Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 184


__ADS_3

Sarah terlihat berpikir sejenak, lalu ia melangkahkan kakinya ke arah depan lagi dimana Sam berada. Wanita itu kembali mendudukkan dirinya di tempat yang sama seperti sebelumnya sambil sesekali melirik ke arah pria yang tengah mabuk itu.


"Ini tidak baik!", batin Sarah.


Ia masih ingat jika pria itu belum lama sembuh dari lukanya. Tidak baik terlalu banyak minum begini. Wajah Sarah berubah khawatir, tapi ia juga bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Wanita itu menggigit ujung-ujung kukunya sambil terus berpikir.


"Hey, Sarah! Tuan Sam sudah terlalu banyak minum, dia sudah terlalu mabuk saat ini. Apa tidak ada yang bisa membantunya? Karena sejak tadi ia selalu marah-marah jika ada yang mendekatinya. Bahkan Sisil pun menjadi salah satu korbannya. Dia dilempar begitu saja saat sedang merayu Tuan Sam. Itu tepat ketika kau pergi dari sini. Coba saja tadi kau melihatnya! Kau pasti akan terhibur!", ujar si barista tiba-tiba pada Sarah.


"Jadi benar aku salah paham!", Sarah menyesal dalam hati.


"Coba kau cari supirnya atau kau hubungi kerabatnya agar ada yang menjemputnya pulang. Sepertinya keadaannya sudah tidak baik", inilah tujuan utama barista itu berbicara. Karena sejak awal ia sudah melihat langsung bagaimana kacaunya kondisi Tuan Sam itu. Ia jadi tidak tega, maka dari itu ia melaporkan hal ini kepada Sarah yang notabene merupakan penanggung jawab club ini sekarang. Hanya dia tidak tau saja bagaimana hubungan Sarah dan Sam yang sebenarnya.


"Baiklah, coba aku lihat dulu!", Sarah sudah beranjak dari kursinya.


"Tapi Sarah nanti jika dia mengamuk lagi bagaimana? ", barista itu khawatir jika Sarah akan menjadi korban kemarahan Sam lagi.


"Tenang saja dia tidak akan berani", jawab Sarah dengan tenang dan percaya diri.


"Emmhh, maksudku tenang saja, jangan khawatir!", ia buru-buru meralat ucapannya melihat si barista memiliki tanda tanya di wajahnya. Sarah tidak ingin dia tau bahwa dirinya kenal bahkan memiliki hubungan yang ambigu dengan Sam.


"Oke baiklah, hati-hati!", balas si barista meskipun masih ada jejak tanda tanya di sana.


"Iya!", sahut Sarah sambil menjejakkan kakinya ke arah Sam berada. Sebenarnya dalam hati ia sedikit ragu, benarkah apa yang akan ia lakukan saat ini. Tapi melihat pria itu sungguh kacau, hati Sarah tak dapat lagi dibohongi untuk tidak peduli. Ia sangat peduli apalagi mengingat bekas lukanya tempo hari, pasti belum benar-benar pulih seratus persen.


Perlahan Sarah mendudukkan dirinya di ujung sofa jauh dari jangkauan Sam. Beberapa pelayan yang lewat melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir. Tapi segera tersenyum kepada mereka sebagai isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa. Tangannya melambai memberi isyarat kepada salah satu pelayan untuk membereskan gelas dan botol yang berada di meja dan juga di lantai.


"Hey, siapa yang menyuruhmu mengambil minumanku!", bentak Sam setengah sadar saat melihat bayangan seseorang terlihat seperti sedang meletakkan gelas dan botolnya ke nampan.


Pelayan itu takut dan gemetar, pasalnya ia juga menjadi saksi brutalnya Sam saat sedang mengamuk tadi. Apalagi Sam tak memandang bulu, baik itu pria ataupun wanita, semua yang mendekatinya akan terkena amukannya. Termasuk Sisil tentunya.


"Jawab! Siapa yang menyuruhmu mengambil minumanku?!", bentak Sam lebih keras hingga membuat yang lainnya menoleh ke arahnya.


