
"Tak!", remote ac mendarat di kening Ben hingga terpental jatuh ke lantai.
"Ayah!", seru Ben yang langsung mengusap keningnya yang terlihat sedikit memerah dan terasa nyeri.
"Itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa rinduku padamu!", Tuan Danu mendengus kesal.
"Ayolah ayah! Katakan saja jika kau ingin ku peluk!", Ben sudah merentangkan tangannya dan bergerak mendekati Tuan Danu.
"Stop!", pekik Tuan Danu dengan isyarat tangan seakan menahan Ben lewat udara agar tidak mendekat.
"Cukup! Cukup! Kau akan menyakitiku nanti. Duduk saja, duduk saja!", tambahnya memberi perintah pada Ben yang sudah mengangkat bokongnya hingga ia sudah setengah berdiri.
"Baiklah, jika ayah tidak ingin ku peluk!", Ben menaruh kembali bokongnya pada kursi itu dengan gaya tak peduli.
"Aku masih normal, Ben!", seru Tuan Danu sambil membulatkan matanya.
"Hey pria, ucapanmu sudah seperti anak muda saja ya !", Ben menyanggah dagunya dengan satu tangan dan tangan lainnya ia lipat di atas perut. Ia mengerutkan keningnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Cihh!", Tuan Danu berdecak menatap Ben dengan gemasnya yang selalu bisa menimpali apa saja yang ia ucapkan.
"Mari kita sudahi percakapan tidak berguna ini. Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?", Tuan Danu paham bahwa Ben memanglah orang yang sangat sibuk. Dan tak mungkin ia meluangkan waktunya untuk sesuatu yang tak sangat penting baginya.
"Aku akan melindungi Ana, ayah!", raut wajah Ben sudah berubah serius.
"Tapi nak, sudah ada Ken di dalam hatinya!", tutur Tuan Danu begitu lembut takut menyakiti hati Ben yang ia sangat tau sejak dulu pria itu menaruh hati pada putrinya.
"Aku tau!", seru Ben tegas.
"Lalu?", tanya Tuan Danu heran.
"Aku akan melindungi Ana dengan caraku sendiri, ayah! Aku tak akan merebut Ana dari pria yang sudah ia pilih. Tapi jika pria itu menyakiti Ana, aku akan membawa Ana bersama dengan diriku!", ucap Ben lambat-lambat untuk menekankan setiap kata dan kalimat yang ia ucapkan.
Sembilu memang sudah menusuk ke dalam jantungnya ketika ia mendapat kabar yang menyatakan bahwa Ana telah mempunyai seorang kekasih. Perasaannya selama bertahun-tahun itu tak dapat menyentuh hati Ana sedikit pun. Malah dikalahkan oleh pria yang baru saja bertemu dengannya beberapa kali. Sakit dalam hatinya tak dapat ia tutupi. Ben ingin menghiraukan segalanya, namun ia tak bisa mengalahkan perasaan kasihnya sebagai kakak. Jadi ia tau bagaimana caranya supaya ia bisa tetap menjaga Ana, dengan cara yang ia miliki.
"Baiklah aku lega bahwa putriku memiliki orang-orang yang dapat dipercaya di sekililingnya. Aku titip putriku pada kalian", Tuan Danu mengembangkan senyumnya tanpa rasa bersalah.
"Ucapan macam apa itu, ayah!", seru Ben yang sudah mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
"Memangnya ada yang salah dengan ucapan ku?!", tanya Tuan Danu polos.
"Apa kau sedang mengucapkan selamat tinggal?", ucap Ben geram.
"Sudah, sudah! Aku tak memiliki cukup tenaga untuk berdebat denganmu!".
"Apa yang coba ayah katakan?! Instingku mengatakan bahwa ini tidaklah benar!", gumam Ben dalam hati.
Ben menatap Tuan Danu dengan wajah datarnya, tapi matanya memandangi pria paruh baya itu dengan tatapan menyelidik. Ia mencari-cari ekspresi apa yang sedang ditampilkan pria tua ini. Tapi ia juga tak ingin memperpanjang masalah yang belum jelas saat ini. Biarlah ia simpan dulu apa yang mengusik pikirannya mengenai ucapan Tuan Danu barusan.
***
Mobil yang mereka tumpangi baru saja menghentikan lajunya di halaman rumah besar Wiratmadja. Ken mengulurkan tangannya kepada Ana untuk membantunya keluar. Dan dengan senang hati Ana menyambutnya.
"Ayo masuk!", ajak Ken seraya melingkarkan tangan Ana pada lengannya.
Ana memaku tubuhnya. Ia tak menjawab ataupun berucap, matanya menatao kosong jauh ke depan. Tingkahnya menahan gerakan Ken untuk melangkah.
"Jangan takut, oke", Ken mengecup dalam pada kening wanita yang dicintainya itu. Menyalurkan energi-energi positif agar Ana tak ragu mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ken.
"Siapa yang takut! Ayo!", seru Ana begitu bersemangat. Ia melangkah lebih dulu sehingga Ken pun terbawa oleh langkahnya yang sedikit cepat. Ken terkekeh melihat tingkah Ana yang cepat sekali berubah.
"Hey, nak!", Tuan Dion segera memeluk putra sulungnya yang sudah mendekat.
"Sedang apa ayah di luar? Angin malam tidak bagus untuk kesehatan, ayah!", ucap Ken begitu perhatian seraya melepas pelukannya.
"Aku belum terlalu tua, nak! Bahkan aku belum mempunyai cucu!", Tuan Dion kini mengarahkan pandangannya kepada Ana.
