Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 71


__ADS_3

"Lepas!", ucap Sam dengan wajah seramnya. Ia melepas paksa tangan Sarah yang sedang memegang lengan Louis.


"Bbukk!", Sarah mendaratkan satu pukulan keras pada bahu Sam. Tentu saja hal itu membuat Sam mengaduh kesakitan.


Ken dan Ana nampak tenang duduk saling bersebrangan tanpa membuat suara sedikit pun. Sejenak Ken menatap Ana yang sedang tertunduk, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.


Ana menunduk, ia menahan air matanya, ia kembali teringat saat Ken tadi pergi meninggalkannya dengan amarah yang membuncah. Kemudian ia mengumpulkan keberaniannya untuk menaikkan kepalanya dan menatap ke arah Ken. Namun air matanya seolah memiliki jalannya sendiri untuk mengalir begitu saja saat mendapati Ken sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dengan cepat, ia menyeka air mata itu sebelum ada yang melihatnya menangis lagi. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada tiga orang yang sedang berdiri di sebelahnya.


Terlambat, dari sudut matanya Ken sudah menangkap gerakan Ana yang sedang menghapus air mata. Rasa penyesalan tiba-tiba hadir dalam hatinya. Akhirnya ia membuat wanita yang dicintainya menangis. Pandangan mata Ken berubah sendu sambil menatap ke arah Ana. Ia terus memaku tatapannya ke arah Ana tanpa membuka suara sedikit pun.


"Kau ini wanita atau apa? Kenapa kau galak sekali sih seperti kakak ipar?!", ucap Sam sambil mengelus bahunya yang sakit.


Ana dan Sarah melempar tatapan tajamnya pada Sam. Ana bangkit dari duduknya. Sam terlihat panik, ia merutuki dirinya yang sudah salah berucap. Lagi-lagi ia mencari masalah dengan singa betina kakaknya itu.


Sarah juga merasa panik pada apa yang akan Ana lakukan kepada Sam. Bibirnya mencibir ke arah Sam yang mulai meringkuk ngeri.


"Dasar bodoh! Memang tidak ada kapoknya! Rasakan sendiri akibatnya", ucap Sarah dalam hati.


"Haahh!", Ana menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian ia melangkah mendekat ke arah jendela kaca tembus pandang yang dapat mempermudah dirinya mengawasi ayahnya dari luar ruangan.


Sam juga merasa lega setelah ternyata Ana tak memberinya hukuman apa pun. Tapi ia tak luput dari cibiran Sarah.


"Lain kali sebelum bicara, gunakan dulu otakmu!", peringatan dari Sarah dengan wajah garangnya.


Bukannya takut dan sebagainya, Sam malah tersenyum lebar. Ia merasa senang karena ia berpikir bahwa Sarah mengkhawatirkannya saat ini.


"Apa kau gila, hah!", tegur Sarah kesal dengan Sam yang malah menyeringai. Kemudian ia melangkah meninggalkan Sam dan Louis yang berdiri dengan ekspresi yang sama. Kedua pria itu sama-sama tersenyum namun dengan pemikiran masing-masing. Sarah mendekat ke arah Ana.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?", tanya Sam tak ramah pada Louis.


"Aku tersenyum bukan tertawa", sahut Louis sambil berusaha menahan tawanya.


"Baiklah, jangan tersenyum! Apalagi tersenyum pada wanitaku", perintah Sam tegas.


"Memangnya siapa kau mengatakan dia wanitamu! Bahkan sepertinya dia tidak menganggapmu sedikit pun. Apakah kau tau, dia mengatakan bahwa dia itu fans beratku. Berarti dia menyukaiku bukan?!", Louis sengaja menggoda Sam untuk melihat reaksinya.


"Hentikan omong kosongmu!", Sam menggeram marah. Ia mulai terpancing emosinya.


"Tenang saja, kawan! Berjuanglah, nasib kita sama dengan wanita berbeda tentunya", Louis menepuk bahu Sam santai sambil terkekeh ringan. Ia puas telah memancing emosi Sam yang berarti bahwa Sam memang benar-benar menyukai wanita itu. Lalu ia berjalan menuju Ana dan Sarah.


Antara masih marah dan kebingungan, Sam mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh Louis. Sam memutuskan untuk duduk di sebelah Ken dengan tatapan waspada pada mereka.


