Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 166


__ADS_3

"Apa maksudmu? Kau yang sakit kenapa aku yang makan?", tanya Sarah sambil menatap sengit ke arah Sam.


"Yes! Berhasil, kan!", batin Sam girang.


"Memangnya yang butuh makan hanya orang sakit saja!", sahut Sam tak kalah sengitnya.


"Makan atau aku tak akan memaafkanmu!", ancam Sam dengan tatapan penuh arti.


"Sekarang kau pandai sekali mengancam!", Sarah mendengus kesal. Tapi mau bagaimana lagi, ia tetap harus menuruti perintah Sam demi sebuah maaf darinya.


Suapan demi suapan ia lahap dengan begitu besar dan wajah cemberut. Isyarat bahwa ia masih protes dengan tuntutan yang Sam berikan, tapi ia juga berharap kegiatannya ini cepat berakhir.


"Lalu apa yang kau makan?", tanya Sarah di sela kegiatan makannya sambil terus mengunyah dengan pipi yang menggembung besar.


"Emmhh,, buah! Aku mau buah saja! Mulutku pahit!", seru Sam setelah berpikir sebentar.


"Buka mulutmu!", Sarah menyodorkan potongan buah yang telah ditusuk dengan garpu.


"Emmhh,,, emmhh!", Sam menggeleng tenang sambil memejamkan matanya.


"Gunakan tanganmu!", perintahnya lagi dengan wajah liciknya.


"Ini juga menggunakan tanganku, kan?! Sama saja! Apa kau mau aku suapi dengan kakiku, hah!", Sarah benar-benar protes kali ini. Kesabarannya benar-benar diuji kali ini. Pria ini sangat pandai memanfaatkan keadaan. Tapi ya tetap saja, pada akhirnya wanita itu tetap menyuapi potongan-potongan buah dengan tangannya langsung.


Sam tersenyum puas dalam hatinya, akhirnya Sarahnya yang galak kembali seperti biasanya. Sam lebih suka seperti ini, dibandingkan dengan Sarahnya yang diam dan menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Potongan terakhir datang, Sarah telah menyodorkan potongan buah itu hampir lama di udara, tapi Sam masih belum juga membuka mulutnya. Mata Sarah sudah melotot ke arah pria itu, mulutnya mengatup sudah akan mencerca dengan berbagai kata. Tapi siapa sangka, Sam tiba-tiba memegang pergelangan tangan Sarah dan melahap potongan buah itu beserta sebagian jarinya. Lalu ia berikan sedikit kecupan di ujung jari wanita itu dengan senyumnya yang begitu menggoda.


"Kau!", wanita itu protes tak terima.


Sarah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat ia merasakan jarinya masuk ke dalam mulut Sam hingga menimbulkan senyar panas dan terus menjalar ke tubuhnya. Tapi tidak bisa, meskipun tubuhnya seakan menerima sentuhan itu, tapi akal sehatnya masih bekerja untuk memberi pelajaran kepada si pria gila.


"Mau aku pukul, ya?!", tangannya sudah akan melakukan tugasnya. Tapi ternyata tangan Sam masih setia menahan pergelangan tangannya di udara.


Dengan gerakan cepat, Sam menyingkirkan nampan yang berada di pangkuan Sarah. Dan meskipun ia sedang sakit, tapi ia masih memiliki cukup tenaga. Jadi Sam segera menarik Sarah hingga jarak mereka menjadi cukup dekat. Dan Sam memperpendek jarak mereka lagi dengan menarik tangan Sarah ke belakang, sehingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja.


Keduanya sama-sama bisa merasakan hangatnya nafas dari diri mereka masing-masing. Wajah keduanya sudah pasti memerah bersamaan. Jika Sam masih bersikap tenang, lain halnya dengan Sarah yang mulai gelisah. Sarah tau kemana arah adegan romantis ini. Pikirannya bekerja untuk tidak terlibat dalam adegan ini, tapi tubuhnya seakan menerima dan membuatnya bergeming di tempat tanpa bergerak sedikitpun.


