Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 198


__ADS_3

"Ken!", panggil Ana lagi sambil memegangi lengan suaminya.


"Ya, sayang! Katakan ada apa! Jangan membuat kami khawatir!", pria itu berubah kusut wajahnya. Begitu khawatir dengan ekspresi istrinya yang menjadi aneh seperti ini.


"Aku ingin mun,,,tah!", sambil menutup mulutnya rapat-rapat Ana berlari ke arah kamar mandi.


"Sayang, hati-hati!", Ken sungguh khawatir melihat istrinya yang berlarian seperti itu saat sedang hamil muda begini. Ia takut terjadi sesuatu pada istri dan calon bayinya. Pria itu pun segera menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Hah! Untung saja hanya mual! Kupikir apa!", Nyonya Rima mengelus dadanya merasa lega karena pikiran buruk yang ada di dalam benaknya tidak menjadi kenyataan.


Begitu juga dengan Sarah, ia juga turut bernafas lega setelah mengetahui bahwa sahabatnya itu hanya ingin muntah saja. Tidak ada hal aneh lainnya yang terjadi pada sahabatnya yang tengah mengandung itu.


Tapi ekspresinya segera berubah saat ia menyadari bahwa ada seseorang yang sedang asyik memeluknya dari samping dan merekatkan wajahnya ke lengan miliknya. Sarah mendesis, menatap pria itu seperti piton yang akan melahap mangsanya.


"Ming,,,gir!", wanita itu menggunakan jari telunjuknya untuk menyingkirkan wajah Sam dari lengannya. Ia juga berusaha melepas tangan Sam yang melingkar di tubuhnya.


Tapi seakan seluruh tubuh Sam seperti lem yang mereka erat. Tubuh pria itu kembali menempel ke arah tubuh Sarah dengan senyuman di wajahnya. Yes, ia menang. Sam tertawa di dalam hatinya. Ia sangat senang bisa menggoda Sarah lagi seperti sekarang ini. Bahkan kali ini ia bisa lebih terang-terangan lagi karena status mereka yang akan segera menikah.


"Minggir atau aku tak ingin lagi bertemu denganmu!", Sarah merapatkan giginya saat memperingati Sam. Ia berbisik di telinga pria itu dengan suara yang agak pelan namun sangat tajam menusuk ke telinganya.


"Siap, Nona!", mendadak Sam menegakkan duduknya dengan wajah yang tak kalah kaku dengan posisi duduknya saat ini. Lebih baik ia lepaskan dulu Sarah saat ini. Daripada ia harus kehilangan Sarah lagi. Toh nanti setelah menikah ia yakin Sarah yang tak akan mau pergi jauh darinya. Sam tersenyum sendiri membayangkan sesuka hati.


Wanita di sebelahnya sedikit tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah lain agar Sam tidak melihatnya. Tapi lalu ia memasang wajah datarnya saat menghadap ke arah depan lagi.


"Yasudah, selagi Ana di kamar mandi sebaiknya kalian lanjutkan makan kalian. Kami semua sudah selesai, hanya kalian saja yang belum!", dengan penuh kasih sayang di matanya, Nyonya Rima memberi perintah dengan tulus kepada Sam maupun Sarah.


"Ba,, baik ,Bunda!", Sarah masih sungkan diperlukan sangat baik begini oleh keluarga sehebat keluarga Wiratmadja ini.

__ADS_1


"Makanlah, karena setelah ini kita akan langsung menemui ibumu", sambung Tuan Dion sambil memberi senyuman kepadanya.


"Ibu?", wajah Sam dipenuhi tanda tanya.


uhukk,, uhukk


Mendengar hal itu Sarah langsung tersedak saat baru saja memasukkan makanan ke mulutnya. Wajahnya langsung pias dipenuhi kekhawatiran. Bagaimana menjadi secepat ini?! Bagaimana ibunya yang memiliki penyakit jantung itu dapat mendengar kabar yang begitu mengejutkan begini?! Sarah sangat mengkhawatirkan kesehatan ibunya. Terlebih dengan permintaan ibunya waktu itu yang menginginkannya menjauhi Sam, Sarah merasa ini terlalu cepat. Karena ia bermaksud untuk membicarakan hal ini dengan ibunya secara perlahan. Agar ibunya nanti mau mengerti dan menerima kehadiran Sam di sisinya.


