Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 87


__ADS_3

Louis memasuki ruangan toilet itu dengan hati-hati. Ia memeriksa setiap bilik yang ia lewati. Semuanya kosong, hingga isak tangis nyaring terdengar yang berasal dari bilik paling pojok.


Dada Louis terasa sakit mendengar tangis pilu Krystal yang selama ini tak pernah ia dengar. Yang ia lihat selama ini adalah Krystal yang manja dan selalu mau menang sendiri. Namun wanita itu tak pernah menunjukkan sisi lemahnya kepada siapa pun. Dan baru kali ini, selama bertahun-tahun pada kesempatan ini ia mendengar isak tangis pilu dari seorang Krystal, wanita yang dicintainya selama ini.


Louis menyandarkan punggungnya pada pintu bilik tepat di sebelah bilik Krystal sedang menguras air matanya. Ia menikmati setiap nyeri yang menjalar ke dalam hatinya.


"Kau jahat, Lou! Kau jahat!", hardik Krystal dari dalam ruang sempit itu.


Deg


Ada apa dengan namanya yang disebut. Louis nampak berpikir keras. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Krystal menangis seperti ini.


"Kau telah datang sesuka hatimu. Kapanpun dan dimana pun kau tak peduli jika orang-orang melihatmu selalu menggangguku. Kau datang sesuka hatimu, lalu apakah kini kau juga akan pergi sesuka hati?!", suara isak tangis kembali terdengar.


"Kau bilang akan berhenti, kau bilang akan berhenti mengejarku. Kau jahat, Lou! Kau tau, aku sudah terlalu biasa dengan hal itu. Jika kau tak menggangguku sehari saja, rasanya hampa. Rasanya kosong hatiku", tangisan Krystal makin menjadi.


"Aneh bukan?! Perasaan aneh yang bahkan baru aku rasakan. Aku tak tau, aku tak tau bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Aku ingin kau terus mengejarku, Lou. Aku ingin!", Krystal melanjutkan semua keluh kesah hatinya.


Setelah lima belas menit, Krystal sudah puas menangis. Ia sudah menumpahkan perasaannya yang sangat tidak enak saat ini. Perasaan mengganjal yang baru ia alami. Krystal membuka pintu bilik itu dengan hati-hati bermaksud untuk mencuci wajahnya setelah ini. Namun tiba-tiba matanya membulat begitu besar saat matanya bertemu dengan mata Louis tepat pada pantulan cermin besar di dalam ruangan itu.


Louis nampak santai, ia masih menyandarkan punggungnya di tempat semula. Kedua tangannya menyilang di depan dada sedangkan satu kakinya ia tekuk menempel ke pintu bilik kamar mandi. Bola matanya bergerak mengikuti gerakan Krystal yang sedang canggung dan membasuh wajahnya.


Krystal berusaha menetralisir perasaannya. Ia berpura-pura tak pernah terjadi apa-apa. Bahkan kemudian ia mengabaikan keberadaan Louis saat ini. Ia masih berusaha tenang mencuci wajahnya yang basah akibat air mata, mengeringkan tangannya kemudian beranjak begitu saja melewati Louis yang masih berdiri sambil terus menatapnya.


Baru selangkah Krystal melewati Louis, tangannya telah dicekal kuat dan ditarik paksa hingga tubuhnya terpental dan meringsek masuk ke dalam dekapan pria itu. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tak terlalu menempel pada tubuh pria itu. Matanya nyalang memandang Louis sengit.


"Lepaskan aku!", ucap Krystal dengan garangnya.


"Baiklah! Tapi aku akan menyebarkan rekaman suara ini", Louis menaikkan ponselnya di udara dengan satu tangannya karena tangan lainnya masih mendekap Krystal dengan erat.


"Hentikan! Atau...", perintah Krystal karena Louis mulai memutar rekaman saat tadi ia sedang menangis dan mengucapkan semua kalimatnya. Sebenarnya saat ini ia sedang menahan malu karena itu sama saja dengan menyatakan perasaannya sendiri pada pria yang selalu ia tolak. Dan lagi wajah merahnya sudah tak dapat ia sembunyikan lagi saat terdengar kalimat yang mengatakan bahwa ia masih ingin Louis untuk mengejarnya.


Louis mematikan rekaman itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Lalu ia menundukkan kepalanya untuk menatap Krystal. Ia menatap jauh ke dalam bola matanya untuk mengorek semua yang ia bisa.


"Apa kau masih ingin mengelak?! Aku dan ponsel ini adalah saksinya", Louis berbisik di telinga Krystal.


