
"Apakah Louis membuatmu kesal?", tanya Manajer Felix ketika mereka baru saja keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai basement tempat mobil yang akan mengantarnya pulang terparkir.
"Jangan terlalu dipikirkan! Jangan terlalu bersedih! Kalian kan sudah dewasa, besok bicarakan semuanya secara baik-baik!", tak mendapat respon dari orang di sebelahnya, Manajer Felix berusaha bersuara lagi sambil menepuk-nepuk bahu artisnya itu.
"Aku sudah membawa semua barang-barangmu ke dalam mobil. Sepertinya tidak ada yang ketinggalan. Jadi aku bisa langsung mengantarmu pulang, dan kau bisa langsung beristirahat di rumah", katanya lagi. Ia cukup mengerti mengapa ia tak mendapat jawaban sama sekali. Artisnya itu pasti masih campur aduk perasaannya saat ini.
"Emh!", Krystal mengerang sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Sejujurnya, ia sudah tidak tahan berpura-pura tegar seperti ini. Rasanya ia sudah ingin melampiaskan semua perasaan kesalnya saat ini juga. Ia sudah ingin memaki-maki orang itu sampai puas. Sampai amarahnya lolos semua dari dalam hatinya. Tapi waktu, tempat dan situasinya tidak mendukung dirinya untuk melakukan hal itu.
Rasanya ia sudah ingin mencabik-cabik orang itu. Bagaimana bisa setelah hilang kabar selama berhari-hari, tapi orang itu masih begitu tidak tahu malu seperti itu.
Aku merindukanmu, Sayang!
Kalimat itu terngiang di telinganya hingga saat ini. Harusnya kalimat itu terdengar merdu dan indah di telinganya. Tapi karena masalah yang ada, ia jadi sangat benci ketika kalimat itu menguap begitu saja dari mulut pria itu.
Dasar tidak tahu malu! Pengecut! Krystal terus memaki di dalam hatinya. Mulutnya tidak ia biarkan untuk membahas barang satu kata pun tentang orang itu. Ia tidak ingin air mata yang sudah susah payah ia tahan ini mengalir begitu saja. Nanti,, nanti ketika di kamarnya baru ia akan melepaskan topeng berwajah tegar ini. Nanti barulah ia akan mengizinkan air matanya terjun bebas seperti aliran sungai yang mengalir deras. Biarkan saja saat ini batinnya yang memaki dan mencerca.
"Tunggu di sini! Aku akan pergi ke toilet dulu sebentar!", Manajer Felix pamit untuk membuang hajat kecilnya saat mereka sudah sampai di samping mobil.
"Kau masuklah dulu!", ucapnya lagi setelah mendapat sebuah anggukan. Ia bisa melihat jika wajah wanita itu masih murung. Sebenarnya ia tidak tega, tapi mau bagaimana lagi. Rencana ini harus berjalan sesuai dengan apa yang telah diperintahkan kepadanya. Pria itu pun menoleh beberapa kali ke arah Krystal, sambil melanjutkan langkahnya menuju ke arah toilet di lantai itu berada.
Krystal menghela nafasnya sangat panjang. Masih belum selesai ternyata! Meskipun di depan manajernya, ia tetap tidak mau menampilkan wajah menyedihkannya itu. Tidak bisa! Ia lebih suka untuk menelan dukanya ini sendiri saja. Ia sedang tidak ingin terlihat jelek di mata siapa pun saat ini. Maka dari itu ia harus bertahan sedikit lagi.
Pintu mobil itu sudah dibukanya. Krystal baru saja mencondongkan tubuhnya untuk memasuki mobil itu, tiba-tiba ada sepasang tangan yang membekapnya dengan sapu tangan yang kiranya sudah diberikan obat bius. Krystal meronta sekuat tenaga. Tapi obat itu langsung bereaksi sehingga ia pun langsung jatuh pingsan, tanpa sempat melihat siapa orang yang melakukan hal ini kepadanya.