"Sudah tidak apa-apa! Cepat bawa sana!", perintah Sarah pelan dengan wajah tenang. Ia tak ingin menambah bumbu ketakutan pada pelayan itu. Buru-buru pelayan itu angkat kaki dari sana, ia tak ingin terkena masalah.


Sebenarnya Sarah sendiri sempat terkesiap setiap mendengar Sam yang mulai membentak. Karena selama ini Sarah tak pernah melihat sisi dirinya yang seperti ini. Sam yang ia kenal, adalah pria gila yang selalu memberinya kehangatan. Maka dari itu, melihat Sam yang kacau begini hatinya menjadi sakit. Ia jadi bertanya-tanya apa penyebab dari amukan pria ini yang semakin menjadi-jadi.


"Hey, kau!", tiba-tiba tubuh Sarah menegang saat Sam kini sudah menunjuk ke arahnya. Ia pun menoleh meski bibirnya masih mengatup dan diam.


"Jadi kau yang sudah berani mengambil semua minumanku?! Hah!", Sam sedikit membentak meskipun tidak sekeras tadi. Tapi Sarah masih memilih untuk diam.


"Jawab! Jadi benar kau, kan yang menyuruhnya?", tiba-tiba Sam menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Sarah. Menatap wajah wanita itu lekat-lekat dari jarak dekat sambil mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Sarah.


"Kau!", gaya ucapannya masih seperti khas orang mabuk. Mendadak Sam menundukkan kepalanya masih di depan wajah Sarah. Telunjuknya sudah turun, hanya saja kini kedua tangan Sam tengah memenjarakan Sarah di kedua sisinya. Sarah terkunci, mau mundur lagi juga tidak bisa. Punggungnya sudah membentur dinding saat ini. Wajah Sarah menegang, tapi ia usahakan untuk tetap tenang dan diam. Tidak mungkin kan, saat ini Sam mengenali wajahnya. Pasalnya saat ini Sam terlihat sudah setengah sadar.


"Berani sekali kau mengambil minumanku, hah!", Sam berteriak tiba-tiba di depan wajahnya. Hingga membuat Sarah terperanjat dan menggeram marah.


Beberapa pegawai mulai khawatir dengan keadaan Sarah. Apalagi si barista, ia jadi merasa bersalah karena apa yang Sarah hadapi saat ini adalah karena saran darinya. Tapi,,, Sarah masih mencoba tetap tersenyum kepada mereka sambil melambai tangannya. Ia masih tidak apa-apa sekarang.


"Iya, aku yang menyuruhnya! Kenapa? Kau mau marah? Kau ingin memukulku? Atau kau ingin mendorongku hingga jatuh ke bawah? Kenapa?", bentak Sarah tak tahan seraya mendorong tubuh Sam menjauh.


"Kau!", Sam menenggak minumannya yang masih berada di tangannya. Lalu tersenyum miring ke arah Sarah.


Sarah sempat menggigil melihat seringai yang Sam keluarkan. Wanita itu tak menyangka jika pria gila dan bodoh itu mempunyai sisi menyeramkan seperti ini. Sungguh seperti seorang iblis yang bersembunyi dibalik pakaian seorang humoris.


"Ha,, ha,, ha,, ha,, ha,,", Sam tiba-tiba terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Kau ini lucu sekali jika sedang marah!", Sam kembali meneguk minuman yang berada di tangannya.


"Kau mirip sekali dengan seseorang yang jika marah maka dirinya akan bertambah kecantikannya!", tambahnya lagi dengan tatapan sendu lurus ke depan.


"Tapi apa kau tau, dia saat ini terus menghindariku! Dia tidak ingin bertemu denganku! Apa kau tau kenapa? Itu karena masa laluku yang seorang playboy. Mau bagaimana lagi, wajah tampan begini sangat disayangkan jika tidak digunakan. Hehe", Sam mengakhiri ucapannya sambil terkekeh sendiri.


plak

__ADS_1


Sarah geram mendengar ucapan konyol Sam. Tangannya gatal sudah lama tidak memukul kepala pria bodoh itu. Ia menatap Sam dengan gemasnya. Rasanya ingin sekali Sarah hajar pria memalukan ini.


