Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 83


__ADS_3

Mereka saling menempelkan kening mereka dengan nafas yang tersengal. Ana dan Ken saling menatap dan melempar senyuman.


"Tuan!", sebuah suara berasal dari luar lift.


Sepasang kekasih itu menoleh bersamaan. Dan betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa Han telah berdiri di sana. Entah ia melihat kegiatan mereka atau pun tidak. Yang jelas Ana benar-benar malu saat ini. Wajahnya sudah memerah seperti tomat. Ia menyembunyikan dirinya di balik punggung Ken yang berdandan sebagai Bastian.


Sedangkan si pria, Ken nampak biasa saja. Ia memasang wajah datarnya seolah tak terjadi apa pun. Malahan ia masih sempat mengusap bibirnya yang basah akibat kegiatan mesranya tadi dengan tidak tau malunya.


"Mo,, mobil sudah siap Tuan!", ucap Han canggung.


"Lagi-lagi aku harus melihat kemesraan mereka. Membuat aku rindu saja! Cepatlah sembuh, Risa!", gumam Han dalam hati.


Ken menggandeng tangan Ana dan melangkah bersama ke arah mobil yang sudah siap di depan pintu lift. Han membukakan pintu untuk Ana dan Ken. Sedangkan dirinya duduk di kursi sebelah pengemudi. Mobil itu pun melesat keluar dari area gedung Winata Group.


***


Ken melirik ke arah Ana yang masih terdiam menatap ke luar mobil. Wajah Ana datar tak menampakkan emosi apa pun. Ken menjadi bertanya-tanya mengapa kekasihnya bersikap seperti ini. Padahal sebelumnya mereka sangat mesra pada kegiatan mereka di dalam lift. Ken merasa heran karena yang biasanya menjadi misterius itu adalah dirinya, tapi sekarang kenapa malahan Ana yang menjadi diam tak terbaca.


"Adakah yang kau ingin jelaskan kepadaku?", ucap Ana tanpa menoleh ke arah Ken. Ia menatap Ken dari pantulan kaca jendela. Mata Ana menatap tajam ke arah bayangannya.


"Bukankah sudah kukatakan! Hadiah apa yang bisa kau beri jika aku menjelaskan semuanya kepadamu, sayang!", ucap Ken santai. Ia menghadap ke arah depan sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Ken!", seru Ana seraya berbalik ke arah Ken sambil melempar tatapan tajam.


"Iya, sayang!", jawab Ken dengan nada yang begitu menggemaskan. Ia membelai lembut kepala Ana.


"Katakan!", seru Ana tak mau mengalah dengan keadaan.


"Hadiah dulu baru ku beritahu!", Ken makin tak mau kalah. Ia menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum menang. Ia sangat optimis Ana akan menuruti apa katanya.


"Sini!", dengan percaya dirinya ia menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk dan tersenyum nakal.


"Huh!", Ana menghembuskan nafasnya begitu kasar.


"Kenapa lelaki ini selalu saja licik sih?! Awas saja kau, Ken! Aku akan membalasmu", geram Ana dalam hatinya.

__ADS_1


Lantas Ana mengecup bibir Ken dengan cepat. Kemudian ia mengerucutkan bibirnya, masih kesal karena Ken belum mau bicara.


"Apa begitu cara yang benar?!", Ken menarik pinggang Ana hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.


"Astaga, Ken! Kau lihatlah masih ada Han dan juga Pak supir! Kau ini sungguh tidak tau malu!", Ana memukul pelan dada Ken.


"Han! Kau dilarang menoleh ke belakang", perintah Ken dengan nada yang begitu kejam. Han dan si supir hanya bisa berkomentar dalam hatinya masing-masing.


"*Dasar Tuan, selalu saja membuatku iri!", batin Han.


"Jika Tuan Han saja bisa mendapat peringatan seperti itu, lalu bagaimana dengan aku yang bukan siapa-siapa! Bisa-bisa Tuan Ken menghabisi nyawaku sekarang juga", batin si supir*.


Ken sedang tak rela melihat wajah Ana yang sangat menggemaskan ini dilihat oleh orang lain, apalagi laki-laki. Baru juga reda cemburunya tadi akibat Ana tersenyum pada pria lain, yang tak lain juga merupakan pria paruh baya dan lagi ia adalah seorang bawahan ayahnya dulu. Ken ingin menahan emosinya kali ini. Jadi ia membuat keputusan itu untuk kebaikan bersama, begitu menurutnya. Ken lebih memilih menikmati suasana yang menyenangkan seperti ini, saat-saat dimana ia bisa menggoda Ana sepuas hatinya.


"Ken!", tegur Ana pelan sambil menggeleng pelan. Ia selalu tak habis pikir dengan ulah kekasihnya itu.


FLASHBACK ON


"Sebenarnya ada apa? Mengapa kakak harus berdandan seperti ini? Aku sangat tau ini bukan gayamu sama sekali! Dan wajah ini, ada apa dengan wajah ini? Tapi kau lebih tampan dengan wajah seperti ini, kak!", racau Sam yang berdiri di samping kakaknya. Di hadapannya terdapat cermin besar dan Sam sedang memperhatikan tampilan kakaknya dari atas sampai bawah.


"Dasar bodoh!", Ken memukul pelan kepala adiknya.


"Apa tampilan ini masih mirip dengan Keanu Wiratdmaja?", pertanyaan yang terlontar lantas membuat Sam mengerutkan keningnya dalam-dalam.


