Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 222


__ADS_3

"Hishh! Selalu saja begini!", Sam menggerutu kesal sambil berdiri di ambang pintu ruangan itu.


Seakan tidak mempedulikan kehadiran makhluk itu, Ken dengan begitu perhatian menghapus jejak-jejak kegiatan mereka di bibir istrinya. Begitupun dengan Ana, ia melakukan hal yang sama pada bibir suaminya.


"Mau berapa lama lagi di situ? Sarah ada di ruangan sebelah!", Ana berbalik dengan wajah datarnya. Wajah yang selalu Sam takuti karena setelah wajah datar ini, akan muncul ekspresi dingin lalu muncul lagi aura membunuh yang menyeramkan. Hiiihh!! Mengingat hal itu saja sudah membuat Sam menggigil sendiri. Selain kakaknya, ada juga kakak iparnya yang selalu ia hindari jika sudah marah. Horor!!!


Tapi benar juga, untuk apa dia masih berdiri di situ?! Sudah tau sendiri jika dia salah masuk ruangan. Tapi kakinya seakan tak mau diajak bergerak tadi. Indah sekali melihat romantisme kakak dan kakak iparnya itu. Haishh,, membuatnya iri saja. Tapi sekarang dia sudah memiliki Sarah. Jadi nasibnya sudah tidak terlalu mengenaskan seperti dulu. Hanya bisa gigit jari setiap kali melihat adegan semacam ini.


"Heh! Iri? Sudah ada Sarah, kan?!", sahut Ken ketus sangat mengerti arti mimik wajah adiknya itu.


"Siapa bilang aku iri?!", bantah Sam tidak terima. Ia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan menantang seakan ia akan menang. Padahal dalam hati ia gemetar juga menghadapi dua orang yang sulit ini. Adakah yang berani melawan sepasang suami-istri kejam ini?! Jika ada tolong bantu dirinya! Sam berteriak dalam hati.


"Wajahmu!", kali ini giliran Ana yang menjawab dengan gaya yang sama dengan yang Sam lakukan saat ini. Namun saat Ana melakukannya, ia jadi tambah terlihat menyeramkan bagi Sam.


"Wa,,wajah?", Sam jadi meraba wajahnya sendiri dengan tangan gemetar. Aura mereka berdua memang sangat menekan.


"Sangat jelas!", sahut Ken dari belakang Ana dengan suara tegasnya.


Sepertinya sangat jelas jika mereka berdua sedang kesal pada kehadirannya yang tiba-tiba. Acara romantis-romantisan mereka jadi terganggu karena dirinya. Sangat jelas bukan? Sangat jelas jika nyawanya akan terancam jika dalam beberapa detik lagi ia masih berdiri di sini.


"Baiklah, aku pergi!", Sam langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Ana membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ken lagi. Keduanya tersenyum penuh arti. Sepasang suami-istri itu belum puas dengan apa yang mereka lakukan tadi. Penyatuan cinta mereka memang tidak ada habisnya. Hingga terjadi lagi kecupan-kecupan nikmat di antara keduanya.


***


Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju ruangan dimana calon istrinya berada. Ya meskipun kakak dan kakak iparnya mengerikan, tapi cinta yang mereka punya sungguh menjadi tauladan baginya. Ia harap apa yang ia miliki dengan Sarah akan menjadi cerita cinta yang sama menakjubkannya dengan milik kakaknya.


"Ada apa denganmu? Apakah kau baru saja dikejar hantu hingga jalan terburu-buru seperti itu?", tanya Sarah penasaran setelah melihat Sam masuk ke dalam.


"Ya, hantu yang sangat menyeramkan!", Sam mendudukkan dirinya di samping Sarah masih dengan wajah ketakutannya. Ia juga masih sempat menggigil sebentar hingga wanita di sampingnya menjadi terheran-heran.


"Silahkan Nona kita coba gaunnya!", salah satu pegawai menghela agar Sarah mengikuti ke arah tangannya.


Tak lama setelah Sarah pergi, Sam pun mengganti pakaiannya dengan setelan jas putih yang telah dipersiapkan juga untuknya. Sang designer meneliti kekurangan apa yang ada pada design yang dia buat untuk Sam. Setelah dirasa cukup, designer itu undur diri sebentar untuk mengecek yang lainnya. Nanti ia akan kembali lagi untuk melihat milik Sarah.


