
Rembulan bersinar terang pada kegelapan langit malam itu. Sinarnya amat kontras dengan kelamnya hati Joice hari ini. Setelah kejadian siang tadi, ia menghubungi ayahnya untuk mengirim seorang supir pribadi yang bisa mengantarkannya kemana pun. Dan ia juga memutuskan untuk sementara tinggal di kediaman orang tuanya. Rasanya ia masih trauma mengingat kejadian-kejadian yang menimpanya siang tadi.
Dering ponselnya menghentikan lamunannya. Matanya terkesiap melihat orang yang tengah melakukan panggilan terhadapnya saat ini. Wajah lesunya berubah bersemangat, seakan baru saja ia menengguk satu baris multivitamin sekaligus.
"Hallo, Ken!", sapanya antusias setelah menggeser tombol jawab.
"Lusa kita akan mengadakan foto prewedding! Aku akan mengirim orang untuk menjemputmu. Waktu dan alamat akan aku kirim lewat pesan", jelas pria yang berada di ujung saluran dengan nada datar seperti biasanya.
"Baiklah! Aku sangat menantikannya!", ucap Joice sambil mengulas senyumnya.
"Kalau begitu aku tutup!", Ken mengabaikan antusiasme yang terdengar di telinganya. Lalu sambungan telepon itu diputus dari saluran di seberang sana.
Sambil memandangi pantulan dirinya dari kaca jendela mobilnya, ia merekahkan senyumannya. Begitu gembira karena sejauh ini Ken yang selalu mengambil inisiatif lebih dulu mengenai rencana pernikahan mereka. Ia tak menyangka jika dalam hitungan hari, ia akan segera menjadi istrinya dan sekaligus menjadi Nyonya muda Wiratmadja. Sebuah impian yang bahkan sangat sulit ia raih semenjak remaja dulu.
Ponselnya kembali berdering, tanpa melihat ke layar, ia langsung menggeser tombol jawab. Dalam benaknya masih diliputi oleh nama Ken saat ini, jadi tanpa sadar ia segera menyebutkan nama itu dengan riangnya.
"Ada apa lagi, Ken?", nadanya seakan tak sabar menanti jawaban dari seberang saluran sana.
"Ken? Wah, kedengarannya akrab sekali ya! Dan oh, jadi rencanamu sudah berhasil rupanya, Nona!" , suara pria itu menggelegar di telinganya. Tubuhnya memaku ketika mendengar suara pria yang tak asing baginya ini.
"Tu,,Tuan Relly! Apa kabar?", ucapnya terbata. Jika dilihat, raut wajahnya pun kini menegang.
"Jadi kau masih mengingat suaraku? Wah kau harus diberi penghargaan sepertinya!", terdengar suara kekehan di seberang panggilan sana.
"Kabarku sangat baik, seperti kau dengar bagaimana suaraku! Tapi hatiku rasanya sakit karena telah dicampakkan oleh Nona Joice", Relly berpura-pura sedih dengan suaranya.
"Ap,, Apa maksud Tuan Relly? Saya tidak mengerti!", suaranya terbata akibat gugup yang melandanya.
"Mungkinkah dia sudah mengetahuinya?", batin Joice khawatir.
"Setelah nona mendapatkan apa yang nona inginkan, jadi nona sudah melupakan bagaimana merangkak ke ranjangku dan memohon untuk menghabisi nyawa seseorang?! Wah, berapa penghargaan yang seharusnya kau dapatkan ya?!", suara Relly terdengar dingin dan kejam.
"Tentu saja aku tidak melupakan hal itu! Semuanya berkat bantuan Tuan Relly, aku sungguh berterima kasih akan hal itu", sahut Joice cepat tak ingin membuat penelponnya itu marah.
Sambil memejamkan matanya dengan keras, dia mengingat beberapa bulan yang lalu bagaimana ia merayu dan menghabiskan malam bersama Tuan Relly yang ia kenal merupakan salah satu mafia besar yang dapat membantunya melancarkan semua rencananya dengan mulus. Dia juga tau bahwa pria itu menaruh hati padanya, sehingga ia dapat dengan mudah menarik perhatian Tuan Relly itu.
