Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 272


__ADS_3

Tuan Alexander merebut senjata api dari orang yang menjaga Megan di sebelahnya. Tadi,, ia melihat orang itu sedikit lengah. Lalu ia mengarahkan senjata api itu ke arah Ana. Objek yang paling dibenci oleh putrinya.


Hal itu berlangsung begitu cepat, sehingga tak ada yang menyadarinya karena saat itu hampir semua orang tengah tenggelam dengan perasaan mereka masing-masing.


Tapi sayang, sebelum pelatuk itu ditarik, Ben sudah lebih dulu menembak tangan Tuan Alexander sehingga senjata api yang ia pegang terlempar jauh ke lantai. Tuan Alexander mengerang dengan keras merasakan sakit luar biasa saat tangannya diterjang timah panas. Dan darah segar mengucur deras dari sana.


"Papa!", seruan seorang wanita terdengar berasal dari arah pintu.


Ben menyingkir, mempersilahkan wanita paruh baya itu lewat. Tergambar kekhawatiran yang besar di wajah wanita itu. Tadi,, begitu mendengar suara tembakan, ia segera berlari ke arah dalam.


"Mama! Kenapa Mama ada di sini?!", tanya Tuan Alexander kebingungan.


"Mama yang membawa mereka semua ke sini, Pa! Maafkan, Mama!", masih dengan rasa khawatir melihat luka yang di alami oleh suaminya, Nyonya Alexander juga merasa menyesal karena dengan begitu ia sudah mengkhianati suaminya sendiri.


Tadi, tak lama setelah semua orang itu meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba Ken mendapatkan telepon dari nomer yang tidak ia kenal. Dan betapa terkejutnya pria itu saat mengetahui bahwa itu adalah dari Nyonya Alexander


Awalnya Ken merasa curiga, namun setelah Nyonya Alexander menjabarkan alasannya untuk menelepon, barulah Ken bisa percaya. Dari nadanya, Nyonya Alexander terdengar jujur dan bersungguh-sungguh untuk bisa menghentikan aksi suaminya yang menurutnya salah.


Karena sebenarnya Nyonya Alexander sudah mengetahui semua rencana suaminya. Hanya saja suaminya itu sangat sulit untuk dibujuk. Ia sudah mengatakan berkali-kali pada suaminya itu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Karena apa yang putri mereka alami adalah memang kesalahannya sendiri. Tapi Tuan Alexander tidak mau mengerti dan bersikeras untuk membalas dendam.


Maka dari itu Nyonya Alexander berinisiatif menelepon Ken dengan ponsel milik Joice yang kini dipegangnya. Ia memberitahukan dimana posisi suaminya saat ini. Dan dengan begitu, Ken jadi tidak perlu repot-repot lagi. Meskipun sebenarnya ia sendiri sedang menunggu kabar dari orang-orang Ben untuk mengetahui lokasi itu.


"Kau!", Tuan Alexander menggeram marah alu menghempas tangan istrinya dengan kasar hingga wanita itu hampir terjengkang ke belakang.


"Anda tidak apa-apa, Nyonya?", beruntung Sarah berhasil menangkapnya. Ia membantu Nyonya Alexander untuk berdiri lagi.


"Terima kasih! Aku tidak apa-apa!", Nyonya Alexander menyempatkan diri untuk tersenyum pada orang yang telah membantunya.


"Pa, Mama mohon menyerahlah! Hentikan semua ini! Jangan membuat kesalahan lebih jauh lagi, Pa! Ini memang sudah takdirnya harus jadi seperti ini! Apa Papa pikir Mama tidak sakit dan terluka?! Sebagai ibu yang melahirkan dan membesarkannya, tentu Mama sangat sedih dan terpukul melihat keadaan Joice saat ini. Sangat sedih hingga Mama berpikir untuk menggantikan semua rasa sakit yang diderita oleh putri kita. Tapi Pa,, cobalah untuk berpikir jernih, semua yang terjadi pada Joice memang karena kesalahan putri kita sendiri. Kau juga tau jika Joice selalu sangat berambisi sejak dulu. Tolong jangan lagi menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada putri kita!", Nyonya Alexander mendekat.


