Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 274


__ADS_3

Ini sudah lewat tiga hari setelah hari penangkapan Tuan Alexander. Sekarang hanya tinggal menunggu hari pernikahan Sam dan Sarah. Lalu melakukan resepsi bersama dengan Ken dan juga Ana.


Tak ada keluhan sama sekali bagi pasangan Ken dan Ana yang sudah terlebih dulu menikah itu. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan sangat santai dan juga bahagia.


Berbeda dengan Sam dan Sarah yang belum meresmikan hubungan mereka seperti pasangan itu. Hingga akhirnya kedua insan itu saling memendam rindu.


***


Pagi ini di kamar Tuan muda kedua keluarga Wiratmadja, seorang pemuda tengah berdiri tegap di depan cermin besar. Matanya yang biasanya ramah, kini sedang menatap tajam cermin itu.


Celana bahan berwarna coklat susu dan juga kemeja putih telah dipakainya. Saat ini tangannya sedang sibuk mengikat dasi bermotif di lehernya. Dan tangannya itu sama sibuknya dengan pikirannya sekarang.


Setelah lama ia merenung tadi malam, akhirnya ia membuat sebuah keputusan pagi ini. Ada kilatan emosi yang kuat pada tatapan matanya itu.


Yang jelas, ia tidak mau tau lagi. Sudah cukup bersabar ia selama beberapa hari ini. Ayahnya, Tuan Dion, memerintahkan pengawal untuk selalu membuntuti dimana pun dirinya berada. Bukan hanya satu, tapi ada dua. Itu pun yang dia ketahui, entah berapa banyak yang bersembunyi di dalam bayangan.


Mereka ditugaskan untuk selalu menjadi bayangan Sam. Kemana pun dan dimana pun Sam berada. Mata mereka tidak diizinkan kehilangan jejak putra bungsunya itu barang satu meter saja. Tuan besar itu sudah berjanji untuk lebih ketat lagi menjaga putra bungsunya itu agar tidak nekat.


Jadi bisa dibayangkan betapa tersiksanya Sam, karena bahkan saat ia sedang berada di dalam kantornya atau pun sedang melakukan sebuah meeting, dua orang bodoh itu selalu menempel di sebelah kanan dan kirinya. Sudah seperti malaikat yang sedang mencatat segala amalannya.


Maka dari itu, hari ini, ia sudah berjanji dan bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia harus kabur. Ia harus bisa melarikan diri dari pengawasan dua orang pria suruhan ayahnya itu.


Mereka tidak tau jika hatinya selalu menjerit karena terlalu merindukan calon istrinya itu. Ia sangat merindukan Sarahnya. Jadi hari ini ia bertekad untuk menemui wanitanya itu. Dan,,, ia juga sudah memiliki rencana di kepalanya.


Pria itu menyelesaikan dasinya yang sudah rapih sempurna menjuntai dari leher sampai ke perutnya, bersamaan dengan terkembangnya senyumannya yang indah. Ia puas dengan ide cerdas yang selalu datang di kala ia sedang membutuhkan. Dan betapa bangganya ia pada dirinya sendiri bahwa dia adalah lelaki yang begitu pintar karena ia yakin pasti, bahwa Sarahnya itu pasti juga sangat merindukannya.


***


Pagi yang sama di kediaman Krystal,


"Haatchii!!!", tiba-tiba saja Sarah bersin saat sedang membuat sarapan.


"Kau sakit, nak?", Ibu Asih yang sedang menata piring di meja makan pun mendekat ke arah putrinya di dapur. Ia khawatir setelah mendengar Sarah yang bersin dengan sangat kencang.


"Sarah tidak apa-apa, Ibu! Mungkin karena mencium bau bumbu nasi goreng ini yang terlalu menyengat", Sarah berkilah agar ibunya tenang. Meski sebenarnya ia sendiri tidak tau kenapa ia bisa bersin sampai begitu keras seperti itu.


