Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 116


__ADS_3

"Kau!", Ben memberi isyarat kepada si perawat dengan jari telunjuknya untuk mendekat.


Setelah berada di hadapan Ben, perawat itu sengaja didorong dengan sedikit kekuatan oleh Ben hingga menabrak bagian depan tubuh Ken. Dan dengan reflek yang cepat, Ken menangkap tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Sejenak mereka saling beradu pandang dan tertegun. Namun dengan cepat juga Ken mengembalikan wanita itu kepada Ben dengan mendorongnya.


"Apa yang kau lakukan?! Apa kau gila hah! Aku bukan pria sembarangan yang mau dengan semua wanita", bentak Ken yang makin kesal dengan tingkah Ben.


Ben dan perawat itu beradu pandang dengan tatapan penuh arti. Kemudian mereka berdua terkekeh bersama. Seperti mendapat kepuasan sendiri dengan apa yang mereka lakukan saat ini.


"Ayo kita pulang, kak! Sepertinya dia sudah tidak menginginkan diriku lagi!", ucap perawat itu setengah menarik lengan Ben.


"Dengan senang hati!", Ben menyeringai begitu lebar. Ia memamerkan deretan gigi putihnya kepada Ken yang masih tertegun berusaha mencerna semua ini.


"Tunggu!", Ken menghentikan Ben dan perawat itu yang sudah berjalan beberapa langkah ke arah pintu kamarnya.


"Sepertinya dia berubah pikiran!", ucap Ben dan tersenyum penuh arti kepada si perawat.


"Entahlah!", perawat itu mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum remeh.


Ken berjalan cepat mendekat ke arah mereka berdua. Dengan tergesa-gesa ia menarik tangan perawat itu yang sedang memegang lengan Ben. Ditariknya lengan itu dengan sedikit paksaan hingga si perawat berputar dan masuk ke dalam dekapannya. Ken memeluk perawat itu dengan begitu erat.


"Hey kakak, bukankah tadi kau bilang 'aku bukan pria sembarangan yang mau dengan semua wanita'. Tapi kenapa sekarang kau malah melakukan hal sebaliknya!", tegur Sam dari tempat duduknya.


"Hah, Tuan Sam kenapa masih begitu bodoh!", gerutu Han dalam hatinya.


"dukk", benar saja perawat itu mendaratkan stetoskop yang Ben pegang ke arah kepala Sam.


Segera si perawat melepaskan pelukannya dari Ken dan berjalan mendekat ke arah Sam. Kemudian wanita itu berkacak pinggang tepat di hadapannya.


"Beraninya kau mengomel kepada priaku!", tegur si perawat dengan kilat mata seramnya.


"Memangnya apa urusanmu, hah?! Dia itu kakakku, jadi terserah diriku mau berkata apa padanya!", bantah Sam tak mau kalah.


"Jadi kau mau berkata seenaknya kepadaku, heh?!", seru Ken yang sudah berada di sebelah si perawat.Tangannya melingkar di pinggang wanita itu dengan begitu posesifnya.

__ADS_1


"Kakak! Kenapa kau malah membela wanita tidak jelas ini?!", seru Sam tak terima.


"Wa,,ni,,ta... ti,,dak...je,,las katamu!", perawat itu menggeram marah sambil mendengus kasar. Layaknya singa betina yang sudah lama tak memburu mangsanya.


"Lalu kau pikir apa?!", balas Sam lagi yang kini sudah berdiri.


Si perawat melepas sepatu hak tinggi berwarna putih yang ia pakai. Ia mengangkatnya ke udara tepat di sebelah wajahnya. Wanita itu memasang wajah garangnya dan siap melempar sepatu itu ke arah Sam. Sedangkan Ben, pria eksentrik itu melipat kedua tangannya dan bersandar pada pintu kamar itu sambil menikmati adegan demi adegan yang dapat sedikit menghibur hatinya.


"Sudahlah sayang, kita baru saja bertemu. Apakah waktu kita yang begitu berharga ini hanya akan kau habiskan untuk menceramahi manusia bodoh ini?!", ucap Ken begitu lembut yang tangannya tengah menjangkau sepatu yang berada di tangan perawat itu.


"Tunggu,, tunggu,, tunggu! Sa,,, yang?!", ucap Sam dengan penekanan dan wajah keheranan.


"Astaga!", Sam membekap mulutnya sendiri dengan cepat. Pikirannya langsung bekerja, dan otomatis tangannya meringkuk membuat sebuah tameng untuk kepalanya sendiri.


"Ampun kakak ipar,, maafkan kelancangan adikmu ini!", jerit Sam histeris.


"Harus berapa kali kukatakan untuk menggunakan otakmu!", ucap Ken sinis.


"tok,, tok,, tok", suara ketukan pintu membuat semua orang menoleh ke arah sumbernya. Terutama Sam yang menghela nafasnya lega karena akhirnya bisa terlepas dari amukan singa betina kakaknya itu.


"Kau menguncinya?", tanya Ken datar pada Han.


Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu terdengar seseorang menyahuti pertanyaan yang Ken lontarkan.


"Aku yang menguncinya! Aku hanya berusaha mencegah sesuatu terjadi ", jawab Ben santai seraya melirik ke arah pintu kamar yang masih nyaring dengan suara ketukan.


"Ken!", seru Nyonya Rima lagi dari luar dengan nada yang makin kencang.


