Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 60


__ADS_3

Terima kasih untuk masukannya ya🙏😊


Vote sementara yang terbanyak adalah untuk pasangan Sarah ❤️ Sam, jadi aku akan merealisasikannya dalam cerita ini. Tapi mungkin akan sedikit lamban prosesnya dibanding Ana ❤️ Ken.


Aku tunggu ya vote untuk pasangan selanjutnya 😉


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Ana mengalihkan pandangan matanya yang masih berat ke arah bibir Ken. Ia mengusapnya lembut dengan satu ibu jarinya. Ana menipiskan bibirnya dan mencondongkan wajahnya hingga bibirnya menempel pada bibir Ken.


***


Mereka memejamkan mata menikmati setiap sentuhan bibir mereka. Ken menyesap bibir Ana dengan lembut, ia juga meraih tengkuk Ana untuk memperdalam ciuman mereka. Perasaan mereka yang tersalurkan membuat mereka lupa bahwa saat ini Tuan Danu tengah menunggu Ken di bawah.


Tiba-tiba Ana berhenti merespon gerakan bibir Ken. Dan Ken pun membuka matanya mengamati apa yang terjadi pada pasangannya itu. Tangan Ana yang tadinya mencengkram kemeja pada bagian dada Ken pun terlepas dengan sendirinya. Tangan Ana lunglai jatuh ke bawah. Ken menjauhkan wajahnya untuk memastikannya lagi.

__ADS_1


"Ana!", Ana tak merespon ketika Ken memanggilnya dengan lembut. Ia masih memegangi bahu Ana yang masih terduduk lemas.


"Ana!", kali ini Ken memanggilnya dengan suara agak keras sambil mengguncang bahu Ana.


"Sssshhht", sambil memejamkan mata Ana menempatkan jari telunjuknya pada bibirnya dengan gaya malas.


"Berisik ayah! Aku masih mengantuk!", gumam Ana seraya melepaskan diri dari tangan Ken dan merebahkan tubuhnya kembali. Ia menggeliat kecil mencari posisi senyaman mungkin untuk meneruskan tidurnya.


"Heh!", Ken tersenyum penuh ironi sambil menggeleng pelan.


"Jadi kau hanya mengigau! Kau akan menerima hukumannya besok, sayang", ucap Ken kemudian mengusap pucuk kepala Ana lembut.


Ken tak habis pikir, semalaman ini Ana telah membuatnya benar-benar bersabar. Ia sudah menggendongnya ke sana-sini tapi ia tak kunjung bangun juga. Dan kini saat mereka sedang menyalurkan kasih sayang mereka melalui pagutan bibir mereka, Ana tiba-tiba tertidur lagi. Oh sungguh! Tapi Ken tidak marah, ia malah merasa Ana makin menggemaskan di saat-saat seperti ini. Tapi tentu saja, Ana tak akan lolos begitu saja besok saat ia sudah bangun dan siap menjalani hari.


Ken mencium kening Ana lagi sebelum benar-benar pergi dari kamar Ana.


***


Di sisi lain di apartemen Sam, ia menggendong Sarah yang masih terlelap dalam tidurnya. Sam membuka knop pintu kamarnya menggunakan siku karena kedua tangannya sedang sibuk membawa beban. Ia merebahkan tubuh Sarah pada ranjangnya dengan perlahan agar wanita yang digendongnya itu tidak bangun.


Dengan telaten Sam membuka sepatu hak tinggi yang Sarah pakai. Tiba-tiba matanya membelalak saat mendapati pemandangan indah. Gaun yang Sarah kenakan memiliki potongan panjang selutut, saat Sam membaringkannya gaunnya sedikit tersingkap sehingga memperlihatkan salah satu paha Sarah yang putih mulus.


Sam memaku tangannya sejenak, ia dirasuki perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa ingin memiliki yang begitu tinggi pada wanita biasa ini. Bahkan saat bersama wanita cantik yang biasa Sam kencani, ia tak pernah merasakan hasrat seperti ini.


Sam memejamkan matanya dalam hingga kerutan-kerutan di sekitar matanya nampak jelas. Ia berusaha menenangkan dirinya yang sedang bergejolak.


"Tidak, ini tidak benar! Dia wanita baik-baik. Jadi aku harus mendapatkannya dengan cara baik-baik pula", Sam meyakinkan dirinya dalam hati.


Satu matanya membuka sedikit, ia mengintip untuk mengarahkan tangannya pada bagian yang benar. Dengan cepat Sam membetulkan bagian yang tersingkap tadi sehingga kaki Sarah tertutupi semua.


"Hah!", ia menghembuskan nafasnya kasar.


Tiba-tiba Sarah menggeliat, ia bangkit untuk duduk sambil mengerjapkan matanya. Sam terpaku, ia begitu terkejut saat ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya ia sudah pasrah. Tubuhnya menegang di tempat, bahkan jika Sarah marah karena membawa ia ke apartemennya pun Sam akan menerima.


