Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 81


__ADS_3

"Kau sedang berbohong, kan?!", ucap Krystal menoleh perlahan ke arah Louis dengan wajah seram.


"Demi untuk melindungi Ana, kau mengarang cerita itu, kan!", tambahnya lagi yang kini sudah menampakkan jelas wajah seramnya.


"Heh!", Louis menatap Krystal ngeri.


"Hahahaha,, hahahaha,,! Apa begitu ketahuan?!", sebenarnya dalam hati Louis sedang menjerit kebingungan karena Krystal telah menebak dengan benar.


"Tentu saja, itu tidak benar!", kini Louis berpura-pura memasang wajah serius.


"Dan yang perlu kau tau, Ana sudah memiliki kekasih. Bahkan Presdir Ken yang terhormat itu tidak ada apa-apa nya. Kekasih Ana adalah seorang pria asing yang kaya raya!", entah kalimat darimana Louis mendapatkan ide itu dan melontarkannya tiba-tiba.


"Benarkah?!", Krystal menatap Louis awas. Kemudian ia menatap lurus ke depan sambil tersenyum senang.


Saat Krystal tak melihat ke arahnya, Louis merutuki dirinya sendiri karena begitu bodoh mengucapkan kalimat-kalimat itu tanpa berpikir dulu.


"Jika Krystal iri lagi pada Ana bagaimana?! Hah, entahlah! Bagaimana nanti saja!", gumamnya dalam hati.


"Target baru, kah? Seseorang yang lebih kaya dari Presdir Ken?", ucap Krystal dalam hati.


"Benarkah dia lebih kaya dari Presdir Ken?", tanya Krystal dengan mata berbinar.


"Hah tepat kan dugaanku!", batin Louis.


Louis menepuk keningnya seraya menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa? Kau mau berpindah haluan sekarang? Setelah ayahmu mencelakai pamanmu? Setelah kau melihat Ana hancur seperti saat ini? Sekarang kau ingin berpindah haluan dengan mudahnya setelah semua yang telah kalian lakukan?!", Luois menatap Krystal geram.


Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Krystal dengan aura yang begitu mendominasi. Tatapannya berubah seram dan tubuhnya diliputi aura dingin. Krystal tak pernah melihat Louis dalam tampilan yang seperti ini. Ia meringkuk ngeri menatap ke arah Louis.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa masalahnya denganmu?", tanya Krystal dengan suara yang sangat kecil hampir tak terdengar.


"Krystal!", bentak Louis yang salah satu tangan Louis memukul meja dengan keras. Matanya sudah diliputi amarah.


Sedangkan Krystal, ia begitu terkejut hingga tubuhnya pun tersentak kaget.


"Louis!", panggil Krystal lemah.


Louis memegang kedua pundak Krystal dengan kuat bahkan hingga meremasnya.


"Krystal, apakah kau membutakan matamu atau kau telah menulikan telingamu untukku! Bertahun-tahun aku mengejarmu apakah kau tau itu?! Tentu saja kau tau, karena aku selalu membuntuti dirimu. Kemana pun langkahmu selalu ada aku di sana. Kau adalah aktris nomor 1 di negara ini, maka dari itu aku juga berusaha keras untuk menjadi aktor nomor 1 di negara ini. Aku selalu berusaha mensejajarkan diriku denganmu. Aku ingin kau melihatku, Krystal. Aku selalu bersabar dengan hanya mencintaimu itu kupikir cukup. Namun ternyata keserakahanmu benar-benar membuatku kecewa", Louis melepaskan tangannya dari pundak Krystal dan menatapnya nanar.


"Hentikan Krystal! Kumohon hentikan semua keserakahan keluarga kalian! Ana sudah sangat menderita. Sejak dulu, ia selalu mengalah padamu. Apa itu belum cukup?!", Louis melangkah mundur namun tubuhnya masih menghadap ke arah Krystal.


"Dan aku akan berhenti, aku akan berhenti mengejarmu, Krystal!", Louis berlalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.


Tangan Krystal terulur ke udara tanpa sadar ia ingin memanggil Louis untuk kembali. Namun mulutnya terasa kaku. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari sana. Krystal masih menatap ruang hampa tepat dimana Louis menghilang barusan. Tiba-tiba hatinya berdenyut sakit melihat Louis yang meninggalkan dirinya begitu saja, bahkan dalam keadaan marah.


Kalimat itu terngiang di dalam benak Krystal. Kalimat yang tiba-tiba membuatnya tidak rela dan dadanya terasa sesak. Bulir-bulir kristal bening mengalir dari pipinya tanpa terasa. Ia menyentuh air matanya seraya tersenyum penuh ironi.


"Heh, apa ini?!", ucapnya seraya menatap air mata yang berada di ujung jarinya. Kemudian ia tertawa dan menangis secara bersamaan. Ia menatap bayangan dirinya di meja makan dengan penuh ironi.


***


"Baiklah, rapat bisa kita mulai sekarang!", ucap salah satu anggota direksi yang hadir.


