Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 3


__ADS_3

Wajah Sarah masih cemberut sedari mobil itu melaju. Padahal saat ini mereka paling tidak sudah berada setengah jalan ke tempat tujuan mereka kali ini. Tapi pria di sampingnya tidak mengganggunya sama sekali. Ia membiarkan saja istrinya itu sampai merasa puas dengan rasa kesalnya.


Sam hanya terkekeh beberapa kali saat melihat ke arah istrinya yang masih memasang wajah kesal itu. Dan hal itu malahan membuat Sarah makin kesal saja. Wanita itu menghentakkan kakinya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan membuat Sam akhirnya terdiam detik itu juga. Namun,, setelah Sarah memalingkan wajahnya lagi, pria itu pun tidak tahan untuk tidak tertawa. Agar lebih aman, pria itu pun tertawa tanpa bersuara.


Bagaimana tidak kesal, padahal tadi Sam sudah berjanji tidak akan menyentuhnya lagi. Sarah sudah mengatakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi. Pinggangnya sudah mau patah dan kakinya juga sudah lemas, tapi suaminya itu malahan tidak mau tau dan terus saja mengganggunya.


Jika bukan karena telepon dari Ana yang menanyakan bagaimana persiapan mereka, mungkin saja ia tidak akan lepas dari tangan suaminya itu. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah, lelaki itu malahan menambah jejak merah di lehernya. Padahal kan mereka akan pergi, tapi lelaki itu tidak habis selalu membuatnya kesal. Jika Ana sampai mengetahuinya, ia pasti akan menjadi bahan bulan-bulanan sahabatnya yang jahil itu.


Untung saja ia masih memiliki sesuatu di dalam kopernya. Seperangkat alat riasnya yang lumayan lengkap. Jadi Sarah menyamarkan tanda kepimilikan yang Sam buat dengan sedikit sentuhan tangannya.Semoga saja itu akan awet dan tahan lama. Sehingga Ana tidak akan menyadarinya sama sekali.


***


Mobil mewah itu sudah memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan paling mewah di ibu kota ini. Sam turun dengan santainya tanpa menunggu supirnya itu membukakan pintu untuknya. Kemudian ia setengah berlari untuk membukakan pintu untuk istrinya tercintanya yang masih merajuk itu.


Siang ini, Sam memilih gaya casualnya. Tidak ada jas atau pun kemeja yang biasanya membalut tubuhnya yang sebenarnya amat kokoh itu. Meskipun dari luar nampaknya ia hanya memiliki tubuh kurus pria pada umumnya. Namun saat diekspos, wanita mana yang tidak akan tahan untuk tidak menyentuh perutnya yang sangat indah.


Tak terkecuali Sarah, istrinya sendiri. Makin hari, Sarah makin sering menyentuh bagian yang membentuk pola kotak-kotak itu di tubuhnya. Dan Sam malahan dengan senang hati menyodorkannya kepada istrinya itu.


Siang ini Sam memakai kaos abu-abu polos, celana jeans dan juga sneakers senada. Dia balutkan sweater hitam dengan resleting yang ia biarkan terbuka. Ia hanya mencocokkan gayanya. Karena ini adalah hari libur, jadi penampilannya tidak harus kaku, bukan?! Tapi apa pun yang dikenakannya tentu memiliki nilai tinggi.


Ada pun Sarah, ia memakai atasan shifon berwarna abu-abu dan juga rok jeans sampai ke lututnya. Atasan yang berlengan pendek itu berbahan sangat lembut dan mudah jatuh. Ukurannya pas, tidak kebesaran, tidak juga ketat. Jadi tidak terlalu menampakkan lekuk tubuh wanita itu dan lagi masih cantik juga dipandang. Gaya busana Sarah memang sederhana, dia tidak menyukai hal-hal yang merepotkan. Tapi apa yang dikenakannya sekarang juga bukan barang sembarangan. Semua yang ada di tubuhnya dari atas sampai ke kakinya merupakan hasil pemberian suaminya, jadi tentu saja mereka semua berasal dari merek kenamaan.


Pintu mobil sudah Sam buka, dengan enggan Sarah keluar dari sana. Tapi wanita itu menolak uluran tangan suaminya itu. Dia membuang wajahnya dengan kesal seraya melangkahkan kakinya keluar. Malas melihat wajah Sam. Yang ada nanti dia akan tambah kesal.


Wajah Sam masih tenang, ia masih mempertahankan senyuman indah di bibirnya itu. Meskipun kadang dia bodoh, tapi untuk menaklukan istrinya yang sering kali kesal, tentu itu beda lagi. Seperti selalu ada ide bermunculan di dalam benaknya. Sejenak matanya menyipit, menyiratkan kelicikan.


"Hey!", Sarah berteriak kaget lantaran tiba-tiba saja tubuhnya dibopong oleh suaminya itu.


"Turunkan aku, Sam! Cepat turunkan aku sekarang!", sambil berpegangan pada bahu suaminya itu, Sarah protes minta diturunkan.

__ADS_1


"Tidak mau!", jawab pria itu dengan santainya. Sam menaikkan kedua alisnya secara bersamaan di balik kaca mata hitam itu. Ia juga tidak menghentikkan langkahnya menuju lift yang letaknya tak jauh dari sana.


"Turunkan aku, Sam! Aku malu! Lihat, banyak orang yang melihat ke sini! Terserah jika kau tidak tahu malu! Tapi aku tidak bisa! Urat maluku belum putus!", Sarah masih protes.


"Kalau begitu peluk lenganku dengan erat. Jangan sampai dilepas!", Sam menurunkan istrinya itu. Lalu ia ambil tangan wanita itu untuk ia letakkan di lengannya yang sengaja Sam buka sedikit dari tubuhnya.


