Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 189


__ADS_3

Sang fajar telah keluar dari peraduannya di ufuk timur sana bersamaan dengan embun pagi yang menyapu ke seluruh permukaan bumi yang sudah berangsur pagi. Belum juga terang jadi sejuknya membuat beberapa insan kembali memeluk bantal dengan nyaman. Itu bagi Sarah, tidak bagi Sam.


Pria itu sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Matanya tak bisa terpejam lagi lantaran ia sedang menikmati cantiknya wajah wanita yang sudah sangat ia rindukan itu. Wajah polos itu begitu menggemaskan, apalagi dengan kondisi mulutnya yang sedang menganga, rasanya Sam ingin membungkam mulut itu dengan mulutnya.


Sam menikmati tidurnya malam ini. Meskipun ia harus sukarela menyerahkan dirinya untuk dijadikan guling hidup oleh Sarah. Tapi yang terpenting adalah ia bisa menghabiskan malam ini bersama dengan wanitanya. Yah,,, meski tidak terjadi apa-apa! Sam mendesah lega, karena ia masih bisa mengendalikan pikirannya untuk tidak melakukan hal-hal yang malahan akan membuat Sarah marah dan ia pun akan menyesal nantinya.


Maka ia puaskan dirinya dengan memandangi wajah wanita itu lama-lama hingga tangannya tak tahan untuk menyentuh setiap bagian wajah milik wanita itu. Satu tangannya yang bebas ia angkat secara perlahan ke arah Sarah yang masih terpejam matanya. Wanita itu sepertinya masih terseret arus mimpi yang sangat kencang, dan menguntungkan bagi Sam karena ia bisa berlama-lama menikmati indahnya wajah itu.


Sam menempatkan tangannya pada pipi mulus wanita itu. Ia mengusap pelan dan sangat lembut. Tangannya sedikit bergetar, mungkin karena ia terlalu gugup. Atau mungkin juga karena rasa rindu yang sudah membuncah sehingga ia ingin melakukan lebih dari ini. Ia ingin memeluknya, mendekapnya, menghujaninya dengan ribuan ciuman di kepalanya. Sam sangat, sangat merindukan wanita ini.


Ia selipkan anak rambut yang berantakan dan menghalangi kecantikan wanitanya itu ke belakang telinga. Sambil menahan tawa, Sam mengusap bibir lembut yang sedang terpisah karena Sarah sedang menganga. Untung saja tidak ada air liur di sana, jika ada nanti Sam berencana akan mengerjai wanita ini habis-habisan hingga dia malunya bukan main. Haha,, otak jahilnya kembali bekerja setelah sekian lama. Itu sangat menyegarkan pikirannya. Ya, dengan hadirnya Sarah, otaknya selalu merasakan kesegaran dan tiba-tiba hilang semua beban yang ada di pundaknya.


Sarah, oh Sarah! Akhirnya Sam bertemu dengannya juga. Sam sudah mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan saat dirinya mabuk semalam. Dia tersenyum terus dan terus saat mengingat kejadian itu. Oh, dasar pemabuk! Dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia tidak menyadari bahwa itu adalah Sarah yang mengurusnya sejak di sana?! Tapi ceritanya mungkin tidak akan semanis ini jika ia sudah sadar sejak awal. Takdir, sepertinya ia harus mengucapkan banyak syukur kepada Tuhan, karena Ia sudah berbaik hati memberikan kesempatan untuknya bertemu lagi dengan Sarah. Ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ia akan mencintai Sarah dengan segenap jiwanya.


Sebuah gerakan kecil yang Sarah lakukan membuat Sam menurunkan tangannya dengan cepat. Ternyata wanita itu hanya sedikit menggeliat, mungkin untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku. Lalu wanita itu kembali ke posisi awalnya, menjadikan Sam guling lagi. Tapi kali ini mulut Sarah sudah menutup, tidak terbuka lagi. Maka itu membuat Sam harus menahan tawanya. Rasa kantuk kembali menyerangnya, toh ini memang masih terlalu pagi untuk mereka bangun. Maka ia menghadiahkan pucuk kepala Sarah dengan satu ciuman singkat, lalu ia pejamkan matanya sambil menikmati nyamannya pelukan wanita itu saat ini.