"Hati-hati Sarah, minum ini dulu!", dengan perhatian Nyonya Rima memberikan segelas air minum untuk melegakan tenggorokannya.


"Ada apa dengan wajahmu ,Sam? Apa kau belum siap?", tanya Tuan Dion sedikit menekan putra bungsunya itu.


"Tidak Ayah, bukan begitu!", Sam meletakkan sendoknya ke piring lalu pria itu menegakkan punggungnya.


"Lalu apa?", Ken sudah tiba bersama dengan Ana yang nampak pucat di sampingnya.


"Minggir!", perintah Ken begitu tegas pada Sam agar menyingkir dari tempat duduknya.


"Ayah dan Bunda jangan khawatir, aku tidak apa-apa!", Ana berusaha tersenyum meski ia merasa lemah saat ini.


"Apakah kau yakin?", Nyonya Rima dibuat semakin khawatir saat ini.


"Iya tidak apa-apa, Bunda! Biar nanti aku sekalian beristirahat di rumah Krystal saja!", jawab Ana lemah tanpa peduli tatapan aneh dari adik iparnya itu.


"Tunggu,, tunggu! Kenapa jadi ke rumah Krystal? Bukankah kita akan bertemu dengan ibunya Sarah setelah ini?", dengan wajah tidak sabar Sam memberikan pertanyaannya.


"Dan,,,, bisakah kalian jelaskan bagaimana kalian semua bisa datang ke sini padahal aku hanya memerintahkan supir pribadiku untuk menghubungi Ayah dan Bunda saja?", sepertinya banyak hal yang terlewat dari pemikiran Sam. Saking bahagianya dia karena sudah bertemu dengan pujaan hatinya.

__ADS_1


"Yah,,, semalam supirmu terlalu panik saat mendengar kau mengacau. Jadi dia salah menekan kontak yang harusnya dia hubungi dan malah menghubungi aku bukannya Ayah. Jadilah aku mengetahui kalau kau sedang mabuk", dengan malas Ken menceritakan kejadian yang sebenarnya tadi malam.


"Lalu manajer Toni juga sempat menghubungiku tentang Sarah yang meminta izin untuk mengantar Sam yang sedang mabuk berat katanya. Dan aku juga jadi mengetahui hal ini", sambung Ana masih dengan suara lemahnya.


"Jadi kami berkolusi dengan supir pribadimu agar Sarah bisa membawamu masuk ke dalam apartemen. Karena setelah itu Sarah pasti akan terjebak di dalam. Ya paling tidak itu bisa membuat kalian menjadi lebih dekat, bukan!", tambah lagi Ken dengan gaya santainya.


"Dan tenang saja, Sarah! Aku sudah memberi kabar tentang dirimu kepada ibu. Dan sudah menjelaskan duduk permasalahannya. Jadi nanti jangan khawatir jika ibu akan kaget atau sakit karena mengetahui masalah kau terjebak bersama Sam semalam. Aku sudah membuat ibu memahaminya, tenang saja!", sambil bersandar Ana memegang lengan Sarah bermaksud untuknya menenangkan temannya itu bersamaan dengan senyuman yang ia berikan.


Baik Sarah dan Sam, keduanya saling beradu pandang cukup lama saat sepasang suami istri itu sedang menjelaskan masalah semalam kepada mereka. Wajah Sam tidak menunjukkan reaksi apapun, hanya datar saja. Tapi Sarah, wajahnya menjadi tegang dengan raut wajah tak terbaca.


"Jadi,,, jadi kalian yang menjebakku, kan?", lirih Sarah mengucapkan asumsinya itu kepada Ana maupun Ken.


Ana mengerti apa yang Sarah pikirkan, pasti ada rasa kecewa karena telah dijebak seperti ini. Tapi mereka melakukan hal ini juga demi kebaikan Sarah dan juga Sam sendiri. Sudah cukup mereka melihat kedua orang itu saling menyiksa diri masing-masing padahal keduanya saling mencintai.


-


-


-


-


-


**maaf ya semalam aku ga jadi crazy up 🙏 anak aku tiba-tiba rewel 😭 mohon teman-teman harap maklum ya dengan ibu rumah tangga ini.


Tapi aku janji hari ini akan tetap nebus yang semalem kok 👍

__ADS_1


juga buat ceritanya babang ben, didoakan aja ya semoga bisa crazy up juga nanti..


sekali lagi terima kasih untuk pengertiannya ya teman-teman 🙏🙏🙏**


__ADS_2