
"Kau,,,?", tangan Krystal menunjuk ke arah Sarah dengan wajah penuh tanda tanya. Melihat mata Sarah yang sembab khas seperti orang yang baru saja menangis, Krystal makin mengerutkan alisnya dalam. Lalu telunjuknya bergerak ke arah Sarah dan Sam secara bergantian dengan tanda tanya besar si wajahnya.
"Lepaskan, Megan!", Sam menyentak tubuh Megan dengan kasar hingga ia pun terbebas akhirnya.
"Kenapa Tuan kasar sekali dengan Megan?", wanita itu berucap dengan sangat manja dan tangannya sudah terulur akan memeluk Sam lagi.
Krystal melihat hal itu tidak tahan untuk mengumpat dalam hati. Wajahnya pun sudah jelek mencibir wanita itu berulang kali. Sedangkan Sarah, wanita itu sedikit demi sedikit kakinya bergerak menjauh, memberi jarak dengan ranjang itu. Hingga akhirnya tubuhnya berbenturan dengan tubuh Krystal. Ia sudah khawatir bahwa aktris ternama itu akan marah, tapi yang tak disangka adalah wanita itu malahan menggenggam tangan Sarah dengan begitu eratnya. Seperti menyalurkan energi agar Sarah tetap kuat.
Sebenarnya Krystal sedang menerka-nerka situasi canggung apa yang terjadi antara bosnya dengan temannya Ana ini. Tapi dilihat dari mata sembab yang Sara miliki, Krystal sangat yakin jika ini tak lain hanyalah masalah percintaan saja. Tapi sejak kapan, bosnya itu tertarik dengan wanita biasa seperti ini. Krystal jadi bertanya-tanya akan hal itu. Pasalnya dilihat dari apa yang Sarah gunakan, jelas semuanya bukanlah barang-barang bermerek. Dan jelas sekali Sarah hanyalah dari kalangan orang biasa. Krystal makin penasaran dengan hubungan di antara keduanya.
"Luka di perutku bisa tambah jika kau terus memelukku seperti itu?!", bentak Sam pada Megan. Ia terus memperhatikan Sarah yang tertunduk dengan wajah bersedih. Wanita itu pasti makin marah padanya saat ini. Rasanya Sam ingin sekali menendang Megan lalu menarik Sarah ke dalam pelukannya sekarang juga. Tapi mau bagaimana, tubuhnya masih sangat lemah saat ini. Lagi-lagi Sam harus merasa tak berdaya menghadapi rumitnya situasi.
"Tuan, Megan jadi sedih jika Tuan marah-marah pada Megan begini!", wanita itu tak mau menyerah dengan sikap manjanya. Ia malahan menaruh kepalanya untuk bersandar pada dada milik Sam. Dan ia menoleh dengan sengaja ke arah Krystal maupun Sarah, sedikit menyeringai penuh kemenangan.
"Perut Tuan terluka?! Bagaimana bisa?!", wajahnya pura-pura khawatir lalu tangannya meraba-raba di sekitar luka di perut Sam.
"Apa?,,, Jangan-jangan karena wanita ini Tuan jadi terluka begini?!", Megan memutar tubuhnya lalu memandang Sarah dengan tatapan menuduh.
"Hmmh,,, dasar pembawa sial!", hardiknya lalu berbalik dan bersikap manja lagi kepada Sam.
Perkataan itu, ucapan itu, jelas saja menghujam jantung dan hati Sarah hingga ke tempat yang paling dalam. Situasi ini benar-benar mengorek luka lama, trauma besar yang ia sembunyikan sejak dulu. Sarah mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan tubuhnya yang mula bergetar hebat. Nafasnya sudah pendek-pendek menahan tangisnya yang akan pecah.
Sam melihat hal itu buru-buru membentak Megan dengan begitu kasarnya.
"Tutup mulutmu, Megan!", sambil mendorong wanita itu menjauh dari tubuhnya.
