
Ana menyentuh tangan Tuan Danu dengan gemetar. Ia menahan tangisnya agar tak pecah seperti saat pertama kali ayahnya terbaring di sana. Ia berusaha untuk lebih tegar kali ini. Tapi mengingat bahwa ayahnya yang sempat sadar dan belum juga ia bertemu dengannya hingga kini bahkan ayahnya sudah tak sadarkan diri lagi, membuat hati Ana begitu perih. Rasanya ingin sekali ia melihat ayahnya bangun dan berbicara banyak dengannya. Tapi kenyataan yang ada malah jauh dari yang ia bayangkan. Kenyataan pahit yang harus ia telan.
Sejak ia menginjakkan kaki di rumah sakit tadi, perasaannya benar-benar tidak enak. Firasat buruk seperti datang menghantui pikirannya saat ini. Ia tak dapat menyampaikan hal ini kepada Ken, lantaran ia pikir mungkin ini hanya karena ia yang terlalu terbawa perasaan.
"Periksa cctv seluruh bangunan ini dan juga jalan-jalan yang memiliki kemungkinan untuknya kabur dari sini", perintah Ken pada Han dengan nada tak terbantahkan.
"Baik, Tuan!", Han berbalik dan pamit meninggalkan tempat.
"Ayah! Bangunlah! Ana ingin sekali bertemu ayah. Ana rindu sekali yah, rindu ayah!", batin Ana begitu pilu.
"Han!", panggil Ana lemah.
Han membalikkan badannya untuk menghadap ke arah orang yang memanggilnya.
"Bagaimana keadaan Kak Risa?", tanyanya dengan suara gemetar menahan tangisnya.
Sebelum menjawab pertanyaan Ana, Han menghela nafasnya panjang. Mencoba menetralkan perasaannya saat dihadapkan oleh pertanyaan yang mengorek nyeri di dadanya.
"Belum ada perkembangan, Nona!", jawab Han berusaha tenang.
"Maaf Han", kali ini isak tangis itu pecah. Ken mendekap Ana, memberikan ketenangan bagi Ana dengan memeluknya dari samping.
"Anda tidak perlu meminta maaf, Nona. Ini semua bukan salah anda. Cukup dengan tidak bersedih lagi maka semua akan baik-baik saja", Han tak ingin mendengar ucapan maaf dari orang yang tidak seharusnya. Setelah Tuan Danu, kini malah putrinya yang mengatakan hal itu. Kata maaf yang harusnya terlontar dari orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
"Saya permisi, Tuan, Nona!", Han membalikkan tubuhnya lagi dan berlalu di balik pintu.
"Kau dengar! Bahkan Han mengatakan agar kau jangan bersedih lagi. Kau harus semangat, Ana. Kumpulkan tenagamu untuk membalas mereka yang telah membuatmu seperti ini", Ken menyulutkan api semangat pada Ana yang kembali karena kondisi orang-orang terdekatnya saat ini.
Ana mengangguk dalam dekapan Ken. Ia menyeka air matanya yang sudah tumpah dan membasahi pipinya. Kali ini Ana setuju, ia memang harus mengumpulkan semangat untuk membalas apa yang telah menimpanya.
Dengan posisinya yang sedang berdiri, Ken mengusap lembut kepala Ana dan memberi beberapa kecupan di pucuk kepalanya. Ia menyalurkan energi positif bagi wanita yang dicintainya itu. Kemudian matanya menatap ke depan, campuran emosi kesedihan dan amarah bersatu menjadi kobaran ambisi dalam matanya yang tajam.
***
"tok, tok, tok!", suara ketukan pintu terdengar nyaring ke penjuru rumah besar itu.
Si penghuni kamar mendekat dan membukakan pintu untuk papanya dan mempersilahkan papanya masuk. Matanya yang sembab tentunya menjadi pusat perhatian.
"Hay, sayang! Ada apa dengan matamu? Apa kau habis menangis? Mengapa matamu seperti panda begini?!", Tuan Bram memberondong pertanyaan kepada Krystal.
"Tidak ada, papa!", ia melirik ke sembarang arah agar tak bertemu pandang dengan papanya.