"Aku punya rencana! Dan aku membutuhkan bantuanmu Tuan Han!", ucap Ben tiba-tiba yang membuat semua orang melihat ke arahnya.


Setelah beberapa saat, pintu kamar Ken akhirnya dibuka dari dalam oleh Han. Belum lagi terbuka sempurna Nyonya Rima segera menerobos masuk diikuti oleh Joice di belakangnya. Sejenak ia melempar pandangan tak suka kepada Han. Tentunya ia kesal karena bahkan ia tidak bebas untuk melihat keadaan putranya sendiri.


"Ken!", serunya lagi memanggil putranya. Namun kemudian ia mengurungkan niatnya untuk meneruskan apa yang ingin ia ucapkan setelah ia melihat Ken sedang terbaring nyenyak di tempat tidur. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di tepi ranjang itu dengan Joice yang setia berdiri di sisinya.

__ADS_1


Semua orang di dalam ruangan itu menatap tajam ke arah Joice dengan aura dingin yang berbeda. Dalam mata mereka seakan terdapat sebuah pisau yang siap menikam meskipun orang itu tak melihatnya. Ana mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang bergolak lantaran harus bertemu langsung dengan biang keladi dari musibah yang menimpanya saat ini. Dan Ben tentu saja mengerti, namun segera ia menyentuh bahu Ana dan menggeleng pelan. Ia mengingatkan Ana bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk mereka bertindak.


Ana dengan pakaian perawatnya membalikkan badannya membelakangi kedua wanita itu. Ia berpura-pura mempersiapkan sesuatu, namun sebenarnya ia sedang berusaha mengendalikan dirinya kini. Dan Ben pun menghampiri kedua wanita yang sedang menatap ke arah Ken yang sedang terpejam di ranjangnya.


"Tuan Ken baru saja minum obat pereda sakit yang membuatnya tertidur untuk beberapa saat. Saya akan menunggunya hingga terbangun untuk mengecek kondisi tangannya yang patah", jelas Ben yang sudah berdiri di seberang ranjang Ken.


"Baiklah, aku akan menunggunya di sini!", ucap Nyonya Rima sambil memandangi wajah putranya. Bagaimanapun juga ia adalah ibu dari pria yang tengah terbaring itu. Perasaan sayangnya sebagai seorang ibu tak akan berkurang sedikit pun walau apapun yang terjadi di antara mereka.


"Ah,,, seperti Nyonya terlihat pucat! Bagaimana jika saya memeriksa anda juga, Nyonya", ucap Ben berpura-pura memasang wajah seriusnya.


"Benarkah?!", seru Nyonya Rima sambil meraba sebelah pipinya. Tangannya berusaha merogoh tas kecil yang bertengger di tangannya untuk mencari sebuah cermin kecil di sana.


Ben segera mencegah apa yang ingin Nyonya Rima lakukan dengan berkata, "Apakah kau tidak mempercayai penilaian dokter, Nyonya?". Pria eksentrik yang tengah menyamar menjadi dokter itu melakukan sedikit penekanan pada kalimatnya supaya Nyonya Rima merasa tidak enak hati dan menuruti apa yang baru saja diucapkannya.


"Baiklah, aku percaya! Bisakah kau memeriksaku, dokter?", ucap Nyonya akhirnya meminta pada Ben.


"Jangan di sini, Nyonya!", Ben mengembalikan tangan Nyonya Rima yang sudah terulur untuk diperiksa tekanan darahnya sebagai mula dari pemeriksaan dasar.


"Bagaimana jika kita pindah ke ruangan lain? Kita akan mengganggu istirahat Tuan Ken jika terus berada di sini. Aku akan meninggalkan perawatku untuk menjaganya", ucap Ben sambil memasang senyum manis.


"Ba,, baiklah!", jawab Nyonya Rima sedikit terbata. Pria itu mengucapkan kalimatnya dengan lembut namun juga terdengar seperti perintah sehingga orang tak mampu untuk menolak.


"Mari Nyonya!", Ben menghela tangannya supaya Nyonya Rima berjalan terlebih dahulu. Dan sebelum ia mengekori wanita paruh baya itu, Ben memberi isyarat dengan matanya pada Han. Matanya bergerak menunjuk ke arah pintu.


"Mari Tuan Sam! Mungkin anda juga ingin saya periksa?!", ucap Ben dengan senyum manis. Namun giginya merapat dengan ekspresi penuh peringatan.


"Hah?! Ah iya, sepertinya perutku juga harus diperiksa!", seru Sam setelah sadar bahwa ia juga harus keluar dari sana.


"Kenapa kau selalu saja telat memahami situasi, Tuan!", gerutu Han dalam hati sambil menggeleng pelan menatap Sam.


Nyonya Rima sudah memulai langkahnya terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Ben di belakangnya. Joice masih berusaha mencerna keadaan ini dengan menatap semua orang satu persatu. Han yang menyadari hal itu pun tak memberi kesempatan untuk wanita licik itu berpikir.


"Silahkan, Nona Joice!", Han mempersilahkan Joice untuk beranjak dari sana.

__ADS_1


"Ah, iya!", wanita itu segera mengikuti langkah orang-orang yang mulai meninggalkan kamar Ken satu persatu.


Setelah semua keluar, Han menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Lalu ia bersiap berjaga di sana, mengantisipasi agar tak ada seorang pun yang mengganggu sepasang kekasih yang tengah melepas rindu di dalam kamar itu.


__ADS_2