
"Sayang,,, kau sudah bangun?!", sesaat ia menoleh ke belakang untuk melihat rombongannya yang tertinggal cukup jauh. Aktingnya kali ini harus terlihat senatural mungkin. Memangnya hanya putranya saja yang bisa berakting, mamanya ini juga bisa! Nyonya Harris membusungkan dadanya sembari menunjukkan kemampuannya. Sebagai orang tua, ia harus menyelamatkan wajah putranya itu di depan semua orang. Sehingga ketika mereka semua masuk, Louis dan Krystal sudah bisa merapikan diri mereka.
"Mama!", seru Louis dan Krystal bersamaan dengan wajah yang sama terkejutnya setelah mendengar suara yang mereka kenal.
Bola mata mereka melirik ke bawah, memandangi pakaian Krystal yang sudah berantakan akibat ulah Louis tentunya. Lalu keduanya pun sama-sama menahan nafas kebingungan.
***
"Ayo, Suamiku! Apakah karena bertambah umur, kecepatan berjalanmu juga jadi berkurang?!", kemudian Nyonya Harris membalikkan tubuhnya seperti tidak pernah melihat apa-apa. Ia mengulurkan tangannya kepada Tuan Harris yang kursi rodanya sedang didorong oleh Sam. Nyonya Harris membenarkan posisi tas yang sedang bergelayutan di lengannya dengan gaya elegan.
Pria paruh baya itu langsung menunjukkan wajah kesalnya. Apakah istrinya itu sudah lupa jika dirinya ini sedang sakit sekarang?! Jangankan berjalan, sekarang saja dia sedang didorong dengan kursi roda. Sebenarnya siapa yang semakin tua di sini?! Sadarlah! Sebenarnya istrinya itu yang sedang tidak sadar dengan umurnya sekarang!
"Dasar pikun!", gumam Tuan Harris kesal namun hanya menampilkan wajah datarnya. Sam yang berada di belakangnya pun hanya bisa menahan senyumannya. Ia merasa jika Nyonya Harris cukup konyol juga. Sama seperti dirinya!
Sarah yang berada di sebelahnya pun mencibirkan bibirnya ke samping. Ia seperti tahu isi pikiran suaminya yang jelas-jelas konyol itu. Ia terus berjalan sambil memeluk lengan ibunya, berdampingan dengan Sandi dan juga Adam. Sedangkan pasangan Ana dan Ken, terlihat yang paling damai di barisan paling belakang. Ana yang sedang hamil itu didampingi dengan hati-hati oleh suaminya yang selalu siap siaga. Pasangan itu selalu terlihat penuh cinta. Kadang membuat iri mereka yang bahkan sudah menikah.
"Kau saja yang terlalu bersemangat!", tegur Tuan Harris ketika sudah berhadapan dengan istrinya itu. Ia mengenakan syal di lehernya untuk menjaga tubuhnya tetap hangat.
"Terima kasih! Sekarang biar aku yang melakukannya!", Nyonya Harris tersenyum kepada Sam lalu mengambil alih kursi roda suaminya itu. Dia yang akan mendorong suaminya memasuki kamar Louis. Tuan Harris hanya menatapnya sekilas. Jika dia bisa berjalan, mungkin dia enggan untuk berjalan berdampingan sekarang.
eherm, eherm, eherm,
"Ayo kita masuk!", ajaknya pada semua orang setelah berdehem agak kencang. Sengaja ia lakukan agar putra dan calon menantunya di dalam segera mempersiapkan diri mereka, karena sebentar lagi semua orang akan masuk ke dalam. Ia berharap semoga mereka yang berada di dalam dapat mengerti isyarat yang ia berikan.
"Ah, syukurlah! Ternyata kau sudah siuman, Sayang!", ucapnya lagi setelah masuk ke dalam ruangan itu.
Nyonya Harris merasa lega karena Louis dan Krystal sudah merapikan diri mereka dari adegan panas yang sempat ia lihat tadi. Meskipun masih tersisa rasa canggung dari keduanya. Paling tidak ia sudah mengulur waktu untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan wajah putranya itu. Kemeja yang dikenakan Krystal sudah terlihat rapi saat ini.
Louis masih duduk bersandar di tempat tidur pesakitannya. Sedangkan Krystal berdiri di sampingnya dengan wajah canggung yang tak bisa ia sembunyikan. Wanita itu sampai bingung ketika melihat Louis yang sudah bisa memamerkan mimik wajah seperti biasanya itu. Seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka barusan.
