
Tuan Danu memandangi putrinya dan tersenyum haru. Paling tidak di saat yang hampir genting ini, putri kesayangannya itu telah mendapatkan kebahagiaannya bersama orang yang tepat.
***
Beberapa hari pun berlalu dan hari Minggu pun akhirnya tiba. Ana mengawali paginya dengan bermalas-malasan di atas ranjangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi dia masih asik memainkan ponselnya di atas ranjang. Ana tengah melakukan percakapan dengan Sarah melalui pesan singkat.
"Sarah", Ana mengirim pesan pertamanya.
"Ya, ada apa bos?", balas Sarah.
"Aku sangat gugup sekarang. Nanti malam aku akan makan malam dengan orang tua Ken", Ana mengawali ceritanya.
"Kenapa harus gugup?! Dimana nona besar ku yang begitu percaya diri", balas Sarah berusaha menyemangati sahabatnya itu.
"Hey, berhenti memanggilku begitu atau kau mau aku pecat ya", Sarah terkekeh membaca pesan Ana.
"Ya, ya, baiklah! Asal kau tidak memecatku, apapun akan aku lakukan sayang", Ana memandang jijik pada pesan Sarah tapi kemudian senyumnya terkembang.
"Jangan memanggilku sayang, kau cari saja laki-laki yang bisa kau panggil sayang sepuas hatimu", Ana mulai mengejek Sarah pada pesannya.
"Hey, sombong sekali kau nona! Lihat saja, aku akan membawa pangeranku nanti", Sarah tersenyum penuh arti saat membalas pesan Ana.
"Ya aku akan menantikannya! Sarah, aku takut mereka tidak menyukaiku nanti", balas Ana.
"Siapa?".
"Orang tuanya Ken, memangnya siapa lagi!".
"Sudah jangan dipikirkan! Lebih baik kau mandi dan pilih gaun yang paling bagus untuk kau pakai nanti malam", balas Sarah.
__ADS_1
"Hey dari mana kau tau aku belum mandi!", balas Ana.
"Baumu tercium sampai kemari, hehe", Sarah tersenyum membalas pesan Ana.
"Aku sangat merindukanmu, Sarah! Andai saja malam ini kau bisa menemaniku, pasti perasaanku akan lebih baik", balas Ana kemudian menatap langit-langit kamarnya.
"Baiklah, aku akan menemanimu nanti", Sarah tersenyum ambigu saat mengirim pesan itu pada Ana.
"Hey, apa maksudmu?", Ana menanggapi pesan Sarah dengan begitu serius.
"Aku akan menemanimu lewat doa-doa ku", kilah Sarah pada pesannya.
"Baiklah, aku sudahi ya. Aku ingin berendam sekarang", Ana mengakhiri pesannya dan beranjak ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Sarah.
Di sisi lain, di sebuah rumah sakit. Sarah tengah menunggui ibunya yang sejak beberapa hari ini kembali masuk rumah sakit akibat sakit jantungnya yang kumat lagi. Biasanya Sarah akan bergantian dengan adik laki-laki nya jika dia akan pergi bekerja. Jangan tanya soal biaya rumah sakit, karena tempat ibunya dirawat adalah salah satu rumah sakit dimana ayah Ana memiliki saham yang cukup besar. Jadi Ana memerintahkan Sarah agar merawat ibunya di sana jika sewaktu-waktu penyakit ibunya kumat tanpa harus membayar biaya sepeserpun. Itulah kebaikan Ana yang tak tanggung-tanggung untuk Sarah, sehingga Sarah selalu harus merasa berterima kasih pada Ana. Tapi kadang dia juga ingin untuk tidak terus bergantung padanya. Tapi apalah daya, beratnya kehidupan ini membuatnya harus terus menerima kebaikan Ana.
"Ahh!", Sarah mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan rasa frustasi.
"Apakah aku harus memberi tahu Ana?!", gumamnya sambil memandangi sebuah kotak berisi gaun berwarna navy dan sepatu heels senada.
***
Matahari sudah berada di puncaknya. Sinarnya menjadi sangat menyakitkan bagi setiap mata yang langsung melihat ke arahnya. Sebuah kilauan kemewahan yang tak tertandingi dari ciptaan Tuhan untuk umatnya.
Ana tengah menyibukkan diri di dalam walkin closetnya. Dia sibuk mencoba beberapa gaun yang dirasanya cukup baik untuk dia pakai nanti malam. Sudah berapa gaun yang ia lempar begitu saja akibat ketidakpuasannya sendiri. Ada yang terlalu panjang, atau terlalu pendek, atau terlalu terbuka, atau ada lagi yang warnanya tidak sesuai. Semua dia buang begitu saja di lantai.