Mereka bersitatap dengan sangat intens. Sam menatap ke arah bibir Sarah dengan penuh damba. Pandangannya bolak balik antara mata Sarah dan bibirnya. Setelah menunggu dan Sarah masih tidak membuat pergerakan, maka Sam berasumsi bahwa Sarah akan menerima apa yang akan ia lakukan. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya lalu menempatkan bibirnya pada bibir Sarah. Memberi kecupan lembut nan menghangatkan.


Butuh beberapa detik untuk Sarah berpikir, sehingga matanya masih terbuka lebar karena mendapat sebuah serangan. Tapi entah kenapa tubuhnya, hatinya seperti tak memberi penolakan sama sekali terhadap apa yang Sam lakukan. Jadi seiring dengan itu, ia memejamkan matanya membiarkan pria itu menyentuh bibirnya.


Jika sudah begini maka Sam melanjutkan aksinya, kali ini ia mulai menyesap dan mencumbu bibir Sarah. Pria itu melakukannya dengan sangat lembut sebagai ungkapan perasaan cintanya kepada Sarah. Tapi siapa sangka jika wanita itu malahan membalas ciumannya. Sam tersenyum di tengah kegiatan mereka. Lalu ciuman berubah menjadi panas dan penuh hasrat, setelah Sarah mengalungkan tangannya di leher Sam. Dan pria itu juga tidak tinggal diam, ia menarik tubuh Sarah dan mengangkatnya ke atas pangkuannya. Kegiatan mereka berlangsung cukup lama dan menggairahkan.


Keduanya terengah-engah setelah melepaskan tautan mereka. Saling menempelkan kening sambil berusaha mengisi oksigen ke dalam rongga paru-paru mereka masing-masing. Sam tersenyum di sana sambil memandang Sarah penuh cinta.


"Terima kasih, Sarah!", pria itu lalu membawa Sarah ke dalam pelukannya.


Sarah bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Ia masih linglung dan pusing memikirkan kejadian barusan. Benarkah ini adalah perasaannya yang sesungguhnya. Padahal berulang kali Sarah menolak keras perubahan hatinya ini. Padahal ia sudah berusaha keras untuk tidak terlibat dengan pria ini. Tapi apa sekarang? Apa yang baru saja ia lakukan barusan?! Apa tubuh dan hatinya sudah memegang kendali atas dirinya sendiri saat ini?! Sarah masih bingung dan akhirnya hanya bisa bungkam tanpa mengeluarkan satu katapun dari mulutnya.


"Kau tau?! Aku sangat mencintaimu, Sarah!", Sam berucap tulus, sangat tulus bahkan.

__ADS_1


Tapi hal itu malahan membuat Sarah melepaskan pelukannya. Menjauhkan diri dan membuat jarak seperti semula. Ia kemudian kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya kembali menetes membasahi wajahnya. Sarah tak mampu membendung perasaannya saat ini. Terlalu kacau hatinya untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya. Sebuah trauma yang mendalam itu tidak bisa ia lepas begitu saja.


Sam menyatukan kedua alisnya lalu mengerutkannya dengan keras. Bukan begini akhir yang Sam mau. Bukan begini seharusnya setelah adegan romantis mereka. Seharusnya sebuah senyum ceria ataupun malu-malu keluar dari bibir seorang wanita. Lalu ini apa, wanita di hadapannya malahan kembali menangis. Seperti sebuah kesedihan mendalam sedang ia pendam.


"Maaf!", suara lirih itu membuat Sam menaikkan dagu Sarah dengan dua jarinya.


"Maaf?", Sam mengulangi apa yang Sarah katakan dengan wajah kebingungan.


"Maafkan aku, Sam!", tambahnya lagi tapi kini dengan isak tangis yang makin menjadi.


"Untuk apa?", Sam menyeka air mata di wajahnya lalu menggenggam kedua tangannya dengan penuh kelembutan.


"Aku tidak bisa!", Sarah makin terisak dengan ucapannya. Apa yang ia ucapkan sesungguhnya bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan saat ini. Tapi sebuah trauma itu tak mampu ia lupakan begitu saja.


-


-


-


-


-


**maaf ya crazy up nya ga bisa berurutan langsung 🙏😁😁😁

__ADS_1


tapi masih ada lagi kok setelah ini, pokoknya ditunggu aja ya 😉


like sama votenya jangan lupa juga ya teman-teman 😊**


__ADS_2