Huh! Daripada kesal melihat wajah Louis itu, lebih baik ia pergi keluar sebentar. Karena jujur saja, dadanya masih berdebar hebat, sekujur tubuhnya juga masih sedikit gemetar menyisahkan gelenyar yang Louis lakukan tadi padanya. Ia merasa harus menenangkan diri sejenak.
"Iya, Ma! Louis baru saja siuman! Aku akan memanggil dokter untuk memeriksanya!", lantas ia buru-buru pergi setelah menyunggingkan senyuman ke arah Nyonya dan Tuan Harris yang baru saja datang. Untuk yang lainnya ia sedikit acuh, karena fokusnya sudah tertuju ke arah luar pintu.
Ketika Adam yang sebagi kakaknya pun menghela nafas karena tidak disapa. Maka mata jeli Ana menangkap sesuatu dari sepupunya itu. Ana yang masih merangkul lengan suaminya itu menatap tajam ke arah punggung Krystal yang kemudian menghilang. Dan untuk suaminya itu, Ken hanya menampilkan wajah datarnya saja.
***
Adam dan Sam mengantar dokter dan perawat yang baru saja memeriksa keadaan Louis sampai ke pintu. Nyonya Harris mendudukkan dirinya di pinggir ranjang di samping putranya. Sedangkan Tuan Harris memilih untuk berbincang ringan dengan Ken. Pamor dari Presdir Ken yang terhormat itu, sudah terdengar sampai ke negara tempat mereka berada saat ini. Memang benar, karena saat ini Ken sedang mengembangkan perusahaannya di negara tersebut. Sesama pelaku dunia bisnis tentu saja antara dirinya dan juga Tuan Harris saling mengenal meskipun hanya sekedar menyapa saja.
"Kau harus makan yang banyak!", ucap Nyonya Harris sambil memasukkan satu sendok penuh makanan ke dalam mulut putranya. Tadi,, dokter yang memeriksanya datang bersama perawat yang mengirimkan menu sarapan untuknya.
Dokter menyatakan jika kondisi Louis sudah mulai membaik. Lelaki itu membutuhkan asupan makanan dan cairan yang cukup untuk tubuhnya. Jadi masalah dehidrasi yang dialaminya bisa pulih perlahan. Yang jelas jangan sampai laki-laki itu mengesampingkan jadwal makannya. Dokter berpesan agar Louis lebih memperhatikan tubuhnya sekarang.
"Mama!", pria itu ingin protes karena makanan yang masuk ke mulutnya terlalu banyak. Ia pun hampir tersedak karenanya.
"Biar aku saja, Ma!", Krystal melepaskan pelukan tangannya ke lengan Ibu Asih. Ia tidak tega melihat kekasihnya di siksa oleh ibunya sendiri. Memang benar jika Nyonya Harris begitu menyayangi putranya itu, tapi kasih sayang yang diberikan terlalu berlebihan sama seperti suapan makanan yang dimasukkan ke dalam mulut putranya sendiri.
"Baiklah!", Nyonya Harris dengan senang hati menyerahkan nampan piring berisi makanan itu ke tangan calon menantunya. Ia lalu berdiri berdampingan dengan Ibu Asih bersama denga Ana dan juga Sarah.
__ADS_1
"Baru kali ini aku melihat wanita manja itu mau mengurus orang lain!", bisik Ana pelan pada Sarah, menyindir sepupunya itu.
Para lelaki duduk berkumpul di sofa dengan segala perbincangan bisnis mereka. Sedangkan Sandi yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa memasang telinga untuk menyimak ucapan yang lainnya. Ia menganggap ini sebagai kuliah singkatnya. Suatu saat nanti ia juga ingin sukses seperti orang-orang hebat yang berada di hadapannya itu.
"Benarkah?!", Sarah mengernyitkan alisnya. Tapi ia cukup percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Mengenal Krystal selama beberapa waktu ini, ia juga tahu bagaiamana sifat wanita itu. Apalagi ia sempat satu bulan tinggal bersama, ia juga tahu jika wanita itu suka memerintah. Sarah pun menganggukkan kepalanya kemudian.
"Kau perhatian sekali pada Louis, Sayang!", Nyonya Harris tersenyum ke arah Krystal lalu ke arah Ibu Asih bergantian. Ia sangat senang karena putranya kini ada yang memperhatikan. Ibu Asih pun membalas dengan senyuman yang sama. Ia juga senang melihat Krystal yang bahagia dan tidak murung lagi seperti beberapa hari belakangan ini.