***


Jam dinding pada apartemen itu menunjukkan pukul delapan pagi. Ini sudah terlalu siang, tapi dua insan di atas tempat tidur itu masih menikmati alam mimpinya masing-masing. Hingga mereka tak sadar jika seseorang mulai masuk ke dalam apartemen yang mereka tinggali.


Terlihat seseorang berkas hitam menekan password apartemen itu, lalu membuka pintu dan melangkahkan masuk ke dalam tanpa membuat suara sedikitpun. Di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik yang kini tengah menggandeng tangannya. Wanita itu menahan mulutnya untuk tidak tertawa membayangkan ekspresi sahabatnya nanti ketika bangun dari tidurnya. Dan dia benar-benar harus memainkan perannya kali ini. Ini penting, demi keberhasilan rencana mereka di depan.


"Bagaimana kita akan membangunkan mereka?", tanya Ken sambil berbisik ke dekat telinga istrinya.


"Sebut saja nama mereka masing-masing! Kau panggil adikmu, dan aku akan memanggil sahabatku! Bagaimana?", jawab Ana berbisik ke dekat wajah suaminya.


"Baiklah! Tunggu Aya dan Bunda datang! Sepertinya mereka sudah sampai parkiran", bisik Ken lagi.


Ana mengangguk setuju dengan apa yang suaminya katakan. Bagaimanapun juga ia adalah seorang pebisnis yang handal maka Ana yakin Ken pasti benar dalam memberikan strategi yang ia miliki di otaknya. Ini baru akan ia lakukan karena semalam ia baru saja membuat keputusan untuk mempersatukan Sarah dan Sam, adik iparnya. Ia akan memberikan kesempatan ini, tapi jika adik iparnya itu berani membuat sahabatnya terluka lagi, maka hukuman yang akan ia terima akan lebih menyiksa dari apa yang ia rasakan sebelumnya.


Lamunan Ana buyar saat seseorang menepuk bahunya dengan lembut. Ana menoleh dengan wajah yang sedikit terkesiap. Itu mereka, mertuanya Ana. Itu Tuan Dion dan Nyonya Rima. Keduanya memasang senyum saat mereka baru saja tiba. Mereka mengerti situasi saat ini. Semuanya masih terkendali rupanya.


Ken menganggukkan kepalanya kepada tiga orang lainnya. Semua orang mempunyai perannya masing-masing. Ken sudah berdiri di seberang ranjang sambil bersandar di dinding. Dan tangannya ia lipat di depan dada. Dan Ana tugasnya menyibak gorden dan tirai yang menghalangi sinar mentari pagi itu menembus ke dalam. Sedangkan kedua orangtuanya, Ken persilahkan untuk duduk manis di sofa menunggu tugas selanjutnya setelah ini.


"Sam!".


"Sarah!".


"Sam!".


"Sarah!".


Satu kali, dua kali, tiga kali Ken dan Ana memanggil kedua nama itu. Nama dari orang-orang yang masih memejamkan matanya di atas tempat tidur di hadapan mereka. Suami istri itu kini berdiri berdampingan dengan Ana yang sedang memeluk lengan suaminya dengan manja.


Mendengar nama mereka disebut, maka baik Sam dan juga Sarah, keduanya terlihat menggeliat bersamaan. Sarah bangun dari posisi tidurnya, ia kini terduduk sambil terus menggeliat dan merentangkan tangannya. Matanya masih buram, ia belum sempat melihat dengan jelas karena ia masih sibuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Mungkin karena Sam semalam.


