
"Mau kemana?", Ken dan Sam datang bersamaan. Mereka menduduki kursi di sebelah Ana. Keduanya saling melontarkan pandangan penuh tekanan kepada pasangan masing-masing saat menangkap dengar bahwa ada nama laki-laki lain disebutkan di sana.
"Hah! Akan sulit pasti mendapatkan izin dari pria-pria ini!", gerutu Krystal dalam hatinya.
"Sayang!", Ana memeluk tubuh suaminya dari samping dengan gelagat manjanya supaya wajah lelakinya itu tidak terlalu tegang.
"Kakak sepupuku akan pulang dari luar negeri. Kami berencana untuk menjemputnya di bandara besok. Boleh ya?", tak lupa Ana memberi satu kecupan di pipi suaminya itu agar keinginannya dapat terwujud. Pipi Ken bersemu, ia memegangi pipinya yang menghangat itu. Istrinya ini memang sangat pandai merayu suaminya hingga luluh.
Tapi Krystal memandangi pasangan suami-istri itu dengan jengah. Ia memutar bola matanya malas sambil mencibir. Wanita itu jadi berandai-andai jika saja ada Louis di sisinya. Jadi dia tak akan merasa sendirian di sini. Lihatlah, bahkan Sam sedang menggoda Sarah dengan tatapan matanya. Hah, iri hati ini sedang memakannya sekarang.
"Jadi aku berpikir jika lebih baik Kak Adam saja yang memegang Winata Group sekarang. Kasian Kak Risa, dia dan Han padahal sudah bertunangan lebih dulu. Tapi sampai sekarang mereka bahkan tidak memikirkan pernikahan mereka sama sekali!", Ana menggunakan alasan yang sangat kuat agar Ken mau menuruti keinginannya. Ia tersenyum penuh arti ke arah Krystal, sepupunya itu.
"Lihatlah, bagaimana aku beraksi!", batin Ana sambil memandangi dua wanita di hadapannya.
"Sepupu, ya! Baiklah! Karena dia bukan ancaman, maka kau boleh menjemputnya. Tapi kau harus janji, jika besok kau merasa tidak fit maka kau tida diizinkan keluar. Mengerti!", Ken memegangi dagunya dengan satu tangan sambil menimbang-nimbang. Setelah dirasa tak ada masalah maka ia pun memberikan izinnya pada Ana.
"Terimakasih, sayang! Kau memang yang terbaik!", lagi-lagi Ana menghadiahi pipi suaminya itu dengan satu ciuman singkat.
"Ehhmm,,, ehmmm!", Ken menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan wajah yang begitu santai.
"Di sini!", Ken menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya tanpa tau malu bahwa di sana masih banyak orang lain.
"Sayaaaang!", Ana ingin protes sambil membulatkan matanya. Matanya bergerak ke kanan dan kiri memberitahu Ken bahwa ini akan sangat memalukan.
"Iya atau tidak!", pilihan yang Ken buat sangat simpel tapi sedikit berat untuk Ana lakukan. Bukannya Ana tidak mau mencium suaminya itu, tentu saja dia sangat ingin. Bibir suaminya itu sudah menjadi candu juga bagi dirinya. Tapi sekarang ini dimana, ia sedang menjerit di dalam hatinya meminta agar suaminya ini dapat tau situasi.
Ana mengulum bibirnya menahan senyum malu-malunya di depan semua orang. Ada Krystal dan Sarah yang sedang menatap mereka dengan malas. Dan ada juga Sam yang seakan iri ingin sekali melakukan hal yang sama dengan Sarah. Ana membuat gerakan kecil dengan tangannya agar Ken mendekat.
"Sini!", panggilnya lirih sambil malu.
Ken mengernyitkan keningnya, meski ia tidak tau apa maksud dari tingkah istrinya ini. Tapi ia tetap menurut dan mendekat. Ana telah mengibarkan kedua telapak tangannya di samping pipinya seperti akan berbisik.
