Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 106


__ADS_3

"Ana! Dimana Ana?", tanya Ken pada kedua orang tuanya.


Nyonya Rima dan Tuan Dion saling melempar pandangan penuh arti. Mereka masih enggan menjawab, lebih seperti bingung apa yang harus mereka jawab sebenarnya. Kemudian mereka kembali menatap Ken. Tuan Dion tak dapat menghilangkan tatapan sendu itu dari matanya.


"Han, panggil Han!", ucap Ken dingin.


Kedua orang tua itu masih bingung apa yang harus mereka lakukan. Mereka tak bergeming dan hanya kembali saling memandang satu sama lain.


"Han! Han! Han!", teriak Ken geram karena tak juga mendapat tanggapan dari kedua orang tuanya itu.


Ia berusaha untuk duduk dengan susah payah lantaran satu tangannya harus di gips karena mengalami patah tulang. Tuan Dion berusaha membantunya, namun Ken menepis tangan ayahnya dengan kasar. Ia memilih untuk berusaha sendiri. Dadanya berdebar hebat, nafasnya tersengal akibat emosi yang campur aduk di dalam hatinya. Ken mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya dengan satu tangannya. Ia sungguh belum bisa menerima kabar buruk apa pun saat ini. Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam namun sesekali ia mengerutkan alisnya penuh rona kesedihan.


"Han!", seru Ken kepada pria yang baru saja masuk setelah mendengar namanya disebut dengan keras.


"Ya Tuan!", Han berusaha sekuat tenaga menjaga emosinya dan tetap tenang. Ia sudah tahu bahwa bosnya ini akan memintanya menjelaskan semua yang terjadi setelah ia sadarkan diri, seperti saat ini. Tapi melihat raut wajah bosnya itu yang terlihat jelas bahwa antara amarah dan kesedihan menjadi satu, membuatnya makin tak tega memberitahukan kenyataannya.


"Katakan Han, katakan!", suaranya terdengar lemah namun tetap terdengar tajam hingga menusuk ke telinga yang mendengarnya.


Han pun sama dengan kedua orang tua Ken, ia juga memaku tubuhnya. Ia bingung untuk menjelaskan semuanya darimana. Tapi ia juga tak ingin menyembunyikan faktanya karena cepat atau lambat Ken akan mengetahui semua dengan sendirinya.


"Han! Apa kau tuli, hah!", bentak Ken begitu keras seraya melempar bantal yang ada di ranjang ke arah wajah asistennya itu.


"Maaf Tuan!", dengan sigap Han menangkap bantal itu dan mengembalikannya ke ranjang Ken dengan sangat hati-hati.


"Ka,,ta,,kan!", Ken menggeram sambil mengeratkan giginya. Ia menatap tajam ke arah Han yang sedang menaruh bantal tepat di sampingnya. Bola matanya bergerak mengikuti setiap gerakan yang Han buat.


"Ken!", Tuan Dion mendekat ke sisi ranjang putranya.


"Sudah dua minggu kau tak sadarkan diri, ada baiknya jika kau diperiksa dulu", ucap Tuan Dion hati-hati. Rupanya ia berusaha menengahi suasana yang mencekam ini. Seorang ayah itu ingin meredam emosi putranya yang tentu tidak baik untuk kondisi kesehatannya saat ini. Pun tujuan lainnya adalah untuk mengulur waktu dimana mereka harus menjelaskan sesuatu pada Ken setelah ini.


Ken tak menjawab. Ia diam, tak bersuara sama sekali. Ia tidak mengiyakan namun juga tidak menolak ucapan ayahnya itu.


"Han, segera panggil dokter!", perintah Tuan Dion yang segera dilaksanakan oleh Han.


***

__ADS_1


"Keadaan Tuan Ken sudah baik-baik saja. Hanya perlu waktu untuk pemulihan pada cedera tangannya. Sebaiknya Tuan banyak istirahat terlebih dahulu dan tidak banyak menggerakkan tangan yang cedera", salah satu dokter memberi penjelasan.


"Baiklah kami permisi dulu. Jika membutuhkan sesuatu segera panggil kami!", beberapa dokter dan perawat membungkukkan diri untuk pamit meninggalkan ruangan itu.


"Kakaaakk!", sebuah suara terdengar nyaring berasal dari pintu bersamaan dengan petugas medis yang keluar dari sana.


"Maaf aku baru datang kak! Aku sedang ada rapat penting di kantor dan segera memutuskan ke sini setelah mendapat kabar bahwa kakak sudah siuman", tutur Sam dengan nafas tersengal. Ia membungkuk memegangi lututnya untuk menopang tubuhnya yang terasa lelah karena setelah keluar dari lift ia memilih untuk berlari menuju kamar Ken lantaran tak sabar untuk melihat langsung kondisi kakaknya saat ini.


Ia begitu bahagia mendengar kabar baik ini hingga akhirnya ia memilih untuk mengakhiri rapat penting itu dan dengan sangat bersemangat ia berangkat menuju rumah sakit tempat Ken dirawat. Kakak yang sangat ia sayangi meskipun sehari-hari yang ia dapat hanya untuk dimarahi, tapi Sam tau bahwa sebenernya kakaknya itu selalu peduli dan menyayanginya.


"Apa masih ada yang sakit, nak?", tanya Nyonya Rima khawatir. Ia mendudukkan dirinya di bibir ranjang di sebelah putranya seraya menyentuh lengan Ken.