"Tapi Tuan,,, benar apa yang Megan katakan, bukan! Wanita ini hanya membawa sial untuk Tuan!", Sam tidak pernah menampilkan wajah sangarnya seperti sekarang ini. Ini khusus untuk Sarah, demi Sarah ia sangat marah. Benar-benar marah atas ucapan wanita yang berada di hadapannya.
"Diam!", bentak Sam dengan suara yang menggelegar. Matanya membulat sempurna dan terlihat sedikit memerah. Begitu pula dengan wajahnya yang sudah tidak ada aura keramahan Sam sama sekali. Ini bukanlah Sam yang seperti biasanya. Baik Megan maupun Krystal tersentak melihat pemandangan ini. Sam yang biasanya ramah kini berubah menjadi Sam yang begitu menyeramkan dan mendominasi. Dan Krystal paham betul, jika lelaki sudah seperti ini, maka masalah pentingnya sudah diusik.
Sarah sudah tidak tahan dengan semua ini. Bahkan ia tak kuat untuk mendengar perdebatan yang terjadi antara Sam dan juga Megan. Tangannya berusaha menutup telinganya, dengan pandangan yang kosong kepalanya menggeleng seakan ia mulai terjebak ke dalam situasi yang sama beberapa tahun lalu lagi.
Krystal sedikit panik melihat perubahan Sarah. Akhirnya ia memilih tindakan impulsif dengan menarik Sara keluar dari ruangan itu.
"Saya pamit, Tuan! Sepertinya tidak sopan ikut campur dalam permasalahan sepasang kekasih!", jelas Krystal menyindir keduanya. Ia juga tak segan-segan menampakkan wajah jijik dan mencibirnya. Ia menjadi kesal, sangat kesal malahan. Bagaimana bisa mereka membiarkan ada seseorang yang terlihat sangat terluka seperti Sarah sekarang ini. Ia lalu berjalan cepat sambil menarik tangan Sarah di belakangnya.
Pintu dibuka, bertepatan dengan itu juga mereka berpapasan dengan Ken dan juga Ana. Pasangan itu nampak bingung dengan Krystal yang sedang menarik tangan Sarah. Dan lagi, pandangan kosong Sarah, matanya yang sembab membuat Ana ingin menggeram marah.
"Bukan aku pelakunya!", Krystal buru-buru membela diri sebelum Ken dan juga Ana salah paham kepada dirinya.
"Tanyakan pada mereka!", perintah Krystal sambil mendengus kesal.
Ana menahan nafasnya sebentar, lalu berubahlah wajah garang singa betina. Tangan Ana di samping tubuhnya sudah mengepal kuat-kuat menatap Sam yang kini sedang bersama wanita. Sungutnya sudah keluar dengan asap yang mengepul tebal di atas kepalanya.
__ADS_1
Semalam begitu pak supir sampai di rumah besar, makan malam keluarga baru saja selesai. Tuan dan Nyonya besar jelas mempertanyakan keberadaan putranya. Lalu dengan tenang pak supir menjelaskan situasinya. Mereka semua menjadi sangat khawatir tentunya. Tapi Ken yang sudah kembali dari kantor sejak tadi pun membuka suara. Hari ini mereka sudah cukup lelah, jadi biarkan saja Sarah yang menjaga Sam di sana. Biar esok pagi mereka barulah pergi untuk melihat keadaan adiknya. Maka Tuan dan Nyonya besar pun menyarankan agar Ken dan juga Ana menginap malam ini. Selain sudah larut, besok pagi mereka jadi bisa pergi ke rumah sakit bersama.
Mereka berangkat bersama, tapi menggunakan mobil terpisah. Ana berkendara bersama Ken, suaminya. Sedangkan Tuan dan Nyonya besar di antar pak supir yang semalam. Maka dari itu, Ken dan Ana sampai lebih dulu karena selama dalam perjalanan Ana terus aja berkata sangat khawatir, jadi Ken terus menambah kecepatannya.
