Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 285


__ADS_3

Tapi tidak sampai lima menit pria itu pun kembali dengan sesuatu di dalam genggaman tangannya.


"Duduk dulu!", perintahnya dengan wajah serius.


Pria itu tak menghiraukan tamu yang datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Dan karena sifat Presdir Ken yang terhormat itu sudah terkenal dingin dari sananya, maka tamu-tamu itu sudah mengerti dan paham. Apalagi melihat apa yang sedang dilakukannya sekarang.


Ken menarik paksa tangan istrinya itu hingga ia terduduk di singgasananya. Ana kebingungan dan akhirnya hanya bisa menurut dan diam. Tapi,, tiba-tiba suaminya itu menyingkap sedikit bagian bawah gaunnya, lalu memasukkan tangannya ke dalam sana.


Mata Ana terbelalak. Ia sangat malu, meski sebenarnya ia belum tau apa yang sebenarnya Ken lakukan saat ini. Dan bertambah malu lagi saat orang-orang ternyata tak melewatinya begitu saja. Mereka juga menaruh perhatian pada apa yang Ke lakukan padanya.


Dan,,, mata wanita itu pun terpejam begitu nyaman, saat merasakan kedua betisnya dipijat perlahan oleh suaminya itu.


Ternyata Ken mengambil krim pegal untuk ia oleskan pada kaki istrinya itu. Sebelumnya ia memijitnya sedikit untuk mengurangi rasa sakit dan pegal di sana. Krim itu tidak terlalu panas dan sangat cocok untuk membuat kaki istrinya itu tidak pegal lagi untuk beberapa saat ini sampai acara selesai.


Tidak peduli dengan pandangan orang lain, Ken kini telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia meletakkan benda itu sembarang. Lalu menutup kembali gaun pengantin istrinya.


"Woaahh!! Kakak memang luar biasa!", Sam bertepuk tangan kecil melihat aksi kakaknya itu.


Matanya berbinar menatap penuh rasa bangga. Kakaknya ini memang patut ia jadikan contoh dalam berbagai hal. Pun dalam urusan memanjakan istri, kakaknya itu tetaplah nomer satu bagi Sam.


Dan Sarah hanya bisa mendesah. Bukannya mencontoh dan mempraktekkannya, suaminya itu malahan hanya bertepuk tangan riang. Dia kan juga ingin diperlakukan seperti itu! Uuhh,,, manisnya!!


"Bagaimana sekarang?", tanya Ken seraya membantu Ana untuk berdiri lagi.


"Ini sudah lebih nyaman! Kau memang yang terbaik!", Ana mengangguk seraya tersenyum. Suaminya itu memang selalu luar biasa perhatian terhadap dirinya. Ia menggerak-gerakkan kakinya dengan perasaan bahagia. Sekarang sudah tidak begitu sakit lagi.

__ADS_1


"Jangan pasang wajah iri seperti itu!", tiba-tiba Sam mengalihkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Sarah.


Sam jelas tau jika istrinya itu juga ingin diperlakukan dengan manis seperti apa yang kakaknya lakukan pada kakak iparnya itu. Apalagi ia juga sudah mendengar sendiri jika sejak tadi Sarah mengeluhkan antrian yang tak kunjung putus juga.


Barusan ia berpura-pura tak menanggapi ekspresi istrinya itu yang jelas iri. Sam hanya senang saja melihat wajah istrinya yang sedikit kesal itu. Baginya kan memang wajah Sarah yang sedang kesal, marah-marah dan cemberut begitu menjadi sangat menggemaskan baginya.


"Siapa juga yang iri!", Sarah dengan keras menyangkal sambil menolehkan wajahnya ke samping.


Ia memang iri, tapi hanya sedikit, sangat sedikit malah. Yang meskipun begitu tetap dikatakan iri, sih. Tapi ia malas terang-terangan mengatakan apa yang diinginkannya pada suaminya yang tidak peka itu.


Lagipula Sarah mengerti mengapa Tuan Ken yang sekarang menjadi kakak iparnya itu memiliki kekhawatiran berlebih terhadap Ana. Karena memang ibu hamil tidak boleh sampai kelelahan. Dan Sarah sangat paham akan hal itu. Jadi ia tidak begitu mempermasalahkannya.


