Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 28


__ADS_3

"Tolong dengarkan Mama dulu, Krystal! Kami sama sekali tidak mempermainkan dirimu!", Nyonya Harris merapat, semakin menyudutkan Krystal. Sehingga wanita itu mau tidak mau menjadi tak berjarak dengan ibu dari kekasihnya itu. Karena tidak sopan baginya jika tiba-tiba bangkit begitu saja.


"Krystal, kami sebagai orang tua tentu mengharapkan kebahagiaan untuk putra kami. Mama dan Papa sangat tahu bagaimana sifat Louis, dia tidak akan pernah mau diatur mengenai masa depan dan juga pilihannya, Sayang! Anak itu tidak pernah mengenalkan seorang wanita pun kepada kami. Makanya ketika tahu bahwa Louis begitu menyukaimu, bahkan sejak beberapa tahun yang lalu, kami tentu akan mendukung apa pun pilihan putra kami satu-satunya itu. Karena kami tahu, yang terbaik menurut kami, belum tentu yang terbaik untuk Louis. Mama begitu bahagia, sampai Mama tidak sabar untuk menikahkan kalian secepatnya. Tapi sebelum itu terjadi, kau harus mengetahui masalah ini terlebih dahulu!", Nyonya Harris memberanikan diri menggenggam tangan Krystal yang masih meremas foto Louis dan juga Alleta sewaktu kecil.


"Baiklah, aku akan coba untuk mendengarkan!", setelah beberapa saat ia menatap genggaman tangan Nyonya Harris padanya, Krystal pun menghela nafas tak berdaya. Ada baiknya memang jika dia mendengarkan cerita dari mereka terlebih dahulu.


"Terima kasih, Nak! Karena kau sudah mau memberikan kami kesempatan!", Tuan Harris yang sejak tadi diam pun membuka suaranya. Lalu disusul dengan anggukan yang begitu bersemangat dari istrinya.


Krystal kehabisan kata-kata di dalam benaknya saat ini. Ia tidak tahu harus berkata apa, sehingga ia hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah tidak yakin. Entah keputusannya ini benar atau tidak. Ia juga tidak tahu, kisah yang akan diceritakan kepadanya ini akan menyakitinya atau tidak. Jadi sebaiknya ia diam saja terlebih dahulu.


***


"Ken, aku merasa gelisah sekarang! Apakah pembicaraan mereka akan berlangsung lama?", tanya Ana yang masih berada di tempat semula.


Bukan hanya Ana saja sebenarnya, tapi semua orang tidak ada yang mau bergerak dari tempatnya. Mereka bersedia setia menanti Krystal yang sedang menghadapi masalahnya saat ini. Semua duduk tenang dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Mungkin karena kau terlalu mengkhawatirkan sepupumu itu, Sayang! Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir lagi! Aku yakin semua akan baik-baik saja! Dan jika memang ada terjadi masalah, kita pasti akan membantunya, kan?!", Ken mengelus bahu Ana yang sejak tadi ia rangkul. Mencoba menenangkan istrinya yang sedang hamil itu. Seorang ibu hamil tidak boleh memiliki banyak pikiran, pesan itu selalu ia terapkan hingga kini dan nanti.


"Ya, kau benar, Ken!", jawab Ana seraya menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya itu.


Saat ini mereka hanya bisa berspekulasi di tempat. Karena memang sosok yang menjadi pembicaraan di tengah pusaran kekhawatiran itu belum juga menampakkan hidungnya. Dan walau apapun yang terjadi pada Krystal nanti, mereka telah bertekad untuk saling menjaga dan melindungi. Bagusnya lagi Ken juga Sam yang paling dapat diandalkan pun ikut bergabung menyetujui hal ini.


"Mau buah?", pria itu menawari istrinya yang memiliki nafsu makan yang tinggi semenjak kehamilannya ini.


"Aku mau anggur!", jawabnya dengan nada manja sambil sesekali memandangi anggur yang tadi sudah ia sentuh sebelumnya.


"Kau yakin? Sudah tidak mual lagi?", tanya Ken seraya menaikkan sebelah alisnya. Pasalnya ia tahu jika tadi istrinya itu memuntahkan anggur itu kembali.


"Itu tadi! Sekarang aku ingin!", Ana menganggukkan kepalanya dengan ekspresi imut. Seperti seekor anak kucing yang menggemaskan.


