Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 63


__ADS_3

"Apa begini wujud wanita yang aku sukai?!", gumam Sam pelan sambil menahan senyumnya kemudian.


***


"Sepertinya kalian sama galaknya ya?!", ucap Sam setelah penuturan kronologi bagaimana ia bisa mendapatkan benjolan keunguan itu.


"Saammm!", Sarah dan Ana menjerit bersamaan sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.


Sam segera berlari ke arah Ken untuk mencari perlindungan. Ia mendudukan dirinya di sebelah Ken dan menggunakan lengan dan bahu Ken sebagai tamengnya.


"Tolonglah aku, kak! Mereka itu monster atau apa sebenarnya!", gerutu Sam sambil mencengkram kemeja yang Ken pakai.


"Enyah!", Ken mengibas-ngibaskan lengannya agar Sam berhenti berpegangan padanya. Sam tak bergeming, ia tetap menjadikan Ken sebagai tamengnya.


"Haahh!", Ken menghembuskan nafasnya panjang. Sepertinya memang harus dirinya yang turun tangan untuk menaklukan singa betinanya itu.


"Sayaaang!", Ken memanggil Ana dengan sangat manja.


"Apa?!", sahut Ana yang masih emosi.


"Kemarilah!", perintah Ken lembut sambil menepuk-nepuk sofa di sebelah kanannya, karena di kiri Sam dengan berlindung pada lengannya.


Ana tak bergeming. Masih dengan berkacak pinggang, ia mengerucutkan bibirnya. Ia menyatakan ketidaksetujuannya.


"Kemari", Ken berucap lembut namun sorot matanya memberikan perintah yang tak terbantahkan.


Ana menyentak satu kakinya ke lantai masih dengan bibirnya yang mengerucut. Ia menyeret langkahnya menuju Ken untuk mendudukkan diri di sebelahnya.


Sam langsung terbirit saat Ana sudah mendekat. Ia menghindar sebisa mungkin dari amukan singa betina yang buas itu. Sam berjalan mendekati Sarah dan berlindung di belakang tubuh Sarah sambil memegangi kedua bahunya.


Tentu saja Sam memiliki tujuan lain. Ia mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Sarah. Sam menghirup dalam-dalam aroma wangi shampoo pada rambut Sarah sambil terus menempelkan hidungnya pada pucuk kepala Sarah. Wangi yang begitu manis menyeruak ke sekitar rongga hidungnya dan menghasilkan efek ketergantungan pada diri Sam.

__ADS_1


"Hey, jangan sentuh aku!", bentak Sarah seraya melepaskan tangan Sam dari pundaknya.


"Sayang!", panggil Ken memasang wajah sangat imut.


Sarah dan Sam menoleh bersamaan. Mereka terkejut, terperangah dan terpana pada pemandangan langka dari seorang Presdir Ken yang terhormat itu.


"Kakak, aku jijik melihatmu seperti itu!", ucap Sam tanpa sadar. Otomatis Ken melempar pandangan tajam menusuk mata Sam.


"Hanya dengan begini, singa betina ku akan luluh. Benar begitu, sayang?", ucap Ken datar pada Sam kemudian tersenyum manis pada Ana di sebelahnya.


"Aauuww!", Ana mencubit pinggang Ken dengan gemasnya. Setelahnya dia tersenyum malu dengan pipi seperti tomat.


"Oh, astaga Ana!", Sarah menggeleng sambil menipiskan senyumnya melihat pasangan kekasih yang garang ini namun bisa juga bersikap sangat imut. Sarah menepuk pelan keningnya, tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya.


"Memangnya kenapa?! Aku melakukannya dengan orang yang kucintai. Dan kau, bagaimana denganmu?! Kau masih sendiri bukan? Awas kalau nanti jadi perawan tua", ucap Ana dengan congkaknya kemudian ia mulai mengejek Sarah dengan kata-katanya.


"Biarkan saja, memangnya kenapa?! Yang penting aku sudah punya target!", Sarah tertawa riang membayangkan wajah Han yang sedang menahan senyumnya semalam di kediaman besar Wiratmadja saat melihat Sam yang sedang dihabisi oleh Ana.


"Heh, enak saja! Dia? Tentu saja bukan!", ucap Sarah sambil menunjuk ke arah Sam yang masih berada di belakangnya.


Sakit, rasa sakit menjalar tiba-tiba dalam hati Sam. Nyeri yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Ia tak pernah jatuh pada wanita hingga harus menyerahkan seluruh hatinya seperti ini. Perasaan aneh yang baru saja ia rasakan ini membuatnya mundur satu langkah dengan lemahnya untuk memberi jarak antara dirinya dan tubuh Sarah. Ekspresi wajahnya berubah suram.