Tuan Bram tengah tersenyum menang di kursi paling depan dimana Tuan Danu biasa duduk memimpin. Ia sudah membayangkan dirinya menguasai perusahaan ini seterusnya.


"Sehubungan dengan kesehatan Tuan Danu Winata yang belum dapat diprediksi dan dengan hadirnya Tuan Bramantyo Winata sebagai salah satu pemegang saham terbanyak di perusahaan ini, maka kita resmikan Tuan Bramantyo Winata sebagai Presiden Direktur yang baru dari Winata Group seperti yang sebelumnya telah kita sepakati. Mari kita sambut Tuan Bramantyo Winata untuk memberi sambutannya", ucap salah satu perwakilan direksi yang tentu berpihak kepadanya.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya! Terima kasih atas kepercayaan yang telah anda sekalian berikan kepada saya untuk memimpin perusahaan ini kembali. Saya berjanji akan terus memajukan perusahaan ini seperti sebelumnya", ucapnya ramah seraya memasang senyum indahnya.


"cehh, maju apa? Sebelumnya dia malah hampir membuat perusahaan ini bangkrut", batin salah satu anggota rapat yang kontra terhadapnya.


Sebuah tepukan tangan terdengar dari arah pintu ruang rapat. Ana datang bersamaan dengan Tuan Reymond di belakangnya. Beberapa anggota rapat saling berbisik akibat kedatangan Ana yang begitu mendadak.


"Selamat, paman! Kau sudah menjadi Presiden Direktur Winata Group!", Ana berakting ramah dan menghambur ke arah Tuan Bram. Tetapi saat sedang memeluk pamannya wajah Ana berubah garang.


Tuan Bram sejenak tertegun oleh kedatangan keponakannya yang sangat tiba-tiba. Tapi cepat-cepat ia mengendalikan dirinya dan membalas pelukan Ana. Mereka saling tersenyum setelah melepas pelukan mereka. Topeng senyum yang mereka pasang pada wajah masing-masing.


"Ah ya, terima kasih keponakan ku! Tapi, ada maksud apakah kedatangan keponakan ku ini? Bukankah kau seharusnya sedang sibuk mengurusi ayahmu yang sedang tak sadarkan diri?!", sekilas Tuan Bram memasang senyum liciknya.


"Ahh, ya! Aku hampir lupa!", Ana berjalan ke tengah meja dan memposisikan dirinya sebagai pemimpin di sana.


"Tuan Reymond, silahkan jelaskan maksud kedatangan ku ke sini!", ucap Ana dengan wajah yang sangat tenang. Namun sebenarnya saat ini ia tengahh hvv hhhhhh menyembunyikan rasa gugupnya dengan mencengkram erat pinggiran meja di sana.


"Berdasarkan surat kuasa yang telah disetujui dan ditandatangani oleh Tuan Danu Winata sendiri. Maka saham miliknya sebesar 20% akan diserahkan kepada putrinya, Nona Keana Winata. Dan sehubungan dengan itu maka Nona Ana berhak untuk menjabat salah satu posisi direktur di perusahaan ini. Dan setiap pads setiap pergerakan perusahaan, Nona Ana berhak untuk ikut campur di dalamnya", Tuan Reymond menutup mapnya yang berisi surat kuasa dari Tuan Danu.


"Dan kebetulan posisi Direktur Keuangan sedang kosong. Paman pasti akan berbaik hati memberikan posisi itu padaku, bukan?!", ucap Ana tenang dengan sedikit senyum mengejek yang ia keluarkan.


"Sial! Jika dia menempati posisi itu, maka pergerakan ku akan di monitor olehnya. Tapi jika aku tidak memberikannya, maka mereka yang hadir akan berpikir negatif tentangku. Haish! Dasar bocah, mengganggu rencanaku saja!", Tuan Bram kesal dalam batinnya.


"tok, tok, tok!", suara berasal pintu ruangan itu.


"Permisi, Tuan! Seorang tamu yang menyatakan dirinya adalah salah satu pemegang saham datang dan ingin bergabung dalam rapat ini", ucap seorang sekretaris yang baru saja masuk ke dalam ruang rapat.


"Biarkan dia masuk!", ucap Tuan Bram dingin.


"Silahkan Tuan!", sekretaris itu menghela tangannya untuk mempersilahkan seseorang masuk.

__ADS_1


Sepasang kaki jenjang melangkah ke dalam ruangan itu. Seorang pria tampan dengan rambut coklat disisir klimis ke belakang. Alisnya tebal yang berwarna senada juga bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya, membuatnya nampak begitu maskulin. Pria berkumis itu mempunyai tahi lalat kecil di bawah mata, menambah kesan manis bagi wajahnya. Pria itu menggunakan kemeja bermotif dan setelan jas dan celana panjang berwarna maroon. Di melangkah ke ke dalam ruangan layaknya seorang model yang berjalan di catwalk. Tak lupa ia mengumbar senyumnya kepada seluruh hadirin yang sedang tertegun menatap kedatangannya. Termasuk Ana.


__ADS_2