Deg
"Cucu? Astaga! Kenapa membahas cucu?! Bahkan kami belum menikah!" seru Ana dalam hatinya.
Ana tersenyum kikuk. Ia menundukkan kepalanya seraya mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai. Ken melihat hal itu langsung tersenyum gemas. Rasanya ingin sekali ia memakan wanitanya itu saat ini juga.
"Selamat malam, Nona Ana!", sapa Tuan Dion yang kini beralih menghadap Ana.
"Oh ya! Selamat malam, Tuan. Dan anda bisa memanggilku Ana saja, Tuan", jawab Ana dengan senyuman.
__ADS_1
Tuan Dion tersenyum haru menatap Ana. Ken memang tidaklah salah memilih calon istri untuk dirinya. Wanita yang ada di hadapannya ini begitu sederhana, namun tak menyingkirkan kesan cantik alami dan elegan. Pembawaannya yang rendah hati sungguh mirip dengan ayahnya, yaitu Tuan Danu Winata. Dimana Tuan Dion sudah mengenalnya, seorang teman lama begitulah hubungan mereka saat masih bergelut di dunia bisnis bersama.
Tuan Dion merasa Ana memiliki sesuatu yang dapat membuatnya bercahaya hingga menyilaukan mata. Namun cahaya itu masih diselubungi kabut gelap yang rumit untuk dibuyarkan.
"Ayah!", Ken menyentuh lengan ayahnya supaya pria paruh baya itu tersadar dari lamunannya.
"Ahh iya!", Tuan Dion sedikit terperanjat.
"Dan kau juga bisa memanggilku ayah saja, Ana!", lanjutnya seraya mengulas senyuman.
"Baiklah, Tu..emmmhh, ayah!", Ana tersenyum canggung. Sesungguhnya ia begitu bahagia karena dengan sangat mudahnya ayah dari Ken menerimanya dengan tangan terbuka berkebalikan dengan istrinya, Nyonya Rima yang seakan tak menerima kehadiran Ana di dalam keluarganya.
"Kau juga anakku, Ana! Kau tau, sejak dulu aku ingin sekali memiliki anak perempuan yang cantik seperti dirimu ini. Tapi ternyata malah Sam yang lahir", tutur Tuan Dion seraya mengajak mereka berjalan masuk ke dalam.
"Benarkah ayah?! Pantas saja ia banyak bicara, sudah seperti wanita saja! Uupss..", Ana membungkam mulutnya seketika. Akhirnya ia sadar bahwa mulutnya telah lancang berbicara.
"Kau memang benar, Ana! Dia terlalu banyak bicara!", Tuan Dion terkekeh bersamaan dengan Ken yang memang mengakui mulut besar adiknya yang tak dapat ditahan itu. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang makan.
Sejenak Ken nampak bahagia melihat suasana yang menghangatkan hatinya ini. Di matanya kini terlihat seorang menantu tengah berbincang dengan begitu akrab bersama mertua lelakinya. Perbincangan itu layaknya perbincangan seorang ayah dan putrinya. Ken pikir dengan begini mungkin akan sedikit mengobati rasa rindu Ana kepada ayahnya, Tuan Danu.
"Sayang!", panggil Nyonya Rima pada Tuan Dion dari arah meja makan. Wanita paruh baya yang masih tampil elegan ini sedang menata beberapa makanan di sana.
"Sayang!", panggilnya lagi tanpa menoleh karena tak mendapat jawaban.
"Say... !", panggilannya terputus setelah menoleh dan mendapati suaminya itu tengah asik mengobrol dengan wanita yang tak ia sukai.
Wajah Nyonya Rima yang semula ceria kini telah berubah suram. Yang terlihat hanya bibirnya yang menipis namun tidak tersenyum. Ia meneruskan kegiatannya tanpa menghiraukan kehadiran mereka bertiga.
"Sayang, Ken datang!", seru Tuan Dion setelah sampai di ujung meja makan.
Nyonya Rima memaku tangannya di udara yang sedang memegang satu piring makanan untuk dihidangkan. Ia meletakkan makanan itu perlahan kemudian mengalihkan tubuhnya ke arah Ken. Tak lupa ia memasang wajah manisnya sebagai seorang ibu yang selalu dicintai putranya.
"Ken, akhirnya kau datang!", Nyonya Rima memeluk putranya hangat. Sedangkan Ken dengan enggan membalas pelukan bundanya itu.
"Dan emm,,, Nona Ana kau datang juga!", ucapnya datar pada Ana.
"Ayo duduk, sayang!", ajak Nyonya Rima pada putranya untuk mendudukkan diri di salah satu kursi di sana dan dengan sengaja meninggalkan Ana di belakang.
__ADS_1
Ken paham tujuan dari bundanya melakukan hal itu adalah untuk mengucilkan Ana dan membuat Ana gerah untuk terus berada di sisi Ken. Pria itu memaku tubuhnya sebentar untuk menggenggam tangan Ana yang sudah berkeringat. Ia sangat tau jika Ana sedang gugup saat ini. Ken menarik Ana, membawanya perlahan mengikuti alur langkahnya menuju kursi yang telah disediakan oleh bundanya. Ken mempersilahkan Ana duduk di kursi tersebut. Mereka saling melempar senyuman setelah Ana duduk pertama kemudian Ken menyusul di sebelahnya.
"Kau pasti sengaja membuat bundamu ini kesal kan!", gerutu Nyonya Rima dalam hatinya.