Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 136


__ADS_3

Deru mobil berhenti tepat di lobby hotel mewah tempat dirinya maupun Tuan Relly itu memiliki janji. Ia juga sudah memerintahkan kepada sopirnya untuk tidak menunggunya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ia menginap di tempat temannya malam ini. Dengan malas Joice keluar dari mobil itu, langkahnya yang gontai terlihat jelas dengan kaki yang terseret-seret saat berjalan. Tak ada sedikitpun semangat seperti saat terakhir kali ia bertemu dengan Tuan Relly dan menghabiskan malam bersama. Tak lupa ia memberi kabar kepada pria itu bahwa ia sudah sampai dan saat ini sedang berada di lobby hotel. Pria itu pun segera memerintahkan Joice untuk menuju kamar yang telah ia beritahukan tadi saat di jalan.


ting


Suara pintu lift terbuka membuat dirinya mengerjapkan matanya berulang kali, sambil menghirup nafas sedalam-dalamnya mencoba mengumpulkan keberanian dan semangat untuk mengakhiri negosiasi yang sempat terjadi kapan hari.


Tepat saat ia sudah berada di depan pintu kamar yang dituju, Relly membuka pintu dari arah dalam. Hanya menggunakan kemeja putih yang sedikit berantakan dan juga celana bahan hitam juga tanpa menggunakan alas kaki. Kesannya yang santai membuat Joice sejenak tertegun. Tuan Relly ini memang tampan, hanya saja selama ini ia tidak pernah mau mengakuinya. Bagi seorang Joice Alexander, hanya Presdir Ken seorang yang paling tampan. Itu sugesti yang telah ia terapkan di dalam otaknya selama ini.


"Hallo Nona Joice!", sapaan dengan senyuman yang menawan membuat Joice kembali terperangah.


"Ahh iya,, ha,, hallo Tuan Relly!", lalu segera ia mengumpulkan kesadarannya. Tak ingin berlama-lama terlihat bodoh di depan orang lain tentunya.


"Silahkan masuk!", tangan pria itu memberi jalan supaya Joice leluasa masuk ke dalam kamar hotel yang telah ia pesan.


"Silahkan duduk, Nona! Aku sudah menyiapkan beberapa minuman, tapi tidak tau yang mana yang merupakan selera Nona Joice!", Relly mendahuluinya duduk di sofa dengan santai sambil menyesap anggur merah dari gelas yang berada di tangan rampingnya.


Joice menatap minuman-minuman itu dengan tatapan waspada. Ia tak ingin makin jauh masuk ke dalam perangkap tuan yang berada di depannya ini.


"Terima kasih Tuan, tapi sebaiknya aku memilih air mineral saja. Karena sepertinya aku sangat kehausan", dengan halus Joice menolak tawaran Relly sambil mendudukkan diri di sofa tunggal di seberang pria itu.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita mengawalinya dengan mandi?!", Relly memberi sebuah saran dengan tatapan penuh arti dan sulit dijelaskan.


"A,, apa maksud anda, Tuan?", Joice mulai cemas karena sepertinya Relly akan segera memulai permainannya.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?! Aku hanya memberikan sebuah penawaran agar salah satu di antara kita mandi terlebih dahulu supaya kita lebih segar saat nanti kita memulainya", Relly melakukan intimidasi pertamanya dengan halus membuat Joice hampir saja kehabisan nafasnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku duluan!", ucapnya lagi setelah lama menunggu jawaban. Relly bangkit dan melenggang dengan santai ke arah kamar mandi. Sekilas ia melihat dari ujung matanya bahwa Joice tengah menenggak habis air mineral yang ia pilih dan membuat Relly menaikkan satu sudut bibirnya sambil terus berjalan.


brrakk


Suara pintu kamar mandi itu tertutup bersamaan dengan suara helaan nafas yang keluar dari mulut Joice. Ia merasa lega setelah tekanan yang ia rasakan sejenak menghilang dari hadapannya.


"Kapan ini akan berakhir!", ia menggerutu sendiri. Merasa frustasi dengan keadaan yang akan dihadapinya nanti. Ia hanya berharap bahwa kebusukannya yang satu ini akan tersimpan rapat dari Ken maupun keluarganya. Akan hancur segala rencana dan upayanya sampai sejauh ini. Ketika bayangan masa depannya berada di depan mata, pandangannya lama kelamaan memudar bersamaan dengan kepalanya yang mulai terasa berat. Ia memijit pangkal alisnya lalu menopang keningnya yang makin berdenyut dengan satu tangan.


"Ada apa ini?!", gumamnya tidak jelas dengan tubuh yang mulai runtuh ke lantai. Kini Joice benar-benar tidak sadarkan diri.


