
Malu-malu wanita itu mengangguk menyetujui apa yang suaminya barusan katakan. Karena ia juga sudah menantikan hal ini sebelumnya. Hanya saja belum cukup keberanian yang ia miliki saat itu. Tapi kini, ia tak ragu lagi. Ia telah memilih lelaki ini untuk menjadi suaminya, jadi ada hak yang juga harus ia berikan kepada pria itu.
Dan lagi, dengan bangganya ia menyerahkan pengalaman pertamanya kepada pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Hanya khawatir hal itu akan menjadi menyakitkan karena ini untuk yang pertama kali baginya.
"Apa yang kau pikirkan? Hem!", tanya Sam ketika melihat tatapan kosong istrinya untuk sesaat. Jemarinya yang masih digenggam pun ikut mematung bersamaan dengan gerakan tangan wanita itu yang terhenti.
"Apakah benar akan sangat menyakitkan?", mata Sarah berkedip dengan polosnya sambil mengajukan pertanyaan itu.
"Apakah kau ragu? Jika kau belum siap juga tidak apa-apa. Aku akan menunggu", Sam pun tersenyum kecil sembari menjawab.
Tangannya di lepaskan dari tangan istrinya itu. Lalu ia kembali mengelus pipi mulus Sarah, dengan penuh kelembutan sampai mata wanita itu pun terpejam menikmati sentuhan Sam.
Tentu saja ia akan menunggu, karena ia sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memaksa. Meski boleh jujur, rasanya sedikit mengecewakan lantaran sudah panas sekujur badannya saat ini. Yang pasti mandi air es akan jadi penawarnya nanti.
Istrinya itu belum memberi jawaban. Hanya terdiam sambil tersenyum merasakan sentuhan tangannya di wajah. Sam pun berkesimpulan bahwa Sarah memang belum siap. Akhirnya ia merobohkan diri dan berbaring sambil memeluk istrinya itu.
Baiklah! Mungkin ini memang bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk maju ke tahap selanjutnya. Sam ikhlas melepaskan Sarah lagi kali ini. Ia pun tersenyum seraya memejamkan matanya.
Tapi siapa sangka jika tiba-tiba tubuhnya langsung ditindih oleh wanita yang tadinya berada di pelukannya. Sambil menyeringai Sarah duduk di atas tubuh pria itu.
"Apa aku mengatakan bahwa aku belum siap?!", wanita itu tersenyum yang dibuat-buat, menggoda suaminya yang saat ini tertegun sejenak.
Dengan dress yang sudah berantakan, bahu yang seluruhnya terbuka, dada yang menonjol ke depan, ditambah lagi tangan Sarah yang sedang bermain di dadanya, jelas sekali bukan jika wanita itu sedang menyatakan perang terhadapnya.
Sam terkekeh sendiri menyadari betapa memukaunya penampilan Sarah yang seperti ini. Sungguh membuatnya ingin segera melahapnya segera. Kali ini ia benar-benar tidak akan sungkan lagi sepertinya.
Dalam hitungan sepersekian detik, pria itu membalikkan keadaan. Saat ini Sarahnya berada di bawah tubuhnya.
"Sarah, aku benar-benar mencintaimu!", kalimat itu ia rapalkan dengan nada rendah di telinga istrinya itu sambil sengaja ia hembuskan nafas hangat dari mulutnya.
Seketika Sarah langsung menggelinjang, tubuhnya seperti tersetrum setiap kali Sam menyentuh titik sensitifnya itu.
Ia memalingkan wajahnya karena malu. Wajahnya pasti bertambah merah. Mengingat kelakuan barani yang baru saja ia lakukan itu, ia menjadi sangat malu pada suaminya saat ini.
Tapi Sam segera mendapatkan kembali wajah istrinya itu untuk menghadap ke arahnya lagi. Perang malam ini akan segera dimulai. Jadi ia harus memastikan lagi bahwa tidak ada keraguan di dalam mata Sarahnya.
