Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 237


__ADS_3

Dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lobby gedung Glory Coorporation. Dengan gagahnya Ken keluar dari dalam mobil itu. Memang selalu begitu, sih sepertinya. Kapan memangnya pria tampan dan berkharisma itu memiliki celah?!


Ada Han di sana seperti sudah tau bahwa bosnya itu sudah akan sampai. Pria itu berdiri tegak membawa beberapa berkas di tangannya. Setelah Ken keluar dari mobil, tak lupa ia memberikan salam hormatnya dengan santun.


"Oh! Kau masih bekerja padaku, rupanya?!", Ken hanya melirik sekilas asistennya itu. Menampilkan ekspresi dingin yang membuat semua orang membeku. Tak berhenti menunggu Han yang sedang memaku tubuhnya, Ken meneruskan langkahnya tak peduli.


Han dibuat berpikir sepagi ini. Ia memiringkan kepalanya sambil mencoba berpikir keras. Pasti ia memiliki kesalahan sampai bosnya itu terlihat kesal padanya. Memangnya dia ini robot sehingga tidak peka. Tentu saja ia tau jika Presdir Ken yang terhormat itu sedang memiliki masalah dengannya.


Tertinggal beberapa meter di belakang, Han segera menyusuri lantai dasar gedung itu untuk menyusul bosnya yang sudah hampir sampai di depan lift khusus. Saat melewati meja resepsionis yang di atasnya terdapat televisi, Han tak sengaja melihat sebuah berita yang sedang menayangkan cuplikan wawancara kemarin dengan Keluarga Wiratmadja.


Ah, ia ingat sekarang! Jadi karena masalah itu bosnya bersikap seperti gadis yang sedang datang bulan. Tidak banyak bicara namun ingin sekali dimengerti. Han tersenyum, wajahnya sudah berubah tenang lagi sekarang. Ia memiliki alasan, jadi ia tak akan takut jika nanti bosnya itu akan marah padanya. Jangan beri dia ancaman, karena Han sudah memiliki senjata untuk menyerang Ken balik.


ting


Pintu lift terbuka, Ken masuk lalu menyusul Han di belakangnya. Asisten itu berdiri dengan wajah sangat tenang. Ken memperhatikan dengan jelas pada pantulan dinding lift yang terbuat dari cermin. Dan melihat ketenangan itu malah membuat Ken menjadi semakin gelisah dan kesal.


ting


Pintu lift kembali terbuka, tanda bahwa mereka sudah sampai di lantai tempat kantor Ken berada. Ken sempatkan menoleh sebentar pada wajah asistennya yang seperti tak memiliki dosa. Lalu ia mendengus kesal sebelum keluar dari ruangan sempit itu.


Han menahan senyumnya dengan satu tangan sambil mengikuti langkah Ken yang seperti diburu-buru. Seolah pria itu tidak ingin dibuntuti oleh Han saat ini.


"Jadwal Anda hari ini,,,", segera Ken membalikkan tubuhnya saat Han akan memulai menjelaskan jadwal apa saja yang bosnya itu punya sampai sore hari.


Ken hanya membuka sedikit pintu kantornya, lalu berdiri di ambang pintu. Ia menggunakan satu tangannya untuk menahan supaya pintu itu tidak terbuka lebih lebar lagi. Menjadi seperti pagar melarang Han masuk ke dalam sana.

__ADS_1


"Aku tidak mau berbicara denganmu, peng-khi-a-nat! Berikan padaku jadwalnya!", Ken menekankan kata-kata itu lalu merampas dengan kasar kertas-kertas yang ia rasa itu adalah jadwalnya seharian ini.


brakk


Lalu Presdir Ken yang terhormat itu menutup pintunya dengan sangat keras tepat di depan wajah Han.


Bukannya kesal, pria itu malahan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Masih sangat tenang ekspresi wajah pria itu. Melihat tingkah bosnya itu, Han bukannya takut tapi malahan merasa lucu.


"Nanti pasti dia akan menyesal sendiri!", Han terkekeh sambil berjalan menuju meja kerjanya.


***


Dan,,,


"Han, kau keterlaluan!", itu suara teriakan kesal seorang pria. Dan itu suara Ken, pasti.


