Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 68


__ADS_3

"Jadi ini semua ulah paman?", tanya Ana dengan air muka yang sulit terbaca.


"Benar. Apakah yang akan kau lakukan selanjutnya? Aku akan selalu mendukung apa pun keputusan mu", ucap Ken tegas. Meski Ana bermaksud untuk balas dendam, Ken akan tetap mendukungnya. Apa pun kehendak Ana, sebisa mungkin Ken akan menjadi orang yang bisa diandalkan olehnya. Walau sebenarnya ia tidak setuju jika Ana membalas mereka dengan tangannya langsung. Rasanya Ken ingin membalas mereka dengan tangannya sendiri.


Wajah Ana mengeras. Ia menahan amarahnya agar tidak meledak sejadi-jadinya. Ia menatap tajam lurus ke depan, membayangkan wajah lemah tak berdaya ayahnya di ruangan sana. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Risa yang juga kondisinya tak jauh lebih baik. Sesak di dadanya sangat menyakitkan. Menahan amarah dan kesedihan secara bersamaan membuat air matanya dengan tidak sopan menetes tanpa ijin darinya. Tangannya mencengkram erat pada sofa yang ia duduki hingga menimbulkan bunyi yang khas.


Ken tentu saja tak ketinggalan dengan setiap gerakan Ana sampai yang paling halus sekalipun. Ia menarik kedua tangan Ana hingga melingkar di tubuhnya dan mendekapnya erat. Ia menenggelamkan kepala Ana pada sisi dadanya agar Ana bisa dengan leluasa menumpahkan seluruh luapan emosi yang ia jaga sendiri.


Isak tangis pecah pada dada bidang Ken. Belenggu hatinya yang kokoh telah lepas hingga yang terdengar hanya rintihan pilu seorang anak gadis yang teraniaya. Orang yang paling ia cintai setelah kepergian ibunya kini belum jelas bagaimana perkembangan selanjutnya. Dan lagi satu orang yang selalu menemaninya bahkan sudah seperti kakaknya sendiri juga terbaring di sana. Ana menangis, membanjiri wajahnya dengan air matanya yang berharga.


Balas dendam, sejenak mampir mengisi benaknya yang diliputi amarah tadi. Tapi mau bagaimana, harus bagaimana ia membalaskan semua ini. Karena bagaimanapun juga, hanya tinggal mereka sanak saudara yang ia punya. Jika setan membelenggu hatinya dan membisikkan niatan untuk balas dendam, maka siapa lagi yang ia punya. Akankah ia sebatang kara di dunia?! Ana enggan memikirkannya.


Sambil berusaha keras menghentikan tangisnya. Sambil berusaha sekuat tenaga meredam emosinya. Ana merapalkan mantra untuk menguatkan dirinya agar ia tidak rapuh dalam menjalani cobaan ini.


"Demi ayah dan Kak Risa, aku pasti bisa!", ucapnya dalam hati.


Sarah dan Sam yang sudah duduk tak jauh dari mereka pun merasa iba melihat Ana yang begitu pilu menangis dalam pelukan Ken. Tanpa sadar Sarah menggenggam jemari tangan Sam erat. Ia sedang menahan emosinya agar tidak ikut menangis lagi. Sesaat Sam menampilkan senyumnya, ia membiarkan saja dan menikmati sentuhan Sarah pada jemarinya.


Nyanyian isak tangis Ana yang merdu itu terdengar sampai ke telinga Han yang sedang membaringkan kepalanya di sisi ranjang sebelah tubuh Risa. Han menggeliat kecil dan bangkit untuk duduk tegak. Benar saja, tubuhnya langsung mematung saat ia sudah kembali pada kesadarannya. Han melihat ada empat orang sudah duduk nyaman di sofa di sudut kamar. Han segera bangkit untuk memberi salam pada keempat orang itu.


"Tidak perlu repot-repot, Han! Lebih baik kau bercermin dan urusi dirimu yang berantakan itu. Kau akan mencoreng nama baik ku, jika penampilan mu seperti gembel", ucap Ken datar. Namun ia menyelipkan gurauan bermaksud supaya semua orang lepas dari beban yang tengah mereka pikul saat ini.


Ana menipiskan senyumnya sambil masih berusaha menghentikan tangisnya.


"Maafkan aku Han! Aku jadi membuatmu, terbangun", ucap Ana merasa tak enak hati karena mengganggu waktu istirahat Han.


"Tolong jangan berkata seperti itu, nona! Justru saya merasa tidak enak karena sudah melihat saya dalam keadaan seperti ini", jawab Han sungkan.


"Cepat bersihkan dirimu! Ayo kita bicara di luar!", perintah Ken untuk memutus obrolan di antara Han dan Ana. Terselip nada cemburu dalam ucapannya. Bagaimana pun juga Ken tidak suka Ana terlihat akrab dengan pria lain.