"Huh!", Sam menghembuskan nafasnya lewat mulut untuk mengurangi perasaan gugupnya saat ini. Ia terus berusaha mengendalikan dirinya yang gelisah, padahal ini belum waktunya.


***


Sementara di balik tirai di ruangan yang sama, Sarah tengah dibantu memakai gaun putih yang lumayan berat jika hanya dia saja yang memakainya sendiri. Tapi ia melihat gelagat aneh dari pegawai wanita yang membantunya. Ia terlihat gelisah dengan keringatnya sebesar biji jagung bergulir pada dahinya.


"Ada apa dengan dirimu, Nona? Apa ada yang salah?", tanya Sarah dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nona!", pegawai wanita itu memaksakan senyumnya. Dan Sarah tau bahwa itu palsu. Pasti ada yang salah.


"Apakah kau yakin?!", Sarah tiba-tiba berbalik menghadap pegawai itu yang sebenarnya akan membantu Sarah menaikkan resleting gaunnya.


"Emmhh,, Sebenarnya Nona!,,, Bisakah Nona menaikkan resleting ini sendiri? Sebenarnya perutku sedang bermasalah. Dan aku sangat ingin pergi ke toilet sekarang. Tapi,,, tapi aku tidak enak pada Nona!", pegawai wanita itu menundukkan kepalanya menjelaskan dengan rasa malu yang menderanya. Keringat di dahinya masih mengucurkan deras.


"Oh ya ampun!", Sarah menepuk dahinya sambil memalingkan wajahnya. Ia terkekeh mendengar alasan orang yang berada di depannya ini. Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, sih! Sarah sungguh gemas dengan pegawai wanita itu.


"Ya sudah, tidak apa-apa! Kau pergilah sana! Aku bisa sendiri, tenang saja", senyuman Sarah sungguh mendamaikan hati pegawai itu. Ia jadi bisa tenang untuk menunaikan hajatnya sekarang.


"Terimakasih, Nona! Kalau begitu aku permisi dulu!", secepat kilat pegawai itu menghilang dari hadapannya.


Dan Sarah sempat mendengar gumaman pegawai itu tentang perutnya yang makin melilit. Senyumananya tak menyurut sambil menggelengkan kepala. Sungguh konyol seperti prianya saja, huh!


Sudah beberapa menit wanita itu berusaha menaikkan resleting itu dengan tangannya sendiri. Sudah berbuah jelek pula wajahnya karena kesal dengan usahanya yang selalu gagal. Ia bingung harus bagaimana ia saat ini. Sarah berharap di luar ada seseorang yang dapat membantunya. Ia lalu membuka sedikit tirai itu, mengintip keadaan di sana.


Hah,,, kenapa hanya ada orang itu saja, sih! Kepalanya berdenyut karena tak menemukan solusi. Sedangkan tangannya sudah sangat pegal saat ini. Tapi jika ia minta tolong pada Sam, ia merasa ini tidak bisa. Ia ingat apa yang terjadi di antara mereka berdua saat masih di kantor Sam tadi. Ia tidak ingin mereka berdua kembali terbawa suasana. Tapi ini bukan berarti ia menyalahkan pria itu saja, dirinya juga bersalah karena telah ikut ke dalam gairah pria itu. Maka dari itu, ia jadi tidak ingin menyiksa pria itu dengan melakukan hal ini.


Ia memejamkan matanya kuat-kuat sambil berdoa di dalam hati. Sangat berharap jika ada seseorang yang tepat datang ke ruangan itu sehingga ia bisa meminta pertolongannya.


krreet

__ADS_1


Suara pintu ruangan itu ditutup. Dan sontak mata Sarah terbuka lebar dengan senyuman yang amat lebar. Ia punya harapan sekarang. Tapi ia harus tetap waspada, jadi perlahan ia mengeluarkan kepalanya dari tirai yang ia cengkeraman kuat hingga menutupi lehernya.


"Kauu!!!", Sarah berteriak histeris sambil membelalakkan matanya.


__ADS_2