Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Ekstra Part 33


__ADS_3

"Krystal!", Louis sudah mengambil langkahnya.


Untung saja, pernah ada sebuah film yang ia bintangi dengan kasus yang sama di dalam ceritanya. Dimana si pemeran utama pria kehilangan cincin yang akan digunakannya untuk melamar pemeran utama wanitanya. Ide di dalam film itu pun ia gunakan.


Louis kemudian berdiri dan berbalik menghadap ke arah Sandi. Ia ambil setangkai bunga putih kecil yang menjadi mengelilingi sekelompok bunga mawar merah di tengahnya. Ia patahkan tangkainya sesuai dengan perkiraan yang sudah ia ukur dengan melirik ke arah jemari kekasihnya.


Tangannya bergerak dengan cekatan untuk membuat simpul, sehingga tangkai ramping itu sudah berubah wujud menjadi sebuah cincin dengan permata bunga di tengahnya. Louis pun memegangi cincin dadakan itu sambil menunjukkannya ke arah Krystal.


"Terima kasih karena akhirnya kau mau menerima cintaku. Terima kasih karena kau membuat pengejaranku terhadap dirimu selama bertahun-tahun ini berakhir. Terima kasih karena telah memberikan aku kesempatan untuk mencintaimu. Dan terima kasih karena kau telah bersedia hadir di dalam hidupku!", pria itu berhenti untuk mengambil nafas sambil menyisihkan sedikit rasa gugupnya yang membara.


Hati mana yang tidak tersentuh mendengar kalimat melankolis seperti ini. Hampir setiap wanita yang ada di sana berseru dengan rasa iri bercampur haru yang mewakili perasaan Krystal tentunya. Wanita itu juga sudah merasakan aliran hangat di dadanya. Yang mungkin sebentar lagi akan sampai ke matanya.


"Lalu,, maafkan aku karena selalu membuatmu kesal selama kau mengenalku! Maafkan aku yang selalu membuatmu marah! Maafkan aku karean sudah membuatmu bersedih! Dan,,, maafkan aku karena telah menyakitimu!", sejenak pria itu menunduk tatkala mengingat masalah mereka beberapa waktu lalu yang membuat wanita itu menjadi rapuh. Louis sangat menyesali hal itu.


Yang Krystal yakini adalah benar! Aliran hangat itu sudah menjalar ke matanya. Membuat bola matanya panas, kemudian menghasilkan bulir air mata. Sehingga pelupuknya kini sudah penuh dengan genangan air, seperti sekarang adalah musim hujan. Krystal tidak bisa menahan diri. Ia merengkuh pipinya sendiri sambil ia tekan. Usahanya itu ia lakukan supaya air mata itu tidak tumpah saat ini juga.


"Namun Krystal,, aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa nanti ketika kau bersamaku kau tidak akan menangis lagi! Aku akui diriku ini hanyalah seorang manusia biasa. Diriku ini tak luput dari setiap kesalahan!", lelaki itu maju satu langkah lebih dekat. Setiap kalimat yang terucap kini terdengar lebih mantap sebab di setiap katanya sudah dibarengi dengan perasaan cintanya yang tulus dan mendalam kepada perempuan itu.

__ADS_1


"Jadi,,, maukah kau melengkapi kekuranganku? Bersanding denganku, menangis bersama, bahagia bersama. Sampai akhir hayat kita nanti?!", sedetik kemudian suasana di sekitar sana menjadi lebih riuh lagi bagai gelombang besar di samudra.


"Kau adalah wanita yang aku sukai dan aku cintai untuk pertama kalinya dalam hidupku! Dan aku ingin selamanya begitu! Jadi,,,", Louis segera mengambil posisi berlututnya kembali sambil memegangi cincin dadakannya itu.


"Krystal Winata! Maukah kau menikah denganku?", kini pria itu benar-benar meluruskan lengannya ke arah wanita yang wajahnya saat ini sudah berlinangan air mata.


