
Ken dan Sam melanjutkan kegiatan pagi mereka dengan berangkat menuju kantor masing-masing. Ken yang pertama meninggalkan halaman rumah mewah itu. Lalu disusul Sam yang baru saja duduk di kursi penumpang di dalam mobilnya. Ia mendesah berulang kali sambil merutuki kebodohannya sendiri.
"Benar-benar ketakutan yang tak berarti!", Sam tersenyum ironi pada dirinya sendiri.
Nyatanya kakak iparnya itu dengan sangat mudahnya memberi persetujuan. Tanpa harus ada banyak drama yang sudah terbayangkan di dalam benaknya.
Mobil itupun melesat membelah jalanan ibukota menuju gedung tinggi tempat banyak artis bernaung di bawah kepemimpinannya.
***
"Kakak belum berangkat?", sapa Krystal pada Adam yang baru saja menuruni tangga.
Saat ini Krystal dan juga Sarah tengah membuat jus mangga sesuai pesanan ibu hamil yang amat cerewet itu. Ana bilang, ingin sekali meminum jus mangga buatan kedua wanita itu. Tidak boleh memerintahkan orang lain yang membuatnya apalagi jika mereka beli di luar. Wanita hamil itu bilang, dia akan sangat marah. Dan tidak akan mengakui mereka sebagai Tante dari anaknya kelak.
Meski keduanya berjalan sambil menggerutu dengan permintaan Ana, tapi tetap saja, dalam hati mereka sebenarnya sangat tulus dan ikhlas melakukan ini untuk calon keponakan mereka itu.
"Jus mangga? Apakah untuk Ana?", Adam mendekat ke arah mini bar yang berada dekat dengan dapur bersih rumahnya itu. Tadi ia sempat mendengar dua suara deru mobil datang lalu tak lama pergi. Menilai sekarang saja ada Sarah, pasti ada Ana juga bersama mereka.
Sarah, ya Sarah. Wanita ini baru benar-benar ia melihatnya dari dekat. Cantik, kata pertama yang terbesit dalam benak Adam. Matanya tak bisa berbohong dengan nilai kagum dalam tatapannya. Ini seleranya sekali, wanita sederhana yang cantik. Dan melihat aksinya kemarin saja membuat nilai cantiknya semakin bertambah.
Krystal yang baru saja membuang kulit mangga yang tadi ia kupas pun tak sengaja melihat tatapan kakaknya itu pada Sarah. Sudut bibirnya naik dan berkedut. Sungguh sangat disayangkan, kakak laki-lakinya ini sampai sekarang masih melajang. Namun belum juga memiliki pasangan yang tepat.
"Sudah selesai! Aku akan membawanya pada Ana dulu, ya!", Sarah mengangkat kepalanya memandangi gelas berisi minuman berwarna jingga yang cerah.
__ADS_1
"Ah! Ada Kak Adam rupanya! Kakak mau jus mangga? Kami membuat agak banyak", wanita itu tidak jadi melangkah ke halaman belakang. Ia berhenti dulu untuk menyapa pria yang ia yakini bahwa itu adalah Kak Adam, kakaknya Krystal. Sekedar berbasa-basi, karena sebenarnya mereka belum pernah saling bertegur sapa sama sekali.
"Hey, Kak! Kakak! Sarah bertanya padamu!", Krystal melambai-lambaikan kedua tangannya tepat di depan wajah Adam. Pria itu seperti sedang terhipnotis oleh tampilan Sarah yang sangat cantik menurutnya.
uhukk,,, uhukk,,,
Adam akhirnya tersadar. Ia terbatuk dengan sengaja sambil menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa. Tertangkap basah oleh adiknya sendiri, sungguh sangat memalukan.
"Ah ya, maaf! Aku melamun barusan!", pria itu pun tersenyum canggung. Dan Krystal yang berada di hadapannya pun memalingkan wajahnya untuk tersenyum kecil. Sudah lama tidak menggoda kakaknya seperti ini, sangat menyenangkan pikirnya.
"Jadi,,, Kakak mau jus buatan Sarah atau tidak, nih?", Krystal sengaja menekankan nama sahabatnya itu sambil menatap wajah kakaknya dengan tatapan penuh arti.