"Kau memang Keanu Wiratdmaja, tapi kau bukan Presdir Ken yang terhormat bila seperti ini", ucap Sam hati-hati tepat di hadapan wajah Ken. Sam kembali memandang kakaknya dari atas sampai bawah.


"Kau lebih seperti seorang spy yang sedang menyamar", tambah Sam lagi.


"Emmh ya, memang benar!", sahut Ken cepat.


"Apanya yang benar?", Ken mendengus kesal mendengar pertanyaan Sam.


"Apa kau bodoh sejak lahir, hah!", bentak Ken dengan tatapan tajamnya.


"Tuan akan menyamar menjadi salah satu pemegang saham pada rapat di perusahaan Winata Group. Tuan tidak menginginkan semua orang mengetahui identitasnya yang sebenarnya agar dapat dengan mudah memperdaya Tuan Bram. Dan mengambil alih kembali perusahaan itu pada Nona Ana, kepada pemilik yang sesungguhnya", jelas Han dengan sabar sebelum bosnya itu mejadi emosi karena adiknya.

__ADS_1


"Sekarang kau mengerti?", tanya Ken yang masih memandangi dirinya di cermin besar itu. Ia tak menghiraukan adiknya yang masih mencoba mencerna penjelasan dari Han. Sam mengangguk mengerti setelah berpikir untuk sekilan lama.


"Oh, jadi begitu! pantas saja kau sampai memakai bulu-bulu halus ini pada wajahmu?! Tapi,, kau tampak lebih seksi!", ucap Sam dengan nada yang sangat menjijikan untuk Ken dengar. Dan lagi tangan Sam yang menyentuh dadanya, membuat Ken menjadi geram pada adiknya.


"Ingin ku patahkan tanganmu, heh!", ucap Ken dengan geramnya sambil melirik ke arah tangan Sam yang masih bertengger pada dada bidang Ken.


Sam tersenyum geli dengan tingkahnya sendiri. Ken sudah melayangkan tangannya di udara untuk memberi pelajaran pada adiknya itu. Sontak Sam langsung meringkuk membelakangi Ken sambil ketakutan.


Setelah dirasa beberapa lama ini tak ada pergerakan dari belakang tubuhnya, Sam segera berdiri dengan benar dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari keberadaan kakaknya dan Han di ruangannya itu.


"Hey! Mengapa kalian meninggalkan aku!", teriak Sam dan segera menyusul mereka.


FLASHBACK OFF


"Itu saja?", tanya Ana masih dengan wajah datarnya.


"Emm ya baiklah! Beberapa hari yang lalu aku memerintahkan Han untuk membeli saham di perusahaan ayahmu itu sebesar-besarnya sampai akhirnya Han hanya mendapatkan saham sebesar 30% . Ya paling tidak itu setara dengan saham yang pamanmu miliki", jelas Ken.


"Apa? 30%? Dan kau bilang hanya, Ken!", Ana menepuk keningnya tak habis pikir. Sebenarnya seberapa kaya pria yang sudah menjadi kekasihnya ini. Saham yang cukup besar bagi Ana itu, ternyata hanya menjadi sebagian kecil bagi prianya.


"Ya memang hanya! Karena targetku adalah memiliki perusahaan itu seutuhnya dan memberikannya kepadamu. Karena hanya kau yang pantas meneruskan perusahaan itu, Ana!", ucap Ken dengan wajah serius. Ia menatap Ana lurus sampai menembus bola matanya.


Setelah berkali-kali Ana berada dengan jarak yang cukup dekat bersama dengan Ken, tapi masih saja ia merasa berdebar dan lagi wajahnya kini sudah menghangat kembali. Semburat kemerahan mewarnai pipinya. Buru-buru ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ken terkekeh sendiri melihat tingkah wanitanya itu. Selalu ada saja yang membuatnya merasa gemas terhadap Ana. Rasanya ingin sekali ia cepat-cepat menikah dan langsung membawanya ke kamar. Ia meraih Ana dan memeluknya erat. Ken membenamkan wajah Ana pada dadanya. Dan Ana pun langsung membalas pelukannya. Ia menghirup sebanyak-banyaknya aroma maskulin yang Ken miliki. Aroma yang membuatnya selalu rindu dan aroma yang dapat menenangkannya selain aroma maskulin dari ayahnya.


"Kenapa kau malah malu?!", tanya Ken masih mendekap Ana.


"Karena kau menatapku seperti itu, aku jadi malu", Ana tersenyum di dalam pelukannya.


"Mengapa kau selalu saja menggemaskan, Ana! Kau tau, aku harus berusaha ekstra keras untuk tidak memakan mu segera", ucap Ken diiringi oleh kekehan keduanya.


"Memangnya kau pikir aku ini apa?!", Ana masih tersenyum di sana. Ia merasa sangat senang bahwa Ken benar-benar menghormatinya. Ia tidak melewati batasnya padahal Ken sangat menginginkannya. Ana paham betapa keras usaha seorang lelaki jika harus terus berdekatan dengan wanitanya. Maka dari itu, Ana sangat bangga pada prianya ini.


"Tapi Ken!", Ana mendongakkan kepalanya masih dengan mendekap Ken.

__ADS_1


"Apa tindakanmu tidak terlalu berlebihan!", ucap Ana hati-hati. Ia sebenarnya takut menyinggung perasaan Ken yang sudah sukarela mau membantunya kini.


__ADS_2