Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 233


__ADS_3

🎶🎶🎶🎶


Alarm pada sebuah ponsel terus berdendang dengan sangat nyaring di atas nakas. Seorang wanita ingin menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat tidurnya semalam. Namun ia merasa tubuhnya seperti terkungkung sesuatu yang empuk namun juga keras di beberapa bagian. Tangannya meraba-raba dengan mata yang masih terpejam. Ternyata Sarah berada di dalam pelukan seorang pria.


Hah!! Matanya langsung terbuka lebar. Dengan kesadaran yang harus ditarik untuk berkumpul secara paksa. Tangannya sedang menyentuh dada seorang pria. Dan setengah tubuh mereka tertutupi selimut sampai ke pinggang. Kepalanya menengadah untuk melihat wajah pemilik tubuh ini dengan sangat waspada. Untunglah! Itu adalah calon suaminya, Sam.


Apa?! Mata Sarah makin terbuka lebar sampai hampir keluar. Sam?? Bagaimana pria ini bisa ada di sini, di kamarnya, bahkan tidur satu ranjang bersamanya! Sarah memejamkan matanya dengan kuat berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa di antara mereka tadi malam. Harusnya kan pria ini sudah pulang?! Tapi kenapa sekarang malahan berada di sini, sepagi ini bahkan?!


Oh Sarah! Ia merutuki dirinya dalam hati. Betapa bodohnya ia semalam malahan tertidur duluan dan tidak mengecek keadaan. Masih berada di dalam dekapan pria itu, Sarah memukuli kepalanya pelan. Pasti semalam Sam sengaja tidak pulang dan mencari kesempatan di saat dirinya dan Sandi sudah tertidur lebih dulu.


Ia mengecek pakaiannya dan juga apa yang Sam pakai, beruntunglah semua masih tetap sama seperti terakhir kali ia memakainya, tak ada yang berubah. Sarah ingat, pria ini memang sudah berjanji untuk tidak melewati batas sebelum pernikahan mereka nanti. Dan ia amat sangat senang karena Sam menepati ucapannya itu.


🎶🎶🎶🎶


Dering alarm di ponselnya kembali bernyanyi. Ia ingin sekali mematikan bunyi-bunyian yang berisik itu. Tapi mau bagaimana, tubuhnya terkungkung dan susah untuk bergerak saat ini. Ia tau ini sudah jam 5 pagi saat alarmnya berbunyi, dan Sarah ingin bangun untuk menyiapkan sarapan bagi kedua pria yang sekarang masih terlelap ini.


Berusaha menggeliat susah, ingin bangun dari posisinya tapi kungkungan Sam terlalu kuat padanya. Hih!! Sarah jadi kesal sendiri. Ia ingin mengumpat dan memarahi pria ini, tapi rasanya tidak tega karena di luar masih gelap dan ia masih ingin membiarkan Sam terlelap di sini. Ia harus bagaimana?! Serba salah! Jadilah ia berteriak dalam hati.


Sam yang sebenarnya sudah terjaga sejak alarm ponsel milik Sarah itu berdering untuk pertama kali, memilih untuk berpura-pura masih terpejam matanya. Ia diam-diam tersenyum kecil menikmati kegelisahan yang wanita itu rasakan. Sam juga masih menunggu Sarah membuka suara untuk membangunkannya. Ia ingin tau bagaimana cara Sarah membuatnya membuka mata.


Heh!! Yasudahlah! Mau tidak mau Sarah memang harus membangunkan pria itu secara langsung, kan! Tapi situasi ini cukup canggung untuk dirinya pertama kali membuka suara. Hishh! Sarah menggaruk kepalanya dengan susah payah. Mengumpulkan niat dan keberanian untuk membangunkan pria yang masih mendekapnya.


"Sa,, sam!", suara Sarah meragu dan terdengar kecil. Ia juga masih belum berani mengangkat kepalanya.


Pria yang dipanggil namanya itu hanya tersenyum dalam diam. Masih menikmati aktingnya, Sam masih berpura-pura memejamkan mata seakan terus terhanyut dalam mimpinya.


"Sam!", masih lirih namun Sarah sudah berani menengadahkan kepalanya.


Haishh!! Kenapa orang ini susah sekali dibangunkan, sih?! Tidak taukah Sam jika saat ini Sarah sudah malu setengah mati! Okelah, ini memang bukan kejadian yang pertama kali bagi mereka terbangun bersama seperti ini. Tapi bagaimana pun juga Sarah bukan wanita penggoda yang biasa berbagi ranjang yang sama dengan seorang pria. Sudah lagi ia sungguh merasa sangat malu dengan kondisinya yang pasti berantakan saat bangun tidur. Meskipun Sam tak peduli tapi sebagai wanita, tentu ia sangat memperhatikan hal itu.

__ADS_1


Seandainya saja Sam tidak mendekapnya seperti ini. Seandainya saja ia tidak dikurung dalam lengan kokoh yang memenjarakannya ini. Pasti ia sudah bangun secara perlahan dan berjinjit untuk kabur dalam situasi canggung yang mungkin akan terjadi lagi. Melarikan diri adalah solusi yang terbaik pikirnya. Tapi itu hanya angannya, jadi sekarang ia harus bagaimana?!