"Ya, boleh!", tapi saat Adam melihat ke arah jam tangannya, sepertinya waktunya sudah tidak cukup untuknya sarapan di rumah.
"Maaf,, aku bawa saja ke kantor jusnya!", Adam agak tidak enak saat meralat pesanannya.
"Kakak tidak sarapan dulu?", tanya Krystal pada kakaknya itu.
"Sudah terlambat, nanti Kakak sarapan di kantor saja! Dimana Ibu? Kakak ingin berpamitan", Adam menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ibu Asih yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Oh,, oke!", Krystal tak ambil pusing dan mengiyakan saja.
"Ini Kak jusnya! Aku akan ke belakang dulu mengantar jus ini sekalian memanggil Ibu", Sarah tersenyum seraya menyerahkan botol minum yang sudah terisi penuh jus mangga. Lalu wanita itu berlalu begitu saja melangsungkan kakinya ke arah halaman belakang.
__ADS_1
pakk
Krystal menepuk tangannya dengan kencang di depan wajah kakaknya. Mengejutkan kakaknya lagi. Karena kakaknya itu lagi-lagi tengah melamun sambil memandangi sahabatnya itu dengan begitu seksama. Bahkan tanpa sadar tangan Adam sudah menggenggam botol yang Sarah berikan, padahal ia belum sempat mengucapkan terimakasih.
"Jangan macam-macam! Sebentar lagi dia akan menikah!", jika tadi wajah Krystal begitu ceria untuk menggoda kakaknya. Namun sekarang wanita itu sedang berkacak pinggang di depan Adam dengan tatapan penuh peringatan. Meskipun itu adalah kakaknya, tapi ia tak akan membiarkan pernikahan sahabatnya itu diganggu oleh siapapun.
"Ahh, memang benar! Sayang sekali dia sudah mau menikah!", Adam tersenyum kecut.
Padahal jarang sekali ia merasa cocok dengan seorang wanita. Sekalinya sudah bertemu, sungguh menyayangkan, wanita itu sudah dimiliki lelaki lain dan hampir menikah. Mungkin ia masih bisa berjuang jika itu adalah lelaki biasa. Tapi yang bersanding dengan wanita itu bukanlah lelaki biasa. Dan Adam sadar bahwa ia tidak akan bisa menyaingi lelaki itu.
"Jangan melamun terus! Nanti Kakak digelayuti setan! Hiihh!", Krystal menepuk bahu kakaknya saat sudah keluar dari minibar itu. Ia melihat kakaknya sedang tersenyum penuh ironi dengan pikiran yang sudah bisa ia tebak.
"Kau ini ada-ada saja!", Adam mengacak rambut adiknya itu dengan gemasnya.
"Rambutku nanti rusak, Kakak!", adiknya mengomel sambil membenahi tatanan rambutnya yang sudah sangat lama ia buat dengan susah payah.
"Semangat, Kak! Kakak pasti akan segera bertemu dengan jodoh Kakak, nanti!", Krystal lagi-lagi menepuk bahu kakaknya itu. Menyampaikan doa dan harapannya untuk kakaknya itu.
***
Setelah bertemu Ibu Asih dan berpamitan padanya, maka Adam pun memutuskan untuk segera berangkat kerja. Ia memandangi botol jus di tangannya sambil terus melangkahkan kakinya menuju halaman dimana mobilnya telah disiapkan.
Mengingat apa yang adiknya tadi katakan, tentang harapannya mengenai jodoh yang belum dirinya temukan. Semoga saja, ya semoga saja akan ada secepatnya. Adam tersenyum menatap botol jus itu untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Jika dia tidak bisa menjadi jodohku, paling tidak dia bisa jadi saudaraku, adikku. Karena ibunya sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Mempunyai satu saudara lagi sepertinya tidak buruk!", pria itu merasa langkahnya lebih ringan sekarang. Tersenyum riang, sampai para pelayan yang sedang bekerja pun menjadi aneh sendiri dengan tingkah tuannya.
Dengan kesibukannya, ia memilih untuk berkendara dengan supir. Menghindari hal-hal yang buruk akibat kelelahan, solusi ini adalah yang terbaik. Mengisi posisi pimpinan yang kosong, membuatnya mempunyai banyak agenda. Adam tidak lagi memikirkan jodohnya, sekarang ia fokus pada pekerjaan yang sudah di kantornya.