"Ahh, aku bingung!", ucapnya frustasi pada dirinya sendiri yang berada di cermin besar di hadapannya.
"Kau cukup menjadi dirimu sendiri, tuan putri", sebuah suara menggema dari ambang pintu walkin closetnya.
__ADS_1
"Astaga!", Ana melonjak kaget mendapati ayahnya sudah berdiri di sana sambil melipat tangannya di depan dada.
"Maafkan ayah yang tak dapat membantumu. Seandainya ada ibumu pasti dia bisa membantu memilihkan gaun yang cocok untukmu. Maaf karena ayah tidak dapat melakukannya" ucap Tuan Danu dengan tatapan sendu sambil berjalan ke arah Ana.
Sebuah kesedihan mampir ke dalam gurat wajahnya yang tak dapat ia tutupi dari Ana. Sejak kepergian ibunya, Ana memang jadi gadis yang lebih mandiri dan tak pernah menyusahkan ayahnya. Apalagi di masa sulit bagi seorang perempuan seperti saat pertama haid waktu remaja dulu, Ana berusaha menghadapi dan mencari solusinya sendiri tanpa harus merepotkan ayahnya. Dimana biasanya di saat-saat seperti itu begitu juga hari ini, sosok ibu sangatlah penting untuk mendampinginya. Tapi Ana tidak pernah mengeluh. Meskipun dia seorang putri semata wayang, Ana terlihat lebih dewasa dan mandiri ketimbang anak perempuan lainnya.
Kini Tuan Danu sudah berdiri di hadapan putrinya. Dia memandang sendu ke arah Ana. Kemudian Ana menyentuh pipi ayahnya dengan lembut. Dia berusaha mentransfer energi positif pada ayahnya.
"Oh ayolah, ayah! Ini bukan waktunya untuk bersedih. Ayo ubah tatapan itu, atau aku tak ingin melihat ayah lagi", ucap Ana sambil memasang senyum manisnya.
Ana memang hanyalah manusia biasa. Dia tak memungkiri bahwa di saat-saat seperti ini memang dirinya membutuhkan sosok ibu untuknya bercerita maupun meminta solusi padanya. Tapi apa mau dikata jika sudah menghadapi kehendak Tuhan. Saat ini ibunya sudah tenang di surga, yang ia bisa lakukan tentu saja membuat ibunya bangga padanya. Begitu pemikiran Ana selama ini yang membuatnya menjadi cerdas dan juga mandiri.
"Kemarilah, peluk ayah!", Tuan Danu sudah tersenyum. Dia merentangkan tangannya agar Ana masuk ke dalam pelukannya. Dia mengecup kening Ana. Tuan Danu menyalurkan rasa sayangnya yang begitu dalam pada seseorang yang paling berharga di dunia ini setelah kepergian istrinya dulu.
Ana memeluk ayahnya erat. Dia merasakan kasih sayang yang berlimpah dari ayahnya. Dirinya sungguh bersyukur, meskipun Ana hanya memiliki orang tua tunggal, namun dia tidak kekurangan kasih sayang sedikit pun. Dia merasa sangat bahagia walau hanya ada ayah yang menemaninya. Karena dia tahu bahwa ibunya selalu mengawasinya di surga.
"Tok, tok, tok", suara ketukan dari pintu kamar Ana membuat kedua ayah anak itu melepaskan pelukannya.
Ana menghampiri pelayan yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamarnya yang setengah terbuka.
"Ada apa?", tanya Ana.
"Ada seorang tamu untuk Nona?", jawab pelayan itu sopan.
"Apakah dia mengatakan namanya", tanya Ana sambil menerka-nerka siapa gerangan tamu yang datang. Pasalnya selama ini dia tak pernah mendapat kunjungan, karena memang temannya yang begitu terbatas.
"Ya, Nona. Dia mengatakan bahwa dia itu calon suami Nona. Emm, apakah itu benar?! Saya ragu, jadi saya membiarkannya menunggu di ruang tamu, Nona", jawab pelayan itu sambil menahan senyumnya. Ya, dia sendiri agak terkejut saat menerima seorang tamu yang mengaku menjadi calon suami nonanya itu. Pasalnya nonanya itu tidak pernah terlihat dekat dengan seorang lelaki.
"Whaatt?!", teriak Ana yang begitu terkejut dengan kedatangan seseorang itu.
__ADS_1