"Oh, yasudah! Kalau begitu lanjutkan masaknya! Calon pengantin, masak yang enak ya! Awas nanti keasinan!", Ibu Asih menyentuh lengan Sarah sambil menggoda putrinya itu.


"Apa sih, Ibu! Ada-ada saja!", wajah Sarah jelas memerah saat ibunya menyebutkan hal ini. Ia lalu mengalihan pandangan dan bersamaan itu pula Ibu Asih kembali ke meja makan.


Sarah mendengus, ia sepertinya tau apa penyebabnya bersin sampai seperti itu. Pasti ada yang sedang memikirkannya. Dan ia yakin hanya Sam yang bisa sampai membuatnya bersin sekeras itu.


Bibir Sarah mencibir, meski tak ada wujud pria itu. Tapi Sarah membayangkan jika wajah Sam sedang ada di hadapan wajahnya saat ini. Ia mengumpat pada bayangan itu, sebenarnya apa yang pria konyol itu pikirkan tentang dirinya?!


Rindu mungkin. Mungkin Sam sedang sangat merindukan dirinya. Dan begitu pun sama dengan dirinya yang sedang merindukan pria itu. Tapi Sarah berharap, agar Sam tidak melakukan hal-hal konyol. Karena Sarah juga tau jika pria itu, selain konyol juga sangat nekat.


Mulai tadi malam, Ibu Asih meminta Sarah untuk tinggal bersamanya saja. Wanita paruh baya itu khawatir meninggalkan putrinya yang akan segera menikah itu sendirian. Pasti ada banyak hal yang bisa dibicarakan mengenai pernikahan putrinya itu dengan dirinya. Ia tidak ingin Sarah merasa kesepian dan juga kebingungan sendirian.


Dan lagi hal ini mendapatkan dukungan keras dari Krystal. Karena wanita itu sangat senang karena saat ia pulang dari bekerja, sudah ada teman yang akan menemainya berbincang sampai malam.

__ADS_1


***


Siang ini Sam ada jadwal meeting dengan kliennya di luar. Mereka akan bertemu di restoran langganan Sam. Dan itu adalah permintaan Sam sendiri. Karena ia akan melaksanakan rencananya di sana.


Jika ia memilih gedungnya untuk dijadikan tempat meeting, maka akan sangat sulit baginya untuk melarikan diri. Karena di sana tentu semua orang sudah mengenali wajahnya. Berbeda jika itu berada di luar, pasti ada celah untuknya bisa kabur dari orang-orang itu.


***


Sam bersama dengan sekretarisnya sedang menikmati makan siang mereka bersama dengan klien yang mereka undang. Sambil menyantap hidangan itu, sesekali mereka terlibat dalam pembicaraan bisnis.


Wajah semua orang makin serius saat makanan sudah habis di piring mereka, dan pembicaraan terlihat makin serius.


Setelah mencapai sebuah kesepakatan, akhirnya semua orang bisa berbincang-bincang santai. Dan akhirnya Sam memilih momen ini untuk memulai rencananya.


Tangannya melambai pada pengawal yang selalu berada di sisinya itu. Dan salah satunya maju setelah merasa di panggil untuk mendekat.


"Ini! Kalian makan sianglah! Aku tidak tega melihat kalian berdiri terus seperti itu! Aku yakin kalian pasti laparkan?! Ayo duduk di meja itu lalu pesan makanan apapun yang kalian sukai!", sambil menyodorkan kartu kredit miliknya, tangan Sam menunjuk ke arah kursi-kursi di hadapannya pada orang itu.


"Kami tidak berani, Tuan! Ini memang tugas kami! Kami bisa makan nanti!", pengawal itu menganggguk dengan sopan menolak Sam.


"Aku ini manusia yang sangat berperikemanusiaan, jadi aku tidak bisa melihat seseorang tidak makan jika aku sendiri saja sudah merasa kenyang. Cepat ambil! Ini perintah!", Sam memberikan sedikit gertakan sehingga pengawal itu nampak canggung.