Krystal sudah dibuat kacau perasaannya oleh lelaki itu. Lelaki yang dulunya begitu menyebalkan baginya. Lelaki yang jika hadir selalu menjadi pengganggu bagi dirinya. Lelaki yang selalu ada dimana pun dirinya berada. Hingga ia terbiasa dengan semua itu. Terbiasa dengan kehadirannay yang meskipun selalu membuatnya marah dan kesal.


Ia tidak menyangka akan datang hari ini. Hari dimana tak pernah terbayangkan sedikit pun di dalam hidupnya untuk terlibat dalam hal seperti ini dengan orang itu di dunia nyata. Bahagia, tentu saja ia bahagia! Ragu,, tak ada barang satu persen pun keraguan yang ia miliki terhadap lelaki itu. Ia pun sudah meyakini perasaan cintanya begitu besar terhadap lelaki itu. Kembang api yang tadi disulut pemicunya, sekarang seakan sedang keluar dari dalam dadanya. Dan meledak dimana-mana sampai menguras air matanya.


Orang-orang pun tertawa mendengar guyonan Louis. Suara mereka juga yang menyadarkan Krystal dari lamunannya. Wanita itu meringis, tersenyum dengan sedikit penyesalan. Ia tidak bermaksud mengacuhkan Louis sama sekali. Ia hanya sedang tenggelam dalam nostalgia masa lalu untuk beberapa saat.


"Aku,,, ", terdengar nada ragu ketika pertama kali Krystal membuka suaranya. Hal itu malahan membuat detak jantung Louis semakin berpacu hingga hampir lepas dari lintasannya. Pria itu semakin diburu oleh penantian.


*terima


terima

__ADS_1


terima*


Semua yang hadir di sana bersorak sambil terus memegangi ponsel mereka. Tak lepas mereka terus mengabadikan momen berharga ini. Semuanya sudah sangat menantikan akhiran yang bahagia.


Krystal menoleh ke arah kakaknya untuk meminta persetujuan. Bagiamana pun juga kakaknya itu adalah pengganti orang tuanya saat ini. Ia meminta restu dari kakaknya itu untuk memberikan jawaban.


Adam dengan cepat mengangguk! Memangnya apa lagi yang harus ia ragukan untuk kebahagiaan adik tersayangnya! Kemudian Ibu Asih juga memberikan anggukan yang sma, setelah ditatap dengan wajah penuh pertanyaan oleh Krytal juga. Wanita paruh baya itu sudah Krystal anggap sebagai ibunya sendiri. Jadi ia juga meminta pendapat dari Ibu Asih.


"Terima!", Ana dan Sarah bersorak sangat kencang saat Krystal melayangkan pertanyaan di wajahnya itu ke arah mereka. Tak peduli dengan status apa yang mereka miliki saat ini. Yang jelas mereka sedang sangat bahagia dengan kebahagiaan yang akan dijemput oleh sahabat mereka itu. Dan suami-suami mereka hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya di samping, melihat kelakuan istri mereka.


Krystal tergugu sebentar melihat tingkah dua sahabatnya itu. Sejenak ia lupa dengan rasa gugupnya dan bisa tertawa lepas. Kemudian ia mengubah posisi wajahnya untuk menghadap Louis kembali.


"Ya,, aku mau!", ucapnya tanpa ragu kepada pria itu. Lalu dengan cepat ia menutup wajahnya yang berubah seperti tomat ceri dengan kedua telapak tangannya.


Semua orang lalu bersorak kegirangan mendengar jawaban Krystal. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena wanita itu segera menginterupsi semua orang untuk diam kembali. Seperti masih ada yang ingin ia sampaikan. Bahkan Louis yang semula sudah akan bangkit pun kembali berlutut lagi. Wajahnya kebingungan juga sebenarnya lututnya sudah gemetar kelelahan.


"Bangunlah! Memangnya mau sampai kapan kau berlutut seperti itu?!", pinta Krystal dengan wajah serius. Sungguh berbeda sekali dengan wajah malu-malunya yang tadi. Ana dan Sarah pun sampai bingugn dibuatnya. Pasalnya, mereka tidak tahu apa-apa sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2