Wanita itu sedikit menggeliat karena merasakan geli dan hangatnya nafas Louis yang menerpa kulitnya pun sudah menjalar hingga menimba efek yang luar biasa pada seluruh tubuhnya. Wajah Krystal kini sudah merah dan memanas. Mereka bersitatap dengan jarak yang sangat-sangat dekat. Krystal menutup matanya saat hidung mereka bersentuhan.

__ADS_1


Louis tersenyum melihat wanita angkuh itu akhirnya menyerahkan diri padanya. Wanita itu telah mengaku kalah atas kesombongannya selama ini yang selalu menghiraukan perasaan Louis selama ini. Pria itu mengecup singkat bibir manis Krystal.


Krystal membuka matanya dan tersenyum. Kemudian ia melingkarkan tangannya ke leher Louis dan berinisiatif memulai permainan bibirnya di sana. Ia menjawab pertanyaan Louis dengan gerakan bibirnya yang terus ******* dan menyesap bibir Louis yang tebal dan seksi. Perasaan dan emosinya yang tertahan ia tumpahkan saat ini.


Gerakan yang emosional itu dibalas oleh sang lelaki. Laki-laki itu menekan tengkuk Krystal hingga ciuman mereka lebih dalam lagi. Saling merasai dan menyalurkan cinta kasih yang selama ini terpendam. Kegiatan itu telah membuat gejolak panas pada tubuh keduanya. Ciuman itu telah turun ke leher dan area tengkuk Krystal. Louis ingin sekali menyesap lebih kuat di sana dan meninggalkan tanda kepemilikan, tapi ia sadar betul dengan pekerjaan mereka saat ini. Krystal hanya pasrah menikmati setiap permainan yang Louis berikan. Sesekali ia menggeliat kecil merasakan geli yang tak terkira.


Tangan pria itu mulai menyentuh area sensitif milik Krystal. Dengan cepat Krystal menahannya dengan sekuat tenaga. Louis menyadari hal itu pun langsung menghentikan aktifitasnya dan menyatukan kening mereka.


"Baiklah, aku akan berhenti!", keduanya pun terkekeh bersama.


"Tapi dengan satu syarat!", Louis menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi Krystal yang tampak kebingungan.


"Jadilah milikku! Jangan lari lagi setiap aku mengejarmu!", ucap Louis lembut dengan tatapan yang begitu sendu.


"Baiklah! Kau juga jangan pernah berhenti mengejarku!", keduanya tersenyum bersama. Louis mengecup kembali bibir manis wanita ini. Sebuah kecupan singkat untuk menutup aliran panas yang menjalar ke tubuhnya saat ini.


"Sepertinya aku harus mandi air dingin!", ucap Louis dengan senyum menggoda. Karena sebagai pria normal tentu saja ia telah menahan gejolak yang begitu besar pada tubuhnya saat ini. Namun ia paham, ia harus menghormati wanita yang ia cintai. Tapi jika wanitanya yang meminta, ya apa boleh buat, ia akan dengan senang hati menurutinya.


"Dasar kau pria gila dan mesum!", umpat Krystal seraya tertawa riang.


***


Terlihat di sana seorang pria mengendap-endap semenjak Han masuk pertama kali ke ruangan Tuan Danu. Saat Tuan Danu sadar dan diperiksa oleh para dokter, ia bersembunyi di balik dinding di samping pintu. Sesaat setelah Han keluar ruangan, dengan cepat ia masuk ke dalam. Tak sampai satu menit pria itu sudah keluar lagi. Sesaat pria itu menoleh ke arah belakang dan wajahnya hampir nampak jelas, juga ditangannya terdapat sebuah suntikan kecil yang ia buang ke tong sampah tak jauh dari kamar Tuan Danu.


"Perbesar wajah pria itu?", perintah Ken.


Sesuai perintah, Han menghentikan video itu dan memperbesar gambar yang menunjukkan wajah pria itu. Ken menyelidik ke arah layar, matanya awas memindai wajah pria itu.


"Aku tau siapa dalang di balik ini semua! Kita sudah memiliki bukti yang kuat", ucap Ken begitu geram.


Han setuju, ia juga tau siapa otak yang membuat bencana ini pada Tuan Danu dan Risa tentunya. Pria itu adalah Yohan, asisten pribadi Tuan Bram. Bukti yang mereka punya sudah cukup kuat untuk menjebloskan orang itu ke dalam penjara. Ia menggenggam kuat ponselnya hingga hampir menghancurkannya jika saja Ken tidak memanggilnya.