Selang waktu lima belas menit, Relly keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana hitamnya dan bertelanjang dada. Wajahnya telah lebih segar karena ia benar-benar mandi di dalam sana. Seringainya menguar dengan kejamnya saat mendapati tubuh wanita itu sudah terkulai di lantai tepat di bawah kakinya. Dengan tanpa perasaan, Relly mengguncang tubuh Joice dengan satu kakinya. Ia ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


"Hah, menyusahkan saja!", umpatnya sambil melempar handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Aku ingin seorang pelayan wanita datang ke kamarku segera!", perintahnya dengan nada arogan lalu segera menutup kembali telepon itu pada tempatnya.


"Heh! Kau pikir aku masih begitu tertarik padamu?! Jangan mimpi! Hidupmu akan berakhir setelah ini!", ujar Relly dengan ekspresi dingin sambil tersenyum sinis.


Tak lama seorang pelayan wanita datang. Ia memerintahkan pelayan itu untuk membuka seluruh pakaian Joice tanpa menyisakan satu helai pun, lalu memerintahkan pelayan itu menyelimutinya hingga ke leher. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu keluar sambil menundukkan kepalanya.


Relly merangkak naik ke atas ranjang dan menempatkan diri tepat di samping Joice. Ia merangkulnya begitu erat lalu mengabadikan momen-momen yang dari kameranya terlihat sangat intim, apalagi Relly sendiri tengah bertelanjang dada saat ini. Foto-foto itu nampak makin meyakinkan bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah dirasa cukup, ia lalu memandangi wajah Joice dengan tatapan penuh arti.


"Apakah aku harus mencobanya saja?!", gumamnya karena instingnya mulai menguasai.


"Tidak-tidak! Aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya sama sekali pada Tuan Ben!", kini Relly mula gusar dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Mencoba sedikit tidak akan ketahuan, kan!", ia sedikit menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Joice yang tengah terpejam tenang. Ia mulai menempelkan bibirnya pada bibir Joice lalu mulai bermain-main dengan bibir wanita itu. Lalu bibirnya mulai menyapu seluruh lehernya dan meninggalkan beberapa bekas kissmark di sana. Tapi akhirnya ia mengakhiri kegiatannya karena tak ada respon dari si wanita.


"Aahhkk,,, ini sungguh tidak mengasikkan! Aku seperti bermain dengan boneka saja! Huh, dasar tak berguna!", Ia menyingkir menjauh dari tubuh Joice setelah beberapa pertimbangan.


Relly segera menyambar kemejanya yang tadi sempat ia tinggalkan di kamar mandi. Sebelum memakainya, ia mendapat sebuah ide. Ia kembali mendekat ke arah Joice dan merebahkan diri di sebelahnya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas dan mengaktifkan mode timer pada kameranya. Relly segera berpose seakan sedang menciumi leher Joice dan beberapa bekas kissmark itu sedikit terlihat pada kamera ponselnya.


"Selesai!", Relly tersenyum puas pada hasil foto terakhirnya. Benar-benar terlihat nyata bahwa mereka sedang melakukan adegan intim di sana. Ia mengenakan kembali kemejanya, merapihkan diri dan membuat sebuah note untuk ia letakkan di atas nakas di samping ranjang.


Terima kasih untuk pelayananmu malam ini ❤️


Begitu bagaimana Relly meninggalkan pesan yang ia yakini besok pagi Joice akan segera membacanya.


***


kriing kriing


Dering suara alarm dari ponselnya membuat Joice harus segera memulihkan kesadarannya. Ia menggeliat ke kanan dan ke kiri meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Dari balik tirai jendela samar-samar gelapnya malam mulai memudar berganti dengan fajar yang berhias semburat jingga di langit yang masih sedikit gelap itu. Reflek ia mendudukkan diri untuk menghentikan bunyi alarm itu hingga selimut yang menutupi tubuhnya melorot hingga ke pinggangnya. Mata Joice melebar sempurna, lalu segera ia menarik dan mendekap selimut itu ke dada.


"Astaga, aku hampir lupa semalam,,,, ", ucapannya menggantung karena ia merasa kalah dalam permainan yang ia mulai sendiri. Kemudian ia berdecak kesal sambil bangun berdiri dan melilitkan selimut itu ke seluruh tubuhnya. Ia berjalan dengan susah payah ke arah tasnya yang berada di sofa. Niatnya adalah untuk menghentikan alarm yang terus berbunyi hingga telinganya tersakiti. Namun setelah layar ponsel itu mati, bayangan dirinya muncul di sana. Ia meraba bekas-bekas kissmark yang Relly tinggalkan semalam.


"Jadi ini adalah kenyataan?! Ah, aku berharap ini hanya mimpi!", gerutu Joice masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia telah menyerahkan diri kepada pria yang semula menjadi mainannya.


Dan ujung matanya menangkap secarik kertas by kecil berwarna merah muda di atas nakas di samping ranjang. Itu adalah pesan terakhir yang Relly berikan untuknya.


"Ahh benar, dia sudah pergi! Baguslah kalau begitu, aku jadi bisa sedikit tenang!", ia telah menyapukan matanya ke seluruh ruangan. Namun tetap saja ia tak bisa menangkap sosok yang ia cari, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersiap-siap pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2