluar jendela.
Sebuah mobil sport terlihat memasuki area pemakaman itu, berlawanan arah dengan barisan mobil yang menuju keluar. Di dalamnya terdapat Louis dan juga Krystal yang berniat menghadiri pemakaman Tuan Danu. Namun karena jadwal mereka yang padat, akhirnya waktu tak mendukung mereka untuk datang tepat waktu.
Awalnya Krystal enggan datang lantaran merasa malu dan tak layak untuk hadir di sana karena selama ini ia selalu bersikap buruk pada pamannya itu. Tapi Louis bersikeras supaya kekasihnya itu datang, karena Krystal dan Tuan Bram adalah satu-satunya keluarga yang Tuan Danu miliki. Meski papanya menolak datang, paling tidak Krystal bisa datang untuk mewakili papanya memberi penghormatan terakhir kepada satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh mendiang.
"Berhenti.. berhenti!", perintah Krystal tiba-tiba pada Louis yang sedang mengendarai mobilnya.
__ADS_1
"Ada apa, sayang?", tanya Louis setelah menginjak pedal rem mobilnya. Ia menoleh dan menatap wanita itu heran.
Krystal tak menghiraukan pertanyaan Louis. Ia langsung menghambur keluar dari mobil itu dengan wajah tak terbaca. Ia setengah berlari mengejar sebuah mobil hitam yang ternyata terdapat Ana di dalamnya. Namun sayang, mobil itu sudah melaju keluar dari pintu gerbang pemakaman. Dan langkahnya tak mampu untuk menggapai mobil itu meskipun sudah ia percepat.
Krystal memegangi lututnya untuk menopang tubuhnya yang sedikit lelah karena sudah berlari cukup jauh. Nafasnya tersengal dan terdengar cepat.
"Itu tadi...", ucapnya terbata karena nafasnya masih terus naik turun dengan ritme yang tidak melambat. Krystal berusaha membuat dirinya tenang supaya ia bisa berpikir dengan jernih mengenai apa yang ia lihat barusan. Sosok Ana, ia melihat wajah Ana, wajah yang sangat ia kenal tentunya berada di salah satu mobil yang melintas keluar area pemakaman.
"Ada apa, Krystal?", Louis menepuk bahu Krystal. Ia memutuskan untuk menepikan mobilnya dan segera menyusul kemana Krystal pergi.
Perlahan Krystal menolehkan kepalanya. Air matanya akhirnya tumpah ruah setelah lama ia bendung sebelumnya. Louis tak kuasa melihat keadaan Krystal yang nampak kacau pun segera menariknya ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk bahu wanitanya supaya bisa lebih tenang.
"Ada apa?", tanya Louis begitu lembut.
"Tadi aku...", Krystal masih menangis.
"Baiklah, ambil nafas dalam-dalam kemudian katakan kenapa kau tiba-tiba berlari keluar dari mobil!", perintah Louis sambil mengelus rambut panjang wanitanya.
"Ana! Aku tadi melihatnya! Aku ingin memastikannya lagi, tapi mobil itu sudah pergi", jelas Krystal di tengah tangisnya setelah sebelumnya ia menarik nafasnya dalam-dalam agar bisa menjelaskan kepada Louis dengan benar.
Wanita itu mengangguk pasti dengan deraian air mata. Menatap mata Louis dengan binar kesungguhan di matanya.
"Aku sangat yakin, Lou! Aku sangat mengenal Ana sejak masih kecil. Tentu aku sangat tau itu Ana atau bukan!", serunya dengan nada memohon untuk dipercaya.
"Aku sangat yakin, Lou!", serunya lagi sambil menggoyang-goyangkan kemeja bagian belakang yang Louis pakai lantaran pria itu masih menatapnya dengan wajah meragu.
"Tapi Ana sudah....", wajah Louis berubah sendu saat akan mendeskripsikan kenyataan bahwa Ana telah tiada saat ini.
"Tidak, Lou! Kejadian ini begitu cepat dan mencurigakan. Aku yakin Ana masih hidup!", ucap Krystal begitu bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Louis dan berdiri tegap menambah kesan serius dengan ucapannya.
"Tapi sayang...", Louis kembali ingin membantah ucapan Krystal dengan wajah ragu.
"Tidak ada tapi-tapian...", baru saja Krystal akan merajuk tiba-tiba beberapa orang mulai mengelilingi mereka dengan ponsel yang mereka genggam.
Beberapa pelayat dan pengunjung pemakaman mengabadikan keberadaan Louis dan Krystal yang sedang bersama di pemakaman itu. Tentunya mereka langsung mengenali sepasang kekasih itu yang merupakan seorang public figure. Sontak hal itu membuat Louis segera menjadikan dirinya tameng bagi Krystal yang wajahnya sedang nampak kacau.
Dan kerumunan itu menjadi sorotan semua orang, termasuk oleh rombongan Ken yang akan melaju ke arah pintu keluar. Laju mereka menjadi tersendat akibat kerumunan itu. Han mencoba mencari tau, dengan sedikit mengeluarkan kepalanya supaya dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun hal itu sia-sia lantaran begitu banyak orang yang berada di sana.
__ADS_1
"Saya akan memeriksanya, Tuan!", Han segera keluar dari kursi kemudi dan berjalan ke arah kerumunan itu. Matanya sedikit membulat setelah ia mengetahui sumber dari berkumpulnya beberapa orang ini. Ia memutuskan untuk segera kembali dan memberitahu Ken tentang apa yang ia lihat saat ini.
"Di depan ada Louis Harris dan Nona Krystal, Tuan. Sepertinya mereka terjebak oleh para pengunjung yang ingin mengambil foto mereka", lapor Han pada Ken dari luar setelah Ken menurunkan kaca jendelanya.
Sam yang duduk di sebelah Ken nampak mengernyit heran mendengar nama wanita itu disebutkan. Pasalnya terakhir kali yang ia ketahui adalah bahwa hubungan kedua keluarga itu tidaklah baik.
Berbeda dengan Sam, Ken masih memasang wajah datarnya. Isi pikirannya tak terbaca. Ia nampak mengerutkan alisnya sejenak.
"Apa tujuan mereka datang ke sini?!", gumam Ken dalam hatinya.
"Turunkan aku! Aku ingin menemui mereka", perintah Ken tiba-tiba.
-
-
-
-
-
-
-
Mohon maaf ya teman-teman sudah menunggu amat lama π
kesibukan aku benar-benar padat, astaga!!! Aku jadi ga bisa membagi pikiran aku buat update tepat waktu..
semangat buat kalian semuanya ya..
jaga kesehatan juga di tengah wabah yang belum juga selesai ini
terus dukung aku dengan kasih like, vote dan komentar kalian ya βΊοΈ
dan terima kasih banyak buat kalian yang selalu setia baca novel aku ini πππ
__ADS_1