Tubuhnya yang lunglai langsung direbahkan di mobil itu juga. Dan orang yang baru saja membekapnya segera menduduki kursi kemudi. Orang itu memakai jaket hitam dan masker wajah, memang bermaksud agar tak dikenali.
"Saya akan ke sana sekarang!", ucapnya pada ponsel yang ia letakkan di telinganya.
"Baik, saya akan berusaha secepat mungkin sampai di sana!", dari suaranya ia adalah seorang pria. Dan pria itu mengangguk sebelum menutup sambungan teleponnya. Mobil pun ia lajukan dengan pandangan tanpa ragu.
Dan ketika Manajer Felix kembali, ia langsung dibuat tercengang. Mobil dan artisnya sudah tidak ada di tempat semula. Ia berpikir jika Krystal terlalu stres saat ini sehingga memutuskan untuk pergi sendiri. Tapi kemudian, ia melihat ponsel Krystal tergeletak di lantai itu.
Manajer Felix memungut benda pipih itu. Ada bekas benturan di salah satu sudutnya. Pria itu kini berpikir ulang, mana mungkin Krystal sampai seceroboh ini membiarkan ponsel yang sudah ia anggap sebagai benda paling penting ini terjatuh begitu saja. Ia jadi memiliki firasat buruk. Segera ia menghubungi Ana untuk mengabarkan berita penting ini. Ini merupakan kasus penculikan. Dan jika benar, berarti Krystal berada dalam bahaya sekarang.
***
"Ya ampun!", Ana langsung menutup mulutnya dengan bola mata yang hampir saja keluar. Dadanya juga segera berdebar hebat.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengerahkan orang-orangku untuk mencarinya!", wanita hamil itu segera menutup sambungan telepon itu. Lalu menghadap ke arah suaminya dengan wajah luar biasa panik.
"Ada apa?", tanya Ken yang dibuat sangat penasaran.
Sarah dan Sam yang berada di dekat mereka otomatis dapat mendengar dan melihat kepanikan di wajah Ana saat ini. Mereka pun sama khawatirnya dengan Ken. Adam dan Ibu Asih sedang bercengkerama. Jadi Ana memutuskan untuk membuat mereka berkumpul dan mendekat. Jangan sampai membuat yang lainnya panik terlebih dahulu.
"Krystal menghilang bersama dengan mobil manajernya!", lalu Ana menceritakan kronologi kejadian sesuai dari apa yang ia dengar tadi dari Manajer Felix. Ia bersuara pelan agar tidak terdengar ke telinga kakak sepupunya itu dan juga Ibu Asih.
"Hubungi Louis terlebih dahulu!", pinta Ken langsung yang sekarang langsung berwajah serius. Sarah dan Sam pun mengangguk setuju.
"Dan kalian!", Ken menunjuk Sarah dan Sam bersamaan.
"Bicara pelan-pelan pada mereka! Jangan sampai membuat mereka panik! Terutama Adam! Dia pasti akan sangat mengkhawatirkan adiknya!", pintanya kepada kedua orang itu. Meskipun wajah Ken terlihat sangat serius, tapi nada bicaranya melembut kemudian. Pria itu pun mengerti bagaimana rasanya ketika orang yang penting di dalam hidupnya mengalami hal seperti ini.
"Baik!", Sam dan Sarah menjawab dengan kompak. Mereka berdua mengangguk yakin. Seperti apa yang ada di dalam pikiran Ken saat ini. Kedua orang itu pun tahu. Karena Sarah pun pernah mengalami hal ini, bersama dengan Krystal pula. Jadi Adam pasti akan sangat khawatir karena adiknya itu mengalami hal serupa lagi.
"Halo, Lou! Ada kabar buruk!", Ana tak berbasa-basi lagi ketika sambungnnya terhubung.
"Ada apa, An?", tanya Louis, suaranya terdengar tenang.
"Kau ada dimana sekarang? Krystal menghilang, Lou! Krystal sepertinya diculik, karena dia menghilang bersama mobil manajernya! Manajernya menemukan ponselnya di lantai tempat parkir mobilnya!", jelas Ana antusias dengan suara paniknya.
