
"Ya benar! Dia adalah kekasihku! Tuan Samuel Wiratmadja, bos dari Glory Entertainment! Tempatku bekerja!", dengan gaya yang paling angkuh Rosi itu mengungkapkan.
Wajah Sarah yang sangat tenang sejak semula itu sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Air mukanya berubah galak dan nafasnya mulai pendek-pendek karena emosi. Ana yang berada di belakangnya pun tidak tahan dan maju satu langkah sejajar dengan Sarah.
Si pegawai jadi ketakutan sendiri. Ia menutupi wajahnya dengan pakaian Ana yang berada di tangannya. Setelah ini ia tidak mau melihat apa-apa lagi. Wanita yang bernama Rosi itu benar-benar cari mati rupanya! Dia tidak tau siapa dua tamu penting yang sedang mereka hadapi saat ini!
"Memangnya kau tidak punya televisi di rumah?! Apa kau tidak tahu jika orang yang kau sebut sebagai kekasihmu itu sudah menikah?!", Ana berseru dengan nada yang amat kesal. Ia mengangkat dagunya hingga menampakkan dengan jelas wajah marahnya. Singa betina itu mulai akan mengamuk.
"Tapi aku mengenal Tuan Sam jauh sebelum dia menikah dengan wanita jelek dan rendahan itu! Jadi aku yang lebih berhak memilikinya dibandingkan dengan wanita itu!", wanita yang bernama Rosi itu tidak mau kalah dan terus menyatakan kepemilikannya pada Sam dengan begitu percaya dirinya.
"Lalu apa kau mengenal wanita yang kau sebut jelek dan rendahan itu?! Hah! Berani-beraninya mulut lancangmu itu!", Sarah menyingsingkan lengan bajunya sampai ke atas bahu. Hingga lengannya yang agak berotot itu nampak oleh mata dua wanita yang mulutnya kurang ajar itu.
"Heh, memangnya kau sendiri mengenal wanita itu hingga membelanya mati-matian seperti ini?!", tatapan Rosi itu mulai gentar saat Sarah dan Ana sudah mulai menampakkan wujud asli mereka yang sebenarnya. Tapi ia masih tidak ingin kalah oleh mereka.
"Apakah kau yakin dengan pertanyaanmu itu?! Huh! Ku pikir kau itu selain tidak tahu diri tapi juga,, buta!", Ana berkacak pinggang maju satu langkah ke depan. Wanita itu tidak peduli jika dirinya sedang hamil saat ini. Yang jelas dua wanita itu sudah membuatnya dan Sarah sangat marah.
"Habis, sudah habis!", pegawai wanita yang menjadi penonton sejak awal perdebatan itu pun kini bergidik lagi. Ia menggeleng pelan seraya mengusap dadanya merasa iba dengan nasib yang akan dua wanita alami setelah ini.
"Siapa yang kau katakan buta dan tidak tahu diri, hah?! Aku tidak akan mengasihani dirimu sama sekali meskipun kau sedang hamil saat ini! Mulutmu harus diberi pelajaran rupanya!", jujur saja wanita yang bernama Rosi itu sudah agak gemetar menghadapi Ana dan Sarah lebih lanjut.
Tidak hanya keberanian di mulut mereka saja, tapi Rosi itu jelas melihat kekejaman yang tiada tara di mata kedua wanita itu. Tapi harga dirinya juga tidak bisa terluka saat Ana menjelek-jelekkan dirinya. Jadi ia tidak bisa kelihatan lemah di depan mereka berdua.
"Ayo Rosi, beri mereka berdua pelajaran! Mereka harus tahu siapa yang mereka hadapi saat ini! Beritahukan saja apa yang kau alami pada Tuan Sam, agar mereka berdua mendapatkan pelajaran darinya", wanita yang sekiranya menjadi asisten dari Rosi itu membakar kembali semangat artisnya itu untuk menjadi lebih tidak tahu diri lagi. Rosi itu semakin sombong dan mengangkat dagunya mendapat bara-bara yang mendukungnya lagi.
"Tentu saja! Aku akan mengatakan pada Tuan Sam bagaimana mereka memperlakukan aku hari ini!", wanita itu menanggapi dan menjadi bertambah kesombongannya.
