Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 276


__ADS_3

Besok adalah hari yang dinanti-nanti oleh dua pasangan kakak beradik dari keluarga Wiratmadja. Esok hari adalah hari pelepasan masa lajang sang bungsu, kemudian disusul dengan pesta perayaan pernikahan yang akan digelar dengan sangat mewah. Dan pesta itu akan diadakan bersamaan dengan perayaan si sulung yang sudah menikah terlebih dahulu.


Malam ini semua keluarga sudah menginap di hotel tempat acara akan dilaksanakan keesokan harinya. Aula besar hotel itu sudah disulap menjadi sangat indah dan mengagumkan. Banyak dekorasi bunga hidup di sana-sini. Bukannya hanya keindahannya, tapi juga aroma mewangi yang dikeluarkannya sungguh memanjakan mata dan hidung umat yang melewatinya.


Lalu di bagian ujung aula itu, sudah berdiri panggung megah, dimana singgasana para raja dan ratu sudah disejajarkan dengan rapih. Latar belakang dinding bunga mawar beraneka warna membuat panggung itu benar-benar makin indah nan menakjubkan.


Ini masih malam hari. Belum seratus persen juga tempat itu selesai untuk dijadikan saksi hari bersejarah bagi beberapa insan yang akan menjadi raja dan ratu di atas singgasana itu. Tapi sudah sebegini indah tempat yang biasanya kosong dan polos itu, karena saat ini tempat itu sudah disulap menjadi tempat yang begitu ramai dengan banyaknya dekorasi bunga yang menyejukkan mata.


Karpet merah sudah terbentang dari arah pintu menuju ke arah pelaminan. Jalur itu yang akan digunakan dua pasangan yang akan menjadi raja dan ratu mereka esok hari. Tempat itu sudah benar-benar dipersiapkan dengan sangat cermat dan rapih. Sesuai keinginan Nyonya Rima yang ingin memiliki kesan pernikahan yang sempurna bagi kedua putranya.


Ana dan Sarah, karakter mereka yang hampir sama itu memilih menyerahkan masalah ini kepada wanita paruh baya itu saja. Ana dan juga Sarah memiliki kesukaan yang sama pada kesederhanaan. Maka dari itu keduanya memilih untuk menyerahkan segalanya pada Nyonya Rima, takutnya selera mereka akan mengecewakan ibu mertua mereka yang pastinya memiliki banyak tamu penting. Dan hari pernikahan ini harus menjadi kebanggaan bagi keluarga terpandang itu. Ana dan Sarah mengerti.


***


Di sebuah kamar president suite, sepasang suami istri muda sedang duduk di ranjang. Ana, si istri duduk bersandar pada dada bidang suaminya sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Ken, sang suami sedang membaca buku dengan satu tangannya lagi melingkar di sekitar pinggang Ana sampai ke perutnya.

__ADS_1


Pria itu melakukan dua hal sekaligus, yang satu tangannya sedang memegangi buku yang ia baca. Lalu yang satunya lagi sedang menuruti permintaan istrinya itu untuk mengelus perutnya. Sikap manja istrinya ini Ken tak masalah, malahan ia suka. Apa pun akan ia lakukan untuk istrinya yang sedang hamil muda itu.


"Hah!", pria itu menghela nafas setelah merasa cukup membaca buku itu. Ia meletakkan bukunya di atas nakas yang masih bisa dijangkau dengan tangannya yang panjang tanpa mengubah posisi sedikit pun.


Lalu ia kecup kening istrinya yang saat ini masih terlihat serius dengan benda pipih di tangannya.


"Sarah?", Ken melihat ponsel istrinya itu penuh dengan isi percakapan di antara kedua sahabat itu.


"Emmh,, ya! Dia sedang sangat gugup sekarang! Kira-kira sama seperti aku dulu saat akan dinikahi olehmu", Ana mengangkat wajahnya menceritakan apa saja yang ia bicarakan dengan sahabatnya dengan bertukar pesan.