Setelah mendapatkan kepastian, satu ciuman ia daratkan di kening wanita itu. Pertanda serangan cintanya akan dimulai. Ia akan menyerang istrinya itu dengan segenap cinta yang ia punya.
Lantas mereka pun terjerat dalam perpaduan manis dan mint dari bibir yang semula sudah basah. Bibir lembab mereka saling bertaut dan bergerak. Kemudian terbuka sehingga menimbulkan bunyi decakan-decakan khas yang terbentuk seperti melodi.
Suasana kamar apartemen itu sudah memanas. Dan Sam pun membuka kancing kemejanya satu persatu. Lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Setelah ia melucuti apa yang ia kenakan, lantas ia melepaskan apa yang masih membungkus tubuh istrinya itu meski sudah berantakan. Sesuatu yang indah itu ingin sekali dilihatnya secara nyata.
Meski ini bukan yang pertama kali baginya melihat tubuh molek seorang wanita. Tapi bagi Sam, pengalaman kali ini sungguh tak terlupakan hingga dadanya berdebar saat menantikan setiap lekuk tubuh istrinya itu nampak secara keseluruhan.
Sambil malu-malu, Sarah membuka kain yang masih menutupi tubuhnya. Dressnya yang sudah setengah terbuka ia lepas dan ia letakkan entah dimana.
Seakan tak sabar, Sam menariknya sehingga kini ia duduk membelakangi suaminya itu. Tangan Sarah dibiarkan untuk diam.
"Biar aku yang melakukannya!", bisik Sam setelah menyingkirkan seluruh rambut Sarah ke samping, ke bahunya. Lalu ia kecup dengan lembut bahu yang terbuka itu sambil melepas pengait bagian terdalam dari pakaian yang Sarahnya kenakan.
__ADS_1
Suara desahan lolos begitu saja dari bibir Sarah. Tatkala kulit tangan Sam mengenai kulit punggungnya yang saat ini sudah terbuka.
Pikiran Sam dibuat benar-benar kacau saat mendengar suara itu. Seperti sebuah intro lagu cinta yang akan mereka mainkan bersama. Dan lagu ini akan menjadi lagu yang sangat indah di perjalanan hidupnya ini. Dan Sam masih menantikan untuk mendengarkan suara indah itu lagi.
Sarah sangat malu hingga ia membungkam mulutnya dengan satu tangan. Suara apa itu yang keluar?! Kenapa sama dengan apa yang pernah ia ketahui dari film atau buku yang ia baca?! Oh, sungguh memalukan baginya!
"Itu sangat merdu, Sarah! Jangan kau tahan, keluarkan saja! Tak ada siapa pun di sini selain kita berdua. Tak akan ada yang mengganggu kita dengan suara indahmu itu!", bisik Sam sambil tersenyum kecil di belakang telinga istrinya itu.
Sarah tak merespon apapun. Hanya saja sebuah lenguhan terdengar lagi setelah Sam menyelesaikan ucapannya. Lelaki itu pun tersenyum kecil, ia cukup puas karena Sarah maa menurutinya.
Setelah tangannya puas bergerilya, bergantian dengan bibirnya yang mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya itu. Sam pun merebahkan Sarah. Menempatkan istrinya itu pada posisi ternyaman, karena sebentar lagi serangan pertama akan ia lancarkan.
"Sss,,, sakit, Sam!", Sarah mendesis saat merasakan sesuatu mulai menjebol pertahanan yang sangat ia jaga selama ini. Air mata pun tak kuasa ia tahan karena ia tak menyangka akan begitu perih.
"Maafkan aku, Sayang! Aku janji akan perlahan. Dan setelah ini pun sakitnya akan hilang!", sempat tidak tega melihat linangan air mata istrinya itu, Sam pun berhenti untuk menenangkannya sebentar.
"Iya,, aku akan tahan!", wajah sayu itu mengangguk meski masih merasakan perih di bagian bawah tubuhnya.
