
Mereka sudah tiba di area parkir. Karena Ana setuju untuk ikut ke kediaman utama Wiratmadja, maka otomatis harus ada yang pulang dengan mobil terpisah.
"Lebih baik kakak ipar ikut bersama dengan Ayah dan Bunda saja, biar aku yang menggunakan mobil terpisah", buru-buru Sam memberikan ide sebelum mereka sempat berpikir.
"Tapi Sam, bagaimana dengan lukamu? Siapa yang menjagamu di mobil jika aku bersama Ayah dan Bunda?", tanya Ana yang terlihat benar-benar khawatir kepadanya.
"Tenang saja kakak ipar, aku bukan anak kecil lagi. Luka sekecil ini tak ada artinya bagiku", ucap Sam sambil mendorong tubuh Ana untuk masuk ke dalam mobil dimana ayah dan ibunya sudah menunggu di dalam.
"Tapi,,, ", Ana kembali akan menyanggah karena kekhawatirannya.
"Tidak ada tapi-tapian! Jangan khawatir, okeh!", Sam mengulas senyum termanisnya agar Ana tak lagi mengkhawatirkan dirinya. Lalu tangannya bergerak menutup pintu mobil itu. Dan tak lama mobil itu melaju terlebih dahulu meninggalkan Sam di belakang yang sedang menyeringai kegirangan. Namun setelahnya mata itu berkilat penuh emosi. Sam menghela nafas, perjuangannya terasa masih panjang.
"Pak, kita ke alamat ini!", perintah Sam sambil menunjukkan alamat yang tertera di ponselnya.
"Tapi Tuan, bagaimana jika nanti Nyonya dan Tuan Besar bertanya?", si supir nampak ragu dan khawatir.
"Lakukan saja! Sisanya aku yang urus", perintah Sam dingin seraya memasuki mobil.
***
Alamat yang ia tuju memang bukanlah sebuah perkomplekan mewah atau kondominium elit seperti yang biasa ia datangi. Tempat itu hanyalah sebuah perumahan biasa dimana jalanannya masih belum rapih merata dan banyak polisi tidur saat menuju ke sana.
Butuh perjuangan yang sangat keras bagi Sam yang baru saja keluar dari rumah sakit dimana lukanya pun masih basah. Sekuat tenaga bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin, ia menahan nyeri dari luka di perutnya yang terus saja terkena guncangan. Sambil bertahan, ia terus memegangi bagian perutnya yang sakit itu.
Sam sudah tak peduli dengan apa yang ia rasa. Rasa sakit, nyeri yang menghujam hingga membuatnya meringis sepanjang waktu terkalahkan oleh rasa khawatir dan penyesalannya terhadap Sarah. Ia harus segera bertemu dengan wanita itu, pikirnya. Ia harus cepat-cepat menjelaskan semuanya.
Padahal juga masih ada bahaya lainnya. Saat ini sebenarnya ia tengah kabur dari pengawasan kedua orang tuanya dan juga kakak iparnya. Jika saja pria itu meminta izin untuk pergi melakukan hal seperti ini, yang ada hanya tindakan pencegahan yang ia terima. Sam tidak ingin menyesal lagi saat ini. Ia harus bekerja lebih keras lagi untuk menggapai cintanya.
"Tuan muda, kita sudah sampai", ucap si supir setelah mobil itu berhenti di depan halaman sebuah rumah yang sederhana.
Sam mengedarkan pandangannya, benar saja mereka memang sudah sampai di depan rumah Sarah. Sam pernah beberapa kali mengantar dan menjemput Sarah sebelumnya, jadi ia sudah hafal betul alamat rumah Sarah.
Tapi ada yang aneh, rumah itu terlihat gelap dan tak berpenghuni. Sangat sepi, terlalu senyap, seperti tak ada kehidupan di sana. Tapi Sam tetap melangkah keluar mobil untuk memastikannya sendiri. Ada apa dengan rumah yang bahkan lampu depannya tak menyala.
tok! tok! tok!
Berulang kali Sam mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tapi tak jua ia mendapat sahutan dari dalam. Jika memang ada seseorang pun ia bisa merasakan atau mendengar sedikit saja sebuah pergerakan dari dalam sana. Tapi saat ini, rumah ini terlalu sunyi untuk jika memang sedang berpenghuni.
__ADS_1
Sam menjadi lebih khawatir, ia bergerak mondar-mandir di teras rumah itu. Cukup lama, mungkin memakan waktu hingga satu jam lamanya. Dan ia pun menyerah, Sam melangkah menjauh dari teras rumah menuju mobilnya.
