
"Joice?", tanya Ana lambat-lambat dengan penuh penekanan sambil menatap Ken dengan tatapan menyelidik.
***
"Siapa lagi itu Joice?! Katanya dia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun, tapi sekarang sebuah nama wanita keluar dari mulut adiknya sendiri. Benar-benar mengecewakan!", ucap Ana dalam hati.
Ana membuang muka ke arah lain. Dia menumpahkan kekesalannya dengan mengumpat menggunakan suara sekecil mungkin agar Ken tak mendengarnya.
Ken jelas menangkap perubahan sikap Ana. Kali ini Ken melemparkan tatapan sengitnya pada Sam.
"Mengapa kau selalu mengacaukan suasana, hah!", ucap Ken dalam hati.
Sam yang merasa sedang diberikan tatapan tajam pun memberikan perlawanannya, dia menatap Ken balik.
"Memangnya apa yang salah dengan kata-kata ku?!", ucap Sam dalam hati.
"Kau memang tidak peka! Lihatlah kakak iparmu, dia kesal sekarang!", sahut Ken dalam hati.
"Itu urusanmu! Aku hanya mengatakan kebenaran, memangnya salah?!", Sam tak mau kalah menyahuti Ken dalam hati.
"*Dasar bodoh! Gara-gara kau dia jadi kesal padaku. Awas saja kau kalau sampai dia tidak mempercayaiku lagi!", ancam Ken dalam hati.
"Aku tidak takut, heh!", Sam tetap tak mau kalah menyahuti Ken dalam hatinya*.
Mereka berperang argumen dengan isyarat mata dan bibir, seolah hanya mereka berdua saja yang mengerti apa yang di ungkapkan satu sama lain. Setelahnya kakak beradik itu saling melempar tatapan sengit.
"Ana!", panggil Ken lembut sambil menyentuh lengannya.
Ana menampik tangan Ken kasar. Dia malah memalingkan seluruh tubuhnya untuk membelakangi Ken.
"Ana!", Ken memanggilnya lagi sambil menyentuh bahunya.
Lagi-lagi Ana menolak untuk menjawab.
"Ana! Kumohon bicaralah!", ucap Ken frustasi.
"Diam! Aku sedang kesal sekarang?!", bentak Ana pada Ken.
__ADS_1
"Wah! Lihatlah bagaimana jika singa betina sudah marah. Bahkan raja singa pun tak mampu menaklukannya! hehe" Sam nampak terkekeh melihat kelakuan pasangan yang ada di hadapannya itu.
Ana dan Ken melemparkan tatapan sengitnya pada Sam. Aura mereka sama-sama menyeramkan. Mode membunuh telah aktif pada Ana maupun juga Ken. Aura dingin mulai menusuk setiap rongga tubuh Sam. Sam menggigil ketakutan.
Ken memberikan isyarat mata pada Sam agar menjelaskannya pada Ana, masih dengan aura membunuhnya. Sam menatap Ken dan Ana secara bergantian. Keduanya diliputi aura membunuh yang sama. Sam menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.
"Jika aku tidak menjelaskan pada kakak ipar, aku akan dibunuh oleh raja singa. Tapi jika aku menjelaskan dan kakak ipar tidak puas, maka singa betina yang akan membunuhku, hih", Sam membatin dengan ketakutannya.
Ken memberi isyarat pada Sam dengan menyayat lehernya dengan satu tangannya. Itu artinya Ken akan melakukan segala cara untuk menghancurkan hidupnya dengan mengambil hal-hal berharga darinya seperti, kartu kredit dan mobil-mobil mewahnya. Baiklah, dia sudah membuat keputusan.
"Beg, beg, begini kakak ipar! Kau, kau harus mempercayai kakakku. Aku, aku bisa, bisa menjadi saksinya jika memang hanya kau satu-satunya wanita yang diakui olehnya", Sam mengucapkan kata-katanya sambil terbata.
"Joice itu adalah teman kakakku sejak sekolah dulu", baru memulai satu kalimat lagi Ana sudah melempar pisau tak kasat mata dengan matanya. Sam serasa ditusuk matanya hingga terasa begitu perih untuk menatap Ana.
"Tapi kakak tidak pernah menganggapnya sebagai wanita. Baginya Joice sama dengan teman pria kakak yang lainnya", Sam menaikkan intonasinya agar Ana mau mempercayai ucapannya.
"Bagaimana aku bisa percaya pada kalian?!", Ana tak menyurutkan aura suramnya.