"Tenang saja, Ana! Sekarang adalah giliranku untuk bertindak! Ingat kau sedang hamil saat ini! Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada keponakanku jika kau sampai terlalu emosi!", Sarah mencegah sahabatnya itu untuk maju dan melanjutkan perdebatan mereka lagi. Bukan lagi mulut yang bicara, sekarang adalah giliran tangannya yang akan memberi mereka berdua pelajaran.
__ADS_1
plak
"Siapa yang barusan kau ancam?! Jangan berani-beraninya kau menyentuh sahabatku walau seujung kuku busukmu itu!", satu tamparan mendarat bebas di pipi Rosi itu.
plak
"Siapa pula yang kau sebut sebagai kekasihmu itu?! Mulut kotormu itu bahkan tidak pantas menyebutkan namanya sama sekali! Dan berkacalah dengan benar bagaimana penampilanmu saat ini! Apakah penampilanmu yang lebih seperti wanita rendahan ini pantas disandingkan dengan pria yang kau sebut dengan kekasihmu itu?! Heh!", satu lagi tamparan mendarat di pipi yang satunya lagi.
"Kau!", Rosi merasa sakit hati dan terhina saat ini. Ia ingin membalas tindakan Sarah, namun tangannya sudah dicekal terlebih dahulu di udara.
"Dan apa kau tahu bagaimana nasib seseorang yang berani mengganggu hubungan Tuan Sam dan calon istrinya saat itu?!", Sarah memelintir tangan Rosi ke belakang lalu menempatkan wajahnya tepat di samping wajah Rosi itu.
"Jika kau mengenal Megan Aira, tentu kau akan tahu bagaimana akhir dari hidupmu jika masih berani mengklaim pria yang sudah memiliki istri itu sebagai kekasihmu!", dan ia pun membisikkan hal ini dengan nada yang lembut namun terdengar kejam. Lalu ia melepaskan cekalan tangan Rosi di belakang tubuhnya dengan sedikit kekuatan, sehingga orang itu hampir terjengkang ke belakang jika saja asistennya itu tidak sigap menangkapnya.
Rosi Oktari itu sangat geram. Siapa sebenarnya wanita itu sampai mau membela hubungan Tuan Sam dan istrinya. Terlebih lagi kedua wanita itu seakan tidak memiliki takut sama sekali. Bahkan sampai mengetahui nasib sial Megan Aira yang merupakan salah satu dari rivalnya untuk mendapatkan perhatian Tuan Samnya itu.Rosi tahu bagaimana nasib mantan rivalnya itu, tapi ia tak peduli. Menurutnya itu hanyalah nasib buruk seseorang yang menguntungkan baginya.
Ia mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Sarah tadi. Ia juga menyentuh jejak perih di pipinya dan masih akibat ulah wanita yang sama.
"Rosi, telepon saja Tuan Sam sekarang! Katakan bahwa ada seseorang yang menyakitimu di sini!", asistennya itu kembali menjadi provokator sejati di belakangnya.
"Heh, tukang pengadu!", Ana mengejek dengan senyum jeleknya.
"Ayo katakan padanya! Jangan ragu-ragu! Aku sangat menantikan reaksi orang yang kau sebut kekasihmu itu saat mengetahui apa yang telah kami lakukan kepadamu tadi!", Sarah mengangguk-angguk dengan wajah bersemangat. Ia ingin tahu sampai dimana wanita itu akan menyelesaikan kebohongannya.
Sarah tahu jika suaminya itu memang seorang mantan playboy. Jadi setelah kasus Megan Aira, ia sudah memantapkan diri untuk memberantas semua iblis wanita yang masih haus kasih sayang dari pria yang sekarang ini sudah resmi menjadi suaminya itu. Tidak ada lagi Sarah yang lemah. Tidak lagi pula ia terus dibela oleh Ana. Ia harus bisa berdiri di kakinya sendiri untuk bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga yang baru saja mereka bangun ini.