"Ta,, tapi, Tuan!", pengawal itu bingung. Lalu memandang ke arah temannya meminta bantuan untuk menjawab.


"Kalau begitu terima kasih, Tuan Sam! Kami memang sedan lapar!", tanpa pikir panjang, pengawal yang satunya lagi segera menyambar kartu kredit yang masih terjepit di antara kedua jari tuannya itu.


"Hey,, tapi,,, ", pengawal yang pertama dipanggil oleh Sam memperingati rekannya bahwa mereka sedang berada dalam tugas besar sekarang lewat tatapan matanya.


Pria itu tak lupa tersenyum lalu memasang ekspresi seriusnya sambil mengernyitkan dahi. Ia ingin meyakinkan para pengawal yang keras kepala itu.


"Baiklah, kalau begitu! Kami permisi pesan makan dulu, Tuan! dan terima kasih atas kebaikan Tuan pada kami!", keduanya telah sepakat setelah berpikir untuk beberapa saat. Lalu membungkuk hormat sebagai tanada terima kasih keduanya.


"Sudah-sudah! Tidak perlu sungkan begitu!", salah satu tangannya melambai di samping wajahnya sambil memejamkan mata.


Dan akhirnya Sam, pria itu mengukir senyum liciknya saat melihat kedua pengawal itu mulai memunggunginya untuk beranjak ke arah tempat duduk yang telah Sam tunjuk tadi.


Sambil memilih menu yang akan mereka pesan, keduanya sesekali mencuri pandang ke arah Sam, orang yang harus mereka jaga, jangan sampai orang itu lepas dari pandangan mereka.


Sam tau jika saat ini dirinya diperhatikan pun, menaikkan salah sudut bibirnya yang tak terlihat. Sambil terus mengikuti perbincangan itu, matanya juga sesekali melirik ke arah mereka. Dan sebelum tertangkap basah, Sam buru-buru mengalihkan pandangannya lagi dengan tenang.


Ah! Sepertinya ini waktu yang tepat! Sam berseru kegirangan dalam hati saat seorang pelayang datang ke arah meja itu, tempat para pengawalnya sedang menyebutkan menu apa saja yang mereka pesan.


Pandangan kedua orang itu tertutup karena kehadirang pelayan yang sedang menuliskan pesanan mereka. Kedua sempat saling melemparkan tatapan, namu salah satunya mengangguk tak apa. Karena menurut penilaiannya tak akan terjadi masalah karena ia merasa Tuan Sam sudah menjadi sangat penurut sejak awal mereka mengikutinya.


"Saya permisi ke kamar mandi dulu sebentar!", Sam berseru pelan pada rekan-rekan bisnisnya sambil tersenyum ramah.


"Bagaimana dengan mereka, Tuan?!", sekretarisnya berbisik sebelum Sam benar-benar berdiri. Ia juga tau bagaimana situasi Sam saat ini.


"Katakan saja apa yang aku katakan!", Sam menepuk bahu sekretarisnya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia tak akan menyeret sekretaris yang selalu setia padanya itu dalam masalah ini. Jadi Sam berharap jika sekretarisnya hanya harus bersikap tenang saja.


Dan pria itu pun sudah benar-benar berdiri saat ini. Ia lalu berlalu dengan langkah yang amat hati-hati. Tak bersuara bak hantu yang melayang.


Tentu saja, ia sempat ke kamar mandi sebentar. Ia mencuci wajahnya sekedar untuk menyegarkan diri. Karena sebelum nanti ia bertemu dengan Sarahnya, ia ingin terlihat segar dan percaya diri.


Dan ia langsung berjalan ke arah pintu keluar, bukannya ke arah ruangan VIP tempatnya tadi melakukan meeting dan makan siang.


***


"Kemana Tuan Sam?", wajah para pengawal itu sangat panik setelah mengetahui bahwa Tuan mereka tidak ada di hadapan matanya.


Begitu pelayan itu pergi, mereka langsung dihadapkan dengan kursi kosong dimana seharusnya Tuan mereka berada tadi. Dan langsung saja keduanya bertanya pada sekretaris yang selalu berada di sampingnya itu.


