
"Sam, kakakmu benar-benar marah?", Sarah melepas pegangan tangannya pada Krystal. Lalu ia mendekati Sam dan menyentuh lengannya pelan.
"Ya!", wajah Sam penuh rasa sesal.
"Ana,,,!", desah Krystal putus asa.
Sarah pun menatap ke arah sahabatnya itu dengan penuh sesal dan iba pula. Ia tau jika Krystal tidak bermaksud buruk, hanya saja memang kali ini sedikit keterlaluan karena kondisi Ana yang saat ini tengah mengandung.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sarah?", Krystal mengangkat kepalanya. Ia nampak sangat menyesal dan gurat kesedihan nampak di sana. Bibirnya melengkung ke bawah tak mampu memberikan senyum cerah.
"Sam, bisakah kau mengantar kami untuk bertemu dengan Ana? Kami ingin meminta maaf padanya sekarang juga!", Sarah memohon dengan cara yang teramat lembut tidak seperti biasanya. Mungkin juga karena sekarang ini mereka tengah menghadapi sebuah masalah.
"Ya, tapi,,,,", pria itu sedikit bergerak hingga tangan Sarah yang semula bertengger pada lengan Sam pun terjatuh ke bawah.
Sarah memperhatikan tangannya yang kini berada di samping tubuhnya, terjatuh lemah. Apa sebegitunya Ken memarahi Sam tadi?! Sekarang calon suaminya ini menjadi muram seperti ini. Dan kalau begitu kesalahan yang telah mereka buat pada Ana memanglah berdampak cukup besar sepertinya.
"Tapi kita harus pulang sekarang!", Sam tersenyum dengan mudahnya sambil menghadap ke arah Sarah.
Kedua wanita itu tentu saja tercengang. Apa-apaan maksudnya ini?! Mereka sedang menghadapi masalah serius tapi lelaki ini malahan mengajaknya pulang. Kapan sebenarnya lelaki ini bisa serius?!
"Kakak awalnya memang sangat marah tadi setelah mengetahui semuanya. Lalu ketika Kakak puas mengomel hingga mulutnya lelah, mungkin?!", Sam sempatkan tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Mengejek kakaknya tentu saja. Siapa suruh marah tak ada berhentinya?! Huh!
" Dia hanya berpesan agar kalian berdua meminta maaf pada Ana nanti. Dan untuk saat ini, biar Kakak saja yang menangani masalah ini. Sepertinya Kakakku punya cara. Entahlah, dia terdengar misterius!", Sarah dan Krystal bisa sedikit bernafas lega sekarang. Paling tidak saat ini ada solusi untuk mengembalikan mood Ana yang sudah hancur itu. Dan untuk permintaan maaf yang tertunda, mereka bisa melakukannya esok hari.
"Kalau begitu, Selamat malam Nona Krystal! Kami pamit pulang sekarang!", ini sudah lewat petang. Dan langit sudah berubah gelap sekarang. Jadi sudah saatnya pula bagi Sam dan Sarah undur diri dari rumah besar seorang aktris itu.
Lagipula Sam sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu berduaan saja dengan calon istrinya ini. Menggodanya hingga membuat wanita itu marah, Sam sudah sangat merindukan hal itu setelah pergi seharian bekerja. Penatnya terasa tak berarti apa-apa.
"Krystal, aku pulang sekarang! Untuk masalah Ana kita pikirkan nanti lagi ya. Mungkin besok kita bisa pergi meminta maaf padanya", Sarah menyentuh lengan Krystal lalu melambaikan tangan pada wanita itu. Sarah pun berbalik dan memasuki mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh prianya.
Krystal menatap mobil yang mulai meninggalkan halamannya itu dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalahnya masih ada, namun juga ada perasaan lega karan paling tidak saat ini suami Ana sudah memiliki ide di kepalanya. Namun belum tuntas rasanya jika ia belum meminta maaf langsung pada sepupunya itu. Maksudnya hanya bercanda dan iseng saja, malahan menjadi masalah seperti ini.
Wanita itu mendesah, membuang nafas dengan mulutnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Ibu hamil memang tidak bisa dipermainkan.