Mendengar hal itu, Krystal pun jadi tersenyum malu. Tapi tangannya masih terus menyuapi makanan ke dalam mulut kekasihnya itu. Sedangkan Louis yang juga mendengar bisikan Ana, ia tersenyum senang. Karena memang benar apa yang diucapkan oleh ibu hamil itu. Krystal yang dulu manja memang berubah menjadi lebih baik perlahan. Ia mengenal kekasihnya itu sudah bertahun-tahun lama, maka dari itu ia semakin tidak sabar untuk menikahi wanita ini.
"Ayo makan! Sampai kapan kau akan tersenyum terus!", ujar Krystal malu-malu sambil menyodorkan sesendok makanan ke mulut Louis.
"Baiklah! Aku akan makan karena kau yang menyuapi aku!", jawab lelaki itu sebelum melahap makanan yang sudah berada di dekat mulutnya. Ia memandangi Krystal dengan senyuman yang begitu menggoda. Melihat wajah kekasihnya yang masih merona, rasanya dia juga ingin melahap wanita itu sekalian. Meneruskan yang tadi tertunda.
"Lihatlah, anak muda ini! Aku sepertinya tidak mendidiknya untuk menjadi seorang perayu!", Nyonya Harris terkekeh seraya berbicara pada Ibu Asih.
"Nyonya, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya saja!", ajak Ibu Asih kepada wanita paruh baya itu. Ia sudah cukup melihat Krystal yang sudah bisa tersenyum seperti itu. Bagaimana pun, ia telah menganggap Krystal seperti putrinya sendiri. Ia akan bahagia ketika melihat putrinya juga bahagia.
"Ayo!", jawab Nyonya Harris sedetik enggan. Rasanya ia masih ingin melihat kemesraan anak muda itu. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti jejak langkah Ibu Asih ke arah sofa untuk berkumpul dengan yang lainnya.
Putra semata wayangnya itu tidak pernah membawa satu wanita pun ke rumahnya. Tuan dan Nyonya Harris sempat berpikir jika putranya itu tidak punya keinginan sama sekali terhadap wanita. Dan hanya karirnya saja di dunia hiburan yang dia pikirkan. Bahkan tidak memikirkan masalah keluarga dan perusahaan. Mereka sebagai orang tua tidak tahu bahwa Krystal adalah penyebab dari semua itu.
Maka, ketika mereka mendengar kabar bahwa putranya itu memiliki kekasih. Bukan perasaan kesal, marah atau kecewa. Melainkan senangnya bukan main yang mereka rasakan saat ini. Akhirnya putra kesayangan mereka itu mulai memikirkan masa depan. Itu mereka ketahui setelah mendengar banyak cerita dari Ana dan yang lainnya. Dan mereka lebih ternganga lagi ketika tahu bahwa putranya itu begitu hebat karena bisa begitu lama bertahan hanya mencintai satu wanita saja, meskipun perasaannya belum terbalaskan hingga beberapa waktu lalu. Ia merasa bangga pada putranya itu.
"Sudah cukup! Aku kenyang!", Louis mendorong sendok nasi yang disodorkan ke mulutnya. Ia merasa perutnya sudah terisi penuh. Sudah mual, sudah tidak sanggup lambungnya memproses makanan lagi.
"Baiklah!", Krystal pun menarik tangannya. Ia meletakkan piring yang makanannya sudah habis separuhnya itu ke atas nakas di samping ranjang. Lalu ia ambilkan segelas air putih untuk Louis.
"Ya!", jawab Sarah yang semestinya merasa agak terkejut. Ia tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh ibu hamil itu.
"Apakah kau ingat kapan Louis diperbolehkan keluar dari rumah sakit?", tanya Ana dengan wajah acuhnya. Wanita hamil itu bahkan melipat tangannya di depan dada. Louis pun menanti sambil melirik ke arah wanita itu.
"Kalau tidak salah besok pagi dia sudah boleh pulang jika kondisinya sudah benar-benar membaik!", jawab Sarah setelah berpikir sambil memegangi dagunya.
"Tidak, sepertinya dokter itu salah!", seru Ana masih mempertahankan wajah acuhnya. Tapi pernyataannya itu langsung menyita perhatian orang di sekitarnya. Walau hanya Sarah yang menoleh kepadanya. Krystal dan Louis yang masih di posisi yang sama pun sebenarnya sudah sangat menanti ucapan apa yang akan keluar dari mulut ibu hamil itu. Sebenarnya mereka hanya sedang berwaspada saja. Karena memang ibu hamil itu selalu tak terduga.