"Baiklah!", Ken mencubit kecil dagunya, berusaha menahan diri untuk tidak memakan istrinya itu. Sungguh menggemaskan, membuatnya tidak tahan. Namun ia masih sadar dimana mereka sekarang ini. Mungkin ia harus menahan diri sampai nanti malam.


Lalu ia pun mengambil setangkai anggur yang menjulur-julur dengan beberapa buah di setiap ujungnya. Anggurnya besar, merah dan menggoda. Ana sungguh sudah sangat menantikannya. Sayangnya, tangan pria itu berpapasan dengan tangan adiknya ketika Ken hendak mengangkat beberapa buah anggur itu. Pandangan matanya lalu bertemu pandang dengan pandangan mata milik Sam.


"Kakak!", seru Sam pelan sambil terus menatap mata elang kakaknya itu. Ia tersenyum malu-malu seperti sedang berada di dalam sebuah adegan romantis. Mungkinkah mereka begitu kompak dan satu pemikiran, sehingga menginginkan buah yang sama?! Tapi yang ditatap malah menampakkan wajah datar seperti biasanya. Dan pegangan pada buah yang diinginkan oleh istrinya itu pun tak mengendur sedikit pun.

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu!", seru Ken ketus sambil menggerakkan tangannya untuk menunjuk tangan Sam yang masih menyentuh punggung tangannya.


"Sam! Apa yang kau lakukan?!", Sarah berbisik di telinga suaminya itu dengan nada tidak sabar. Dia saja sudah merasa seram melihat tatapan mata kakak ipar lelakinya yang sudah seperti akan memakan orang. Tapi suaminya itu malahan tetap konyol menampilkan senyumnya yang tidak jelas itu.


Hah! Sam menoleh ke arah Sarah dengan ekspresi bingung. Memangnya ada yang salah dengan dirinya?! Namun tangannya sudah bergerak sendiri untuk mengambil anggur yang sudah melayang bersama dengan tangan Ken itu.


"Ini anggurku!", lalu satu tangan lagi menyeruak di antara tangan kedua pria itu. Ken dan Sam otomatis menoleh ke arah Ana yang sedang mendekap anggur-anggur itu dengan posesif dan memasang wajah galaknya ke arah Sam.


Jangan lupa jika identitas asli wanita itu adalah singa betina yang selalu ditakuti oleh Sam. Jadilah pria itu hanya bisa meringis tak berdaya. Mana mungkin ia bisa melawan singa betina yang menakutkan itu. Belum lagi di sebelahnya ada raja singa yang ikut memelototi Sam, seakan mata itu bisa menelannya bulat-bulat.


"Aku pun bermaksud memberikan anggur itu kepada Kakak ipar! Tadi aku mendapat pesan telepati dari calon keponakanku, katanya dia sedang menginginkan anggur itu!", tangan Sam terulur untuk menyentuh perut Ana sambil menyuarakan alibi yang mungkin bisa membuat dirinya selamat. Tapi sebelum itu bisa terjadi, Ken sudah menangkis tangannya dengan cepat. Belum jadi menyentuh perut kakak iparnya, tapi punggung tangannya sudah pedas akibat tamparan dari kakaknya sendiri.


"Pembual!", seru Ana sambil memasukkan buah anggur paling besar ke dalam mulutnya. Wanita itu memasang wajah tak peduli juga galak secara bersamaan. Tentu saja ia tahu jika adik iparnya itu tidak jujur. Ana kemudian bersandar pada dada bidang suaminya itu lagi. Ken pun kembali santai ketika keinginan istrinya sudah terpenuhi.


Sarah kemudian menarik suaminya itu mundur. Mau bagaimana pun para kakak ipar mereka memang tidak terkalahkan. Lebih baik segera sadar diri saja ketimbang kalah telak dan malu.


***


"Perjodohan itu memang benar adanya. Dan mulai dibicarakan serius setelah acara keluarga itu berlangsung!", Tuan Harris yang mengawali kisah Louis dan Alleta.


Di belakang, Alleta pun sampai tak berapa lama setelahnya. Melihat raut murung dan kecewa wajah lelaki itu dari samping, ia menebak jika Louis sudah mendengar kenyataan yang sebenarnya. Wanita itu lalu menyimpan kuku-kukunya yang sudah puas ia mainkan sepanjang jalan, lalu tersenyum miring untuk mencemooh pria itu. Sedetik kemudian ia lalu mengubah ekspresi wajahnya setelah melihat pergerakan Louis yang akan membalikkan badannya.