Ana menyentuh kaca bening itu dengan tangan gemetar. Ia harus segera memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Pikirannya berkecamuk saat ini. Bukan karena memikirkan kemarahan Ken, tapi lebih karena memang benar apa yang diucapkannya. Tapi bagaimana cara agar ia bisa melawan hati nuraninya yang masih mengasihani paman dan anaknya itu. Ana menahan dengan sekuat tenaga agar ia tak menangis lagi. Karena ia sudah berjanji pada dirinya untuk kuat.


"Aku akan membantumu, Ana!", pecah sudah ribut di benak Ana oleh suara Louis.


"Aku akan membantu membujuk Krystal agar menghentikan semua rencana papanya", jelas Louis tenang.


"Mendapatkan hatinya saja kau tidak bisa, apalagi berbicara masalah seperti ini. Terima kasih, Lou. Tapi kau tidak perlu bertindak sejauh itu. Aku yakin semuanya hanya akan sia-sia. Jangan buang tenaga dan energimu yang berharga untuk hal ini. Biar aku saja yang mengurusnya. Kau tau sendiri bukan bagaimana ia jika sudah mempunyai keinginan?!", ucap Ana menolak Louis dengan hati-hati. Mereka berdua sama-sama mengenal bagaimana Krystal jika sudah mempunyai suatu keinginan. Ia tak akan goyah dan tak akan melepaskan keinginannya begitu saja. Maka dari itu menurut Ana, ada baiknya jika Louis tidak terlibat.


"Baiklah jika itu keinginanmu!", ucap Louis seraya menghela nafas panjang.


"Kau harus terus bersemangat, Ana! Jika kau memerlukan bantuan, segera hubungi aku!", ucapnya tulus. Ia menarik satu tangan Ana dan menggenggamnya erat. Louis melakukannya tanpa maksud lain dan semata-mata hanya karena ia ingin memberi semangat pada temannya itu. Dan Ana pun menanggapinya dengan hal yang sama. Mereka sudah terbiasa seperti itu, karena dulu Ana dan Louis memang cukup dekat sebagai teman.


Dan sontak saja gerakan itu mendapat tatapan tajam dari Ken. Aura dingin dan wajah suram telah terpampang pada dirinya. Kali ini Sam terkekeh pelan, ia merasa senang karena bukan hanya dirinya yang dibuat kesal. Tentu saja Ken juga mengetahui Sam sedang menertawakannya. Ia menoleh secara tiba-tiba ke arah Sam dengan tatapan tajam yang siap mengoyak tubuh adiknya itu. Sam langsung meringkuk ngeri sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, memberi isyarat bahwa dirinya sedang memohon ampun pada kakaknya yang akan mengamuk.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi!", Louis memeluk Ana sebelum melangkah pergi. Ana ragu untuk membalas pelukan temannya itu saat ia melirik ke arah Ken yang ternyata sedang memasang wajah tak bersahabat.


"Baiklah! Aku juga berharap hubunganmu dengan Krystal ada kemajuan!", ucap Ana buru-buru melepas pelukan Louis. Ia meninggikan suaranya agar Ken dan Sam yang berada di situ tidak salah paham terhadapnya maupun terhadap Louis.


"Berdoalah Ana, sampai mulutmu lelah!", Louis terkekeh mendengar penuturan Ana yang menurutnya tak masuk akal. Rasanya mustahil untuk Louis apabila Krystal sampai menaruh hati padanya.


"Kenapa tidak!", timpal Ana dengan kekehannya.


"Jangan lupa hubungi aku, oke!", Louis memperagakan tangannya di samping telinga seperti sedang menelepon ke arah Ana. Ia melangkah pergi, tapi sebelumnya ia mendekat ke arah Ken dan Sam yang masih duduk dengan tatapan dingin padanya.


"Terima kasih Tuan, telah hadir dalam hidup Ana. Aku tau kau sangat marah padaku saat ini! Hehe, tapi tenang saja, aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada wanitamu. Kami hanya berteman dekat sejak lama. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Jadi jangan mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak. Dan yang perlu anda ingat, anda adalah pria pertama yang ia serahkan hatinya untuk ia jaga", Louis berucap dengan tenang.


Ken tak melepaskan tatapan awasnya pada orang yang berdiri di hadapannya. Namun mendengar penuturan Louis, ia sedikit meredakan kobaran api cemburu yang sudah menyala di matanya.


"Salam kenal Presdir Ken, saya Louis Harris, aktor nomor satu di negara ini!", Louis tersenyum seraya mengulurkan tangannya ke arah Ken.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


jangan lupa untuk like, vote dan komentarnya ya 😉


terima kasih untuk semua dukungannya selama ini 😊😘


__ADS_2