"Hey, kenapa kau memukulku?!", seru Sam tak terima.


"Kenapa? Kau tak suka?", Sarah sudah menampakkan wajah garangnya. Ia berkacak pinggang menghadap Sam.


Meskipun mabuk, Sam masih memiliki kekuatan. Ia menarik tangan Sarah hingga tubuhnya mendekat ke arah pria itu. Wajah keduanya bahkan sangat dekat.


"Coba kulihat! Kenapa sekarang kau jadi mirip sekali dengan wanita itu ya? Kau galak dan kasar, sama seperti dirinya. Tapi meskipun begitu,,, aku suka!", mata sayu milik Sam menatap mata Sarah dalam. Pria itu kini menurunkan pandangannya ke arah bibir Sarah. Pria itu merasa pernah merasai bibir ranum itu. Tatapannya pun berubah menjadi penuh damba. Sam sudah memiringkan kepalanya untuk segera menyatukan bibirnya dengan bibir wanita yang berada di hadapannya.


Sarah segera pulih kesadarannya saat merasa ada sesuatu yang tidak benar. Baru saja ia juga termakan rindu, hingga menatap bola mata Sam begitu lama. Sarah berpikir cepat. Ia mengambil gelas yang tadi dipegang oleh Sam lalu ia letakkan di depan wajahnya. Sehingga yang berhasil Sam cium adalah dinding gelas itu.


"Hey wanita,,, kenapa bibirmu rasanya dingin sekali?!", Sam menarik diri sambil memegangi bibirnya yang baru saja menempel dengan gelas. Berpikir linglung tentang penyebab dinginnya bibir wanita yang tadi diciumnya.


"Haaahh!", tiba-tiba pria mabuk itu bersandar ke sofa sambil merentangkan kedua tangannya. Matanya yang sayu menatap ke atas.


Sarah meletakkan kembali gelas yang tadi ia pegang. Ia masih menatap waspada ke arah Sam. Apalagi yang akan pria gila ini lakukan? Orang mabuk memang tidak terduga. Sarah meracau dalam hatinya sendiri.


"Hey, wanita! Apa kau tau, dari tadi baru kau yang tidak aku marahi. Entah kenapa kau mengingatkanku padanya", mata sayu itu menerawang jauh ke atas.


Dari sisi Sarah, pelupuk mata Sam terlihat basah. Hatinya terenyuh melihat hal itu. Benarkah pria ini bisa menangis juga, dan apakah itu karena dirinya, Sarah sungguh penasaran dibuatnya.


Pria itu mendadak duduk tegak sambil menyeka matanya dengan cepat. Ia menatap lurus dengan amarah di matanya.


"Jadi benar dia menangis?!", batin Sarah masih memperhatikan.


brrak


Sam menggebrak meja dengan kencang. Beberapa orang di sekitar sampai menoleh ke arahnya, termasuk Sarah yang terperanjat kaget mendengar hal itu. Sarah kembali menoleh ke sekitar sambil memberi isyarat untuk tetap tenang. Mengulas senyum kakunya sambil melambaikan tangan sebagai tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Ini semua gara-gara Megan sialan itu!", kepala Sam seperti sudah mengeluarkan sungut dengan nafas yang pendek-pendek, persis seperti seekor bison yang akan mengamuk.


"Gara-gara dia wanitaku jadi terluka. Gara-gara dia wanitaku jadi salah paham terhadapku. Gara-gara dia aku jadi tidak ingin ditemuinya. Gara-gara dia,,, semua gara-gara dia!".


brrak


"Apa kau tau?! Dia itu mendekatiku hanya agar popularitasnya naik. Dia memanfaatkan namaku untuk naik daun. Hah, tapi dia pikir aku tidak tau, makanya dia tadi datang dan merayuku. Lalu dia pikir aku akan termakan oleh rayuannya?? Heh, jangan harap! Sejak melihatnya lagi tadi di jalan, aku sudah ingin menendangnya ke laut agar dia bisa dimakan gurita raksasa. Jadi aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Kau tau,, sebenarnya aku jijik dengan wanita seperti itu", tiba-tiba Sam menatap Sarah dengan ekspresi jijik di wajahnya sambil bercerita tentang Megan.