***
Ken terkekeh setelah menutup teleponnya dengan Sam barusan. Jadi ini masalah yang membuat istrinya itu menjadi diam?! Ya ampun, istrinya ini semakin membuatnya gemas saja. Bagaimana mungkin ia memiliki pemikiran buruk seperti itu, jika menurutnya saja hanya Ana yang pantas menjadi pendamping hidupnya. Tak ada wanita lain yang lebih pantas dibandingkan Ana. Dan tak ada wanita lain yang lebih ia cintai selain Ana, terkecuali ibunya.
Wajah ken telah berubah cerah sekarang. Pria itu sudah tau apa yang harus ia lakukan setelah ini. Dengan langkah yang begitu bersemangat, ia hentakan sepatunya dan berjalan dengan riang menyusul ke tempat dimana istrinya itu berada, di kamar tentunya.
***
Masih buruk mood wanita hamil itu. Bibirnya yang mengerucut tidak berubah sama sekali sejak tadi. Kesal yang tak beraturan ia rasakan dalam hati. Rasanya ingin sekali ia melampiaskan kekesalannya ini. Tapi kepada siapa?! Karena bahkan suaminya itu tidak memiliki kesalahan apapun. Sampai saat ini yang membuatnya menjadi terus saja kesal adalah bahwa ia sedang membayangkan hal-hal yang tidak perlu sebenarnya.
Berendam air hangat ia pikir adalah solusi terbaik bagi Ana yang sedang merasa amat lelah otak dan juga tubuhnya. Ia beranjak memasuki kamar mandi yang luas itu untuk mengisi air pada bathtub. Lalu ia keluar lagi sebentar untuk mengambil pakaian ganti yang masih tertinggal di luar.
__ADS_1
Ana membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi. Bersamaan itu pula suaminya baru saja melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar sambil melepas dasi hitam bermotif yang masih mengikat kencang di lehernya. Ken melempar dasinya pada sofa yang akan ia duduki. Setelah melepas jasnya dan menyandarkan dirinya ke punggung sofa, barulah ia menyadari dimana letak keberadaan seseorang yang ia cari. Ken tersenyum dalam sebelum melancarkan aksinya.
ttok,, ttok,, ttok,,
"Ana! Ana! Sayang! Kau di dalam?!", seru pria itu setelah mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Iya! Ada apa, Ken?", Ana yang baru saja berendam pun menyahutinya dari dalam.
"Tolong carikan aku celana panjang yang berwarna hitam! Aku ingin gunakan untuk tidur nanti!", Ken memulai usahanya.
"Celana panjangmu kebanyakan hitam semua, Ken! Lalu aku harus cari yang mana?! Kau ambil saja di lemari, sana! Aku sedang berendam!", Ana enggan melakukan hal yang Ken pinta. Air hangat ini membuatnya sangat nyaman dan tak mau mentas dari bathub ini. Lagipula permintaan suaminya itu terdengar sedikit aneh. Meskipun begitu Ana belum berpikir apa-apa dan menghiraukannya.
"Cekk! Gagal!", Ken menggerutu di depan pintu kamar mandi. Tappi ia tak akan menyerah, karena pira itu masih memiliki ide lain di kepalanya.
ttok,, ttok,, ttok,,
"Ana! Ana! Bisakah kau mengambilkan handukku yang berada di dalam kamar mandi?! Badanku sudah lengket sekali, aku ingin mandi di kamar lain", Ken kembali mengetuk pintu dan menyampaikan alasannya agar Ana mau keluar menemui dirinya.
"Bukankah selalu ada handuk di setiap kamar mandi?! Pakai saja handuk yang tersedia di sana, Ken! Handuk itu juga selalu diganti setelah dipakai", Ana kembali menolak permintaan Ken dengan alasan logis yang ia punya.
"Tapi aku ingin memakai handuk yang biasanya aku pakai saja! Tolong ya, Sayang!", Ken tak mau menyerah. Ia akan tetap berusaha sampai Ana mau keluar.
Rencananya tak akan berjalan jika Ana masih setia di dalam sana dan tak membiarkannya masuk ataupun menemuinya walau hanya sebantar saja. Dan lagi, ini tumben sekali istrinya ini mengunci pintu kamar mandi. Setelah menikah ini, biasanya Ana akan membiarkan pintu kamar mandinya tak terkunci, sehingga mudah sekali bagi Ken untuk menyerang istrinya itu di dalam sana.