"Apa?", itulah yang Ken pikirkan. Ia pikir istrinya itu akan mengatakan sesuatu.
cup
Ternyata Ana menyembunyikan ciumannya dari semua orang. Ia lalu menghadap ke depan lagi dengan santainya. Meski sangat jelas bahwa pipinya kini sedang merona.
"Sayang, lihatlah ibu ini sungguh tidak tau malu!", tutur Ken pada perut rata Ana.
Ana tergelak sambil memukul pelan bahu suaminya yang sedang menunduk itu. Sebenarnya siapa yang tidak tau malu di sini. Dirinya kan melakukan ini karena sedang ada maunya saja. Ana menutup mulutnya untuk menahan tawa. Sedangkan pria di sebelah mereka terlihat berpikir.
"Ancaman?", Sam bergumam lirih sambil memiringkan kepalanya. Ia jadi berpikir keras setelah mendengar penuturan kakaknya tadi. Iya, bagi kakak iparnya itu orang yang akan mereka jemput bukanlah sebuah ancaman bagi kakaknya karena mereka masih memiliki hubungan darah. Tapi bagaimana dengan Sarah, mereka hanya orang lain. Dan itu bisa jadi saingan untuk dirinya. Orang itu mungkin bisa jadi ancaman bagi Sam.
"Tidak!", Sam tiba-tiba berseru seraya berdiri. Kemudian pandangannya ia arahkan kepada dua wanita yang kini tengah menatapnya heran. Bukan hanya Krystal dan Sarah saja, sebenarnya dua orang di sebelahnya pun ikut mengangkat kepalanya untuk menengok keanehan apa yang mendadak terjadi pada adik mereka itu.
"Ada apa?!", tanya Krystal dengan acuhnya juga sedikit kesal di wajahnya. Ia yakin firasatnya tidak baik mengenai ini.
"Sarah tidak bisa ikut!", putus Sam sambil memandangi Sarah yang sedang memiliki tanda tanya di wajahnya.
__ADS_1
"Tidak bisa ya tidak bisa! Kakakmu itu adalah memiliki hubungan darah dengan kakak ipar. Tapi Sarah, bagaimana jika nanti Sarah berpindah ke kakakmu itu?! Bagaimana jika nanti Sarah meninggalkan aku?!", wajah Sam sendu sambil menatap ke arah Krystal lalu bergantian ke arah wanitanya.
Kedua wanita itu, juga Ken dan Ana sama-sama menahan kesabaran mereka dalam menghadapi kebodohan Tuan Sam ini. Jika ketiganya sudah terbiasa dan hanya mengembuskan nafasnya dengan malas. Tapi Krystal yang masih tak percaya, bahwa pria yang ia kenal sebagai atasannya itu dan bahkan terkenal dengan gelar playboy nya memiliki pemikiran polos yang terkesan bodoh seperti ini. Wanita itu meringis sambil menggaruk kepalanya, ia tak menyangka akan menemukan sisi lain dari bos di perusahaannya itu.
"Kau harus membiasakan diri!", Sarah memejamkan mata sambil menganggukkan kepalanya dengan wajah santai seraya berjalan menjauh darinya.
"Hemmnh???!!", Krystal ikut menjadi bodoh dalam mencerna perkataan Sarah.
"Kau harus membiasakan diri menghadapi bosmu yang bodoh ini!", ujar Ken datar sambil menepuk keras punggung adiknya itu. Ia menjawab arti ekspresi yang Krystal miliki.
"Kakak! Siapa yang bodoh! Aku hanya sedang berusaha menjaga wanitaku saja! Bagaimana jika kakak ipar yang akan menemui pria lain? Bahkan kakak masih cemburu dengan Tuan seram itu. Padahal Tuan Ben itu kan sudah menganggap kakak ipar sebagai adiknya sendiri!", Sam memiliki senjata sendiri untuk membalikkan ejekan kakaknya itu.
"Hahaha,,,, kali ini aku setuju denganmu, Sam!", Ana mengangkat tangannya untuk melakukan high five dengannya. Memang benar suaminya itu adalah raja singa yang pencemburu, bukan. Ana benar-benar puas tertawa saat ini.