"Sebenarnya dia sudah bisa pulang sekarang! Sepertinya dia sudah sehat karena sudah bisa memberikan tanda pada leher seseorang!", ujar Ana lalu seraya menghunuskan pandangan tajamnya kepada Louis maupun Krystal. Sarah yang berada di sampingnya pun segera tertawa tatkala menyadari maksud ucapan kakak iparnya itu. Ya, Ana memang sudah menjadi kakak iparnya sekarang, kan!
uhukk,, uhukk,, uhukk,,
"Pelan-pelan!", Krystal membantu Louis yang langsung tersedak saat dia sedang menghabiskan air putih yang kekasihnya itu berikan. Ia menepuk-nepuk punggung pria itu beberapa kali.
Sambil menundukkan kepala, mereka sebenarnya sedang saling berpandangan. Wajah Louis dan Krystal sama kakunya saat ini. Mereka seperti baru saja tertangkap basah. Bola mata mereka bergerak ke arah bawah secara bersamaan. Dan Louis yang dari arah berlawanan dapat melihat sebuah tanda merah yang sangat dekat dengan kerah kemeja. Seharusnya itu tidak terlihat, karena sedikit tertutup oleh kerah yang Krystal ketatkan. Tapi dasar wanita hamil itu, bisa-bisanya ia masih bisa melihat hal yang samar seperti ini.
Melihat wajah Louis yang menyesal, rasanya Krystal benar-benar ingin memukul orang itu. Dia jadi sangat malu sekarang. Sudah lagi mulut dua wanita itu sangat tajam. Pasti setelah ini dia tidak akan dilepaskan begitu saja. Dirinya pasti akan diledek habis-habisan oleh Ana dan Sarah.
"Ayo Sarah, temani aku mencari udara di luar! Sepertinya aku telah membuat dua orang kesusahan bernafas!", ajak Ana yang sudah berjalan lebih dahulu. Ia tak memandang dua sejoli itu sama sekali.
"Baiklah!", jawab Sarah dengan cepat. Ia masih menutup mulutnya yang tertawa sambil memandangi dua orang yang masih terlihat kaku itu. Ia pun menyusul langkah Ana di belakang.
__ADS_1
Hey! Krystal dan Louis langsung melihat ke arah Ana dengan tatapan kesal. Ya! Mereka memang kehabisan oksigen gara-gara ucapan Ana itu. Tapi bukankah seharusnya mereka yang pergi keluar untuk mencari udara segar?! Lalu kenapa Ana yang pergi?! Siapa yang butuh udara segar di sini! Kepala mereka langsung berdenyut dengan ulah ibu hamil yang selalu mengesalkan itu. Dan terutama mereka selalu tak berdaya karenanya, mereka tidak bisa melawan ibu hamil itu.
"Ini semua gara-gara kau!", Krystal lalu memberikan pukulan yang agak keras pada punggung pria itu. Ia masih sangat malu sekarang. Ia pikir tidak akan ketahuan! Tapi malahan wanita hamil itu yang mendapatinya. Huh! Sungguh sial! Walaupun ia kesal, tapi wajahnya masih merona lantaran mengingat adegan panasnya tadi dengan Louis.
"Auuww! Sakit, Sayang! Bagaimana pun juga aku ini masih seorang pasien!", keluh Louis sambil memegangi punggungnya. Ia berpura-pura merasakan nyeri, padahal pukulan Krystal tidak sakit sama sekali. Semua rasa sakitnya hilang hanya dengan melihat wajah wanita itu dari dekat seperti ini.
"Yang Ana katakan memang benar! Sepertinya kau sudah sembuh, dan kau bisa pulang sekarang!", sahut Krystal ketus seraya meletakkan gelas kosong itu ke atas nakas.
"Mau kemana?", tanya Ken lembut pada Ana yang memandang ke arahnya. Pria itu tidak bangun dari tempat duduknya, tapi begitu khawatir langsung wajahnya. Ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan istrinya itu setiap kali tidak berada di dalam jangkauannya. Ken ingin menghampiri istrinya itu, namun saat ini ia masih terlibat perbincangan serius dengan Tuan Harris dan yang lainnya.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar dengan Sarah. Hanya sebentar saja, janji!", Ana menggunakan senyum termanisnya untuk mendapatkan izin dari suaminya itu. Ia juga mengacungkan jari kelingkingnya sebagai bentuk ikrarnya kepada suaminya yang protektif itu.