"Han!", tegur Ken yang melihat amarah bergejolak pada mata Han.


"Maaf Tuan!", Han meredakan emosinya yang hampir meledak.


"Lakukan tindakan sesegara mungkin!", perintah Ken tenang. Ia tak ingin Han ikut tersulut emosinya.

__ADS_1


"Baik Tuan!", Han pun melangkah pergi meninggalkan Ken sendirian di kantornya yang luas nan hening.


"drret, drret, drret", ponselnya bergetar di atas meja. Di sana tertera Ana sedang melakukan panggilan.


"Ya sayang!", Ken menjawab teleponnya dengan lembut.


"Ken,,,", terdengar isak tangis dari seberang saluran sana.


"Ada apa sayang?", kekhawatiran yang ia takutkan muncul. Sesuatu pasti terjadi.


"Ken,, ayah,, Ken,,", tangis Ana pecah tak tertahan lagi.


"Iya, ada apa dengan ayah Ana?", Ken masih berusaha untuk tetap tenang saat ini.


"Ayah kritis, Ken. Cepat datanglah ke sini!", ucap Ana dengan suara gemetar.


"Tunggu aku sayang! Tunggu dan jangan menangis lagi. Lebih baik kita berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan ayah oke", masih tenang. Ken masih mengucapkan kata-katanya dengan tenang. Meskipun sesungguhnya ia juga panik dan khawatir mendengar kabar dari kekasihnya itu.


Mereka memutuskan sambungan telepon. Sambil memasukkan ponselnya ke saku celana, Ken menyambar jasnya yang menggantung di kursi kebesarannya. Kemudian ia setengah berlari menghambur ke luar ruangan.


***


Di lorong yang sunyi itu, Ana tengah menangis ditemani oleh Sarah yang sudah dijemput terlebih dahulu oleh Sam. Ken berinisiatif menghubungi Sam untuk membawa sahabat kekasihnya itu. Karena ia tau selain dirinya, hanya Sarah tempat Ana membagi keluh kesahnya. Sedangkan Ken, ia harus mengurus beberapa hal terkait kasus ayah dari kekasihnya itu.


Ana menangis sesegukan hingga lututnya terkulai lemas. Saat ini ia hanya sanggup duduk di kursi tunggu di depan kamar ayahnya. Tangis penuh harap tak bisa ia hentikan.


"Kakak ipar, makanlah roti ini dulu. Atau minum dulu susunya. Beri kekuatan pada tubuhmu", Sam menyodorkan sepotong roti dan susu kotak yang baru saja ia beli.


Ana menggeleng pelan di tengah tangisnya. Tak ada nafsu sedikit pun untuknya menyentuh makanan. Yang ia inginkan hanyalah kondisi ayahnya yang segera membaik dan cepat sadarkan diri. Hanya itu yang memuaskan dirinya saat ini.


"Ana! Kau pikir ayahmu akan membaik jika keadaanmu seperti ini, hah! Kau pikir ayahmu akan iba dan bangkit untuk menyuapimu, hah! Kau harus kuat, perjalanan mu dipenuhi batu terjal, sayang. Kau harus semangat, dengan begitu ayahmu pasti akan senang dan cepat sembuh", Sarah berusaha membujuk Ana agar mau mengisi perutnya yang kosong.


Benar apa yang Sarah katakan, demi ayahnya ia harus kuat. Ia harus mengumpulkan tenaganya untuk membalas mereka yang telah melakukan hal ini pada ayahnya. Sekuat tenaga ia menghentikan tangisnya, Ana menyeka air matanya yang sudah banjir di pipinya. Kemudian ia meraih roti dan susu dari tangan Sam dan melahapnya dengan cepat, tanpa mempedulikan rasa apa yang ia makan. Karena semuanya terasa hambar bagi Ana.


"Nona Ana!", panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan ayahnya. Lantas Ana menoleh ke sumber suara dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.


"Tuan sadar, beliau mengatakan ingin bertemu dengan anda! Saya permisi dulu", dokter itu pun segera berlalu.

__ADS_1


Wajah Ana terpaku, ia masih mencerna kabar yang dokter itu berikan kepadanya. Campur aduk perasaan Ana saat ini. Dalam hitungan detik, ia menghabiskan susu kotak di tangannya dan meninggalkan roti sisa ke tangan Sam. Lalu ia menghambur masuk ke dalam ruangan dengan tangis bahagia


__ADS_2