"Sudahlah, sayang! Keadaan Sarah lebih penting saat ini!", bisik Ken berusaha meredam amarah istrinya. Ia juga melihat keadaan Sarah sangat mengkhawatirkan saat ini.
"Sayang lebih baik bawa Sarah agar bisa diberi perawatan! Biar Sam aku yang mengurusnya di sini!", Ken mengusap lembut lengan Ana dari belakang sambil berbisik pelan. Ia harap Ana mau mengikuti sarannya kali ini. Karena jika tidak, maka tamatlah riwayat adiknya itu. Mengingat temperamen buruk istrinya jika sudah marah.
"Urus juga wanita itu!", Ana berbalik untuk menatap tajam suaminya. Memberi perintah yang tak terbantahkan, dan harus segera dijalankan oleh suaminya. Dan Ana tak menerima kasus kegagalan. Karena saat ini Ana sedang benar-benar murka.
"Baiklah, sayang!", Ken menaikkan dagu Ana lalu mengecup bibirnya singkat tanpa tau malu seperti biasanya.
"Tak tau malu!", refleks Ana memukul tangan Ken yang memegang dagunya. Ekor matanya melirik ke arah Krystal yang sedang menatap mereka jengah.
"Presdir Ken ini ternyata memang benar-benar mencintai, Ana. Tapi tidak harus di sini juga kan mereka saling menunjukkan cinta. Tidak tau situasi dan kondisi saja. Sedang genting ini keadaan Sarah!", ucap Krystal seraya menggerutu dalam hatinya.
"Baiklah, aku pergi ya! Kabari aku jika akan berangkat ke kantor, okeh!", sebenarnya Ana juga ingin memberi satu ciuman singkat si bibir prianya. Tapi rasanya Ana masih tau situasi dan lebih memilih untuk mengelus sayang salah satu pipi suaminya.
Lalu keduanya menuju arah berlawanan. Pancaran kasih sayang di mata mereka pun menghilang, tinggallah tatapan dingin penuh dominasi di antara keduanya. Jika Ana melangkah keluar bersama Krystal dan juga Sarah. Maka Ken menuju ke dalam ke arah ranjang adiknya.
***
Ana menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat Krystal hampir saja menubruk tubuhnya. Lalu dengan kesal ia mengumpat Ana karena hampir terjungkal dibuatnya.
"Tapi,,, dia temanku! Aku jadi tidak enak dengannya jika begini!", ucap Ana ragu tidak bermaksud menyinggung perasaan Krystal saat ini.
"Baiklah, sekarang dia juga temanku! Apa begini baru bisa?", ucap Krystal spontan namun jadi terdengar penuh dengan ketulusan.
"Baiklah!", Ana tersenyum senang lalu kembali melanjutkan langkahnya. Begitupun dengan Krystal yang mulai melangkahkan kakinya.
"Tapi,,,, ", Ana kembali berhenti mendadak.
"Hisshh!", Krystal juga kembali harus menjaga keseimbangannya beserta Sarah yang masih setia ia pegang.
"Ada apa lagi?", tanya Krystal setengah kesal.
"Apa kau tidak ada jadwal? Kau mungkin bisa terlambat jika terus mengikuti kami", tanya Ana lagi kali ini wajahnya lebih tidak nyaman lagi.
"Huh! Kupikir apa? Sudah tenang saja! Aku kenal fotografer kali ini. Dia begitu baik padaku, aku hanya tinggal memberi beberapa alasan saja untuk menundanya", jawab Krystal dengan tenang.
"Sudah, jangan banyak bertanya lagi! Keadaan temanmu jauh lebih penting sekarang", Krystal meyakinkan Ana tentang bagaimana situasinya saat ini. Dimana Sarah yang terus aja membisu harus segera ditangani.
"Baiklah, ayo!", Ana jadi menggenggam tangan Krystal dan mereka jadi terlihat seperti truk yang saling bergandengan satu sama lainnya. Krystal tak peduli tatapan aneh semua orang dimana mereka melihat tiga wanita yang saling bergandengan seperti ini, ia malahan terharu dengan perubahan hubungannya dengan Ana yang makin membaik seperti sekarang ini. Buru-buru Krystal menyeka air mata yang sudah merembes di pelupuk matanya.