Ia meraih lengan suaminya itu untuk ia sentuh. Dengan tatapan dan kalimatnya ia berusaha membujuk suaminya itu untuk sadar diri. Dengan ketulusan dan kelembutan yang ia miliki, Nyonya Alexander berusaha menenangkan emosi yang sudah mulai menghambur di sekitar mata suaminya itu untuk tumpah menjadi air mata.


"Mama!", tumpah ruah air segala emosi yang tadi menjadi badai di hatinya. Tuan Alexander merengkuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


Membiarkan penyesalan dan rasa sakit yang kini menjalar dari tangannya yang terluka terus hingga ke dalam hatinya.


"Selamat malam!", beberapa polisi masuk memberi salam beserta hormat pada mereka yang sudah sebelumnya ada di dalam sana.


***


Drama penangkapan Tuan Alexander sudah berakhir. Dengan lapang dada Nyonya Alexander menerima hal ini. Sudah terlanjur, keluarganya kini sudah berantakan. Tapi ia yakin karena suaminya itu sudah menyadari kesalahannya, maka setelah ini keluarga mereka akan berusaha bangkit kembali dan berusaha menyembuhkan Joice yang kejiwaannya terganggu sekarang.

__ADS_1


Ben dan anak buahnya juga memilih pergi karena urusannya untuk melindungi Ana sudah selesai. Urusan yang tersisa tidak lagi penting baginya, karena hanya menyisakan seorang wanita murahan yang tidak tau diri itu. Dan ia yakin, untuk masalah ini, keluarga itu bisa mengatasi hal ini sendiri.


Ana beserta seluruh keluarga tentunya mengucapkan rasa terima kasih mereka. Meskipun Ken enggan, tapi karena paksaan Ana dan juga kedua orang tuanya, maka terpaksa ia mengatakan hal itu dengan berat hati.


Tersisalah Megan Aira yang kini tangannya masih terikat ke belakang dengan mulut tersumpal. Karena orang suruhan Tuan Alexander yang selamat itu juga dibawa oleh polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena terlibat dalam kasus ini.


Sarah melepaskan sumpalan mulut Megan dengan enggan. Dan wanita rubah itu pun merasa sangat senang karena ia mengira dirinya akan dibebaskan setelah ini.


Setelah melalui drama panjang keluarga ini, ia yakin mereka semua lupa dengan masalah yang telah ia perbuat. Lalu setelah dilepaskan, ia akan segera melarikan diri sekencang mungkin dari sini.


"Nona Megan Aira!", lalu semua khayalannya harus buyar lantaran panggilan dan juga senyum dingin yang Sam tunjukan padanya.


"Sekarang giliran kami membuat perhitungan denganmu!". lalu wajah Sam yang biasanya ramah itu menggelap dibarengi dengan rahangnya yang mengeras.


Untuk masalah ini, Ken menyerahkannya pada Sam. Ia beserta menyingkir ke arah sofa yang tadi ditempati oleh Tuan Alexander. Ken membawa Ana ke sana sambil terus menenangkan emosi yang belum benar-benar mereda pada diri istrinya itu. Bagaimana pun juga yang diungkit adalah masalah ayah mertuanya yang telah tiada. Jadi Ken sangat tau bagaimana Ana sakit hati istrinya itu sekarang.


Megan si wanita rubah itu menggigil melihat ekspresi wajah Sam yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia tidak pernah melihat sisi Sam yang semenyeramkan ini. Krisis kini ia rasakan di dalam hidupnya. Bayangannya yang bisa melarikan diri dari sini harus ia sirnakan di dalam benaknya. Karena sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.