"Terima kasih karena mau bertahan!", seraya tersenyum, pria itu mengecup kening Sarah dengan penuh rasa haru dan bangga.
Jujur saja, ia tidak pernah melakukannya dengan seseorang yang masih belum pernah melakukannya sama sekali. Jadi ini pun menjadi hal yang mendebarkan baginya. Karena baru kali ini Sam melakukan hal itu dengan istrinya yang masih suci ini. Sam hanyut dalam perasaan bahagia, namun ia juga tidak tega melihat Sarah yang terus saja meringis.
Sam menepati janjinya untuk melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Karena ia tidak ingin melihat istrinya itu kesakitan lagi.
Sakit itu, perih itu, lama kelamaan bercampur dengan rasa nikmat yang sulit Sarah jelaskan. Sambil meremas bantal atau pun selimut yang berada di dekatnya, Sarah berusaha keras menahan sensasi aneh dan menyenangkan yang Sam berikan padanya. Sungguh ini pengalaman pertama yang sangat mengesankan.
Perang itu telah berubah menjadi perpaduan cinta yang amat menyenangkan. Menghasilkan melodi indah dan lirik-lirik menggemaskan untuk sebuah judul baru dari lagu yang baru saja mereka ciptakan secara tidak langsung.
Pendingin ruangan itu pun seakan tidak bekerja, lantaran kedua penghuninya mulai dibanjiri oelh peluh di sekujur tubuhnya. Sam bekerja keras malam ini, namun ia tak lupa untuk memberikan segenap cinta yang ia punya itu dengan penuh kelembutan.
***
Meninggalkan sepasang pengantin baru yang sedang menyatukan cinta mereka. Maka di sinilah sepasang suami istri yang sedang menikmati teh dan susu hangat di balkon kamar mereka yang menghadap halaman belakang.
Ken bangun dari duduknya, meninggalkan teh hangat yang tersisa setengah cangkir di meja kecil itu. Ia menghampiri Ana yang sedang berdiri di pinggir balkon dengan segelas susu hamil di tangannya. Ana sedang menikmati udara malam itu dengan sesekali menghirupnya dalam-dalam.
"Ah,, ini sangat menyegarkan!", ucapnya seraya memejamkan mata. Lalu ia menoleh saat suaminya itu datang mendekat.
"Nanti kau bisa masuk angin!", pria itu membawa selimut untuk menutupi tubuh Ana dari angin malam yang bergerak lumayan kencang.
"Kan selalu ada kau di sisiku!", Ana membelai pipi suaminya itu dari belakang sambil memberinya sebuah senyuman.
"Ayo, habiskan susunya!", mata pria itu pun bergerak ke arah susu di tangan Ana yang masih belum habis juga.
"Baik, Sayang!", ditenggak susu yang lebih dari setengah gelas itu seperti sedang kehausan.
"Apakah begitu enak?", tanya Ken penasaran dengan cara minum Ana barusan. Sepertinya sangat nikmat rasanya.
"Kau mau mencobanya? Sayangnya sudah kuhab,,, ", tapi bibir wanita itu sudah dilahap lebih dulu oleh suaminya. Ana menaikkan kedua alisnya bersamaan, kehabisan kata-kata.
"Aku sudah mencobanya! Lumayan,,,", Ken mengusap bibirnya yang basah itu dengan wajah datar tak bersalah. Lalu ia mengangguk-ngangguk kecil mengingat rasa bibir istrinya itu, bukan rasa susunya. Haha
__ADS_1
"Sayangku! Seandainya kau bisa melihat tingkah ayahmu ini!", Ana mengusap perutnya sambil menggelengkan kepala.
Ia meletakkan gelas ke atas meja dimana cangkir teh milik Ken berada. Menemani cangkir itu agar tidak kesepian di dinginnya malam ini. Lalu kembali lagi ke arah suaminya yang sedang bersandar di pinggiran balkon itu.