Dalam hati Rosi sudah ketar-ketir sebenarnya. Ia juga tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada asistennya itu perihal bagaimana ia hanya memanfaatkan nama sang bos saja. Memang benar jika ia dan Tuan Sam pernah saling bertemu. Itu pun hanya dalam acara perusahaan. Meskipun begitu selama acara memang mereka cukup dekat. Tapi kedekatan itu hanya berakhir sampai di situ. Dan yang Rosi lanjutkan adalah gosip yang merebak jika Tuan Sam sedang menjalin hubungan dengan dirinya. Hanya manfaat yang bisa ia ambil dari gosip itu, memanfaatkannya dengan benar untuknya mendapatkan pekerjaan. Sedangkan pada kenyataannya, ia sama sekali tidak dilirik di kehidupan nyata oleh bosnya itu.
__ADS_1
"Iya,, iya,, aku akan meneleponnya!", Rosi menyembunyikan kegugupannya dari semua orang.
Ia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Ia tidak memiliki kontak Tuan Sam sama sekali. Sekretarisnya ataupun asisten orang itu, Rosi tidak memilikinya sama sekali. Oh sungguh, ia ingin sekali berteriak saat ini. Apa yang ia harus lakukan?!
Tangannya gemetar saat mengeluarkan ponselnya dari tas. Mau tidak mau ia tetap melanjutkan sandiwara yang telah ia buat sejak awal. Bukan, tapi sejak lama. Ia berpura-pura mencari nama bosnya itu di dalam barisan kontak di ponselnya.
"Oh ya ampun! Aku hampir lupa! Saat itu kami sedang bertengkar jadi karena kesal aku langsung menghapus kontaknya! Iya,, begitu! Haha,,,", Rosi tertawa canggung ke arah asistennya itu. Wajahnya benar-benar kaku, ia tidak bisa berpikir untuk memiliki ekspresi apa saat ini.
"Benarkah?! Bukankah kau selalu akur dan penuh kasih sayang dengan Tuan Sam?! Coba cari lagi, Rosi! Mungkin saja kau hanya mengganti namanya saja!", asistennya mendekat ke arah ponsel Rosi yang masih ia geser terus untuk mencari kontak yang memang tidak ada itu. Dan si artis tidak dapat menanggapinya lagi. Hanya bisa tersenyum dengan kaku lagi sambil mengangguk ragu.
"Akur? Penuh kasih sayang?! Luar biasa, Sarah! Tapi ngomong-ngomong apa kau tidak kesal pada Sam? Lagi-lagi muncul wanita yang seperti ini!", Ana berbisik pada sahabatnya itu.
"Terima kasih, Ana! Karena kau sudah mengingatkan! Tadinya aku tidak berpikir untuk kesal. Tapi sepertinya aku berubah pikiran. Bagaimana pun juga ini terjadi karena ulahnya di masa lalu. Jadi Sam tetap harus mendapatkan bagiannya!", Sarah mengangguk kecil dengan sebuah ide di kepalanya. Nanti, suaminya itu tetap harus mendapatkan hukuman darinya karena telah membuatnya kesal melalui wanita ini.
"Kalau begitu mari kita selesaikan mereka dengan cara yang keren!", kepala dua sahabat itu berdekatan. Keduanya memiliki tatapan penuh arti dengan alis yang mereka naik turunkan secara bersamaan. Sesungguhnya, kolaborasi dua wanita menyeramkan ini benar-benar membuat seseorang merinding.
"Aku punya nomor telepon Tuan Sam! Apa kau mau melihatnya?", Sarah membuat suaranya seramah mungkin sehingga wanita yang bernama Rosi itu tidak mengenali suaranya.
"Atau kau ingin nomor telepon Tuan Ken saja sekalian! Ini!", begitu pun sama halnya dengan Ana.
Mereka berdua menunjukkan ponsel mereka ke arah Rosi dan asistennya yang masih sibuk sendiri saat ini.
"Keduanya juga boleh!", dan mulut Rosi menjawab begitu saja tanpa tahu siapa yang menawarkan bom ini kepada dirinya.
Dua nama yang tertera pada ponsel yang menghadap ke arah wajahnya saat ini adalah,,,
Suamiku ❤️
__ADS_1
Dua kontak itu memiliki nama yang sama. Dan untuk beberapa detik Rosi dan asistennya berpikir keras. Hingga rahang mereka rasanya hampir lepas saat menyadari siapa gerangan wanita yang sudah mereka ajak bertengkar sejak tadi.
Masih dengan mulut yang terbuka, bola mata mereka bergerak secara kompak ke atas. Menatap ke arah Ana dan Sarah yang saat ini sedang menyeringai seram.