"Hoam! Masih gelap, aku tidur lagi saja!", setelah menguap Sarah melanjutkan tidurnya kembali.


Beruntung saat itu Sam belum menyalakan lampu, sehingga pencahayaan di kamar agak remang. Dan Sarah masih belum mencapai batas kesadarannya, sehingga ia tak menyadari dimana dan dengan siapa saat ini ia berada.

__ADS_1


"Huh!", Sam mengelus dadanya setelah menghembuskan nafas yang panjang namun perlahan supaya Sarah tak dapat mendengarnya. Ia sungguh merasa lega.


Buru-buru Sam menutupi Sarah dengan selimutnya hingga menyisakan kepalanya saja. Kemudian ia memilih untuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan menetralisir perasaannya yang tengah bergejolak.


***


Kembali ke kediaman Tuan Danu. Ken menghampiri Tuan Danu yang tengah duduk di ruang bacanya.


"Aku sudah turun, bukan?!", ucap Ken yang menyatakan bahwa dirinya telah.menepati ucapannya pada ayah dari kekasihnya itu. Ia berjalan santai mendekat ke arah meja kerja Tuan Danu sambil menguarkan seringainya.


"Ya, aku bisa memegang kata-katamu!", ucap Tuan Danu tersenyum puas.


Tuan Danu bangkit dari kursi kerjanya dan menggiring Ken ke arah sofa dekat sana. Tuan Danu duduk di sofa tunggal, sedangkan Ken duduk tak jauh darinya.


"Ken, apa kau serius dengan putriku?!", tanya Tuan Danu dengan wajah menyelidik.


"Tentu saja, paman!", ucap Ken pasti. Tapi ia belum menyelesaikan kalimatnya.


"Apakah paman pernah melihatku bersama wanita?! Tentu saja tidak pernah bukan!", Ken menjawab pertanyaannya sendiri dan Tuan Danu pun mengangguk menyetujui penuturan Ken.


"Ana adalah yang pertama kali membuatku tertarik pada seorang wanita. Dan aku sangat mencintainya, paman. Jadi dia yang pertama maka dia akan selamanya menjadi wanitaku satu-satunya. Aku akan menikah hanya dengan Ana. Aku akan mempertaruhkan hidupku untuk kebahagiaan nya", tutur Ken tulus sambil menautkan kedua jemari tangannya untuk menyangga dagu di lututnya.


"Baiklah kalau begitu! Aku tau bahwa aku selalu bisa memegang ucapanmu Ken. Kuharap kau selalu membuatnya bahagia. Tapi jika memang kau tidak serius, maka tinggalkan dia sekarang juga!", Tuan Danu berucap dengan wajah seriusnya.


"Jaga putriku, Ken! Lindungi ia dari orang-orang yang akan mencoba untuk melukainya kelak", ucap Tuan Danu merasa Ana akan jadi orang hebat kekal.


Ken tak menjawab dengan suara, namun anggukannya pasti. Ia berusaha meyakinkan ayah dari wanita yang dicintainya bahwa ia akan menjaga dan melindungi putrinya dengan segenap jiwa raganya. Bahkan jika ibunya sekali pun mencoba menyakiti Ana. Maka ia akan maju menjadi tamengnya. Sekilas wajah Ken berubah sendu teringat kejadian tadi saat makan malam di kediaman orang tuanya.


"Aku akan bersiap karena sebentar lagi aku akan berangkat. Kau istirahat lah di kamar tamu. D**ilarang ke atas, paham**!", ucapan yang bermakna perintah yang mengancam itu membuat Ken terkekeh.


"Ya, ya, baiklah Tuan!", Ken menutup mulutnya dengan satu tangan untuk menahan senyumnya.


***


Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi. Sam menuju walkin closetnya dan menyambar satu stel piyama berwarna hitam. Secepat kilat ia memakainya, karena rasa ngantuk yang menderanya sudah sangat hebat.


Tanpa sadar Sam merebahkan tubuhnya di ranjang tepat merapat ke tubuh Sarah. Sam langsung memejamkan matanya. Sarah yang merasakan ada hawa hangat dari belakangnya pun menggeliat dan berbalik menghadap Sam dengan mata terpejam. Mereka menikmati kehangatan masing-masing dengan saling merapat, hingga tanpa sadar Sam menelusupkan satu tangannya pada tengkuk Sarah untuk mempermudah Sam untuk mendekapnya. Dan tanpa sadar pula, tangan Sarah membalas dengan merangkul pinggang Sam.

__ADS_1


Mereka terlelap lagi ke alam bawah sadar mereka dengan kenyamanan yang baru saja mereka temukan.


__ADS_2