Seorang pengawal Sam datang dengan wartawan yang membantu Megan tadi saat di club malam. Pria itu masih diikat sama dengan Megan. Ia dilemparkan hingga jatuh ke lantai dengan keras. Dan sempat memekik kesakitan.


"Apa kau pikir selama ini kami terlalu santai sehingga kau menjadi begitu lancang?!", Sam mengunci tatapannya pada Megan.


Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar sehingga Megan makin merasa tertekan.


"Heh! Omong kosong!", lalu Sam mendadak membuang pandangannya ke arah lain sambil mendengus kesal.


"Megan Aira! Jangan kau pikir aku tidak tau bagaimana kau mendapatkan semua pekerjaanmu! Lalu apa pula tujuanmu yang sebenarnya mendekati diriku. Aku tau semuanya, Megan! Kau mungkin melupakan siapa diriku! Aku yang memegang industri hiburan di negara ini. Apa yang tidak bisa aku ketahui!", meskipun terdengar angkuh, namun itu memang kenyataan yang harus semua orang itu tau.


Membuat Megan Aira tertunduk dan terdiam. Sepertinya ia memang menjadi lupa dan terlena. Karena ia pikir semua pria akan luluh dengan kecantikan dan tubuh menawan yang dimilikinya.


"Dan kau! Kau dengan bodohnya mau mengambil resiko untuk bekerja sama dengan wanita siluman ini!", tatapan Sam begitu mencemooh pada wartawan itu. Hanya demi sebuah kepuasan belaka maka ia menjadi buta.


"Ampuni saya, Tuan! Saya mohon, ampuni saya!", pria itu meratap ke arah kaki Sam.


"Sudah begini baru kau menyadarinya!", Sam menghempaskan kakinya sehingga pria itu menjauh darinya.


"Apa kau tau apa saja kesalahanmu, Megan?!", kini Sam mendekatkan dirinya ke arah wanita rubah itu sambil menatapnya sangat tajam.


"Megan tau kesalahan Megan, Tuan! Megan janji tidak akan mengusik Tuan Sam dan Nona Sarah lagi!", akhirnya runtuh kesombongan wanita rubah itu. Ia jadi ikut bersimpuh ke dekat kaki Sam, hal yang sama yang tadi wartawan itu lakukan.


"Itu hanya sebagian kecil dari kesalahmu, Megan! Kesalahan terbesarmu adalah membuat wanita yang aku cintai terluka. Hingga wanitaku menjadi trauma kembali akibat dari kata-katamu yang sangat keterlaluan. Dan karena itu juga, aku jadi harus terpisah sekian lama dengannya!", Sam memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

__ADS_1


Pria itu menundukkan kepala. Mengingat kejadian di rumah sakit kala itu. Dimana dirinya begitu bodoh dan tak berdaya untuk membela dan tak bisa mengejar Sarahnya. Kenangan pahit itu sungguh membuat hatinya luka. Apalagi setelah itu, aksesnya ditutupi untuk bisa menemukan Sarah.


"Maafka Megan, Tuan Sam! Megan benar-benar tidak tau!", wanita itu kembali mendekati kaki Sam sambil merengek meminta ampunan.


"Jangan percaya apa yang wanita itu ucapkan, Tuan Sam! Megan itu terkenal licik!", ikut emosi Krystal pun menambah bumbu suasana saat itu.


"Diam kau!", teriak Megan padanya. Walaupun situasinya saat ini sedang terdesk, ia tetap tidak terima jika ada yang makin menyudutkan dirinya. Terlebih lagi itu adalah rival beratnya, Megan benar-benar membenci saat-saat ini.


Krystal sudah kan membalas Megan lagi, namun Louis menahannya. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum ke arah kekasihnya itu. Lalu pandangan mata Louis memerintahkan Krystal untuk mengalihkan pandangannya ke arah Sam dan Sarah.


Dan tentu saja Sam segera menyingkir dari sana dengan tatapan jijik pada wanita itu. Ia lalu mengangkat kepalanya yang saat itu tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan mata calon istrinya, Sarah.