"Kau harus datang makan malam besok. Agar kau dapat mengetahui dengan mata kepala kakak ipar sendiri", tiba-tiba Sam mendapat ide gila untuk menyebutkan hal tersebut supaya Ana tetap mau untuk datang hari minggu besok.
"Baiklah!", jawab Ana singkat.
"Aku akan datang!".
"Jadi kau sudah mempercayaiku?!", tanya Ken sumringah.
"Tunjukkan buktinya padaku", Ana mulai menyurutkan aura suramnya.
"Tenang saja!", Ken mengusap jemari tangan Ana dengan lembut.
Kemudian Ana mengatakan pada Ken bahwa ia ingin pulang. Nyatanya saat ini Ana hanya enggan menghabiskan waktu lebih lama dengan Ken. Dia ingin menyendiri dulu, tak ingin di ganggu. Mungkin dengan berendam di rumahnya nanti, Ana bisa berpikir lebih jernih lagi.
Sebelum Ken mengantar Ana ke rumah, Ken telah mengganti kaosnya dengan kemeja dan jas kerjanya. Dia sudah menyisir rambutnya ke belakang. Dirinya sudah begitu tampan hingga sejenak Ana terpukau dengan ketampanannya, tapi sedetik kemudian dia sadar dengan kelakuannya bahwa saat ini juga Ana tengah kesal dengan Ken.
"Mengapa kau rapih sekali. Ini kan sudah sore?! Apa kau akan bertemu dengan Joice?", sindir Ana.
"Wah, ternyata menyenangkan ya!", Ken malah menanggapi Ana dengan senyuman.
__ADS_1
"Apa maksudmu?!", tanya Ana kesal.
"Singa betinaku sedang cemburu rupanya?!", ucap Ken seraya mencubit gemas pipi Ana.
Belum sempat membalas ucapan Ken, mobil sudah datang dan mereka pun memulai perjalanan.
Selama dalam perjanjian hanya suasana hening yang ada. Ken tengah sibuk dengan beberapa pekerjaannya, dirinya tak pernah bisa bersantai sedikit jika ada waktu luang maka akan dia pergunakan sebaik mungkin untuk meneruskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Menurut Ken lebih cepat selesai lebih baik.
Sedangkan Ana, dia sedang melihat keluar jendela mobil. Ana menikmati pemandangan di sekitar jalanan sambil memikirkan ucapan terakhir Ken.
"Apa iya aku sedang cemburu?! Kalau begitu apakah perasaanku sudah berkembang sampai sejauh ini. Apakah aku sudah mulai mencintainya. Hah, tetap saja mengingat hal itu aku masih kesal kan sekarang!", gumam Ana dalam hati.
Ken sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menekan tombol, dan sekat yang memisahkan bangku pengemudi pun tertutup. Ana tak menyadarinya, dia masih sibuk dengan lamunannya.
Ken memeluk Ana dari belakang. Kemudian di menjulurkan sebuah benda ke hadapan Ana. Itu adalah gantungan kunci yang sama persis seperti milik Ana. Mata Ana melebar melihat benda kesayangannya ada di tangan Ken. Ana buru-buru membalikkan badan menghadap Ken.
"Berikan padaku, Ken! Itu kan milikku", ucap Ana yang akan meraih benda itu.
"Ini milikku, Ana", ucap Ken tenang. Ana belum memperhatikan sekitarnya, dia masih mengira itu memang miliknya.
"Berikan padaku! Atau aku akan semakin marah Ken", Ana mengucapkannya dengan tenang namun setiap ucapannya mengandung ancaman.
Ken terkekeh melihat Ana yang akan marah. Baginya Ana tetap menggemaskan bahkan saat akan marah sekalipun.
"Kalau begitu kita bisa barter!", ucap Ken dan menyeringai.
"Apa?".
"Aku akan memberikanmu ini tapi kau harus menukarnya dengan sebuah hadiah!", Ken menyebutkan negosiasinya sambil menggoyangkan gantungan kunci itu di udara.
"Sebutkan", Ana mulai waspada.
"Berikan aku ini!", ucap Ken sambil menunjuk bibirnya dengan telunjuknya sambil tersenyum menggoda.
"Ken!", Ana mencoba protes.
"Kalau kau tidak mau, tak masalah!", ucap Ken santai.
__ADS_1
Baru beberapa detik Ken bicara, bibir Ana yang lembut sudah menyentuh bibirnya. Ken memperhatikan Ana yang tengah memejamkan matanya dengan keras hingga menimbulkan kerutan di sana. Ken tersenyum penuh kemenangan di bibir Ana.