"Tadi Tuan bilang akan ke kamar mandi!", wajah polos itu berkata benar. Tak ada kebohongan sedikit pun di sana.


"Sial!", kedua pengawal itu mengumat secara bersamaan sambil bergegas mencari keberadaan Tuannya itu.


Mereka sudah diingatkan oleh Tuan besar mereka bahwa putra bungsunya ini sangat liciik dan licin. Harus ekstra hati-hati dan waspada dalam menghadapi Sam itu. Sebagai ayah, Tuan Dion tentu sudah tau karakter anak-anaknya itu.


Wajah mereka semakin panik saat tak menemukan keberadaan Tuan Sam mereka di dalam kamar mandi. Benar saja, Tuan mereka yang satu ini memang memiliki kelicikan yang luar biasa.


Salah satunya mengecek lagi ke arah ruangan tempat mereka tadi makan siang, mungkin saja Tuannya sudah kembali ke sana. Lalu orang itu menggeleng pada temannya setelah membuka pintu dan mendapatkan hasil nihil.


Lalu mereka berlari ke arah luar restoran. Dan mencari-cari ke sekitar area paskir. Di bawah teriknya mentari, kedua wajah itu sudah memerah dan berkeringat banyak. Mereka sudah sangat frustasi saat ini.


plak,, plak,,


Lalu tiba-tiba kepala mereka dipukul oleh sebuah gulungan koran yang tebal oleh seseorang.


"Sial! Siapa yang berani-berani,,,,", salah satunya mengumpat sambil mengusap kepalanya yang sedikit sakit. Hingga akhirnya mereka tertegun setelah mendapati siapa gerangan yang baru saja memukul mereka sebenarnya.


"Tu,, Tuan besar!", buru-buru keduanya menundukkan kepala dalam-dalam.


Mereka sangat menyesal karena saat ini mereka gagal dalam tugas besar yang sedang mereka jalankan. Setelah ini pasti mereka akan dipecat karena hal ini.


"Dasar tidak becus! Apa saja yang kalian lakukan sebenarnya sampai bisa membuat cecunguk itu lepas dari pandangan mata kalian, hah!", Tuan Dion berkacak pinggang.


Memang terdengar saat ini beliau sedang memarahi anak buahnya itu. Hati mereka merasakan krisis yang nyata saat ini. Namun saat melihat kemana arah gulungan koran itu ditujukan, krisis itu tiba-tiba hilang.


Dan terlihat lah Sam yang sudah duduk di dalam mobil dengan tangan dan kaki yang diikat rapat. Wajah pria itu jelas sedang sangat kesal sekarang. Usahanya gagal total.


Tadi, saat wajah pria itu sangat senang karena akhirnya bisa kabur dari penjagaan kedua orang itu. Di depan lobby restoran itu, tiba-tiba saja tubuhnya diringkus oleh empat pria berbadan tegap. Saat sedang kebingungan, sebuah suara familiar terdengar di telinganya.


Tuan Dion, sejak di rumah pagi tadi, ia melihat ada sesuatu yang aneh dengan gelagat putranya itu. Maka dengan instingnya sebagai orang tua, ia pun diam-diam mengikuti Sam sampai di restoran siang ini. Sayang sekali, dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Sam hari ini.


Sempat terbesit dalam pikiran kedua orang itu bahwa Tuan Dion ini cukup kejam pada putranya sendiri. Tapi setelah dipikir-pikir, memang harus seperti ini sepertinya dalam menghadapi licik dan nakalnya tingkah putra bungsunya itu.


"Aku akan tetap memberikan hukuman pada kalian!", sambil lalu Tuan Dion mengatakan kalimatnya.

__ADS_1


Tidak apa-apa mereka di hukum. Asal jangan dipecat saja! Meskipun hukumannya akan berat sekali pun, mereka akan tetap menerimanya asal mereka bisa tetap bekerja untuk keluarga itu.


__ADS_2