__ADS_1
"Aku baru saja menonton film, papa. Ceritanya sangat menyedihkan, jadi aku menangis terus selama menonton. Dan lagi aku juga sedang berlatih,, ya berlatih untuk drama yang akan aku bintangi nantinya", Krystal berusaha mencari alasan yang tepat sambil menyembunyikan wajahnya yang sedang berbohong dengan pura-pura membereskan ranjangnya yang berantakan.
"Benarkah?!", Tuan Bram memastikan lagi.
"Tentu saja benar, papa", Krystal sedikit menoleh ke belakang ke arah Tua Bram berada.
"Papa punya berita penting, untukmu sayang!", Tuan Bram mendudukan diri di pinggir ranjang putrinya.
"Berita apa, pa?", kali ini Krystal ikut duduk di samping papanya karena rasa penasaran.
"Kemarin, salah satu pemegang saham di perusahaan datang. Sahamnya sama besar dengan milik papa. Sepertinya dia orang yang sangat kaya, melebihi Presdir Ken-mu mungkin. Karena orang itu mengatakan bahwa ia berasal dari negara P dan perusahaannya merupakan salah satu yang terbesar di sana. Dan lagi ia memiliki wajah yang sangat tampan, sayang", dengan gembira Tuan Bram menuturkan ceritanya.
"Lalu?", Krystal masih ingin mendengar lanjutannya dengan ekspresi datar.
" Saat rapat, Ana tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa pamanmu telah menyerahkan seluruh sahamnya kepadanya. Papa pikir Tuan itu dan Ana belum saling mengenal, jadi papa berencana untuk memperkenalkannya kepadamu. Jadi mungkin papa akan bisa membuatnya berada di pihak papa. Tapi ternyata..", Tuan Bram menghembuskan nafasnya kasar.
"Ternyata apa, pa?", Krystal semakin penasaran dengan cerita papanya.
"Ternyata papa memergoki Tuan itu bersama dengan Ana! Heh, dasar wanita murahan!", Tuan Bram berdecak kesal.
"Apa?! Jadi benar apa yang Louis katakan?!", Krystal berteriak dalam hati.
Krystal masih terdiam berusaha mencerna apa yang Louis katakan dan juga yang barusan papanya ceritakan. Sebuah kebetulan yang sangat nyata ada di hadapannya. Hasratnya yang selalu menggebu-gebu setiap kali ingin mengalahkan Ana, kini seolah mati. Tak ada perasaan apapun di dalam hatinya kini. Perasaan aneh yang ia rasakan adalah hanya mengenai ucapan terakhir yang Louis katakan padanya.
Ya kalimat itu terngiang di telinganya dan menimbulkan perasaan aneh yang membuatnya ingin terus menangis.
"Krystal!", Tuan Bram membuyarkan lamunannya.
"Ehh, iya pa!", ia tergagap akhirnya.
"Apa kau mendengarkan apa yang papa bicarakan?", Tuan Bram berbicara sambil mengernyit heran dengan wajah putrinya yang tak seperti biasanya.
"Tentu saja papa, aku mendengar semuanya. Lalu apa yang akan papa lakukan sekarang?", ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan agar papanya tidak lagi memperhatikan ke arahnya.
"Sebenarnya papa butuh bantuanmu, sayang", Tuan Bram memasang wajah termanisnya.
"Apapun papa, jika aku bisa membantu pasti akan aku lakukan!", Krystal membalas senyum papanya. Ya, dia memang harus membalas ayahnya yang selalu menuruti apa saja keinginannya sejak dulu.
"Begini! Putri papa yang sangat cantik ini, bisakah kau mengambil Tuan Bastian itu dari Ana. Dan supaya dia bisa berpihak kepada kita. Jadi papa tidak memiliki penghalang lagi untuk menguasai perusahaan", tutur Tuan Bram.
Keserakahan yang membuatnya ingin menguasai perusahaan itu sudah sulit untuk dihentikan. Bahkan Krystal nampak ragu untuk menolak permintaan papanya itu. Tapi dari lubuk hatinya, Krystal seperti sudah enggan melakukan hal itu. Merebut apa yang Ana miliki. Sudah tak ada lagi gejolak itu di sana.
__ADS_1
"Bagaimana sayang? Apa kau menyetujuinya?", tanya Tuan Bram penuh harap.
"Baiklah pa, Krystal akan coba", saat ini hanya itu yang bisa ia janjikan pada papanya. Karena menolak adalah hal yang sulit untuk dia lakukan. Mengenai ke depannya akan bagaimana biarlah nanti ia pikirkan lagi.