Kedua orangtua itu menahan senyumnya melihat ekspresi polos dari wajah Sarah. Kali ini Nyonya Rima sudah bertekad, ia akan mengejar Sarah untuk menjadi menantunya. Dan itu harus terjadi, harus. Entah darimana tekad itu berasal, tapi membayangkan wajah putranya berseri-seri sepanjang hari membuatnya merasa memiliki kebahagiaan tersendiri.


Ya, Sam. Ini karena ulahnya yang menjadi pemabuk semalam. Tunggu,, tunggu,, ini ada yang salah! Ada yang tidak seharusnya. Sarah menoleh ke arah orang yang berada di sebelahnya, ia adalah Sam. Iya, dia adalah Sam. Berarti semalam ia tertidur di sini, di ranjang ini dan bersama pria ini.


"Aaakkhh!", Sarah menjerit.


"Aaaaahhkk!", Sam juga ikut menjerit.


Mereka saling melempar pandangan di tengah jeritan mereka. Sarah yang wajahnya mulai panik, sedangkan Sam sedikit lebih datar tentunya. Apalagi saat Sarah melihat sudah ada berapa pasang mata di ruangan ini. Terutama kedua di antaranya adalah orang tua Sam, yang membuat Sarah tak ingin menghentikan teriakannya. Ia bertambah terkejut saat ini.

__ADS_1


"Cukup,,, cukup!", Ana melambaikan tangannya berusaha menginterupsi kedua orang itu untuk berhenti. Sedangkan Ken disampingnya sibuk mengorek kupingnya dengan kelingking. Telinganya sakit mendengar dua orang itu berteriak begitu keras.


Keduanya pun menghentikan jeritan mereka. Wajah Sarah paniknya bukan main, lain halnya dengan Sam yang hanya diam berusaha untuk tenang. Sarah menoleh ke arah Sam dengan wajah khawatir. Dan ternyata Sam sudah memandanginya sejak tadi, namun pandangan itu seakan ia meminta penjelasan dari wanita itu.


Apa? Kenapa pria itu melihatnya seakan-akan dia yang menjadi korban. Sarah itu wanita, pasti ia yang akan merasakan kerugian besar. Sarah melotot ke arah Sam. Tapi ia kemudian sadar kenapa pria itu menatapnya seperti itu.


"Kau harus bertanggung jawab, Sarah! Kau telah menodaiku!", ucap Sam dengan wajah memelas kepada wanita itu lalu kepada kedua orangtuanya. Sam menaikan selimut sampai menutupi dadanya seakan-akan ia baru saja dilecehkan.


"Heh!", Sarah mengernyit bingung. Bagaimana bisa pria ini menjadi tidak tau malu.


Baik Tuan Dion maupun Nyonya Rima hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Putra bungsu mereka memang tidak bisa dihentikan tingkah konyolnya. Dan yang ingin Tuan Dion lakukan saat ini adalah memukul kepala putranya itu hingga ia mengaduh kesakitan. Sedangkan Ana dan Ken sedang berusaha keras menahan diri untuk tidak tertawa.


"Jadi sudah terjadi sesuatu di antara kalian?", Ken melipat tangannya di depan dada sambil mengajukan pertanyaan pertamanya untuk memulai interogasinya. Wajahnya dibuat seserius mungkin. Ya tapi memang pada dasarnya sudah seperti itu memang, dingin dan flat.


"Tidak!".


"Ya!", keduanya menjawab bersamaan. Sarah merasa jika tidak terjadi apapun pada dirinya. Tapi kenapa pria itu menjawab ya?! Tunggu dulu, apa yang pria itu lakukan adalah menatapnya dan menatapnya. Mata Sam melirik ke arah pakaian yang Sarah kenakan.