"Baiklah! Aku akan menyusul nanti", Ken pun hanya bisa mendesah tak berdaya. Kemauan ibu hamil itu memang tidak dapat dicegah. Dan akan memastikan sendiri keadaan istrinya itu nanti. Untuk saat ini ia memang tidak bisa meninggalkan obrolan serius ini.
"Aku akan ikut dengan kalian! Ada sesuatu juga yang harus aku bicarakan dengan dokter!", ucap Nyonya Harris tiba-tiba setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tuan Harris memperhatikan wajah istrinya yang terlihat misterius itu. Sebaiknya akan ia tanyakan nanti di rumah saja.
"Baiklah! Ayo Nyonya!", Ana, Sarah dan juga Nyonya Harris pun keluar dari kamar rawat itu.
***
Ketiganya berjalan cukup jauh dari kamar rawat Louis. Ana memang berniat berjalan ke arah taman, untuk menghirup udara segar yang tidak bau desinfektan sama sekali. Hidungnya terasa tidak nyaman. Tapi ia merasa aneh karena Nyonya Harris terus saja berjalan bersama mereka. Padahal tadi ia mengatakan akan pergi menemui dokter.
Baru saja ia akan bertanya, baru saja Ana akan membuka mulutnya. Seorang wanita muda datang mendekat ke arah mereka. Dan langsung menyapa Nyonya Harris dengan begitu akrabnya.
"Tante, dimana Kak Louis! Aku ingin menemuinya. Tante tahu, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Kak Louis begitu mengetahui Kakak masuk rumah sakit dari orang rumah Tante!", wanita muda itu langsung berbicara tanpa cela setelah melepaskan pelukannya dengan Nyonya Harris.
"Ana, Sarah, sebentar aku tinggal dulu, ya!", tapi Nyonya Harris langsung berbicara kepada mereka untuk berpamitan. Wajah wanita paruh baya itu terlihat kaku dan canggung. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Iya, tidak apa-apa, Nyonya!", jawab Ana yang disusul dengan anggukan dari Sarah.
"Ayo, ikut Tante sebentar!", tangan Nyonya Harris sudah menarik wanita muda itu untuk mengikuti jejak langkahnya yang semakin menjauh.
"Tapi, Tante! Dimana ruangan Kak Louis? Aku ingin menemuinya!", wanita muda itu memegangi tangannya dan ikut terseret langkah Nyonya Harris begitu saja. Sesekali ia memandangi wajah Ana dan Sarah yang terasa asing baginya.
"Ana!", seru Sarah yang sama-sama memandangi kepergian dua orang itu dalam diam.
"Aku sedang tidak ingin ikut campur urusan orang lain! Nanti kita pasti akan tahu sendiri apa masalahnya!", ucap Ana sambil berlalu begitu saja.
Sarah meringis memandangi kakak iparnya itu. Memangnya dia akan bertanya apa?! Padahal ia akan bertanya mereka akan meneruskan langkah mereka menuju taman, atau kembali ke kamar Louis saja. Sebenarnya memang sahabat sekaligus kakak iparnya ini yang suka terlibat dengan urusan orang lain. Bukankah begitu?!
Melihat arahnya, sepertinya ibu hamil itu memutuskan untuk tetap pergi ke taman. Ia pun mau tidak mau mengikutinya. Sebagai adik ipar yang baik, ia tentu harus menjaga wanita hamil ini, bukan?! Sebab ia tidak ingin berurusan dengan kakak ipar lelakinya yang seram itu.
Melihat ke belakang, sebenarnya ia juga penasaran akan hubungan Nyonya Harris dengan wanita muda tadi. Sepertinya ada yang mencurigakan.
-
tadinya aku mau buat 3 bab, karena udh lama aku ga update,, tapi sayangnya mata aku udh ga mendukung lagi buat lanjutin nulis malam ini,, uuppss ini udh hampir pagi malahan 🤠jadi lanjut besok lagi ya teman-teman 😊 jangan khawatir,, bab ini aku buat 2700 kata lebih kok untuk memuaskan kalian semua
Selamat membaca teman-teman 😊
__ADS_1
terima kasih ya selalu dukung tulisan-tulisan aku 😘
keep strong and healthy ya semuanya 🥰