"Hih,,, dasar! Ya sudah, ayo!", Sarah memutar bola matanya malas. Wanita itu memulai langkahnya setelah menuruti saja kemauan suaminya itu.


"Tidak mau! Ku bilang peluk lenganku dengan erat! Jika seperti ini kau lebih seperti sedang menarik lenganku, Sayang!", Sam tak memulai langkahnya sama sekali. Dan hal itu membuat Sarah harus memberhentikan langkahnya dan menoleh.


"Ya ampun! Kau benar-benar merepotkan, Sam!", Sarah kembali lagi. Dengan tidak sabar ia mengapit lengan suaminya itu ke ketiaknya.


"Sudah, kan?! Ayo jalan!", sambil mengerucutkan bibirnya ia mengajak suaminya itu untuk segara beranjak dari sana.


"Ini baru benar!", Sam tersenyum puas. Akhirnya dia kan yang menang?!


"Kau sangat mencintaiku kan, Sayang?!", tiba-tiba saja pria itu merundukkan kepalanya dan berbisik.


"Tidak juga! Siapa bilang!", ya ampun, Sam memang sangat pintar membuatnya kesal. Tapi ia lebih kepada malu saat ini.


Sarah buru-buru melepaskan pegangan tangannya pada lengan suaminya itu. Ia melangkah lebih cepat untuk menghindari Sam melihat wajahnya yang sekarang sudah merah seperti tomat.


Tentu saja ia mencintai pria itu. Jika tidak , mana mungkin ia mau menikah dengannya. Pertannyaan yang suaminya itu ajukan, Sarah tahu jika itu hanya cara Sam untuk menggodanya saja. Sebenarnya ia harus kesal saja atau tetap malu, sih?! Lebih baik ia menghindar saja kalau begitu! Mantan playboy itu memang sangat manis mulutnya!


"Kembali atau aku gendong lagi!", seru Sam di belakang yang masih berjalan dengan santainya. ia tidak berniat mengejar Sarah sama sekali. Karena pria itu sudah memiliki keyakinannya sendiri.


"Ya Tuhan!", Sarah segera menghentikan langkahnya. Sebelum berbalik ia pun mengusap-ngusap kedua pipinya. Sangat berharap jika warna merah di pipinya itu akan menghilang. Ia harus menuruti keinginan suaminya itu. Karena jika tidak, ia akan kembali dibuat malu seperti tadi.


Setengah kesal, Sarah pun kembali ke arah Sam dengan langkah yang sengaja ia hentak-hentakkan karena terlalu kesal. Lalu dengan kasar ia meraih lengan suaminya itu dan ia peluk dengan sangat erat.

__ADS_1


Sangat-sangat erat hingga lengannya menghimpit benda empuk pada dada wanita itu. Tentu saja Sam tidak menolak. Senyuman pria itu malahan semakin lebar sekarang.


"Begini baru benar! Empuk dan hangat!", Sam berkomentar sambil tersenyum dan sebentar memejamkan matanya. Ekspresi wajahnya merasa puas sekali.


"Heh?", Sarah mencoba memahami maksud ucapan suaminya itu dengan melihat ke cara ia memeluk lengan suaminya itu.


Sudut bibirnya langsung berkedut. Ini bukan salah suaminya. Tapi rasanya ia ingin sekali memukul kepala suaminya itu dengan keras. Sarah meregangkan pelukannya pada lengan Sam. Lalu berpura-pura tak peduli, wanita itu terus berjalan. Padahal saat ini wajahnya masih memerah.


"Lakukan seperti tadi atau aku akan menggendongmu sampai atas!", dengan suara arogan pria itu memberikan titahnya. Padahal pria itu setengah mati menahan tawa. Paling tidak ia terkekeh pelan di belakang istrinya itu.


Kapan lagi ia bisa mendiskriminasi istrinya yang biasanya galak itu. Biasanya kan selalu ia yang ditindas.


"Tidak mau? Ya sudah!", Sam melihat wajah enggan Sarah dan malah tambah memprovokasinya dengan menurunkan tubuhnya berpura-pura akan menggendong wanta itu lagi.


"Baiklah! Baiklah! Kau menang!", wanita itu tak berdaya kali ini. Sekarang ia benar-benar masuk ke dalam permainan licik suaminya itu. Ia sedikit heran, kenapa akhir-akhir ini Sam jadi lebih pintar begini, sih?!


Senyuman dan ekspresi wajah pria itu menampakkan kepuasan. Ia benar-benar menang kali ini. Rasanya lengannya nyaman sekali berada di antara sesuatu yang empuk itu. Biasanya ia akan merasa jijik dan malas setiap kali ada wanita yang menggodanya dengan cara seperti ini. Tapi sekarang ia malahan memaksa istrinya itu untuk melakukan hal itu. Hal yang malahan membuat istrinya enggan. Dunia sungguh lucu sekali memang! Dulu ia tidak suka, tapi sekarang ia malahan suka, sangat suka!


Pintu lift pun tertutup perlahan. Menghilangkan gambaran wajah dua orang dengan ekspresi berbeda. Ada yang sangat senang, dan tentu saja ada yang sangat kesal. Yaitu Sarah.


"Awas saja kau nanti, Sam!", gumamnya terakhir sambil merapatkan giginya, kesal sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup seluruhnya.


-


-


**teman-teman jangan lupa ikutin terus lanjutan ceritanya babang ben sama neng rose ya😊


keep strong and healthy ya semuanya😘🥰**

__ADS_1


__ADS_2