"Sam!", kini ia beranikan diri untuk menyentuh wajah pria itu. Mengelus rahang pria itu yang terlihat begitu kokoh dari bawah sini.


"Jika kau belum ingin bangun, paling tidak beri aku ruang untuk lepas dari pelukanmu?", setelah berulang kali memanggil namanya sambil membelai pipi pria itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya Sarah menggerutu sendiri sambil menusuk-nusuk pelan bagian dada Sam yang berada tepat di depan wajahnya.


"Kau sedang menggodaku, ya?!", Sam akhirnya bereaksi dengan menangkap telunjuk Sarah yang bermain di dadanya.


cup


Tepat saat wanita itu menengadah, Sam mendaratkan satu kecupan singkat pada bibirnya. Lalu pria itu tersenyum lembut, tapi juga memiliki sorot kemenangan dan rasa gembira riang di sana.


"Morning kiss!", ucapnya tanpa ragu.


"Sam!", Sarah terkejut mendapatkan serangan mendadak seperti itu. Ia segera menutup bibirnya yang baru saja disentuh oleh Sam. Wajahnya bercampur kaget dan kesal.


"Sejak kapan kau bangun?!", tuntut Sarah saat melihat mata pria itu yang sudah agak segar. Tidak seperti seorang yang baru saja membuka mata, sayu dan sulit mengangkat kelopaknya.


"Lalu kenapa kau hanya diam saja?! Kenapa kau malah pura-pura tidur sejak tadi??", suara Sarah sudah setengah kesal karena lagi-lagi Sam mengerjainya.


"Karena aku suka!", jawaban Sam enteng sekali. Senyuman tak bersalah pun ia lontarkan begitu saja.


"Hisshh!! Kau ini!", wanita itu kehabisan kata-kata untuk menghardik dan memaki pria konyol yang ia cintai itu.


"Lalu kenapa kau tidak pulang?! Dan malah,, malah,, malah tidur di sini?!", mulanya begitu kencang, namun akhir pertanyaannya menjadi begitu lirih terdengar di telinga Sam. Jelas wanita itu sedang malu sekarang.


Ya ampun! Menggemaskan sekali wajah wanita ini. Akhirnya Sam mencubit pipi Sarah dengan gemasnya. Daripada ia gemas dengan cara lainnya yang akan membuat Sarah kesal, pikirnya. Lebih baik begini saja.


"Aku lelah meladeni adikmu itu bermain sampai tengah malam. Aku terlalu mengantuk, jadi aku tidur saja di sini. Di ranjang ini,, bersama denganmu", Sam menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda. Menambah rasa malu yang membuat Sarah menderita.

__ADS_1


"Sam, kau ini! Dasar tidak tau malu!", Sarah akhirnya bisa bangkit dan sudah melompat turun dari tempat tidur.


"Sebentar lagi kita akan menikah, jadi untuk apa tau malu!", Sam menghentikan langkah Sarah yang ingin melarikan diri. Masih dari posisi tidurnya, ia menarik pergelangan tangan Sarah.


"Sam kau benar-benar tidak tau malu!", Sarah mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal.


"Sudah kubilang kan, untuk apa tau malu?!", Sam menarik paksa tangan Sarah dengan sedikit kekuatan hingga wanita itu tersungkur ke atas tubuh Sam. Dan wajah mereka menjadi sangat-sangat dekat.


"Cium dulu! Baru kau kubiarkan pergi", sempat tertegun, tapi kemudian lamunannya hancur saat Sam menyebutkan syarat yang membuat telinga sakit.


Beberapa kali Sarah menarik nafas dalam-dalam, mengontrol emosinya yang siap membludak. Padahal ia tahan sejak tadi agar tidak marah pada pria ini. Tapi sungguh, Sam memang sangat pandai menguji kesabarannya ini.


cup


Ciuman yang harusnya hanya sebuah kecupan singkat, malahan menjadi panjang urusannya karena Sam menahan tengkuk kepala Sarah. Memperdalam ciuman itu, dan juga mempermainkan bibir wanita itu untuk beberapa saat.


"Sam, kau benar-benar keterlaluan! Aku kan belum gosok gigi!", Sarah segera melarikan diri sambil menutupi bibirnya yang basah. Dan jelas saja wajahnya sudah sangat merah sekarang.


Sam tertawa riang dengan satu tangan yang menutupi sebagian wajahnya. Merasa menang itu selalu menyenangkan untuknya.


🎶🎶🎶🎶


Ternyata alarm ponsel wanita itu belum benar-benar dimatikan. Masih berdering dan berdengung di telinga pria itu.


"Diam kau! Ini masih terlalu pagi untuk bangun!", ia memarahi ponsel Sarah lalu meletakkan kembali ke atas nakas setelah mematikan bunyi alarm yang menganggu. Sambil tersenyum Sam mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan mimpinya yang terasa akan sangat indah setelah ini.


-


-

__ADS_1


malam ini segini dulu ya,, author mau lanjutin ceritanya ben sama rose yang udah lama banget ga ke sentuh 🤭


__ADS_2