"Ken, apakah kau dulu gugup juga menghadapi hari pernikahan kita?", lalu Ana bertanya lagi pada suaminya itu sambil membalas pesan Sarah. Ia kembali mengangkat wajahnya menanti jawaban dari pria itu.


Sebelum menjawab pertanyaan istri tercintanya itu, Ken mengambil alih ponsel yang Ana pegang untuk ia letakkan di atas nakas yang sudah terdapat buku di atasnya.


Lalu pria itu mendekap tubuh Ana dengan sangat erat namun masih harus hati-hati agar tak menyakiti anaknya yang masih di dalam perut itu. Ia ciumi kening istrinya berulang kali sambil memejamkan mata. Sambil bernostalgia pada masa dimana ia merasakan kegugupan yang paling hebat di dalam hidupnya.

__ADS_1


Pria yang selalu memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam hal apa pun. Meskipun saat ia mengajukan syarat untuk menikah dengan Ana, pria itu begitu bersemangat dan yakin. Namun, tak ada yang tau jika saat malam datang, perasaannya juga sempat mengalami kekacauan. Apalagi saat itu ia harus menghadapi hari yang mendebarkan itu seorang diri, tanpa sosok orang tua yang bisa menenangkan hatinya. Lantaran saat itu pernikahan mereka harus disembunyikan terlebih dahulu.


"Tentu saja, Sayang! Itu adalah salah satu hari terbesar dalam hidupku. Dan apa kau tau, itu adalah pengalaman paling menegangkan dalam hidupku. Emmhh,, ya,,, sebelum menghadapi kelahiran anak kita nanti", Ken menyunggingkan senyumannya sambil mencubit gemas hidung istrinya itu.


Mendengar dari banyak orang dan juga mencari informasi sendiri melalui internet, Ken jadi mengetahui bahwa selain saat akan menikah, momen menegangkan lainnya bagi seorang pria adalah dimana saat menanti istri mereka melahirkan seorang anak. Sebuah hasil maha karya yang harus diperjuangkan dengan pertaruhan hidup dan mati istri yang amat mereka cintai.


"Benarkah?!", mata Ana terbuka cemerlang. Meskipun itu momen yang sudah lewat, rasanya senang saja mendengar suaminya sampai seperti itu di saat hari pernikahan mereka kala itu. Seperti ada banyak bunga di dalam hatinya.


"Emmhh,,, kalau begitu, nanti saat aku melahirkan, aku ingin kau menemaniku, selalu di sisiku, ya?! Aku ingin kau membantuku, memberiku kekuatan untuk berjuang melahirkan anak kita nanti!", Ana tersenyum sumringah. Ia jadi membayangkan momen membahagiakan itu, yang meskipun perlu perjuangan untuk sampai ke titik paling ujung, dimana anak mereka bisa lahir dengan selamat dan sehat nanti.


"Apapun untukmu dan anak kita, Sayang!", pria itu tersenyum seraya menyatakan kesediaannya.


Tentu saja, ia memang harus memberikan dorongan semangat kepada istrinya nanti. Hal itu juga sudah banyak ia cari tau, bahwa meskipun kadang di beberapa kasus akan menjadi momen yang sangat menguras kesabaran bagi seorang suami, tapi mendampingi istri mereka saat melahirkan adalah hal yang sangat berarti bagi para istri.


Para wanita itu akan merasa memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi pertarungan hidup dan mati mereka demi melahirkan seorang jabang bayi buah cinta dari mereka. Asupan energi dan semangat seakan terisi lagi dan lagi saat ada seorang suami yang mereka cintai di sisi mereka di saat momen itu terjadi.

__ADS_1


Kedua insan itu saling bertatapan dengan senyum merekah indah luar biasa. Pancaran cinta dan kasih sayang seakan menyilaukan seluruh isi kamar yang amat indah dan luas itu.


__ADS_2