"Kakak sudah mendengarnya, kan?!", tanya Alleta dengan wajah sedih.


"Aku tak peduli. Jika itu adalah sebuah kebenaran sekali pun, wanita yang akan aku nikahi hanyalah Krystal seorang!", sahut Louis tegas juga penuh emosi.


Alleta sudah membuka mulutnya lagi, namun kembali terdiam tatkala terdengar suara dari dalam lagi. Ia memasang indera pendengarannya untuk menangkap informasi. Louis pun menoleh ke samping ikut mendengarkan apa yang sedang dibicarakan orang tuanya di dalam.


"Semula kami mengira jika perbincangan kami mengenai perjodohan itu hanyalah sebuah guyonan di antara para orang tua saja. Karena bukan hanya kami yang melakukannya.Tapi beberpa kerabat kami juga bercanda mengenai hal yang sama. Kami terlibat perbincangan tentang bagaimana dengan saling menjodohkan putra-putri kami. Tapi siapa yang mengira jika ternyata sepupu dari istriku itu begitu serius menanggapi hal itu", lanjut Tuan Harris dari kursi rodanya. Krystal mendengarkan dengan seksama dalam diamnya.


"Hingga sewaktu ketika perusahaan kami sedang mengalami masalah, perusahaan milik ayahnya Alleta membantu dengan sukarela. Mereka menganggap membantu calon besan tidaklah masalah. Saat itu aku yang salah, karena tidak mengatakan apa pun. Dan pasti keluarga Alleta semakin serius memikirkan tentang perjodohan anak-anak kami. Tahun terus berganti dan perusahaan itu terus membantu kami. Sejujurnya kami ingin menolak, namun selalu tersirat di dalam kata-kata Tuan Sanchez itu jika kami berani menolak, maka itu berarti kami memutuskan perjodohan ini. Dan itu berarti kami tidak memiliki penopang perusahan kami lagi. Sedangkan perusahaan kami tidak sebesar dan berpengaruh seperti miliknya. Aku juga tidak memungkiri jika perusahaan kami semakin besar karena bantuan darinya", Tuan Harris mengambi jeda untuk bernafas setelah berbicara banyak. Matanya dan juga Nyonya Harris menerawang seakan sedang mengingat sesuatu.


"Kami menyembunyikan semua ini dari Louis, Krystal! Kami tidak pernah mengatakan hal ini karena kami sangat tahu bagaimana sifat anak itu yang sebenarnya. Sempat beberapa kali anak itu bertanya ketika Alleta terus menerus datang dan ia merasa terganggu. Tapi kami hanya mengatakan jika Alleta senang bermain dengannya, lagipula mereka masih saudara. Kami selalu memberikan alasan, agar Louis tidak berpikir ke arah sana. Meskipun sesekali ia menanyakannya, tapi kami selalu berkelit dan berhasil menenangkannya", Nyonya Harris menambahkan seraya menahan air matanya. Ia melihat suaminya itu agak kelelahan makanya ia tidak tega.


Louis yang berada di luar pintu pun seperti dihujam batu karang yang besar. Sakit sekujur tubuhnya sampai ke dalam. Mengetahui hal ini sungguh membuat hatinya merasa sakit. Jadi selama ini orang tuanya telah berjuang tanpa memberitahunya sedikit pun. Perlahan kakinya mundur hingga tubuhnya bersandar pada dinding di sebelah pintu yang kokoh itu. Ia memejamkan matanya sambil menikmati rasa sakit yang kian menjalar.

__ADS_1


Ada pun Alleta, wanita itu seperti sangat puas mendengar hal ini. Mata dan telinga pria itu pasti masih berguna untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya, kan! Sekarang ia begitu yakin jika pria ini ada di gengaman tangannya.


"Jadi begitu terdengar kabar jika Louis memiliki seorang kekasih, Tuan Sanchez langsung menarik seluruh bantuannya terhadap perusahaan kami", Tuan Harris melanjutkan lagi dengan nada lelah. Ia pun menyayangkan hal ini terjadi, tapi ia lebih menyayangkan lagi jika putranya malahan membenci dirinya.