"Bagus jika kau masih mengingatnya! Besok malam, datang ke tempatku! Atau kau ingin aku yang datang ke tempatmu?!",, Relly membuat sebuah pilihan dengan nada yang menggoda. Namun sebaliknya, Joice merasa bahwa itu adalah sebuah ancaman yang berarti jika Joice tidak datang ke sana maka ia akan berurusan dengan nyawanya.
"Ba,,baiklah! Aku,,aku akan ke sana!", sahut Joice cepat-cepat.
"Baiklah, aku sangat menantikan kehadiranmu, No,,na Joice!", ucap Relly lambat-lambat sebelum menutup sambungan teleponnya.
Joice langsung menghempas ponsel yang ia pegang dengan kasar ke arah kursi kosong di sebelahnya. Ia memandang keluar jendela mobilnya sambil menghembuskan nafasnya kasar. Marah, kesal, ia hadapi perasaan berkecamuk itu di dalam hatinya sendiri. Ia pikir, Tuan Relly yang ia kenal akan mudah ia peralat untuk memuluskan misinya. Namun ia salah, Joice tak mengenal siapa Relly sebenarnya dan kepada siapa pria itu akan setia, tentu saja kepada bosnya, bos geng mafianya, Ben.
__ADS_1
***
Di hotel tempat dirinya dan juga bosnya menginap, Relly baru saja menyudahi panggilan telepon itu. Sama seperti yang Joice lakukan, ia melempar ponselnya ke sembarang arah sambil mengumpat kesal. Matanya masih memandang ke arah itu dengan tatapan menjijikan.
"Itu adalah hukuman yang pantas untukmu!", sindir pria eksentrik yang merupakan bosnya itu sambil terkekeh bahagia.
"Saat itu aku memang menikmatinya, Tuan. Tapi setelah tau semua ini, bahkan memandang wajahnya saja aku mungkin akan muntah!", ucap Relly sambil bergidik jijik. Kebencian telah menggerogoti hatinya. Tak ada sedikitpun celah untuk Joice di sana. Relly sudah bertekad untuk tidak menyentuh wanita itu lagi, karena wanita itu tak ubahnya seperti wanita yang biasa jadi mainannya. Apalagi saat ia mengingat betapa bodoh dirinya bisa jatuh ke dalam pesona seorang Joice lalu bisa diperalat dengan mudah. Rasa kesalnya sudah beralih ke arah tangan yang siap mencekik lehernya dengan kejam.
"Jangan terlalu membencinya! Kau bisa cinta lagi nanti dengannya?!", Ben mempunyai pekerjaan baru yang menyenangkan. Menggoda anak buahnya yang satu ini membuatnya banyak tersenyum.
"Cinta kadang membuat orang bodoh!", gumam Ben dalam hatinya.
Ya, sebelumnya Relly merasa telah jatuh cinta pada wanita yang ia anggap benar. Lalu karena matanya dibutakan oleh hal itu, otaknya hanya berpikir untuk memenuhi apa yang diinginkan wanitanya. Tanpa mencari tahu asal-usul yang menjadi targetnya. Sekarang setelah sadar hanya diperalat, pria itu menjadi benci dan jijik. Berkebalikan dengan apa yang ia pikir sebelumnya. Memuja, mengagumi wanita itu bagai dewi, lalu saat ini yang ada hanya kebencian yang tak bertepi.
***
Seorang wanita dengan hanya menggunakan handuk kimono tengah menikmati teh hangatnya. Rambutnya yang basah tergerai di kanan dan kiri bahunya. Matanya memindai keseluruhan isi ruangan yang tak kalah mewahnya dengan rumah yang ditinggali oleh suaminya itu. Matanya berbinar, memandang takjub oleh semua yang ia lihat.
Suara kinerja shower berhenti dari arah kamar mandi. Suaminya keluar dari sana juga hanya dengan menggunakan handuk kimono yang berwarna senada dengan miliknya. Rambut basah yang acak-acakan membuat pria itu nampak makin tampan dan seksi, pikirnya.
"Aku tau, apa isi pikiranmu!", Ken menyusul Ana duduk di sofa ruangan itu. Lalu ia juga menyeruput teh hangat pada cangkir yang satunya.
"Sini, aku akan membantumu mengeringkan rambutmu!", segera Ana mengalihkan topik pembicaraan yang membuatnya malu. Ia menepuk pahanya supaya Ken berbaring di sana dan mempermudah Ana mengeringkan rambutnya yang masih amat basah.