Saat ini, Sarah sedang memandangi dirinya dengan mata berkaca-kaca. Jadi pria itu merasakan luka yang begitu dalam juga atas apa yang terjadi pada dirinya.


Lalu,, sambil tersenyum dan juga air mata yang siap tumpah, Sarah mengulurkan tangannya. Ia menunggu Sam menyambut tangannya itu.


Dengan wajah ragu, Sam mengambil uluran tangan Sarah. Lalu menggenggamnya begitu erat. Pria itu membawa genggaman tanga itu ke arah bibirnya. Memberi satu kecupan pada punggung tangan Sarah lalu tersenyum yang menghangatkan hati wanita itu.


"Megan Aira! Sebelumnya kau telah lancang mengganggu ketenangan keluarga kami. Aku juga sudah memberimu kesempatan untukmu menjauh, namun kau seperti tak menghiraukan kesempatan itu! Jadi sekarang aku tak akan berbasa-basi lagi", lalu Sam menarik genggaman tangan itu agar Sarah mendekat ke arahnya. Hingga ia melingarkan tangannya pada pinggang wanita itu dengan begitu posesif.


"Kalian akan aku masukkan ke dalam daftar hitam! Jangan harap kalian bisa masuk ke dalam dunia hiburan lagi!", mata dan kalimat Sam benar-benar tajam. Ia yakin jika dua orang itu bisa mendengar suaranya dengan jelas.


"Apa?!", baik Megan dan juga pria itu seperti mendapat sambaran petir di siang bolong. Kenyataan yang mendadak ini sangat sulit untut mereka terima.


"Tuan, tolong ampuni saya! Bagaimana dengan anak dan istri saya, Tuan?! Mau makan apa mereka nantiny?!", pria itu benar-benar meratapi nasibnya sambil memohon pada Sam.


"Sudah seperti ini kau baru memikirkan anak dan istrimu?! Lalu kemana isi otakmu saat kau mau bermain-main dengan wanita ini!", Sarah geram mendengar keluhan pria itu. Menyesal memang datang belakangan.


"Kau masih bisa menggunakan tangan dan kakimu untuk bekerja di bidang lain. Tapi tidak lagi di dunia hiburan!", Sam enggan menjawab. Jadi Louis lah yang mewakilkan dirinya untuk menjawab pertanyaan wartawan itu.


"Tapi Tuan, saya mohon Tuan,,,!", pria itu tak mau menyerah memohon pada Sam, meskipun Sam terlihat sangat tidak peduli.


Megan Aira, wanita itu hanya bisa berdiam diri. Memikirkan kembali apa yang barusan Sam ucapkan padanya. Jadi ini sudah berakhir?! Sepertinya memang berakhir! Semua usahanya membangun karirnya yang sudah sedemikian rupa hancur karena ulahnya sendiri. Dan saat ini, sepertinya masih separuh jiwanya yang menerima kenyataan pahit ini.


"Sepertinya kita sudah bisa pulang, kan?!", melihat Megan yang tak juga bersuara, maka Tuan Dion mulai membuka suara untuk mengajak mereka semua pulang dari sana.


"Benar, ini sudah sangat larut!", Ken melihat jam tangannya yang menunjukkan bahwa saat itu memang sudah lewat tengah malam.


"Kalau begitu ayo kita pulang!", raut wajah Sam yang semula tegang dan dipenuhi beberapa perasaan, kini sudah berganti dengan wajah Sam yang ceria lagi.


Tak mempedulikan lolongan wartawan itu yang terus memohon ampun padanya juga Megan yang sepertinya masih mencerna situasinya, Sam membimbing Sarah untuk keluar dari sana. Ia sudah sangat ingin beristirahat setelah malam yang panjang ini.

__ADS_1


"Tunggu dulu!", teriakan Krystal lantas membuat Sam dan Sarah menghentikan langkah yang sudah mereka buat lebih dulu dibandingkan dengan yang lainnya.


__ADS_2