Namun dengan cepat ia berusaha menguasai dirinya. Ia menutupi rasa sakitnya dengan tertawa renyah. Riang seperti ia mendengar sebuah kabar gembira. Ken memperhatikan gerak-gerik adiknya dari sofa. Ia menangkap seluruh pergerakan dan perubahan ekspresi wajah Sam.


Sam menggeser tubuh Sarah dan melangkah maju hingga ia berada di sebelahnya. Dengan cepat ia membalikkan tubuh Sarah agar menghadap ke arahnya.


"Coba lihat diriku, nona! Apakah aku tidak cukup tampan, sehingga kau tidak melihatku", ucap Sam sambil menyisir rambut dengan jemari lentiknya. Tak ketinggalan ia memasang wajahnya yang paling tampan.


"Bahkan kita sudah dua kali ttii...", Sarah langsung memotong ucapan Sam sambil berkacak pinggang dan membelalakkan matanya.


"Kau mau kena pukul lagi rupanya!", ancam Sarah dengan wajah garangnya.

__ADS_1


Sam mengulum bibirnya dalam. Ia sungguh sadar apa yang akan diucapkannya nanti akan berimbas buruk padanya. Bukan karena ia takut pada Sarah, tetapi saat ini masih ada dua ancaman yang lebih besar dibandingkan Sarah. Masih ada Ken dan Ana, sepasang singa buas yang akan menerkamnya.


Kemudian ia memasang seringai pada bibirnya. Sam sedikit membungkukkan badannya dan menempatkan bibirnya di dekat telinga Sarah.


"Sepertinya kau sangat ingin aku mengatakan pada Ana bahwa kita sudah pernah tidur bersama,, dua,, kali,," Sam membisikkan kalimatnya dengan lambat dan penuh tekanan.


"Astaga! Ana pasti akan membunuhku!", ucap Sarah dalam hati.


Wajah Sarah sudah memerah, antara marah dan malu dengan kenyataan bahwa ia memang sudah tidur bersama dengan pria gila ini. Langsung saja ia menginjak kaki Sam dengan sekuat tenaga hingga Sam menjerit, "Auuuww!".


"Ana aku lapar! Ayo kita mulai masak untuk makan siang!", ucap Sarah seraya melangkah masuk lebih dulu. Tanpa mempedulikan Sam yang tengah mengaduh kesakitan, ia memilih untuk segera kabur dari situasi ini. Berlari bahkan jika ia mampu, jika itu dapat membawanya pergi secepat mungkin.


Sam menatap Sarah yang melangkah jauh dengan wajah sendu. Ia tak menyangka akan ada wanita yang tidak menyukainya. Setelah mereka tidur bersama meskipun tidak terjadi apa-apa, tapi skinship yang terjadi antara dua insan biasanya akan menimbulkan sedikit rasa. Itu berlaku untuk Sam saat ini, tapi tidak dengan wanita itu. Sarah masih menggunakan logikanya untuk menghadapi Sam. Pria yang sudah mengambil hatinya saat ini adalah Han, pria berambut ikal yang selalu setia berada di sebelah Ken.


"plak!", satu tepukan membuyarkan perasaannya yang kacau. Ana memamerkan senyumnya pada Sam.


"Berjuanglah, adik ipar!", ucap Ana sambil lalu pergi menyusul Sarah.


"plak!", satu tepukan lagi dari Ken yang meliriknya dengan tatapan datar tak terbaca. Ken mengusap sedikit kepala Sam juga sambil lalu menyusul Ana di belakangnya.


Kedua orang itu sejak tadi sudah memperhatikan Sam. Awalnya Ken yang lebih dulu memperhatikan gerak-gerik Sam, lalu kemudian ia membisikkannya pada Ana. Mereka terus menangkap setiap sisi ketertarikan yang Sam berikan pada Sarah.


"Haaahh!", Sam menghembuskan nafasnya sangat panjang.


"Apa ini karma ku?", Sam menggaruk rambutnya hingga sedikit berantakan.


Ia menyadari betapa dulu ia selalu sombong dan percaya diri bahwa setiap wanita akan terpana dengan wajahnya yang memang tampan sejak lahir. Dan kepribadiannya yang terbuka membuatnya mudah untuk merayu wanita mana saja yang ia mau. Tapi saat ia sudah menambatkan hatinya seperti sekarang ini, kenyataannya adalah wanita itu bahkan tidak pernah melihatnya.


Berbanding terbalik dengan Ken yang sangat tertutup. Dan bahkan tak pernah membiarkan wanita manapun untuk menyentuhnya. Menyentuh dirinya pun tak ada yang mampu, apalagi hati Ken yang dulu nampak beku. Tak ada yang mampu, hingga ia bertemu dengan Ana yang bisa mencairkan hatinya.


Sam mengusap wajahnya kasar. Kemudian ia menyusul orang-orang yang sudah terlebih dahulu masuk menuju ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2