"Kapan dia akan tumbuh di sini?", tanya Ken menunjuk perut Ana dengan bibirnya.
Blush
Pipi Ana spontan memerah. Ia mengerti apa maksud dari pertanyaan suaminya itu. Seorang anak, suaminya menantikan seorang anak di tengah-tengah mereka. Betapa bahagianya seorang istri ketika mendengar suaminya begitu mengharapkan kehadiran seorang anak dari dalam rahimnya sendiri. Ana tersenyum lembut sambil terus mengeringkan rambut suaminya.
"Aku mana tau, Ken! Aku bukan dokter!", Ana tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Apa aku kurang bekerja keras ya?!", kepala Ken mendongak ke arah wajah Ana sambil menampilkan senyum yang menjengkelkan.
Mata Ana berkilat, namun senyumnya tak dapat ia sembunyikan. Ia lempar handuk itu ke samping, lalu ia beranjak berdiri dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
"Sudah, aku ingin memakai pakaian ku!", namun pergelangannya langsung dicekal oleh suaminya. Dan ditarik untuk duduk kembali.
"Kita menginap di sini yah?", Ken memeluk Ana dari samping dan meletakkan dagu runcingnya pada bahu Ana.
"Tapi aku belum mempersiapkan segala sesuatunya untuk kita kerjakan besok!", seru Ana seraya menoleh ke arah wajah suaminya yang berada di tepat di sebelah wajahnya.
Cup
__ADS_1
"Ayolah, sayang! Aku ingin berusaha lebih keras lagi menumbuhkan benih-benih ku di sini!", Ken tersenyum manis sambil tangannya mengusap lembut perut Ana.
"Lalu bagaimana dengan besok?" Ana menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya sehingga kini wajah mereka saling berhadapan.
"Ada Han!", Ken tersenyum konyol sambil menaik-turunkan alisnya.
"Astaga, Ken! Kasian Han selalu kau beri tugas seenaknya! Lalu kapan ia akan menikahi Kak Risa jika dia saja selalu dibuat sibuk oleh dirimu?!", Ana terus mengomeli suaminya itu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, aku kalah! Tapi ini yang terakhir, janji!", Ken membuat huruf V dengan jarinya untuk ia tunjukkan kepada Ana sambil menampilkan senyuman manisnya.
"Janji?", tanya Ana menegaskan kembali.
"Janji!", sahut Ken dengan wajah meyakinkan.
"Baiklah!", Ana akhirnya menyetujui meskipun wajahnya masih tak rela. Kegiatan siang hari mereka di atas ranjang tadi terasa tak cukup bagi suaminya itu. Lagi dan lagi, suaminya selalu berusaha merayu dan menggodanya dengan sentuhan cinta yang ia akui memabukkan baginya.
"Baiklah, ayo!", Ken mengeluarkan tangannya dari balik tubuhnya yang membuat simpul ingkar. Lalu segera ia mengecup bibir Ana dan memberikannya ciuman yang dapat membakar hasrat mereka. Ken membimbing tubuh Ana ke ranjang dan kembali menindihnya,, lagi.
"Yang paling penting adalah saat ini. Nanti ya bagaimana nanti!", batin Ken riang.
Ken tak berencana menepati janjinya barusan. Baginya yang terpenting adalah kegiatan mereka saat ini. Dan untuk masalah selanjutnya, ia akan memikirkannya lagi sambil jalan. Ken tersenyum dalam hati.
Malam sudah larut ketika mereka selesai dengan kegiatan yang menguras peluh itu. Hanya selimut yang membalut tubuh mereka saat ini. Sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu, mata Ana menerawang jauh ke depan. Ucapan Ken yang menginginkan seorang anak darinya memenuhi benaknya saat ini. Tentu saja hal itu berkaitan dengan restu dari orang tua Ken yang belum ia dapatkan, terutama dari Nyonya Rima yang sejak awal tak pernah mendukung putranya memiliki hubungan dengan dirinya.
-
-
-
-
-
-
hai teman-teman semuanya ..
ceritanya percintaan Ben sudah mulai aku buat lho.. mohon dukungannya juga ya
jangan lupa like, vote sama komentarnya ..okeh 😘
__ADS_1