Ah sangat sial! Benar saja, kemeja Sam yang ia kenakan terlihat berantakan saat ini. Bahkan dua kancingnya sudah terbuka hingga hampir memperlihatkan belahan bukit kembarnya. Dan itu sedikit terbuka pada bagian atasnya sehingga memperlihatkan kedua bahunya.


"Kau yang melakukannya, kan?!", tuduh Sarah dengan wajah marahnya.


"Hey, mana mungkin. Aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba ada kau di sebelahku. Dan bahkan aku tidak memakai bajuku. Kemana bajuku?! Aku tidak ingat sama sekali karena kupikir semalam aku mabuk berat, kan?!", Sam membela diri dengan akting wajah polos tanpa dosa.


"Itu pasti kau kan yang menggodaku agar bisa naik ke ranjangku!", tuduh Sam lagi dengan wajah yang membuat semua orang benar-benar kesal dengan aktingnya.


"Jangan menuduh sahabatku sembarangan, bodoh! Kau mau aku pukul, ya!", Ana berjalan mendekat ke arah keduanya. Ia melempar tatapan tajam ke arah Sam sambil tangannya yang sudah melayang di udara.


"Siapa yang bicara sembarangan, kakak ipar?! Melihat bagaimana kondisi kami saat ini, pasti sudah jelas bahwa aku telah,,,, dinodai!", wajah Sam dibuat memelas.


"Heh!", Sarah mengernyitkan alisnya lagi dengan perasaan benar-benar kesal.


"Iya, aku memang rindu!", wajah Sam yang semula selalu ada senyum konyol di sana, seketika berubah menjadi serius.


"Sangat rindu, malah!", kali ini lebih serius lagi. Bahkan Sam terang-terangan menatap jauh ke dalam mata Sarah.


Ana yang melihat hal itupun memilih untuk mundur perlahan agar tak bersuara. Ia memilih untuk berdiri ke samping suaminya. Ia tak ingin mengganggu momen intens ini antara adik ipar dan sahabatnya.


Tapi,,, Ana merasa sesuatu terasa yang tidak enak di dalam dirinya. Ia menoleh ke arah Ken sambil menarik-narik lengan jas yang Ken kenakan. Wajah Ana mulai pucat dan berkeringat.


"Ada apa sayang?", wajah Ken berubah khawatir.


Ana menggembungkan pipinya sambil menggelengkan kepala. Ia sudah tak mampu menjawab lagi karena gejolak di dalam perutnya sudah semakin menjadi. Ia langsung berlari ke arah kamar mandi lalu disusul oleh Ken di belakangnya. Ana mengeluarkan isi perutnya. Ini adalah morningsickness yang biasa Ana lewati akhir-akhir ini. Dengan telaten Ken membantu Ana mengelus punggungnya agar merasa lebih baik.


Nyonya Rima pun menyusul ke sana. Ia berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan putra dan menantunya.


"Apa Ana selalu seperti ini, Ken?", tanya Nyonya Rima perhatian.


"Ya, Bunda setiap hari, hanya saja ini berlangsung hanya di setiap pagi. Ketika pagi menjelang, maka mual Ana juga akan hilang!", Ken menjelaskan dengan tenang apa yang sudah ia ketahui. Meskipun saat awal-awal Ana merasa seperti ini Ken menjadi panik karena belum memiliki pengalaman apa-apa. Setelah berkonsultasi dengan dokter maka hati Ken menjadi tenang.


"Tidak apa-apa, sayang! Kau harus bersabar ya, ini mungkin akan terjadi selama tiga bulan awal masa kehamilanmu. Setelah itu mungkin kau akan merasa lebih baik", Nyonya Rima dengan perhatian membantu Ana membersihkan wajahnya dengan handuk kecil yang baru saja ia ambil di dekat wastafel di dalam kamar mandi itu.


"Iya Bunda, Ana mengerti! Tapi,,,,,", Ana seakan ragu menyampaikan gejolak yang begitu besar di dalam hatinya. Dan entah kenapa ia ingin sekali hal ini dikabulkan. Tapi tetap saja ia agak ragu untuk menyampaikan permintaannya ini.


