
Sebuah mobil memasuki halaman kediaman Tuan Bram. Krystal keluar dari sana dengan raut wajah yang sudah ditekuk dan kusut. Setelah keluar, ia membanting pintu mobil dengan keras hingga supir yang membukakan pintu untuknya terkesiap kaget. Ia mengelus dadanya sambil mengasihani dirinya sendiri.
"Papaaa!", teriaknya memanggil Tuan Bram. Padahal ia baru saja memasuki rumah, namun suaranya sudah menggema ke seluruh penjuru kediaman yang cukup luas itu.
"Tuan belum pulang, non!", ucap salah satu pelayan di sana. Awalnya ia ragu untuk memberitahukan hal ini pada nonanya. Melihat raut wajah nonanya yang sedang tidak bersahabat, ia sempat merasa takut akan terkena amukannya. Tapi jika ia tidak menghampiri nonanya itu, maka entah semua orang pasti akan merasakan sakit di telinga mereka akibat lengkingan suara nonanya.
"Huh, baiklah!", Krystal menghentakkan kakinya seraya berjalan menuju tangga.
"Kesal! Kesal! Kesal! Awas saja, jika ia berani merebut Presdir Ken dariku!", gerutunya seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali lelaki paruh baya yang bernama Tuan Bram itu sudah nampak segar dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ya, kantor Winata Group tentunya. Ia beserta dengan kleniknya telah merencanakan untuk segera mengambil alih perusahaan sebelum orang misterius itu melakukan gerakan yang akan menghambat dirinya.
Rencana mereka adalah dengan mengadakan rapat hari ini untuk memutuskan pengganti kakaknya yang sedang terbaring di rumah sakit itu. Mereka akan mengumpulkan lebih banyak pendukung lagi agar sewaktu-waktu orang itu datang dan mengganggu rencananya, maka ia sudah memiliki tameng yang kuat.
"Selamat Pagi, semua!", ucap Tuan Bram memimpin rapat dewan direksi di kantor Winata Group.
"Mengenai kesehatan Pemimpin kita, yaitu kakakku sendiri Tuan Danu Winata yang masih tak sadarkan diri hingga hari ini. Jadi demi kelancaran perusahaan, bagaimana jika aku mengajukan diriku sebagai pengganti kakakku. Terlebih lagi saat ini aku juga merupakan pemegang saham tertinggi di sini. Bagaimana pun juga kita memerlukan pemimpin untuk kemajuan perusahaan ini", ucap Tuan Bram penuh percaya diri.
Saat ini ia menduduki kursi paling depan dimana Tuan Danu biasa duduk memimpin rapat di ruangan ini. Ia memandangi satu persatu wajah anggota direksi yang hadir untuk mengetahui apa saja yang mereka pikirkan tentangnya.
Beberapa kelompok orang terlihat berdiskusi untuk memutuskan apakah mereka setuju atau tidak dengan saran yang ia ajukan. Beberapa di antaranya nampak setuju, karena menurut mereka memang entah sampai kapan mereka bisa mengharapkan kesembuhan dari pemimpin mereka sebelumnya. Dan beberapa di antara lainnya terlihat tidak suka dengan apa yang dimaksud oleh Tuan Bram. Dan mereka yang tidak setuju kebanyakan adalah orang yang telah lama mengabdi untuk perusahaan dan setia pada Tuan Danu.
__ADS_1
"Dan,,, meskipun anda sekalian menyetujuinya atau tidak, aku akan tetap memegang kursi kepemimpinan ini", ucapnya lambat-lambat dengan penekanan.
"Karena aku terlalu peduli dengan keberlangsungan perusahaan ini. Tidak mungkin bukan, kita menunggu kakakku sadar. Karena bagaimanapun juga, laju perusahaan terus bergerak. Dan sebuah kapal tentu saja membutuhkan seorang kapten untuk mengarahkan awaknya. Jadi,,, mulai hari ini aku Bramantyo Winata akan menjabat sebagai Presiden Direktur Winata Group", Tuan Bram nampak tenang mengucapkan kalimatnya. Ia menyembunyikan seringainya dengan senyum tulus yang membuat semua orang bersimpati padanya.
Riuh tepuk tangan dimulai oleh beberapa pendukungnya, tak lama beberapa di antara yang lainnya mengikuti, hingga semua orang bertepuk tangan namun dengan ekspresi yang tak dapat disamakan.
***
Ken tengah memeriksa beberapa laporan di mejanya. Ia terlihat memasang wajah seriusnya.