__ADS_1
***
Sarah akhirnya ditangani oleh bagia ian psikologi. Ibu dan adiknya, Sandi juga sudah dihubungi dan sedang dalam perjalanan ke sini. Krystal dan juga Ana duduk berdampingan di kursi tunggu di lorong rumah sakit itu. Mereka menunggu Sarah yang sedang diperiksa di dalam.
Wajah Ana tak bisa menutupi rasa kekhawatirannya saat ini. Sepertinya ada hal serius yang Sarah sembunyikan darinya selama ini. Entah apa itu tapi rasanya sangat serius seperti bahkan sahabatnya itu enggan untuk mengingatnya. Krystal yang melihat hal itu pun bergerak untuk menggenggam tangan Ana. Menyalurkan energi positif agar sepupunya itu bisa menjadi sedikit tenang.
Ana masih jelas mengingat bagaimana ekspresi Sarah tadi saat bertemu dengannya. Apalagi Krystal yang melihat jelas bagaimana awal dari perubahan ekspresi wanita itu. Seperti ada yang tertahan di dalam hatinya. Sangat kuat ia sembunyikan hingga saat terkuak kembali jiwa raganya seperti akan terkoyak. Ana menjadi geram kepada adik iparnya setelah mengingat hal ini. Yakinlah, pria itu akan mendapatkan balasan yang setimpal dari dia si singa betina.
Tak lama Ibu Asih dan juga Sandi datang menghampiri mereka. Sebagai keluarganya, jelas kedua orang itu memiliki wajah yang lebih khawatir daripada dirinya. Ibu Asih bahkan sudah menangis saat sampai di sini. Sepertinya ia sudah menguras air matanya sejak dalam perjalanan tadi.
"Ana, bagaimana keadaan Sarah sekarang?", Ana menyambut Ibu Asih untuk duduk di sebelahnya. Sedangkan Sandi memilih untuk tetap berdiri sambil merangkul bahu ibunya dari samping.
"Masih belum tau, Bu. Sarah masih diperiksa di dalam", jawab Ana sopan kepada Ibu Asih. Inilah yang Ibu Asih sukai dari Ana. Meskipun ia merupakan seorang nona muda keluar kaya, tapi wanita muda ini tetap ramah dan mempertahankan sopan santunnya di hadapan orang yang lebih tua. Meskipun derajat mereka juga tak sama, Ana tak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu. Baginya semua orang sama saja, yang membedakan adalah mereka yang beruntung dan tidak beruntung dalam pencapaian materinya. Dan mereka yang bahagia dan mereka yang sengsara dalam menjalani kegiatan sehari-harinya.
"Ibu!", panggil Ana sambil menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Sarah seperti ini, Bu?! Terakhir saat Sarah menelponku dia mengatakan bahwa ada hal yang belum Sarah ceritakan kepada Ana! Apa Ibu tau apa itu? Atau apa hal itu memiliki sangkut paut dengan keadaan Sarah sekarang?", Ana tak tahan untuk memberondong Ibu Asih dengan pertanyaan.
Sejenak Ibu Asih dan juga Sandi saling berpandangan. Wanita paruh baya itu meminta pendapat putra bungsunya untuk mengatakan yang sebenarnya ataupun tidak. Lalu Sandi mengangguk memberi persetujuan kepada ibunya. Toh sebelumnya juga kakaknya itu seperti akan memberi tau Ana semuanya kepada sahabatnya itu. Maka Ibu Asih memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada Sarah sejak kematian ayahnya tempo dulu.
"Jadi begitu?", wajah Ana dan Krystal langsung berubah sendu setelah mendengar penjelasan dari Ibu Asih selaku ibu dari sahabatnya itu.
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
__ADS_1
keep strong and healthy ya π₯°