__ADS_1


"cekk, kakak! Bahkan dalam situasi seperti ini kau masih bisa-bisanya cemburu pada Han", gumam Sam dalam hati.


Sam menaikkan sudut bibirnya, ia sedikit merasa lega karena kepiluan yang sempat mengisi ruangan ini sudah mulai menghilang.


Sarah melirik ke arah tangannya yang menggenggam sesuatu yang hangat. Ia melihat tangannya sudah menggenggam tangan Sam begitu kuat hingga meninggal bekas kemerahan pada tangan pria itu. Wajah Sarah merona, pipinya terasa hangat, ia begitu malu saat ini.


Dengan cepat ia menarik tangannya ke udara. Kemudian ia melemparkan tatapan tajam pada Sam yang sudah menatapnya dengan senyum yang menjengkelkan.


"Kau pasti sudah mengambil keuntungan saat aku tidak menyadarinya tadi!", tuduh Sarah yang merajuk pada tangannya. Dia berucap pelan agar tak terdengar orang lain. Karena ia sedang sangat malu saat ini. Bisa-bisanya dia menyentuh tangan pria gila itu tanpa ia sadari.


Sam menahan senyumnya dengan satu tangannya sambil membuang muka. Ia berusaha untuk tidak menertawai Sarah yang sedang panik akibat tertangkap sedang menggenggam tangannya bahkan hingga menimbulkan bekas merah. Bisa dibayangkan seberapa kuat Sarah menggenggamnya tadi. Kemudian ia memalingkan wajahnya lagi menghadap Sarah dengan tatapan serius.


"Kau yang berinisiatif menggenggam tanganku. Bahkan aku baru mengetahuinya saat merasakan sakit karena genggaman tanganmu begitu kuat. Lihat! Tanganku jadi sakit", ucap Sam setengah berbisik sambil menunjukkan punggung tangannya yang memerah. Ia berpura-pura memasang wajah menyedihkan dan kesakitan.


"Astaga!", Sarah menutup mulutnya tak percaya melihat ke arah tangan Sam.


"Maaf!", ucapnya lagi lemah merasa bersalah pada Sam dan menundukkan kepalanya. Ia melihat ke arah tangan Sam yang memerah dan tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh tangan Sam lagi dengan perasaan bersalah.


"Sam! Keluar! Kita harus bicara", ucap Ken yang tepat setelah Han keluar dari kamar mandi.


Tentu saja suara itu mengejutkan Sarah. Secepat kilat ia menarik tangannya setelah sadar sikap lancangnya yang sudah menyentuh tangan Sam lagi. Ia tersenyum canggung kemudian dan memalingkan wajahnya yang sudah menyemburkan semburat merah pada pipinya.


Sam tersenyum menang seraya bangkit dari duduknya. Bibir Sarah mencibir menatap kepergian Sam yang diiringi Han di belakangnya. Anehnya saat melihat Han, ia tak merasakan sensasi seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Malahan tak ada perasaan apa pun yang muncul saat ini. Sarah menggunakan tatapan menyelidik ke arah punggung dua pria yang pergi menjauh dari jangkauannya.


"Apakah kau jadi bingung dengan perasaanmu?", suara Ana yang masih setengah terisak menggaung di telinganya.


"Bodoh! Apakah perasaanku penting saat ini?! Lebih baik kita berdoa agar keadaan ayahmu dan sekretaris Risa lekas membaik", ucap Sarah seraya menghampiri Ana dan mendudukkan diri di sebelahnya.


"Iya kau benar! Aku sangat berharap tentunya. Karena tanpa mereka, aku tak memiliki siapa-siapa lagi", ucap Ana berubah murung wajahnya.

__ADS_1


"Kau ini bilang apa! Masih ada kami yang akan selalu bersamamu, Ana. Terlebih lagi kau sangat beruntung memiliki orang yang sangat mencintaimu seperti Tuan Ken itu. Jadi jangan coba-coba lagi berpikir kau akan sendirian, mengerti?", ucap Sarah tegas.


Ana mengangguk sambil mengelap cairan di hidungnya dengan tisu.


"Dasar jorok! Sudah sekarang kau lebih baik tersenyum, oke! Aku rindu senyum manismu", Sarah mencubit kedua pipi Ana gemas.


"Aduuhh sakit Saraaahh!", Ana berusaha melepaskan tangan Sarah dari pipinya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Author sedang memilih subjek visual yang cocok untuk karakter novel ini. Jika kalian memiliki ide yang bagus, silahkan isi di kolom komentar ya. Author tunggu lho! 😁 terima kasih


oh iya, kiblatnya aktor-aktor korea atau latin gitu ya ..hehe

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komentar ya😉


Dan terima kasih atas dukungannya selama ini 😊😘


__ADS_2