Perasaannya terlalu kacau untuk ia jelaskan. Banyaknya pertanyaan yang ingin ia sampaikan membuatnya beberapa kali mendesah frustasi. Kemana perginya wanita itu, apa yang terjadi dengan wanita itu! Semua pertanyaan itu hanya membangkitkan kekhawatirannya yang semakin menjadi. Tapi,,, lagi-lagi ia harus menahan amarahnya pada diri sendiri karena tak memiliki daya apapun saat ini.
"Emmh,, Bu! Maaf! Apakah ibu tau kemana perginya Sarah dan keluarganya? Kenapa rumahnya terlihat sepi sekali?", akhirnya Sam menemukan seseorang untuk ia tanyai. Seorang tetangga sebelah rumah Sarah keluar untuk membuang sampah.
"Saya tidak tau! Tapi tadi mereka pergi pagi-pagi sekali. Dan mereka juga membawa tas-tas besar. Tidak ada tetangga yang tau, karena mereka tidak berpamitan", jawab wanita itu dengan wajah datar. Tapi jelas terlihat tangannya tengah gemetar, dan untungnya Sam tidak melihat akan hal itu.
"Tas besar?", Sam tak percaya. Lengkung kesedihan langsung hadir si bibirnya.
"Ya, sepertinya memang tas-tas besar! Apa mungkin mereka pindah dari sini?!", jawab wanita itu lagi dengan lugas. Lalu ia mengeluarkan pernyataan provokatif kepada pria di hadapannya.
"Baiklah, terima kasih!", Sam masih mengingat sopan santun untuk mengucapkan terima kasih kepada wanita itu. Meski lesu, meski sendu akhir yang ia terima. Sam harus berusaha untuk lebih bersabar lagi.
Wanita itu pun berlalu pergi, sambil sesekali menoleh ke arah mereka dengan tubuh gemetar dan bibir bawah yang ia gigit kuat-kuat. Baru kali ini ia mengatakan sebuah kebohongan dan lelucon lainnya.
# FLASHBACK ON
"Ibu Asih, Sarah, kalian akan pergi kemana membawa banyak barang-barang seperti itu?", sapa tetangga Sarah itu yang bernama Bu Vina.
Seakan mendapat sebuah firasat, Sarah berjalan mendekati Bu Vina yang berada di pinggiran rumahnya.
"Bu Vina, apa Sarah bisa minta tolong?", tanya Sarah sedikit ragu.
"Minta tolong apa, Sarah? Katakan saja, barangkali ibu bisa membantu", jawab Bu Vina lembut penuh kasih sayang.
"Jika ada seseorang datang dan mencari Sarah. Terutama jika itu seorang pria, maka jangan katakan kemana kami akan pergi. Katakan alasan apa saja, terserah Bu Vina", Sarah memohon penuh harap.
"Memangnya kalian akan pergi kemana?", tanya Bu Vina yang belum hilang kesadarannya.
"Sebenarnya kami hanya akan pergi liburan ke luar kota dua hari ini. Katakan apa saja, apalagi jika itu laki-laki yang datang, mungkin Bu Vina bisa melebih-lebihkan keadaan. Seperti kami pindahan contohnya", Sandi tiba-tiba datang dan menjawab pertanyaannya Bu Vina dari belakang. Lalu merangkul kakaknya yang tersayang.
"Ooohh! Ini masalah percintaan rupanya!", ucapan Bu Vina lantas membuat pipi Sarah merona.
"Bukan begitu, Bu! Ini hanya masalah salah paham saja", sergah Sarah tak ingin digoda lebih lanjut.
Lalu mereka pun beranjak dari sana, setelah taksi online pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Jangan lupa oleh-olehnya, ya!", Bu Vina melambaikan tangan dari teras rumahnya.
"Okeh!", Sarah membuat bentuk oke dengan jarinya. Tersenyum lega, karena akhirnya masalah telah terselesaikan.
# FLASHBACK OFF
Pikiran Sam hampir buntu karena ia merasa Sarah telah benar-benar meninggalkan dirinya. Wanita itu memilih pergi karena rasa kecewa. Tapi lalu ia mendapat angin segar saat mengingatkan kalimat yang kakaknya ucapkan tadi.
Lusa mereka akan bertemu
Wajah yang semula lesu, mata yang semula sendu, harapan yang nampak hampir habis, tiba-tiba kembali menyala. Kini matanya penuh dengan kobaran semangat untuk berusaha lebih keras lagi mengejar cintanya
-
-
-
-
-
**sudah sampai sini dulu ya untuk hari ini ππ
crazy up sudah, kalau begitu like dan votenya juga sudah, kan π **
baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya
πΉHey you, I Love you!πΉ
Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan π
terimakasih teman-teman π
love you semuanya π
keep strong and healthy ya π₯°
__ADS_1