Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 223


__ADS_3

krreet


Suara pintu ruangan itu ditutup. Dan sontak mata Sarah terbuka lebar dengan senyuman yang amat lebar. Ia punya harapan sekarang. Tapi ia harus tetap waspada, jadi perlahan ia mengeluarkan kepalanya dari tirai yang ia cengkeraman kuat hingga menutupi lehernya.


"Kauu!!!", Sarah berteriak histeris sambil membelalakkan matanya.


Sam sudah bertelanjang dada, bahkan kini tangannya sedang berusaha membuka resleting celana putih yang baru saja dicobanya. Ia juga sempat kaget mendengar teriakan Sarah. Tapi kemudian ia berubah santai mengetahui bagaimana kondisinya sekarang.


"Kemana pakaianmu, Sam?!", Sarah berteriak seraya menutup kembali tirai yang hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Semua orang pergi! Jadi aku berinisiatif mengganti pakaianku dengan yang semula. Aku takut setelan untuk pernikahan kita nanti menjadi rusak!", jawab pria itu dengan santainya. Ia memang sudah merasa tidak nyaman tadi dengan setelan putih itu. Pria itu khawatir ia akan menjadi ceroboh dan akhirnya merusak setelan untuk pernikahannya nanti.


"Ada apa?", tanya Sam penasaran dengan Sarah yang tiba-tiba mengeluarkan kepalanya.


"Aku ingin meminta bantuan. Tapi karena hanya dirimu, bi,, bisakah kau menolongku seb,, sebentar saja?", jawab Sarah dengan seribu keraguan yang ia punya.


"Apa yang bisa kubantu?".


"Ada sesuatu hal. Bisakah,,, bisakah kau masuk dulu ke dalam?", sambil mengepalkan tangannya di depan, Sarah berkata dengan segenap keberanian.


"Tanpa baju tidak apa-apa?", tanya Sam yang tentu saja tujuannya adalah menggoda wanita itu.


"Tentu saja pakai dulu kemejamu, Sam!", teriak Sarah setengah kesal.


"Kupikir kau sedang menggodaku karena menyuruhku masuk ke dalam!", sahut pria itu santai dan belum puas ia menggoda Sarah.


"Mana mungkin aku menggodamu,,, ", Sarah membalikkan tubuhnya untuk kembali meneriaki pria itu. Tapi kenyataannya adalah ia malahan menabrak dada calon suaminya itu yang mendadak sudah muncul di dalam tirai dengan pakaian lengkap.


Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Sam mulai menyibak tirai tempat dimana Sarah mencoba gaunnya. Ia kembali disajikan punggung putih nan mulus yang tadi ia sudah lihat saat berada di kantornya. Tak bisa dipungkiri bahwa ia harus kembali kesusahan meneguk salivanya sendiri. Dan ia juga jadi paham, bantuan apa yang wanita itu inginkan darinya.


"Sam,,, kau curang!", seru Sarah seraya melayangkan beberapa pukulan pada bahu pria itu. Sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menahan gaun pada bagian dadanya agar tidak melorot ke bawah.


Sam anggap satu pukulan sebagai hukuman baginya karena telah lancang masuk ke dalam tirai tanpa pemberitahuan. Lalu yang kedua ia anggap sebagai hukuman karena telah melihat lagi kulit putih mulus pada bagian belakang tubuh Sarah. Dan pukulan yang ketiga ia anggap sebagai peringatan untuk dirinya sendiri bahwa ia harus terus di bawah sinyal kewarasannya.


Lalu ia tangkap satu tangan Sarah yang sejak tadi menyentuh bahunya. Tak cukup sampai di situ, bahkan Sam juga sedikit menarik tangan itu hingga tubuh keduanya berbenturan. Sam mengunci pandangan matanya pada mata Sarah. Begitupun Sarah yang tak bisa berkutik ditatap secara intens seperti itu.


Sarah merapalkan dalam hatinya bahwa ia harus tetap sadar. Jangan sampai kejadian di kantor Sam terulang kembali. Tapi ia ingin menarik diri pun rasanya sulit saat ditatap dengan cara seperti ini. Rasanya mata mereka seperti memiliki magnet yang sangat kuat hingga terjadi proses tarik menarik pada kutub satu sama lain. Hingga Sarah malahan mencengkeram kuat gaunnya di bagian dada.

__ADS_1


Sam mengembangkan senyumannya yang menawan itu saat tangannya mengayunkan tangan Sarah ke atas seraya memutarnya hingga tubuhnya terbawa. Pemandangan ini bagaikan sepasang angsa yang sedang berdansa. Mata Sarah tak bisa lepas dari pandangan mata Sam sampai tubuhnya kini menjadi membelakangi pria itu.