"Jika kau ada di sini, mungkin aku akan langsung melempar kepalamu dengan sepatuku! Terserah kau mau percaya atau tidak!", Ana langsung kesal setelah dituduh seperti itu. Sambungan telepon itu segera ditutupnya tanpa bicara sepatah kata lagi. Ia memaki dan mencibir layar ponselnya yang telah mati itu dengan wajah kesal.
"Kenapa lagi?", tanya Ken yang baru saja selesai bicara dengan Sam dan juga Sarah.
"Dia tidak mempercayaiku! Huh!", Ana mengerucutkan bibirnya, masih kesal.
"Wajar saja, Sayang! Semula memang kita berencana untuk mengerjai orang itu, kan! Wajar jika dia merasa curiga! Kau saja yang terlalu jahil!", Ana mencubit hidung istrinya itu dengan gemasnya.
"Hehe,,, iya juga, sih!", Ana tertawa sendiri sambil mengusap hidungnya yang sakit gara-gara suaminya itu. Akhirnya ibu hamil itu sadar juga dengan kelakuannya!
Awalnya, Louis memiliki ide untuk melamar Krystal di hadapan awak media ketika konferensi pers mereka telah usai. Tapi Ana mengatakan jika itu terlalu biasa. Lagipula sejak awal hubungan kedua orang itu tertutup dari media, dan Krystal belum tentu akan suka. Lantaran hubungan mereka yang sebelumnya terlibat masalah. Lebih baik kabulkan saja angan Krystal remaja yang ingin dilamar di sebuah panggung opera dengan sebuah buket bunga mawar yang sangat-sangat besar.
Ana dan Louis masih mengingat hal itu, karena Krystal pernah menyebutkannya ketika mereka baru saja lulus SMA. Meskipun wanita itu dari luar terlihat manja dan materialistis, tapi angannya sangat sederhana. Tidak muluk-muluk seperti gadis kebanyakan saat ini yang ingin dilamar dengan mewah dan lain sebagainya.
Tapi ketika Louis tidak ada Ana merencanakan untuk mengubah sedikit rencana mereka tanpa sepengetahuan lelaki itu. Ia ingin membuat laki-laki itu kebingungan karena kekasihnya menghilang. Ana pikir, itu sebagai balasan karena telah membuat saudara sepupunya itu menangis dan bersedih sebelumnya. Tak peduli apapun alasannya.
Dan ternyata, keinginannya itu memang terwujud. Louis memang jadi tidak mengetahui dimana posisi Krystal saat ini. Tapi saat ini bukan cuma Louis saja, tapi semua orang dibuat kebingungan karenanya. Dan itu yang membuat Ana sungguh menyesal. Ia tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini. Tapi poinnya saat ini adalah, siapa orang yang telah menculik Krystal! Ana meminta Ken mengerahkan semua orangnya untuk mencari tahu dimana posisi Krystal saat ini. Ia berdoa dan berharap, semoga sepupunya itu akan terus baik-baik saja.
__ADS_1
***
"Kenapa Ana marah?! Yang seharusnya marah, kan, aku di sini!", gumam Louis bingung sambil menatap layar ponselnya yang mati.
"Tapi kedengarannya Ana serius! Jika tidak, dia tidak akan membentakku seperti itu!", dia juga sangat mengenal sifat Ana. Meskipun selama kehamilannya ini temannya itu semakin jahil saja. Tapi Ana tidak akan main-main begini jika memang masalahnya serius. Apalagi ia mendengar suara wanita itu terdengar serius. Sambil menghela nafas, Louis pun jadi berpikir keras.
Ia pun berinisiatif untuk menelepon Manajer Felix untuk bertanya kronologi yang sebenarnya. Mencari tahu apakah yang Ana katakan benar adanya. Dan kenyataannya adalah, ia mendengar suara panik dan khawatir dari manajer kekasihnya itu. Dengan begini, tentu saja benar jika Krystal benar-benar menghilang. Lalu pria itu meminta Manajer Felix untuk mengikuti pergerakan mobilnya dengan sinyal GPS yang tertanam di mobil tersebut. Dan Louis meminta Manajer Felix untuk segera menghubunginya jika sudah menemukan posisi mobil itu berada.