"Ehermm,,, ehermmm!", tetapi lelakinya itu hanya bisa berdehem untuk mengurangi rasa malunya karena telah kalah dari adiknya itu.
"Sudahlah! Yang jelas aku tidak setuju Sarah ikut! Titik!", Sam tetap pada pendiriannya. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk membiarkan wanitanya itu bertemu dengan pria lain.
"Ayolah, Tuan! Kau sungguh tidak asik sekali!", Krystal membujuk sambil berdecak.
Dengan wajah agak malas, Sarah yang sudah berdiri di sebelah Sam pun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sebenarnya benar-benar tidak ingin melakukan ini. Tapi demi bisa ikut ke bandara karena seumur hidupnya ia belum pernah melihat pesawat secara langsung. Ia ingin sekali ke sana, apapun caranya ia harus ikut ke sana.
"Sayang, bisa kita bicara!", jika Ana dan Ken sudah biasa terang-terangan melakukan adegan mesra. Maka dirinya belum terbiasa.
"Ada apa? Kau ingin merayuku, agar aku berubah pikiran, kan?", dengan acuhnya Sam memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sebenarnya Sarah sudah sangat gemas dengan pria ini. Kedua tangannya sudah terkepal di samping ingin sekali memukul kepala orang ini. Tapi tidak, Sarah harus meningkatkan kesabarannya saat ini.
Ia membawa pria itu ke salah satu sudut dimana tak ada seorangpun yang dapat melihat mereka. Setelah memastikan bahwa tempat itu aman, barulah ia mulai berbicara.
"Sam, aku ingin sekali ikut ke sana. Seumur-umur aku belum pernah melihat pesawat. Aku ingin sekali melihat pesawat dengan Ana besok. Ku mohon, boleh ya!", Sarah memohon sambil memegangi lengan Sam yang sedang memasang wajah acuhnya.
Heh, Sam memiringkan kepalanya menatap Sarah. Jadi hanya karena hal itu wanitanya bersikeras ingin ikut ke bandara. Ya ampun, itu hanyalah hal mudah bagi dirinya jika memang itu yang diinginkan wanitanya. Kenapa Sarah tidak jujur saja mengenai hal ini padanya?! Ia menerbitkan senyum kecil melihat wajah polos yang penuh harap itu.
"Jadi kau benar-benar ingin aku membiarkanmu pergi ke sana? Kalau begitu apa yang bisa kau berikan padaku agar aku mau menyetujui keinginanmu? Kakak ipar bahkan lebih berinisiatif darimu!", Sam menaikkan sebelah alisnya sambil menunggu jawaban Sarah dengan wajah congkaknya. Kali ini ia sedang berada di atas angin dan Sam harus memanfaatkan hal ini dengan sebaik-baiknya.
Pertama Sarah menundukkan kepalanya. Jika Sam membawa-bawa nama Ana, berarti pria itu menginginkan dirinya melakukan hal yang sama. Bahkan mereka sudah melakukannya tadi pagi. Apa sekarang harus juga?! Huh, Sarah sangat enggan melakukan ini jika bukan karena ia ingin sekali ikut dengan Krystal dan juga Ana.
cup
Satu kecupan singkat Sarah rasa cukup untuk membayar apa yang ia inginkan. Tapi,,, bagi pria itu tidaklah cukup. Saat Sarah akan melepaskan bibirnya dari sana, maka dengan cepat Sam mendekap pinggang Sarah dan meraih tengkuknya. Pria itu belum puas jika belum bermain-main di sana. Sebelum dahaganya hilang akan manisnya bibir Sarah, maka ia belum akan menghentikan aksinya.
Sarah segera mendorong tubuh Sam agar mereka berjarak setelah ia merasa kehabisan nafas. Dirinya terengah-engah begitu juga dengan pria di hadapannya.
"Kau,,, selalu,,, saja,,, mencari keuntungan!", ucap Sarah kesal dengan nafas yang pendek-pendek.