Tangan Sam masih setia menggenggam tangan Sarah saat tubuh wanita itu sudah berpindah posisi menjadi di depannya. Sam membuat tangan Sarah menyilang seakan ia tengah memeluk tubuhnya sendiri. Lalu ia melepaskan tangan itu seraya menjelajahi setiap inci bahu Sarah dengan sentuhan lembut jemarinya yang hangat.


Sesaat mata wanita itu membelalak mendapati sebuah sentuhan yang membuatnya menegakkan punggungnya secara tiba-tiba. Lalu matanya terpejam seakan menikmati sentuhan indah itu.


Tangan Sam tidak bergerilya. Ia hanya menjejakkan jari jemarinya melintasi bahu hingga punggung Sarah yang terbuka. Lalu dengan sangat hati-hati ia naikkan resleting yang membuat punggung mulus itu menjadi terekspos saat ini. Secara perlahan, bahkan hingga punggung Sarah makin menegang.


Setelah resleting itu mencapai ujungnya, Sam kemudian memejamkan mata seraya meremas kedua bahu Sarah dengan sedikit kekuatan. Lalu ia daratkan satu kecupan hangat pada salah satu bahu yang terbuka itu. Dan Sarah meresponnya dengan satu hentakan. Mungkin karena terkejut atau mungkin karena terbawa suasana. Sam tersenyum mendapati respon wanita itu.


"Ingat! Jangan sampai tergoda, Sarah!", Sam membisikkan kalimat itu dengan tak kuasa menahan senyumnya.


Sumpah demi apapun, wanita ini adalah cobaan terbesar dalam hidupnya. Dulu,,, kala banyak wanita hinggap di sisinya, ia tak perlu pusing untuk menahan gejolak seperti ini. Bahkan mereka seakan dengan sengaja mengumbar hal itu kepadanya yang seorang pria. Tapi sekarang,,, sekarang ia harus berusaha ekstra keras untuk menjaga dan melindungi wanita ini dari dirinya sendiri. Oohh,, sungguh sebuah ironi.


Wanita itu segera tersadar dan membuka matanya. Ekspresinya berubah malu namun juga setengah marah. Wajahnya sudah seperti tomat, merah menggemaskan. Antara malu dan kesal bercampur menjadi satu kesatuan.


"Aku tidak pernah menggodamu, Sam!", sergah wanita itu tak menutupi kekesalannya. Meski wajahnya masih memiliki rasa malu di sana.


"Aku pikir juga begitu!", ujar Sam ringan seraya memalingkan wajahnya. Ia juga menutup matanya. Bukan karena sedang bertingkah, tapi ia hanya tak tahan melihat wajah menggemaskan itu. Jika terus dipandang, maka ia mungkin tidak akan bisa menaati janji yang telah ia buat saat di kantornya tadi.


"Kau tidak pernah menggodaku, Sarah! Tapi aku yang merasa terus tergoda olehmu!", Sam menaikkan dagu wanita itu dengan dua jarinya.


Satu kecupan ringan ia daratkan pada bibir merah yang sedang menipis menahan kesal.


"Aku masih ingat janjiku tadi. Karena aku terlalu mencintaimu, maka aku akan berusaha keras untuk menepati janji yang sudah kubuat sendiri", Sam tersenyum. Begitu menawan hingga Sarah kembali tertegun. Dan tak sadar bahwa pria itu kini telah menjauhkan tangannya.


"Sudah beres, kan?! Kalau begitu aku keluar dulu, oke!", Sam sudah membalikkan tubuhnya saat tangannya membentuk simpul tersebut.


"Sam!", Sarah memanggil pria itu sedikit keras hingga pria itu harus menoleh dengan tatapan penasaran.


"Aku juga mencintaimu!", Sarah tersenyum tulus.


"Iya, aku tau!", pria itu tersenyum pula. Lalu membalikkan tubuhnya lagi dan menghilang di balik tirai.


"Sarah! Kau ini benar-benar, ya! Sangat gampangan sekali! Begitu mudahnya kau digoda oleh pria itu!", wanita itu mengomel sendiri pada cermin di hadapannya.


***

__ADS_1


Di lantai bawah, Louis merasa suasana di luar gedung ini menjadi sangat ramai. Ia juga menyampaikan apa yang dirasakannya itu pada Krystal, wanitanya. Ibu Asih yang berada tak jauh dari mereka juga mendengar keluh kesah pria itu. Lalu ia memilih untuk beranjak sendiri menuju bagian depan butik untuk mengintip situasi di luar.


