Wanita Pertama Presdir

Wanita Pertama Presdir
Episode 111


__ADS_3

Kini Ana tengah duduk di balkon sebuah mansion mewah. Semilir angin membelai rambutnya hingga sedikit berkibar. Dan akibat helaan angin itu, terlihat bekas luka yang mulai pudar namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang pada kening Ana di bagian kirinya. Ia meremas pakaian pada bagian dadanya, seakan terasa amat nyeri di sana. Sambil memandang keluar, ia menikmati rasa sakit yang saat ini hadir menyayat hatinya.


Dari ambang pintu yang mengarah ke balkon itu, Ben menatap Ana dengan tatapan sendu. Hatinya ikut merasakan apa yang kini Ana rasakan, rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


# FLASHBACK ON


"plaakk!", Ben mendaratkan tamparan keras ke arah salah satu anak buahnya yang merupakan tangan kanannya selama ini. Pria itu bernama Relly. Cap tangan Ben terpampang merah menyala pada pipi kanannya.


"Kenapa kau tidak melaporkan hal ini kepadaku?!", Ben menggeram dengan mata yang membulat begitu besar. Auranya sudah berubah begitu menyeramkan. Bahkan untuk berada dalam jangkauan beberapa meter pun, siapa saja pasti sudah bisa merasakan tekanan yang Ben berikan.


"Buat alasan yang memuaskan untukku!", perintah Ben dengan aura yang begitu dingin menusuk.


"Maaf Tuan, saya sempat tergoda olehnya sehingga saya jadi bodoh untuk menuruti apa saja keinginannya. Dan bodohnya lagi sejak awal dia tidak memberitahukan siapa sebenarnya wanita yang sedang ia incar. Kalau saja saya tau bahwa orang itu adalah Nona Ana, maka sejak awal saat mengetahui rencana busuknya, sudah saya habisi dia", tutur Relly terdengar jujur. Ia berusaha menahan rasa takutnya karena telah mengecewakan bosnya kali ini. Dan malah tergoda oleh rayuan wanita licik bernama Joice Alexander.


"Seandainya saya tau siapa orang yang wanita licik itu targetkan, mungkin saya sudah akan menghabisinya sejak awal, Tuan", tambah Relly dengan suara melemah. Ia menundukkan kepalanya dalam penuh dengan rasa penyesalan. Ia benar-benar tak mengira bahwa akan bodoh seperti ini dan membahayakan nyawa Nona Ana yang amat ingin bosnya lindungi. Apalagi Tuan Danu sudah Ben anggap seperti orang tuanya sendiri, dan Relly tau akan hal itu.


"Waktunya tidak banyak lagi, Tuan!", ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan memberi peringatan kepada Ben saat matanya tak sengaja melihat jarum jam di tangannya yang terus berputar.


"Selamatkan Ana, bagaimana pun caranya. Karena jika tidak, aku akan menghabisi nyawamu!", ucap Ben dengan geraman seraya menyambar kunci mobilnya.


Ben melebarkan langkah kakinya menuju area parkir mansion mewahnya. Dan Relly pun mempercepat langkahnya supaya bisa mensejajarkan diri dengan bosnya itu. Wajah mereka dipenuhi oleh rasa takut dan khawatir.


"Katakan pada orang suruhanmu untuk menghentikan apa yang mereka lakukan saat ini!", perintah Ben begitu ia sudah duduk di belakang kemudi.


"Baik, Tuan!", Relly segera merogoh ponselnya yang berada di saku celananya. Ia langsung menelpon orang suruhannya itu.


"Sial!", umpatnya setelah beberapa kali nomor itu tak dapat di hubungi.


"Maaf Tuan, nomornya tak dapat di hubungi", ucapnya penuh rasa bersalah.


"Cekk!", Ben berdecak kesal. Wajahnya sudah memerah akibat kemarahan yang sudah memuncak. Ia menatap tajam ke depan sambil menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini ia harus tetap tenang dan berpikir jernih agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk menyelamatkan Ana.

__ADS_1


"Perintahkan seseorang untuk melacak mobil yang Ana tumpangi lewat sinyal gps dari ponselnya!", ucap Ben berusaha untuk tenang.