"Krystal, tunggu aku! Aku pasti akan segera menemukanmu!", Louis mencengkeram kemudi di tangannya dengan mata penuh tekad.
Tapi ia juga bertanya-tanya, siapa gerangan yang mempunyai urusan dengan Krystal ataupun dengannya. Sejauh ini ia berpikir jika tidak ada. Tapi tidak menutup kemungkinan juga jika memang ada musuh di balik bayang-bayang. Louis bersumpah akan memberikan orang itu pelajaran karena telah mengambil kekasihnya itu darinya.
πΆπΆπΆπΆ
Ponselnya berdering lagi. Sebenarnya dia enggan untuk mengangkatnya. Tapi mau tidak mau Louis harus mengangkatnya. Karena itu adalah telepon dari ibunya di negara F sana.
"Ada apa, Ma?", tanya Louis malas. Sekarang ini ia tengah pusing memikirkan nasib kekasihnya itu. Jadi ia memohon dalam hati agar orang tuanya ini tidak membuatnya semakin pusing juga.
"Kau bilang akan segera pulang, kan! Ayahmu terus menerus memanggil namamu, Louis! Perusahaan juga semakin memburuk keadaannya. Apakah kau baru akan pulang setelah Papamu tiada nanti?!", suara Nyonya Harris terdengar lembut namun juga tegas saat memarahi putranya ini.
"Iya, Ma! Aku akan pulang! Tapi aku sedang ada masalah sekarang ini! Aku akan menunda kepulanganku sebelum masalah ini selesai. Jadi jangan cerewet lagi seperti ini, oke! Yang jelas aku pasti pulang. Tenang saja, Ma!", jawab Louis berusaha menahan kesabarannya. Untung saja ibunya yang menelepon dirinya. Jika ayahnya, pasti yang ada hanya perdebatan saja. Ayah dan anak itu jarang sekali akur.
"Baiklah, kalau begitu! Pulanglah secepatnya! Kau sudah berjanji akan kembali, kan!", Nyonya Harris menekankan janji yang telah diucapkan oleh putranya itu.
"Iya, Ma! Aku tahu!", Louis mendecakkan lidahnya, tidak sabar. Kenapa itu lagi yang diungkit?! Yang jelas dia akan pulang, itu saja yang orang tuanya harus tahu! Meskipun entah kapan! Karena fokusnya saat ini adalah mengurusi masalahnya dengan Krystal terlebih dahulu. Dan sudah begitu, sekarang datang lagi masalah baru. Kekasihnya itu menghilang entah kemana. Membuat kepalanya semakin pusing saja.
"Sudah ya, Ma! Aku tutup dulu! Ada hal yang sangat penting yang harus aku urus! Aku merindukanmu, Ma!", rasanya Louis sudah ingin menutup telepon itu supaya ia bisa cepat bergerak untuk menemukan kekasihnya.
"Kau ini selalu saja tidak ada waktu! Ya sudah Mama tutup sekarang! Kami juga merindukanmu di sini!", ujar Nyonya Harris sebelum menutup panggilannya.
"Iya,, iya! Aku tahu,, aku akan pulang! Tapi sebelum itu, aku harus menemukan kekasihku dulu!", Louis melemparkan ponselnya ke bangku samping dengan wajah kesal. Tidak perlu diingatkan lagi, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan! Lelaki itu sudah berjanji akan pulang, maka dia akan pulang! Tapi masalahnya adalah, ia harus menemukan kekasihnya dulu, lalu melamarnya. Jika diterima maka ia akan langsung pulang. Tapi jika tidak diterima, maka ia akan tetap di sini sampai kekasihnya itu mau menerimanya.
-
-
Selamat membaca ya semuanya π
Yeay,, ga jadi lamaran ya!!! Jangan kecewa dulu ya,, di ekstra part selanjutnya akan ada kejutan buat teman-teman semuanya π
__ADS_1