"Tidak!", jawab Ken singkat tanpa memberi respon apa pun. Ia menatap keluar jendela kamarnya, segan rasanya ia memandang wajah orang-orang yang berasal di ruangannya ini. Ken lebih memilih untuk menutupi ekspresi wajahnya kini.


"Kau harus banyak istirahat, sayang! Urusan kantor biar Han dan Sam yang mengatasinya. Atau Bunda bisa meminta Joice membantu mereka...", mulut Sam langsung bertindak memotong ucapan Nyonya Rima.


"Kami masih sangat sanggup ,Bunda untuk mengurus perusahaannya tanpa bantuan siapa pun!", ucap Ken tajam yang sudah menegakkan posisi berdirinya.


"Benar Nyonya, kami tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Semuanya berjalan dengan lancar", tambah Han yang juga sudah tak sabar dengan ucapan Nyonya Rima yang pasti akan membuat mood Ken semakin buruk.


"Bunda, cukup!", perintah Tuan Dion dengan nada tegas. Ia sudah melihat perubahan aura Ken yang makin hitam dan suram. Ken mulai mencengkram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya lagi sambil mengeratkan rahangnya. Aura dingin yang dapat membuat seseorang tertusuk jika berada dekat dengannya.


"Tapi ayah..!", lagi-lagi ucapannya dihentikan seseorang.


"Cukup!", seru Tuan Dion tak ingin mendengar bantahan.


"Cekk!", Nyonya Rima berdecak kesal.


Ia memutuskan untuk mengakhiri perdebatan yang akan sia-sia hasilnya bagi dirinya jika ia terus meneruskan kebiasaan buruk itu. Mengatakan hal yang tidak seharusnya pada saat yang tidak tepat, hingga akhirnya hanya bisa memperburuk keadaan dan hubungannya dengan putra sulungnya itu.


Sam memberi isyarat dengan matanya kemudian memiringkan kepalanya ke arah Han. Ia mengisyaratkan kepada Han bahwa ia sudah harus menjelaskan duduk perkara mereka sebelum ini. Han tertunduk lesu, ia memang harus menerima nasibnya ini.


"Tuan!", Han maju beberapa langkah mendekat ke arah Ken. Ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk mempersiapkan diri.


"Katakan!", seru Ken pelan terdengar dingin. Ia tak berubah posisi tubuhnya maupun wajahnya, ia tak menatap Han sama sekali.

__ADS_1


"Tak lama setelah Nona Ana menghubungi, saya langsung mengerahkan tin untuk mencari lokasi anda. Saat sampai di sana, Tuan telah tergeletak tak sadarkan diri dan mobilnya berada jauh di bawah anda. Mobil itu.. mobil itu.. emmhh mobil itu..", Han menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tak berani meneruskan kalimatnya. Ia sungguh tak sanggup melihat bosnya terpukul dan bersedih karena hal ini.


"Lanjutkan!", perintah Ken masih dengan nada dingin dan tanpa menoleh ke arahnya.


" Saya menemukan mobil itu salam keadaan terbakar dan saya segera meminta petugas untuk memadamkannya. Dan kami.. ", Han kembali memutus ucapannya sendiri.


Ken menghirup nafasnya dalam seraya menengadah, menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia memejamkan matanya dengan keras, tangannya bertambah kuat mencengkram selimut itu. Rahang yang mengeras menandakan dirinya sedang menahan emosi yang siap meledak-ledak. Bibirnya bergetar, juga muncul raut kesedihan di wajahnya. Tapi ia harus mendengar penjelasan Han sampai akhir.


"Lanjutkan!", ucap Ken dengan suara tersekat.


"Kami menemukan mayat wanita di sana dalam kondisi gosong. Dan sudah kami identifikasi bahwa mayat itu adalah Nona Ana", akhir dari penjelasan Han yang amat berat ia ucapkan sedari tadi.


Ken masih memejamkan matanya hingga kerutan nampak di sekitar sana. Ia sudah tak dapat menutupi perasaannya yang hancur. Hatinya terasa dihujam batu besar. Sakit, nyeri di sana seakan Ken tak mampu menanggungnya. Baru kali ini semasa hidupnya Ken mencintai seseorang, dan baru kali ini pula Ken harus kehilangan orang yang amat dicintainya itu.


Ia mengingat ungkapan cinta mereka satu sama lain untuk terakhir kalinya di dalam mobil itu.


"*Aku mencintaimu, Ken!", ucap Ana sambil tersenyum getir.


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang!",


balas Ken dan kembali mencium punggung tangan Ana*.


Hatinya makin terasa diiris tipis, hingga sakitnya tak dapat terobati.


"Ana!", ucap Ken pelan masih dengan mata terpejam.


"Ana!", nadanya mulai meninggi dengan suara gemetar.


"Ana!", Ken membuka matanya dan berteriak histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri begitu frustasi dengan takdir yang harus ia terima.


Lagi ia teringat dengan janjinya pada Ana saat itu yang mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan nyawa Ana dan tidak akan membiarkan Ana terluka.


"*Apapun yang terjadi nanti, aku akan menyelamatkanmu, Ana!".


"Aku tak akan membiarkan mu terluka, sayang*!".

__ADS_1


Janji itu terngiang begitu pekat di telinganya hingga ia kembali berteriak histeris memanggil naman Ana dengan rasa bersalah yang begitu dalam.


__ADS_2