
Ana melambaikan tangannya pada Ken dengan senyum hangatnya. Kemudian dia melemparkan lirikan tajam pada Sam yang berada di sebelahnya. Dan ia mengangguk pelan untuk pamit pada Tuan Dion yang berada di sebelah Sam. Tentu saja Ana melihat dua orang wanita yang baru saja tiba, tapi Ana malas untuk menghiraukan mereka, ia lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Sarah. Kedua mobil itu pun meninggalkan halaman kediaman besar Wiratmadja.
***
Dua wanita itu memandang dua mobil yang pergi. Nyonya Rima dan Joice nampak terkejut dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Ana yang dijemput dengan dua buah mobil, dan juga ada 3 bodyguard bersama dengannya. Ternyata memang benar, dia bukanlah wanita sembarang yang baru saja Nyonya Rima katakan.
Raut wajah mereka berubah suram. Mereka berperang dengan pemikirannya masing-masing. Dimana Nyonya Rima masih bertanya-tanya siapa Ana sebenarnya. Sedangkan Joice merasa memiliki saingan yang kuat untuk bisa menjadi Nyonya muda Wiratmadja.
Ken memandangi kepergian Ana dengan berat hati. Hingga tepukan Tuan Dion pada bahunya mengembalikan kesadarannya kembali.
"Ayah!", Ken menoleh ke arah ayahnya.
"Ada apa Ken?", tanya Tuan Dion yang memahami isi pikiran putranya.
"Perasaanku tidak enak ayah!", ucap Ken.
"Pergilah!", ucap Tuan Dion dengan memberikan senyuman yang menenangkan.
Nyonya Rima dan Joice saling melempar pandangan. Masih ada rencana mereka yang belum dijalankan.
"Emm,, Ken! Bisakah kau memberi tumpangan pada Joice. Mobilnya mengalami sedikit masalah", ucap Nyonya Rima dengan tidak tau malunya melupakan kejadian genting yang baru saja terjadi di dalam.
"Tidak usah repot-repot, tante! Aku akan menunggu mobil lainnya menjemputku saja", Joice memasang wajah canggungnya. Padahal dalam hatinya ingin sekali Ken mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Ken! Kau pergilah!", ucap Joice tersenyum palsu.
Ken tak menjawab semua ucapan yang dilontarkan kedua orang itu padanya. Ia hanya menyunggingkan senyum sinis dari bibirnya. Perasaan marah, kecewa dan sedih masih berbaur di dalam dadanya. Masih sulit untuknya menerima kenyataan yang baru saja ia lihat. Perangai bundanya itu tak pernah ia lihat sebelumnya. Tak pernah ia tau bundanya memiliki sisi lain yang membuatnya begitu kecewa. Nyeri di hati yang membutuhkan waktu untuk diobati.
Sesaat Ken memandang bundanya dengan tatapan kecewa, tatapan yang sama yang ia lemparkan saat masih di dalam tadi. Kemudian ia beralih ke arah Han tanpa memandang Joice yang sedang memasang senyum termanisnya berharap Ken akan melihat ke arahnya.
"Han, panggil salah satu supir untuk mengantar Nona Joice! Dan setelah itu kau juga bisa pulang", perintah Ken. Ia tetap memikirkan asistennya itu yang sudah patuh untuk datang dan masuk ke dalam permainannya.
"Baik, Tuan!", Han kemudian melakukan panggilan untuk memerintahkan seorang supir datang.
"Saya juga pamit pulang Tuan, Tuan Besar dan Nyonya!", ucapnya lagi kemudian melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Kenapa kau tidak berpamitan kepadaku?! Hey, hey, hey!", teriak Sam pada Han yang mulai menjauh. Han tak mempedulikannya dan terus melanjutkan langkahnya.
"plakk!", Ken melayangkan pukulan kecil di kepala Sam. Hal itu membuat Sam mengernyit juga mengelus kepalanya.
"Ken, benarkah dia putri Danu Winata?", tanya Tuan Dion yang kini berwajah serius.