"Baik, Tuan!", Relly segera melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.


***


Beberapa saat kemudian, mobil yang Ben tumpangi sudah berada di jalanan yang baru saja Ken dan Ana lewati. Pria itu menambah kecepatannya dan menyalip beberapa mobil untuk mencari keberadaan mobil yang Ken tumpangi. Mobil itu melesat begitu cepat, hingga akhirnya ia berada tepat di belakang mobil box yang berusaha mendorong mobil milik Ken. Baru saja ia akan menyalip mobil box itu untuk mencegah hal buruk yang akan terjadi pada mobil yang Ken dan Ana tumpangi, mobil box itu telah berhasil mendorong mobil Ken hingga masuk ke jurang. Dan setelahnya mobil box itu melesat, menghilang di tengah keramaian jalanan.


Ben tak bisa berpikir lama, ia memaksakan mobilnya yang sangat mahal itu menuruni jurang yang cukup terjal. Ben menyusuri tebing itu mengikuti ke arah mobil Ken yang berguling. Ia tak mempedulikan mobilnya yang mulai hancur tak berbentuk. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana ia bisa menyelamatkan Ana, itu saja.


Ben membanting stirnya ke kanan hingga menabrak pohon besar. Ia sengaja melakukan hal itu agar bisa menghentikan mobilnya yang terus menuruni jurang terjal itu. Pria itu menghentikan mobilnya saat ia melihat Ken terpental keluar dari dalam mobil. Dan kekhawatirannya makin menjadi saat ia menyadari bahwa Ana masih di dalam sana, berada di dalam mobil yang masih berguling tak tentu arah.


"Bereskan supir mobil box itu", perintah Ben cepat dan setelahnya ia langsung melompat keluar untuk mengejar mobil Ana yang akhirnya berhenti berguling karena menabrak sebuah pohon besar.


"Ana!", seru Ben ketika melihat sebuah tangan menjuntai keluar dari pintu mobil yang terbuka.


Ia terus berjalan mendekat sambil menghalau tanaman liar yang menghalangi langkahnya. Emosi yang melingkupinya sudah campur aduk tak karuan. Marah, sedih, takut dan khawatir menjadi satu saat ia melihat kondisi Ana yang sangat mengenaskan. Wajahnya sudah dipenuhi cairan merah segar yang bersumber dari keningnya. Dan luka-luka goresan memenuhi tubuhnya. Ia bernafas lega setelah mengecek denyut nadi Ana. Segera Ben mengangkat tubuh itu dalam gendongannya.


"Segera perintahkan orang untuk membawa mayat wanita dengan pakaian mirip Ana. Letakkan di sana dan bakar mobil itu", perintah Ben yang masih menggendong Ana.


Tak lama kemudian orang-orang Ben datang. Mereka langsung bergerak sesuai tugas mereka masing-masing. Beberapa di antaranya memeriksa keadaan mobil, ada juga yang membawa kantung mayat berisi mayat wanita, dan tiga di antaranya bertugas memeriksa kondisi Ana.


"Bagaimana kondisinya?", tanya Ben yang tak dapat menutupi kekhawatiran nya.


"Kondisinya sangat lemah, Tuan. Mungkin saja nona mengalami gegar otak. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!", ucap salah satu dari mereka.


"Aku tidak mau rencanaku gagal jika membawanya ke rumah sakit. Bawa semua peralatan rumah sakit yang dibutuhkan ke rumahku. Aku ingin Ana dirawat di sana", perintah Ben pada ketiganya.


"Periksa keadaan orang yang ada di sebelah sana. Jika keadaannya tidak buruk, maka biarkan saja", tambahnya lagi sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Ken berada.


"Baik, Tuan!", ucap mereka bersamaan. Ketiganya segera berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Ben setelah selesai melakukan pertolongan pertama pada Ana.

__ADS_1


"duaarrr", mobil itu telah meledak setelah orang-orang suruhan Ben berhasil membakarnya.


"Aku akan membalas semua yang terjadi padamu, Ana!", Ben menggeram namun tatapannya sendu ke arah wajah Ana.