Akhirnya semua terungkap. Sarah memang benar-benar salah paham terhadap Sam. Bahkan pria itu terlihat tidak suka terhadap wanita itu. Dada Sarah mencelos, ada kelegaan tersendiri di dalam hatinya.


Sarah membayangkan apa yang Sam ucapkan tadi, jadi geli di perutnya tak bisa ia tahan lagi. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan. Mencegah tawanya yang tak tertahankan terdengar keras oleh pria itu. Tapi dari gurat di wajah dan kerutan di matanya, sangat jelas bahwa Sarah sedang tertawa.


"Lihat, kau tertawa! Hey wanita, kau tertawa!", tawa Sarah menular kepada Sam. Keduanya pun tertawa bersama. Tapi sayangnya keadaan Sam saat ini sedang setengah kesadarannya.


"Hey wanita!", tiba-tiba Sam mengurung Sarah lagi ke sudut. Sontak tubuh Sarah kembali menegang. Kewaspadaan Sarah kembali meningkat. Tangannya sudah mengambil ancang-ancang di depan dada membentuk perisai untuk dirinya. Awas saja jika pria itu macam-macam, Sarah tak akan diam lagi kali ini.


Wajah Sam makin mendekat, makin mendekat lagi hingga tubuhnya sudah menempel dengan perisai tangan Sarah. Sam terus mendorong tubuhnya maju tak peduli tangan Sarah terus menahannya. Jantung Sarah benar-benar hampir lepas dari tempatnya. Wajahnya pun sudah sangat merah saat ini. Bukannya bermaksud menciumnya, tapi Sam malahan meletakkan kepalanya untuk bersandar di bahu Sarah.


"Aku merindukanmu, Sarah. Aku mencintaimu", bisiknya tepat di telinga Sarah.


"Apa? Apa ini? Apa jangan-jangan sejak tadi dia sudah menyadari bahwa aku adalah aku?! Gawat!", Sarah panik.


Wanita itu tak tau harus bagaimana lagi jika memang Sam sudah menemukannya saat ini. Bagaimana jadinya nanti saat pria itu sudah sadar dan tau bahwa dirinya masih bekerja di sini. Kepala Sarah mendadak pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan yang langsung menyerbu otaknya.


Kepala Sam makin berat, seperti semua beban ia letakkan di bahunya. Sarah melirik ke samping untuk mengetahui keadaan Sam saat ini. Lalu terdengar dengkuran halus dari sana.


"Huh! Dia tertidur!", Sarah bernafas lega. Setidaknya untuk saat ini. Ia harus memikirkan langkah apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Belum selesai Sarah memikirkan bagaimana tentang Sam yang mengetahui keberadaannya. Lagi, ia harus berpikir bagaimana harus mengurus pria ini. Membawanya pulang, tapi kemana. Membiarkannya di sini pun Sarah tak tega.


Ia berusaha mendorong tubuh Sam dari tubuhnya, lalu pelan-pelan ia letakkan kepala Sam untuk bersandar di sofa lagi. Ia merogoh ke kanan dan ke kiri untuk mencari ponselnya. Saat ketemu, saat itu pula, seseorang menepuk punggungnya dari belakang.


"Hey, kau! Apa yang kau lakukan?! Orang miskin seperti dirimu pasti bermaksud mencuri, kan?", Sisil datang bersama dua orang temannya lalu melontarkan sebuah tuduhan kepadanya.


Sarah tak mempedulikan wanita itu, ia berusaha menyalakan ponsel Sam. Tapi sayangnya ponsel itu terkunci. Sarah dibuat berpikir lagi.

__ADS_1


"Hey, kau mendengarkan aku atau tidak?! Jangan mentang-mentang kau sudah naik jabatan lalu kau bisa seenaknya m Bagaimanapun juga di sini aku seniornya!", ucap Sisil sambil menaikkan dagunya. Kedua temannya pun ikut menatap Sarah dengan congkaknya.