"Bukankah kau yang memulainya! Apa kau tidak ingat?!", sedangkan pria itu hanya tersenyum saja menanggapi ucapan wanitanya. Ia pandai dalam membalikkan fakta jika mengenai urusan seperti ini. Haha,,,
"Dasar kau!", masih setengah kesal Sarah memukul pelan lengan bagian atas milik Sam. Dirinya pun masih kehilangan banyak oksigen untuk memberi hukuman pada pria gilanya ini.
__ADS_1
***
Kicauan burung nan merdu yang berasal dari dahan pohon di pekarangan mansion mewah itu mengiringi beberapa orang yang sedang menikmati sarapannya pagi itu. Nuansa hangat dan juga suasana yang menyenangkan hadir di meja makan besar itu. Krystal nampak sangat senang karena semenjak kehadiran Sarah dan Ibu Asih rumahnya menjadi benar-benar seperti rumah. Dia jadi bisa merasakan hangatnya keluarga bersama dengan mereka.
Begitu juga dengan ibu dan anak itu, keduanya merasa sungkan awalnya. Tapi mereka tidak menyangka jika Krystal akan membuka tangannya dengan begitu lebar untuk menyambut kehadiran diri mereka di rumahnya. Padahal awalnya Sarah sempat takut jika Krystal nanti akan tidak suka, pasalnya ia tau sendiri bagaimana hubungannya dengan Ana sebelumnya. Tapi siapa sangka jika ternyata wanita itu telah banyak berubah. Sarah sangat bersyukur dikelilingi orang-orang hebat yang mau menerimanya.
"Jadi jam berapa kita akan berangkat?", tanya Sarah antusias. Ia hanya tidak sabar untuk melihat secara langsung burung terbang yang maha besar itu.
"Kakakku akan sampai di bandara jam sepuluh nanti. Berarti tunggu Ana sampai lalu kita akan segera berangkat!" Krystal menjawab sambil mengunyah makanannya. Dan Sarah hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ibu, aku mau lagi ya nasi gorengnya!", dengan manjanya Krystal menyodorkan piringnya yang kosong pada Ibu Asih untuk diisi kembali. Ia sudah lama sekali tidak merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh seorang ibu seperti sekarang ini. Jadi Krystal akan bermanja ria selama Ibu Asih masih tinggal di tempatnya ini.
"Haishh, manjanya! Memangnya kau pikir itu ibu siapa?", Sarah mengerucutkan bibirnya sambil menyendok kan makanan ke mulutnya dengan kasar.
"Ibu Asih juga ibuku, kan?!", suaranya manja dan wajah imutnya Krystal tunjukkan pada Ibu Asih yang tengah menahan tawa. Pikirnya jika mempunyai banyak anak mungkin akan seru juga. Pasti rumahnya akan ramai seperti sekarang ini. Padahal mereka baru saja hanya berdua, bagaimana jika ada tiga atau empat. Telinga orang-orang pasti akan segera pecah jika mereka akan terus bertengkar dengan suara yang keras seperti sekarang ini. Ibu Asih menahan bibirnya yang akan tersenyum dengan satu tangannya saat membayangkan hal ini.
"Sudah, sudah! Aku ibu kalian semua!", Ibu Asih senang merasa sangat dihargai oleh Krystal yang derajatnya jauh di atas dirinya. Wanita itu tidak menganggap dirinya lebih tinggi malahan meminta beribu kasih sayang untuk dirinya sendiri. Tangannya merentang di kedua sisi. Ia tersenyum begitu tulus saat Krystal dan juga Sarah masuk ke dalam rangkulannya.
"Ajak aku!", suara wanita yang mereka kenal datang dari arah depan. Ana berjalan mendekat seraya merentangkan kedua tangannya supaya ia bisa masuk ke dalam pelukan besar itu.
"Ka,, kau!", Sarah kaget saat melihat Sam juga datang dari arah belakang tubuh Ken. Tangannya mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sam dengan pandangan yang hampir kosong
"Bukankah seharusnya kau pergi bekerja sekarang?!", Sarah memastikan sendiri apa yang ia lihat saat ini.
"Aku akan ikut denganmu!", Sam tersenyum penuh kemenangan.
-
-
-
-
-
-
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
__ADS_1
keep strong and healthy ya