"Apakah anak kita nanti akan menjadi pengadu seperti ibunya? Hem!", pria itu memiringkan kepalanya, bertanya pada Ana yang sekarang sudah berada di dalam rangkulannya.
"Apakah itu sebuah masalah, Tuan?!", Ana pun memiringkan kepalanya dengan tatapan menusuk.
"Yang jelas anak kita nanti akan rupawan dengan semua kecerdasan yang dimiliki oleh ayah dan ibunya. Anak kita nanti juga akan menjadi anak yang berbakti dan mencintai keluarganya", lalu pandangan matanya ia turunkan ke arah perutnya. Wanita itu tersenyum sambil berbicara pada calon bayinya di dalam sana.
"Ya, aku setuju denganmu!", Ken pun melepaskan rangkulannya.
Lelaki itu berlutut untuk mengusap perut istrinya, dimana calon bayinya itu berada. Membisikkan setiap harapan yang juga sama dengan apa yang istrinya pikirkan saat ini.
Apapun jenis kelaminnya, Ken tak peduli. Baik perempuan maupun laki-laki itu sama saja. Yang jelas anak mereka nanti harus bisa menjadi kebanggaan terlepas dari apapun yang mereka pilih nanti.
Dan tugas mereka yang sebagai orang tua adalah memberikan kasih sayang yang melimpah kepada anak-anak mereka. Membuat sebuah keluarga yang saling menyayangi dan melindungi. Membuat sebuah keluarga yang hangat, seperti apa yang pernah Ana rasakan.
Ken terus tersenyum berbarengan dengan tangannya yang tak berhenti mengusap perut istrinya itu. Dan Ana merasakan sensasi nyaman saat suaminya itu mengelus perutnya dengan lembut seperti itu. Tangan Ana pun bergerak mengelus pucuk kepala Ken sambil tersenyum. Mereka yang saling mencintai seperti ini, berharap selamanya akan selalu seperti ini. Keluarga yang dilimpahi oelh rasa cinta yang indahnya luar biasa.
"Aku mencintaimu, Ana! Terima kasih karena telah bersedia menjadi wanita pertama dan terakhir di dalam hidupku!", Ken bangkit.
Lantas ia menarik istrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Menghujani pucuk kepala Ana dengan puluhan ciuman yang ia bisa berikan sebagai tanda cintanya pada wanita itu.
"Kau pun pria pertama yang aku cintai, Ken! Terima kasih telah menemani hidupku yang sepi ini!", Ana mengeratkan pelukannya pada suaminya itu. Memejamkan mata seraya menikmati hangatnya cinta yang mereka miliki untuk satu sama lain.
TAMAT
-
-
-
Bener apa tamat?!
Iya beneran, cerita ini sudah selesai ya teman-teman βΊοΈ
Aku mau ucapin terima kasih yang begitu banyak buat teman-teman sekalian yang sudah mengikuti cerita yang membosankan ini ππ€π
Maaf ya sebelumnya karena waktu yang diperkirakan jadi molor dari waktu pengumuman bahwa novel ini akan berakhirπ
Banyak urusan real life yang ga bisa aku tinggalkan akhir-akhir ini soalnya
Ga nyangka akhirnya selesai juga ya,, hehe
Pokoknya aku mau ngucapin terima kasih deh yang sebanyak-banyaknya buat kalian semua,, aku bingung mau ngomong apa lagi, terlalu speechless karena bisa bikin novel ini tamat juga π€π€π€π
Setelah ini aku bakal lanjutin cerita di novel sebelah, ceritanya babang ben sama rose ππ
Buat yang belum baca, yuk baca novelnya mulai sekarang,, dan buat yang udah baca, dibaca lagi yukk sambil nostalgia,, sambil nunggu aku update bab lanjutannya πβοΈ
__ADS_1
Sekali lagi, aku ucapin terima kasih banyak buat semua dukungan yang udah temen-temen kasih ke aku ya ππβΊοΈβΊοΈβΊοΈ
Keep strong and healthy ya teman-teman semuanya πππ₯°π₯°