"Tapi aku sudah terlanjut berendam, Ken! Aku malas sekali bangun lagi, sekarang! Ini sedang sangat nyaman. Menurut saja, okeh!", kali ini Ana mempertegas nada bicaranya. Bukan lagi seperti Ana sedang membantah, tapi wanita itu kini sedangmelantunkan titahnya kepada suaminya tercinta.
"Ana, Sayang! Tapi kau tidak boleh berlama-lama berendam di dalam kamar mandi! Nanti kau bisa sakit karena masuk angin", kali terakhir Ken mencobanya. Semoga saja ini akan berhasil.
"Iya aku tau. Tenang saja!" Ana nampaknya mulia kesal dengan suaminya yang terus saja berbicara.
"Ken!", ia kembali membuka mulutnya untuk memanggil nama suaminya itu.
"Ya! Ada apa, Sayang?", Ken begitu bersemangat ketika namanya disebut. Ia yakin sekali kali ini pasti istrinya itu kali ini akan memanggilnya ke dalam.
"Tolong lebih masuk akal!", Ken rasanya ingin membenturkan kepalanya ketika Ana mengutarakan ucapannya itu. Ternyata kenyataannya berbanding seratus delapan puluh derajat dengan apa yang ia bayangkan. Istrinya itu malahan berucap ketus seakan sedang memperingatkan dirinya untuk tidak mengganggu Ana lagi.
"Iya!", Ken memutar tubuhnya lalu menyandarkan dirinya pada daun pintu kamar mandi. Ia mendesah kalah.
Masa iya, rencananya harus gagal dengan mudahnya seperti ini?! Ken tak dapat menerima hal ini. Ia harus menuntaskan misi yang ia punya, juga karena kesalahan kedua sahabat istrinya itu. Ken merasa harus mengubah pola pikir Ana tentang hal yang tadi ketiganya bahas bersama.
Di dalam kamar mandi sana, Ana tengah menggerutu sendiri akan sikap aneh suaminya itu. Meminta beberapa hal yang tidak masuk akal sama sekali. Apa sebenarnya maksud dari Ken melakukan hal itu?! Ana jadi penasaran sebenarnya. Namun dia tak ingin bertanya karena lebih banyak kesalnya saat ini.
Ken mengepalkan tangannya di depan dada. Mengumpulkan segenap semangat yang masih ia punya sambil menipiskan bibirnya. Sepertinya masih ada satu lagi ide yang ia miliki di kepalanya. Tapi itu masih membutuhkan waktu beberapa saat untuk jeda. Hal itu Ken maksud untuk membuat rencananya lebih sempurna.
Hening cukup lama sampai akhirnya Ana hampir menyelesaikan ritual mandinya yang sebenarnya sudah memakan waktu cukup lama. Ana sebenarnya merasa curiga jika suasana menjadi damai seperti ini. Tapi yasudah lah, daripada ia mendengar suaminya berceletoh tidak jelas lagi seperti tadinya.
__ADS_1
Ken mendengar suara gemericik air sudah berhenti. Sepertinya istrinya itu sudah menyelesaikan kegiatannya di dalam.Dan kini berarti sudah saatnya bagi Ken untuk melancarkan aksinya.
prang
"Kau harus berkorban untukku!", titah seorang raja singa ditujukan pada seonggok gelas yang tadinya hanya berdiam diri di atas meja di hadapannya dan tak mengganggu siapa pun di sana.
Mendengar suara benda jatuh dari arah luar membuat Ana menjadi khawatir. Dan lagi suara Ken benar-benar tak terdengar lagi saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi?! Ana sangat ingin mengetahui penyebabnya. Wanita itu segera melilitkan ke tubuhnya handuk apa saja yang dapat ditariknya dengan cepat. Dan itu hanya handuk berukuran sedang yang hanya menutupi dirinya dari dada hanya sampai setengah paha.
Melihat di depan kaca besar di dalama kamar mandi itu, ia merasa terlalu terbuka dengan apa yang ia pakai saat ini. Tapi sepertinya situasi di luar sana membuatnya tidak bisa berpikir banyak. Ana segera bergegas keluar kamar mandi.