Dan benar saja, begitu banyak orang dengan kamera dan mikrofon di tangannya. Ibu Asih hanya menampilkan ekspresi bingungnya karena ia belum mengetahui berita apapun saat ini.


"Ada apa, Bu?", tiba-tiba Nyonya Rima bertanya dari arah belakangnya.


"Bukankah mereka terlihat seperti wartawan? Tapi kenapa jadi begitu banyak?!", Ibu Asih menunjukkan apa yang ia lihat. Membuat wajah Nyonya Rima sama herannya.


Tiba-tiba Louis beserta Krystal dan juga Adam datang dengan wajah khawatir. Salah satunya menyodorkan ponselnya kepada Nyonya Rima. Mata ibu dua anak itu segera membulat besar setelah membaca deretan berita yang telah menjadi trending dan panas. Ibu Asih yang penasaran juga ikut melihatnya. Wajahnya tak kalah terkejutnya, malahan ia jadi memiliki kekhawatiran besar terhadap apa yang akan putri sulungnya itu hadapi nanti.


Tanpa mereka sadari, sebenarnya ada satu orang lagi yang sedang duduk tenang dengan majalah di tangannya di salah satu sofa tak jauh dari mereka. Seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum bangga pada majalah di hadapannya.


"Bunda!", seru Tuan Dion pada istrinya.


"Ayah! Sejak kapan Ayah duduk di situ?", Nyonya Rima berjalan mendekat ke arah suaminya itu.


"Sejak orang-orang di luar sana datang satu persatu!", jawab Tua Dion dengan santainya sambil membalikkan halaman majalah itu.


"Jadi Ayah sudah tau apa yang sedang terjadi?!", wajah Nyonya Rima penasaran menanti jawaban suaminya. Ia kini sudah mendudukkan diri di sebelahnya.


"Bunda juga sudah tau, kan?!", tentunya Nyonya Rima langsung tersenyum sebagai jawabannya. Melihat semua berita dan juga video yang melibatkan putra bungsu dan calon menantunya. Tentu saja ia sudah tau apa yang akan ia lakukan nanti. Lalu ia beranjak lagi setelah memberikan satu kedipan mata pada suaminya itu.


"Sudah mau punya cucu, dia masih saja menggodaku!", Tuan Dion menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya dengan santai.


***


"Semuanya tidak perlu khawatir! Biarkan saja mereka menunggu di luar sana. Yang terpenting sekarang adalah, jangan biarkan Sam apalagi Sarah mengetahui hal ini. Aku memiliki kejutan untuk mereka berdua!", ucap Nyonya Rima yakin pada mereka semua yang terlihat khawatir.


Tak terkecuali Ibu Asih yang kini tengah memandang lurus ke depan. Bagaimana pun juga ia bukan dari kalangan mereka. Kejadian seperti ini sungguh membuatnya khawatir setengah mati pada nasib putri sulungnya itu. Ia sangat khawatir bila akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada putrinya.


"Ibu tidak usah khawatir! Ibu Asih mempunyai kami. Bukankah kita sudah menjadi keluarga sekarang?! Dan keluarga tugasnya adalah untuk saling melindungi", Nyonya Rima tiba-tiba mendapatkan sebuah pelukan hangat dari calon besannya itu.


"Terimakasih, Nyonya!", ucap Ibu Asih begitu tulus dan bahagia. Karena mereka yang dari keluarga biasa begitu diterima bahkan dilindungi hingga seperti ini. Hati mana yang tak akan tersentuh dibuatnya.


"Panggil saja aku, Rima! Kita ini kan keluarga", Nyonya Rima membalas pelukan Ibu Asih seraya tersenyum.


"Kalau begitu panggil saja saya Asih, Nyonya! Emmh,,, maksud saya Rima!", keduanya melepaskan pelukan sambil melemparkan senyuman.

__ADS_1


Ken yang baru saja turun, tak sengaja mendengar dan melihat hal ini pun tidak bisa tidak tersenyum. Awalnya ia khawatir tentang wartawan-wartawan itu. Tapi melihat kondisi mereka semua yang sudah kondusif, Ken menjadi lebih tenang sekarang. Apalagi melihat ayahnya yang duduk tenang seperti tidak terjadi apa-apa, ia yakin mereka pasti sudah menemukan solusinya.


__ADS_2