"Itulah sebab suamiku jatuh sakit dan kondisi perusahan kami memburuk! Makanya kami meminta Louis pulang untuk menyelesaikan semua masalah pelik ini", kembali Nyonya Harris menambahkan. Sudut matanya sudah penuh dengan air mata.


Krystal menggigit bibir bawahnya setelah mengetahui hal ini. Wajahnya perlahan berubah muram dan sedih. Ia seperti terbawa oleh latar cerita keluarga ini yang tidak semudah kelihatannya. Namun saat ini ia tak bisa berkomentar apa-apa. Karena sepertinya kedua orang tua itu masih ingin melanjutkan kata-kata mereka.


Di luar, Louis menatap Alleta dengan tatapan marah. Jadi semua yang terjadi pada keluarganya adalah karena ulah wanita itu dan ayahnya. Lelaki itu menekan kepalan tangannya ke tembok dengan gemetar.


"Aku bersumpah, Kak! Aku tidak mengetahui apapun!", wajah Alleta berubah pias. Wanita itu mulai ketakutan ketika melihat wajah monster Louis yang siap meledakkan kemarahannya. Ia memohon dan memelas lewat tatapan matanya. Berharap pria itu mau melepaskannya kali ini.


"Kau pikir aku percaya?!", Louis mencengkeram lengan Alleta dengan sekuat tenaga. Wanita itu saja sampai terbawa mendekat sambil meringis tidak tahan. Lengannya seperti sedang diremas oleh seorang raksasa.


Jelas bagi Louis, menghadapi orang-orang yang menggunakan kekuasaannya untuk menekan dan mengancam seseorang , tentu tidak dapat dipegang kata-katanya. Orang-orang seperti itu cenderung bersifat licik. Jadi mana mungkin ia memberikan kepercayaannya kepada mereka. Yang ia yakini memiliki sifat yang sama seperti ayahnya.


"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku tidak tahan dan menyakitimu!", seru Louis seraya menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.


"Kakak jahat!", seru Alleta seakan-akan dia baru saja dilukai. Seperti Louis telah berperilaku kejam terhadapnya. Ia pun segera berlari sambil berurai air mata yang tidak ia rencanakan bisa jatuh membasahi wajahnya.


Bukan karena ia menyangkal hal itu, makanya ia pergi. Tetapi wanita itu masih waras untuk mementingkan keselamatannya sendiri untuk saat ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi lagi pada dirinya, jika ia masih di sana bersama dengan monster yang sedang marah. Alleta masih mengerti untuk tidak bertindak impulsif saat ini.


Ia berjalan dengan marah sambil menyeka air matanya. Air mata yang membuatnya terlihat lebih meyakinkan dalam hal ini. Membuatnya terlihat lebih menyedihkan di hadapan lelaki itu. Namun,, ketika ia sudah dekat dengan ruang tamu dimana semua orang masih berada di sana, ia pun membuat air matanya terjun lagi.


Alleta kemudian memasang wajah sedih dan menyakitkan yang sebelumnya ia pasang di hadapan Louis. Sekarang, ketika sudah berada di hadapan semua orang, ia setengah berlari ke arah pintu sambil terus menyeka air matanya. Ia menyembunyikan senyum puasnya ketika melihat kelebatan orang yang akan memulai pergerakannya setelah ia pergi.


Sarah dan Sam bahkan bangun dari duduknya melihat wanita itu muncul. Sebenarnya tidak ada perasaan iba di hati mereka ketika melihat wanita itu menyeka air matanya. Mereka lebih penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Mereka semua ingin meneruskan informasi yang sudah mereka dapat sebagian dari Ana dan juga Sam. Jika Alleta mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan orang-orang ini, mungkin ia tidak akan jadi menampilkan senyumannya.


Melihat ke arah wanita berambut pendek itu muncul dengan tidak sabar, namun Louis dan juga Krystal masih belum muncul juga. Semua orang pun kembali menghela nafasnya.


"Sudahlah, kita tunggu saja lagi! Sebentar lagi mereka pasti akan keluar!", ajak Sarah pada suaminya itu untuk duduk kembali.


"Sebentar, aku mau ke toilet dulu!", Sam menyingkirkan tangan istrinya itu pelan.


"Mau kemana?! Aku tahu kau pasti akan pergi untuk mengumpulkan gosip lagi, kan?!", ungkap Sarah kesal. Ia bertolak pinggang sembari menghalangi jalan bagi suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2