"Ken!", Ana berseru sambil menutup mulutnya dengan pandangan tak berdaya.
Didapatinya pria itu tengah terkulai di sofa di sudut kamar dengan pecahan gelas yang berserakan tak jauh dari tempatnya berada. Suaminya itu memejamkan mata dan sepertinya tidak merespon saat ia memanggil namanya barusan.
Ana berjalan tergesa, tapi ia masih berhati-hati saat melewati pecahan gelas yang bisa melukai kakinya kapan saja jika ia tidak memperhatikan langkahnya.
"Ken!", Ana berlutut dengan rambut yang setengah basah menitikkan beberapa butiran air mengenai wajah suaminya itu.
Wangi shampoo yang semerbak menyeruak ke dalam hidungnya, membuat Ken harus bertahan sekuat tenaga untuk tidak segera menyergap istrinya itu dan membawanya ke ranjang. Ia mengepalkan tangannya di bawah dan tak terjangkau dari pandangan mata Ana.
"Ken!", Ana menepuk-nepuk pipi suaminya karena lelaki itu tidak juga menggubrisnya.
"Aaakkkhhh", Ana berteriak sedikit sepertinya lututnya terkena pecahan kaca kecil tanpa sengaja saat ia akan bergerak maju mendekat ke arah wajah suaminya.
"Ana!", Ken langsung saja mendudukkan dirinya dengan cepat. Wajahnya terlukis roman kepanikan yang besar setelah mendengar istrinya menjerit barusan.
"Ana, kau tidak apa-apa? Dimana yang sakit, Sayang? Bagian mana dirimu yang terluka?", Ken segera memegangi kedua bahu Ana dan sedikit meremasnya sehingga Ana yang tadinya menunduk pun kini mengangkat kepalanya.
"Ken, kau sudah sadar?", ada gurat kebingungan jelas di wajah Ana saat ini. Ia mendudukkan dirinya di pinggir sofa yang tersisa sambil menahan nyeri di lututnya.
"Ana, kau berdarah!", tak menghiraukan pertanyaan yang keluar dari mulut istrinya, Ken malahan merasa sangat bersalah karena malahan membuat istrinya yang dicintainya itu terluka.
Wajah khawatirnya tak bisa diberhentikan, Ken kini menggendong Ana. Ia mendudukkan istrinya itu di pinggir ranjang dengan sangat hati-hati. Lalu mencoba melihat bagaimana keadaan luka di lutut istrinya itu.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambil kotak obat dulu!", Ken mengelus pipi Ana dengan sangat lembut penuh kasih sayang. Ia sempatkan menerbitkan senyumnya yang hangat sebelum pergi meninggalkan Ana sendiri di sana.
"Ada apa dengannya?", Ana mengerutkan keningnya. Melihat ada rasa bersalah yang terukir jelas di mata suaminya itu membuat Ana bertanya-tanya. Ia pikir ekspresi suaminya itu agak berlebihan untuk luka yang besarnya hanya setitik air matanya saja ini.
Tak sampai satu menit lelaki itu dengan langkah tergesa sudah sampai lagi di hadapannya. Ken seperti melakukan teleportasi melalui ruang dan waktu dengan begitu cepatnya.
Dengan telaten pria itu membubuhi lutut Ana yang terluka dengan obat merah. Lalu ia menempelkan sebuah plaster di bagian lutut yang berdarah itu. Wajah pria itu sangat serius sehingga menurut Ana prianya ini makin terlihat tampan, sangat tampan.
Tanpa sadar tangannya sudah menyentuh rahang pria itu yang terasa mengeras. Ana memperhatikan ada perasaan rasa bersalah yang besar ketika Ken sedang mengurus lukanya yang kecil ini.
"Ken, ada apa denganmu sebenarnya? Aku merasa ekspresimu ini terlalu berlebihan untuk rasa bersalah pada luka sekecil ini!", Ana tak menyembunyikan perasaannya. Ia menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
__ADS_1
"Ana,,,!", Ken menatap Ana sebentar lalu melanjutkan lagi membereskan kotak obat di tangannya. Setelah mengesampingkan kotak itu, barulah ia menatap istrinya itu lekat-lekat.