"Ya benar ayah. Dia adalah putri dari Danu Winata, orang yang telah membantu kakak bangkit saat perusahaan hampir bangkrut 5 tahun yang lalu", ucap Sam dengan penekanan pada setiap katanya. Tak lupa ia mengarahkan pandangannya pada bundanya juga Joice yang sedang menatapnya tak percaya.
Tuan Dion menatap Sam dan Ken secara bergantian. Ia mencari kejelasan dari ucapan Sam barusan. Kedua orang yang ditatap mengekspresikan wajah seriusnya, isyarat yang menyatakan bahwa itulah memang benar kenyataannya.
Nyonya Rima terperangah mendengar kenyataan itu. Sebuah pukulan telak yang telah melemaskan seluruh persendiannya. Tubuhnya lunglai, lemas tak berdaya. Hampir saja ia terhuyung jika saja Joice yang berada di sebelahnya tidak menangkapnya dengan cepat.
__ADS_1
Ia menutup mulutnya yang masih menganga tak percaya. Rasanya ia ingin sekali menepis semua kenyataan yang baru saja ia dengar. Nyonya Rima menyapu pandangannya pada ketiga pria itu di sana. Dan terakhir ia menatap Ken dengan wajah meminta penjelasan.
"Dan bunda sudah membawa-bawa mendiang ibunya ke dalam penghinaan bunda tadi. Tentu bunda tau bagaimana perasaannya, bukan!" kali ini Ken yang berucap penuh penekanan.
Nyonya Rima menatap Ken dengan pandangan tak percaya, bukannya membela ibunya tapi Ken malah membela wanita yang baru saja ia kenal. Sedangkan Ken masih menatap bundanya dengan ekspresi kecewa.
Ken masih tak habis pikir bagaimana bisa bundanya yang juga seorang wanita. Dapat dengan mudahnya mengucapkan kata-kata yang tentu dapat membuat orang sakit hati. Pasalnya selama ini yang ia dan Sam tau bahwa bundanya merupakan seorang wanita terhormat dan berbudi pekerti.
"Sudah! Sebaiknya bunda meminta maaf kepadanya", Tuan Dion memberi saran untuk menengahi keadaan yang mulai panas ini. Bagaimana pun kesalahannya, Nyonya Rima tetaplah istrinya. Ada perasaan empati yang dirasakan Tuan Dion saat melihat kedua putranya memojokkan istrinya itu.
"Tidak!", ucap Nyonya Rima tegas. Bagaimana bisa dirinya yang seorang Nyonya yang terhormat dan tentunya lebih tua dari Ana akan meminta maaf padanya.
"Bunda!", ketiga pria itu berteriak bersamaan.
"Bagaimana bisa bunda menjadi orang yang tidak tau terima kasih!", tegur Tuan Dion berusaha mengontrol emosinya. Ia menatap nanar pada istrinya itu.
"Semua pencapaian ini adalah hasil kerja keras Ken. Meraka tidak mengerjakan apa pun bukan!", Nyonya Rima masih bertahan dengan egonya. Entah setan apa yang membuatnya begitu malas.
"Benar!", satu kata keluar dari mulut Ken dengan wajah datarnya. Semua tak dapat menyangka apa yang ada dipikirannya.
Nyonya Rima dan Joice tersenyum ke mendengar satu kata itu. Tapi seketika senyum mereka menghilang saat Ken meneruskan ucapannya.
"Benar, Ken yang berusaha keras untuk mencapai sejauh ini. Tapi semua kerja keras itu tak dapat dilakukan jika paman Danu yang memiliki banyak koneksi itu tidak membantu Ken membuka jalan. Apa bunda mengerti?! Jadi tolong berhenti berpikiran sempit, bunda!", Ken menatap manik mata bundanya tajam.
__ADS_1
Joice yang sedari tadi tak dihiraukan pun mulai merasa kesal. Tapi tak urung ia tetap bergeming di tempat sambil memasang memorinya untuk merekam setiap informasi yang ia dapat hari ini. Wajahnya berubah serius ketika ia mulai menekan memorinya untuk merekam.
Tak luput pemandangan itu dari mata Ken. Ia tersenyum sinis memandang Joice yang sama saja dengan wanita-wanita lain di luar sana yang mendekati Ken dengan tujuannya masing-masing.