Sarah kembali mengacuhkan ketiga wanita itu dan malahan terlihat mencari-cari seseorang.


"Doni, bisakah kau menolongku!", teriak Sarah pada si barista sambil tangannya melambai ke arahnya.


Doni terlihat mendekat sambil menatap tidak suka pada ketiga wanita yang sepertinya datang untuk mencari masalah.


"Ada apa Sarah?", ia melewati begitu saja tiga orang wanita itu.


"Heh! Kau memanggil bantuan rupanya?!", Sisil mencibir dengan tatapan sinisnya.


"Doni, tolong kau ke area parkir dan cari mobil Tuan Sam. Cari saja aku juga tidak tau! Hehe,,", Sarah terkekeh sendiri dengan perintah yang ia berikan kepada rekannya itu. Pasalnya ia memang tidak tau yang mana mobil pria yang tengah mabuk itu. Dulu saat pergi bersama Sam, lelaki itu suka berganti-ganti mobil. Jadi Sarah tidak bisa hafal yang mana saja mobil pria itu.


"Cari tau apakah dia bersama supirnya atau tidak! Jika iya, maka suruh supirnya datang ke sini untuk membantu aku", pinta Sarah lagi.


"Oke, bukan masalah!", Doni segera meninggalkan tempat itu karena ia juga tau bagaimana situasinya sejak tadi. Kondisi Tuan Sam sudah tidak begitu baik saat ini. Ia memang harus segera dibawa pergi dari sini.


"Wanita miskin ini sudah sombong rupanya. Sudah berani memerintah kepada semua orang!", sindir Sisil lagi.


Tapi lagi-lagi Sarah mengacuhkannya. Tangannya bergerak untuk meletakkan lagi ponsel Sam ke tempatnya. Tapi siapa sangka, tubuhnya malahan di dorong ke samping oleh wanita itu sampai Sarah terduduk di samping Sam. Untung itu masih di sofa, sehingga tidak menyakiti Sarah. Ia kemudian menoleh ke arah ketiganya dengan tatapan tak suka.


"Apa kau berusaha mencuri lagi, heh?!", Sisil melipat tangannya di depan sambil berdiri di depan Sarah dengan tatapan menginterogasi.


"Apa kau bisu?! Kenapa kau mengacuhkan aku? Aku sedang bertanya kepadamu!", bentak Sisil lagi saat Sarah masih saja diam dan hanya melotot kepadanya.


"Hey, kalian! Lihatlah, ada yang berusaha mengambil keuntungan dari Tuan Sam! Dia berusaha mencuri sesuatu darinya!", teriak Sisil kepada orang-orang di sekitarnya. Ia menatap Sarah dengan senyum liciknya.


"Apa yang kau katakan?!", Sarah bangkit dari posisi duduknya. Lalu membusungkan dada mendorong Sisil yang semula seakan memiliki muka. Ia mengeluarkan aura garangnya.


"A,, aku,, aku bilang kau mencuri sesuatu dari Tuan Sam!", sebenarnya Sisil sudah sedikit tertekan dengan aura yang Sarah tonjolkan. Tapi ia tetap berusaha menjatuhkan wanita itu.


"Mana buktinya!", tangan Sarah menengadah dengan wajah tenangnya.


"Bukti? Tentu,, tentu saja buktinya ada di sini!", Sisil mulai tergagap karena Sarah berhasil menyerang balik dirinya.


"Dimana?", Sarah mengedarkan pandangannya ke sekitar dirinya dan sofa tempat dimana dirinya dan Sam berada. Tapi bibirnya seakan sedang tersenyum mengejek ke arah wanita yang berada di hadapannya.


Kedua wanita di belakang Sisil mempunyai firasat buruk. Keduanya mundur beberapa langkah menjauh dari Sisil. Mereka tak ingin terbawa oleh urusan ini. Bagaimanapun juga di sini jabatan Sarah lebih tinggi dari mereka. Dan Sisil mulai merasa tubuhnya gemetar saat ini.


-


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2