"Ada apa, sayang?", tanya Ken mulai khawatir dengan perubahan wajah istrinya itu. Wanita itu tiba-tiba merasa sedih dan murung.

__ADS_1


"Ini terkait Sam dan Sarah. Bisakah Ana mengatakannya di depan mereka?", pinta Ana dengan wajah memelas kepada keduanya, suaminya dan juga ibu mertuanya.


"Hemmh, baiklah! Ayo!", Nyonya Rima membantu Ana berjalan keluar diikuti Ken di belakangnya.


"Ana, apakah kau baik-baik saja?", tanya Sarah khawatir masih di atas ranjang Sam. Ia malu untuk bangun dari sana karena ia tak ingin semua orang melihat pakaiannya yang tak pantas.


"Ya, aku baik-baik saja!", Ana berusaha untuk tersenyum. Namun ia juga tak bisa menyembunyikan wajah murungnya.


"Sam, Sarah! Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian!", Ana mengangkat wajahnya yang jelas terlihat sedikit sedih.


"Ada apa Ana? Katakan saja!", ucap Sarah.


"Iya kakak ipar, katakan saja! Mungkin kami bisa membantu!", ucapan Sam yang tulus mendapat lirikan tajam dari Sarah.


"Aku atau kau, tidak ada kami!", gertak Sarah sambil merapatkan giginya. Ia tak suka mendengar ucapan Sam tentang bagaimana dirinya dan juga pria itu menjadi satu. Sarah belum bisa menerima Sam saat ini.


"Baiklah, terserah padamu sayang!", Sam malahan menampilkan senyumnya yang mengejek ke arah Sarah dan membuat wanita itu menggeram marah.


Masa bodoh lah, Sarah belum ingin marah-marah saat ini. Sepertinya mendengarkan Ana adalah yang lebih penting sekarang.


"Ada apa, Ana?", tanya Sarah lagi tanpa mempedulikan Sam di sampingnya.


"Begini!", Ana tertunduk kepalanya.


"Aku ingin Sarah dan Sam menikah dan melakukan resepsi bersama dengan kita, sayang! Pasti,, pasti akan sangat menyenangkan jika kita berempat berada di pelaminan yang sama", Ana mengangkat wajahnya untuk memandang wajah suaminya dengan tatapan penuh harap. Ken belum bisa menjawab, ia hanya mengelus pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Whaaatt!", Sarah menjerit histeris.


"Okay! I'm already, bos!", sedangkan Sam menyeringai puas. Lagi-lagi ia mendapatkan tatapan sengit dari Sarah.


"Ana kau jangan bercanda!", ucap Sarah dengan nada memohon pada Ana. Pasalnya kan Ana tau sendiri keadaan dan situasinya. Kenapa sekarang Ana malah mengajukan permintaan yang tidak-tidak seperti ini.


"Apakah ini salah satu dari rencana kalian?", dengan polosnya Nyonya Rima bertanya kepada Ken dan juga Ana. Tuan Dion yang masih setia duduk di sofa sana, kali ini tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan konyol istrinya. Harusnya pertanyaan itu tidak dikeluarkan, karena hanya akan membuat Sarah makin curiga saja.


"Ana?", wajah Sarah benar-benar diliputi tanda tanya besar saat ini.


-


-


-


-


-


baca juga kisahnya Ben dan Rose di novelku yang satunya lagi yang judulnya


🌹Hey you, I Love you!🌹


Follow instagram aku yuk di @adeekasuryani dijamin bakalan aku folback ,karena makin banyak teman makin baik, kan 😊


jadi jangan lupa tinggalin like sama vote kalian di sini dan di sana ya 😁


terimakasih teman-teman πŸ˜‰

__ADS_1


love you semuanya 😘


keep strong and healthy ya


__ADS_2