"Tenang saja, Sayang! Aku akan memijitmu nanti! Setelah acara selesai,,, di kamar,,, bukan hanya kakimu yang pegal,,, bahkan seluruh tubuhmu juga aku bisa!", sambil menyalami para tamu undangan, pria itu berbisik lagi di telinga Sarah


Suara Sam mendayu-dayu menggoda indera pendengaran Sarah. dan nafas hangat yang sengaja Sam hembuskan jadi terasa panas menjalar di permukaan kulitnya.


Jelas bahwa suaminya itu sedang menggodanya. Tapi ini di depan banyak orang. Bagaimana jika ada yang mendengar apa yang Sam ucapkan tadi?! Meskipun tak ada yang salah karena saat ini mereka memang sudah menikah. Tapi Sarah merasa malu luar biasa jika memang ada yang mendengarnya.


Dan membayangkan apa yang suaminya itu katakan barusan, wajah Sarah langsung memerah. Jadi mereka benar-benar akan melakukannya malam ini?! Oh, ya ampun! Sarah belum siap!


Sam, pria itu bukannya meringis seperti biasa saat Sarah menyiksanya. Tapi yang pria itu lakukan adalah memasang wajah serius. Mengambil tangan Sarah yang berada di pinggangnya, lalu ia kecup punggung tangan itu sembari berkata tanpa suara.


"Kau bebas menyiksaku malam ini!", merapalkan kalimat itu di dekat tangan Sarah yang masih berada di depan wajahnya.


Astaga, suaminya ini minta dipukul rupanya! Bagaimana jika ada yang mengetahui apa yang pria itu ucapkan barusan?! Sarah menyerah,, sudah pasti wajahnya sangat merah sekarang. Ia sangat-sangat malu. Bagaimana di saat seperti ini suaminya itu masih sempat-sempatnya memikirkan hal yang sangat tabu itu.

__ADS_1


Sarah buru-buru menarik tangannya. Ia langsung menutupi wajahnya yang sekarang pasti sudah seperti tomat matang.


Tapi bukan hanya Sarah yang wajahnya memerah. Beberapa tamu undangan yang mengira Sam baru saja mencium tangan Sarah pun ikut merasa malu. Wajah mereka juga ikut merah menyaksikan adegan romantis itu. Oh, rasanya hati mereka ikut berbunga-bunga!


***


Di tengah antrian itu, datang tamu yang tak terduga bagi mereka semua. Ada Nyonya Alexander ikut seorang diri. Sesaat memang terlihat ada gurat kesedihan di wajahnya. Mungkin ada penyesalan karena ini merupakan pernikahan yang putrinya itu impikan sejak dulu.


Mempelai pria yang ia cintai sejak lama. Keluarganya yang juga sudah ia kenal dan sudah seperti keluarga sendiri baginya. Dan juga pesta meriah ini. Semua itu adalah apa yang Joice inginkan.


Tapi apa mau dikata, ia tidak dapat menutup mata atas apa yang telah dilakukan oleh putrinya itu. Terlebih lagi, terakhir kali suaminya malahan ikut membuat kesalahan dengan berusaha membahayakan nyawa keluarga rekannya itu. Mungkin ini memang takdir, dan Nyonya Alexander sudah ikhlas menerima semua ini.


"Selamat atas pernikahan kalian!", ucapnya dengan senyum tulus dan menghangatkan.


"Nyonya!", keempat mempelai itu berseru secara bersamaan. Tak menyangka jika perwakilan keluarga itu akan benar-benar hadir malam ini.


"Terima kasih atas kehadirannya, Nyonya!", Sarah dan Sam berucap bersamaan.


"Berbahagialah kalian semua! Menjadi keluarga yang selalu rukun dan penuh cinta!", wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya pada keempat orang di hadapannya itu.


"Maaf!", tiba-tiba Ana berseru rendah. Ia menundukkan wajahnya. Dan sepertinya ada genangan air mata di sana. Suaranya juga terdengar bergetar.


"Hey, kau menangis!", Nyonya Alexander yang melihat hal itu pun segera menghampiri Ana dan memeluknya.


"Ibu hamil tidak boleh sering-sering bersedih! Anakmu pasti juga akan ikut merasakan kesedihan ibunya! Tidak baik!", wanita paruh baya itu menepuk-nepuk bahu Ana pelan sambil menasehatinya dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Nyonya!", ucap Ana sambil menegarkan batinnya.


__ADS_2