Dengan cepat mereka meninggalkan tempat itu melewati jalur lainnya. Karena seseorang telah melapor bahwa mobil Han sudah tidak jauh dari lokasi mereka. Akhirnya Ben memutuskan untuk berjalan kaki sambil menggendong Ana. Mereka menuruni jurang itu sampai menemukan jalan setapak yang bisa membawa mereka ke jalan besar lagi. Dan mobil yang Ben tumpangi tadi telah dibawa oleh salah satu orang suruhannya untuk di derek. Dan untuk menghindari kecurigaan, salah satunya telah menyamar sebagai pengemudi mobil yang berantakan itu.


Tepat setelah mobil milik Ben di derek, Han beserta orang-orangnya datang.Mereka bergegas menuruni jurang itu untuk menyelematkan Ken dan Ana yang mereka pikir telah tiada.


***


"Ana, sadarlah! Kau harus bangun dan membalas semua ini!", ucap Ben lembut namun juga terdengar tajam dalam kalimatnya. Ia mengambil salah satu tangan Ana dan menggenggamnya erat.


Sudah hari ketujuh, namun Ana belum sadarkan diri juga. Ben selalu berada di sampingnya. Pria itu selalu setia menjaga wanita yang amat ia cintai ini, meskipun ia tau tak ada tempat di hati wanita yang tengah terbaring itu.


"Kumohon sadarlah, Ana! Kau harus menemui ayah, si Tuan Ken itu dan temanmu yang lainnya. Aku juga selalu menunggu mu membuka mata", ucap Ben yang tangannya sedang mengusap lembut pucuk kepala Ana. Meskipun saat mengucap nama rivalnya itu bibirnya bergerak sambil mencibir kesal.


"Tuan, anda sebaiknya istirahat dulu! Sudah beberapa hari ini tuan kurang tidur dan makan tidak teratur", Relly memberanikan diri berucap lantaran merasa khawatir dengan kondisi bosnya yang sangat berantakan itu.


"Aku tidak lapar. Aku ingin di sini menjaga Ana", ucap Ben sambil terus memandangi wajah Ana.


"Bahkan untuk menjaga Nona, anda juga butuh asupan tenaga, Tuan", Relly memberi sedikit penekanan dalam kalimatnya untuk mengalahkan sikap keras kepala dari bosnya itu.


"Atau tuan lebih memilih berbaring di ranjang pesakitan berdampingan dengan Nona Ana?!" tambahnya lagi. Saat ini ia merasa sedang membujuk seorang anak kecil yang sangat sulit lepas dari hewan peliharaan nya yang sedang sakit. Anak itu mengeraskan egonya sehingga tak mendengarkan saran dari siapa pun.


"Hah!", Relly menghela nafasnya panjang.


"Baiklah, saya akan merawat tuan nanti jika tuan sudah sakit dsn tidak bisa menjaga nona lagi", jurus terakhir telah ia keluarkan. Dan Relly akan menerima keputusan apa pun yang bosnya ambil. Entah itu masih keras kepala dengan tetap tinggal tanpa mempedulikan dirinya sendiri atau membenarkan apa yang Relly katakan dan mulai mengisi daya tahan tubuhnya dengan makan dan beristirahat sejenak.


Seketika Ben bangkit dari duduknya. Ia menatap Relly dengan begitu tajam selama beberapa saat. Kemudian ia berdiri membelakangi Relly dan berjalan mendekat ke arah jendela yang menampakan pesona jingga sore menjelang petang ini. Pesonanya itu membuat Ben menatap sejenak ke arah langit yang membentang sebelum akhirnya ia memulai langkahnya.


"Kau jaga Ana dulu!", perintahnya dingin sambil meneruskan langkahnya keluar ruangan dimana Ana dirawat di sana.

__ADS_1


Setelah kembali dari tempat kecelakaan, Ana masih tak sadarkan diri. Ia dibawa ke tempat tinggal Ben yang sudah mempersiapkan seluruh peralatan medis untuknya. Dan sampai saat ini ia belum juga sadarkan diri.


Setelah pintu itu tertutup rapat, jemari Ana bergerak. Sebuah keajaiban akhirnya datang. Relly segera memberitahu perkembangan ini kepada Ben dan dokter yang siap berjaga untuk menangani kondisi Ana.


__ADS_2