"Kenapa kau bergerak lama sekali!", omelnya pada jam tangan yang ia pakai sendiri.
"Aku harus segera menyelesaikan ini semua. Kau tau, aku sudah sangat rindu padanya. Aku sudah sangat ingin bertemu dengannya", Ken berbicara sendiri dengan wajah serius dan matanya sibuk bergerak ke kanan dan kiri memeriksa berkas yang ada di tangannya.
Pikirannya sudah tak bisa di ajak kompromi. Padahal baru dua hari dia tidak bertemu dengan Ana. Namun ia merasa sudah seminggu bahkan lebih, tidak bertemu dengan kekasih hatinya itu. Rongga hatinya telah terisi penuh oleh rasa rindu yang harus ia tuntaskan dengan datang dan melihatnya secara langsung.
"tok! tok! tok!", suara ketukan pintu mengganggu konsentrasinya yang memang sejak tadi sudah menurun persentasenya.
"Hah, mengganggu saja!", umpat Ken kesal. Saat ini yang sangat ia inginkan adalah menyelesaikan semua pekerjaan dan cepat pulang. Ia sangat tak ingin di ganggu oleh berbagai macam hal apa pun.
"Masuk!", perintahnya kemudian.
Han memasuki ruangan setelah bosnya mempersilakannya.
__ADS_1
"Kau tau bukan, Han? Saat ini aku sedang sibuk dan tak ingin di ganggu siapa pun", omel Ken tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Matanya masih sibuk memeriksa berkas yang ada di tangannya.
"Tapi ini berita penting, Tuan!", sanggah Han dengan wajah tenang.
"Seberapa penting dibanding masalahku yang sudah sangat merindukan Ana! Aku ingin sekali cepat bertemu dengannya kau tau?!", ucapnya tenang namun lebih terdengar seperti remaja laki-laki yang sedang mengeluh karena belum menemui kekasihnya dalam waktu yang sangat lama.
"ceh! Baru juga dua hari, Tuan!", ucap Han dalam hati.
"Tuan sangat beruntung karena masih bisa melihat Nona Ana tersenyum. Dibandingkan saya yang....", Ken langsung memotong apa yang akan Han ucapkan karena ia sudah mengetahui kemana arah pembicaraan mereka nantinya.
"Calon istrimu pasti akan pulih", Ken sudah mengarahkan pandangannya ke arah Han. Ia tak ingin melihat raut kesedihan mampir pada wajah asistennya itu. Ken jadi membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya. Ia tak mau bahkan membayangkan saja ia tak sanggup. Maka dari itu ia berusaha agar membuat Han tidak merasa sedih.
"Baiklah, berita penting apa yang kau bawa?", tanya Ken mengalihkan pembicaraan.
Han yang tadinya sudah mulai murung, kini sudah berganti dengan sorot mata yang serius. Ia menegakkan tubuhnya, siap menyampaikan hal penting yang baru saja ia dapat.
"Salah satu orang kita yang berada di Winata Group mengatakan bahwa pagi ini Tuan Bram sudah menyatakan dirinya sebagai pemimpin perusahaan yang baru menggantikan kakaknya, Tuan Danu", ucap Han dengan intonasi yang dibuat sejelas mungkin namun juga tidak berlebihan.
Ken tak mengeluarkan suara apa pun. Ia menganggukkan kepalanya sambil memejamkan mata, memasang indera pendengarannya sebaik mungkin agar informasi yang ia dapat terdengar jelas keseluruhannya.
"Jadi langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tuan?", tanya Han hati-hati. Ia juga sudah menahan geram sejak awal. Seandainya ia tak bekerja pad bosnya saat ini, pasti Tuan Bram sudah ia habisi dengan tangannya sendiri.
"Biarkan ia merasa di atas angin. Biarkan rubah licik itu merasa menang saat ini", Ken menatap ke sembarang arah dengan sorot mata tajam bagai pisau.
__ADS_1
"Baik, Tuan!", lalu Han pamit undur diri kembali ke ruangannya. Tak lupa ia juga menanyakan kapan Tuannya itu akan berangkat ke rumah sakit guna menjenguk Tuan Danu dan menemui Ana tentu tujuan utamanya.
Setelah kepergian Han, Ken tak lagi dapat memfokuskan dirinya pada dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela kaca besar di ruangannya. Dari wajahnya ia nampak sedang memikirkan kelanjutan rencana untuk mereka.