***
Glory Coorporation, pagi ini Krystal telah menginjakkan kakinya di sana. Hari ini sudah terjadwal bahwa ia harus melakukan proses photoshoot untuk drama yang akan ia bintangi nantinya bersama dengan Louis. Jantungnya berdebar kencang saat ia menantikan kedatangan Louis, pasangannya hari ini.
Krystal mengedarkan pandangannya mencari-cari pria yang biasanya akan datang lebih awal darinya. Pria itu selalu menyambutnya jika mereka sedang ada pekerjaan yang melibatkan mereka bersama. Louis akan selalu mengganggu dan menggoda Krystal hingga wanita itu benar-benar kesal.
Tapi hari ini berbeda, hari ini sunyi. Ada yang hilang dalam hatinya hingga terasa nyeri pada lubuk hatinya. Tak ada yang menyambutnya, tak ada yang mengganggunya. Rasanya tentram, namun hatinya terasa terusik karena suasana yang terlalu damai seperti ini.
"Hey, Lou! Tumben sekali kau baru datang!", seorang crew menyapa pria tampan yang baru datang.
Refleks Krystal menoleh ke asal suara. Ia melihat Louis berjalan dengan acuhnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Louis berjalan lurus ke arah ruang gantinya. Ia tak mempedulikan kehadiran Krystal saat itu.
Krystal terus menatap punggung Louis yang berjalan menjauh. Matanya memerah seketika, dan air matanya jatuh tak terasa.
"Ada apa Krystal?", tanya Manajer Felix yang sedang menemaninya membaca skrip. Manajer Felix sekilas melihat Krystal yang sedang menyeka matanya.
"Tidak apa-apa! Mataku gatal, mungkin aku harus mengganti bulu mata ini", Krystal berkilah dan cepat-cepat pergi menuju ruang gantinya.
"brugh!", Krystal menabrak seseorang karena ia terus berjalan sambil menunduk. Ia berusaha menyembunyikan air matanya dari semua orang.
Orang itu menangkap tubuhnya dengan mendekapnya erat. Tanpa sengaja air mata Krystal mengenai pakaian yang dipakai orang itu. Dan pria itu menyadarinya, pakaiannya basah pada bagian dada.
Krystal masih menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap orang yang ia tabrak.
"Maaf, aku permisi dulu!", ucap Krystal buru-buru. Ia segera berjalan cepat menuju sebuah toilet tak jauh dari sana.
Louis yang baru saja berganti pakaian pun menatap dadanya yang basah akibat tertabrak Krystal.
"Ada apa dengannya? Apakah dia menangis? Dia bukan wanita yang mudah menangis, jadi kenapa sebenarnya dia itu?!", Louis mengernyitkan alisnya dalam-dalam sambil menatap Krystal yang pergi menjauh.
Louis begitu mengenal Krystal, sudah bertahun-tahun ia selalu mengekorinya. Ia sangat tau bagaimana sifat Krystal. Ia tak akan dengan mudahnya menangis, meskipun kelihatannya wanita itu manja dan egois. Dia hampir tak pernah menunjukkan air matanya, terkecuali ia benar-benar sedang merasa begitu sedih.
Ya, begitu sedih. Louis mulai nampak khawatir dengan keadaan Krystal saat ini. Sejenak ia memaku dirinya di sana, tak bergerak dari diamnya. Ia ragu untuk mencari tau. Louis masih ingat janji apa yang ia ucapkan pada Krystal terakhir kali. Ia akan berhenti mengejar Krystal, ia akan berhenti mengganggu wanita itu. Tapi melihat tadi Krystal bertingkah tak seperti biasanya, maka ia memutuskan untuk menyusulnya.
"Hey, Lou! Kau mau kemana?", tanya seorang crew yang melihat Louis berjalan ke arah toilet wanita.
Louis mendekati crew itu seraya mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Ia mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada crew itu. Ia mencondongkan wajahnya untuk berbicara dengan suara pelan pada crew itu.
__ADS_1
"Jaga di sini! Jangan biarkan siapa pun masuk. Dan tutup telinga dan matamu. Anggap kau tak melihat apa pun nanti", perintah Louis dengan nada dingin dan sorot mata tajam.
"Baiklah, itu mudah!", crew itu tersenyum senang menatap beberapa lembar uang yang kini ia genggam.