Memang benar, siapa yang mengatakan jika berkas yang ia pegang adalah jadwal dari bosnya itu. Han hanya tidak sengaja melihat tumpukan kertas yang tidak dipakai untuk ia buang kemudian saat bertemu dengan tempat sampah. Masalah jadwal bosnya itu, Han sudah menghafalnya di luar kepala. Karena hari ini jadwal bosnya itu tidak terlalu padat, jadi ia bisa menghafal jadwal yang hanya beberapa pasal saja.


Tak peduli, bukan begitu sebenarnya. Ia hanya ingin diam saja dan menunggu raja singa yang sedang gelisah itu semakin termakan perasaannya. Kapan lagi semasa ia bekerja dengan Presdir Ken yang terhormat ini, ia bisa mengerjai bosnya itu dengan suka hati.


Han pun memulai pekerjaannya dengan lengkungan di bibirnya yang amat indah seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Bergumam pelan mendendangkan sebuah lagu yang membuat hatinya makin senang.


***


Sedangkan di dalam ruangan Presdir Ken yang terhormat itu. Ruangan yang luas itu dibuat menjadi arena olahraga bagi pria yang mempunyai kantor tersebut. Sudah berapa putaran Ken mondar-mandir di sekitar ruangan itu. Dirinya sangat gelisah saat ini. Ingin sekali Han yang menjelaskannya terlebih dahulu. Tapi egonya begitu besar untuk ia bertanya permulaan masalah ini terjadi.

__ADS_1


Satu tangannya memegangi pinggangnya yang tidak pegal. Lalu wajah seriusnya ia topang dengan satu tangan lainnya yang memegang dagu. Alisnya berkerut nampak bahwa ia tengah berpikir keras. Mengapa Han menjadi setenang itu?!


Ken merasa Han seolah sudah tau alasan Ken marah padanya. Lalu mengapa pria itu tidak menjelaskan apa-apa padanya?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Hisshh! Bahkan karena masalah ini, ia jadi belum melihat pekerjaannya sama sekali. Ia tak peduli. Bahkan jika ada masalah nantinya, biar saja asistennya itu yang menangani. Toh ini semua memang penyebabnya adalah dia sendiri, kan. Ken tersenyum sinis, lalu melemparkan tubuhnya ke atas kursi kebesarannya itu.


"Tidak bisa! Tidak bisa! Bagaimana jika nanti ada klien yang marah?! Bagaimana jika nanti timbul masalah yang sangat besar?!", Ken menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Ia meraih ponselnya, menelepon asistennya itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


Akhirnya Ken kalah juga. Padahal tadi dia sendiri yang mengatakan jika dia tidak mau berbicara dengan Han lagi. Dan baru kali ini, Ken menelan ucapannya sendiri. Mau tak mau, demi profesionalisme yang ia pegang, Ken mengalahkan egonya sendiri.


***


"Masuk!", sahutan itu lantas membuat Han melangkah masuk dengan tenang.


Tadi sebelum mengetuk pintu, ia sudah latihan menahan senyum. Sehingga saat ini wajahnya sudah terlihat tenang lagi. Bahkan ia berusaha tak memiliki emosi.


"Sebelum membahas masalah pekerjaan, aku ingin mengklarifikasi sesuatu padamu!", Ken mengangkat kepalanya sedikit lalu memberi tatapan penuh dominasi.


Jika itu orang lain mungkin sudah menggigil ngeri dan segera kabur dari hadapannya. Tapi ini Han, asisten yang sudah terbiasa hampir setiap hari bersama bosnya itu. Meski tidak dapat berbohong jika aura bosnya itu selalu menekan, tapi paling tidak Han sudah terbiasa dengan pria itu selama bertahun-tahun ini.


"Ada apa, Tuan?", seolah tak tau apa-apa, Han bertanya dengan sopan.


"Cih!", Ken berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya. Ia sangat muak sekarang. Pria itu bahkan berpura-pura tidak tau dengan wajah setenang itu.


"Dari mana kau dapatkan buku nikah aku dan Ana?", Ken tak berbasa-basi menyebutkan pertanyaannya. Tatapan Ken jelas sangat menuntut. Pria itu bahkan sampai menyipitkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2